
Ilham bersama dengan Victor saat ini mereka sedari tadi mengikuti Gladys yang tengah mengemudikan mbil seorang diri. Mobil yang dikemudiakan Gladys menuju sebuah cafe yang cukup terkenal di kalangan anak muda. Entah mengapa Gladys menuju tempat itu, Ilham dan Victor saling menatap penuh tanya dan keduanya kembali melihat Gladys yang sudah turun.
Ternyata saat perempuan itu turun sudah ada yang menunggunya disitu, itu teman dari Gladys.
“Dia nemuin temennya?” ucap Ilham melihat kearah Victor.
“Iya, kenapa dia disini. aku pikir dia mau ke Psikolog, karena dari surat yang aku baca dia akan bertemu dengan psikolog.
“berarti cewek itu dan ayahnya memang sengaja membohongi bang Zidan” pungkas Ilham menyimpulkan semuanya.
“Kayaknya begitu, dia juga sepertinya kerja sama dengan Toni.” Sahut Victor seakan setuju.
“Parah Toni, tapi untungnya dia belum lakuian apapun kan buat merusak hubungan bang Zidan dengan istrinya” tanya Ilham.
“dari pengamatanku sih belum, Toni kayak masih bimbang”
“Terus kita mau ngapain sekarang, kirim bukti ke bang Zidan atau apa?” tanya Ilham.
“Kamu foto saja dia, atau nggak gini kamu masuk kedalam pura-pura deketin dia atau apa gitu” usul Victor.
“Ogah, ngapain. Sejomblonya gue, gue males buat jadiin cewek itu pacar” tolak Ilham atas usul Victor.
“kenapa?”
“Ya males aja, nggak enak sama bang Zidan. Masa pacar bekas senior di embat juniornya, nanti kalau ketemu malah canggung. Kau saja deh sana yang masuk, kan nggak terllau dekat sama bang Zidan. Kalau aku sudah deket banget sama dia, satu tempat dinas juga ya jelas nggak mungkin”
“Ngarang, gue punya cewek” sungut.Victor. “Udah lo aja, nggak usah di pacarin sok basa-basa kek” pungkas Victor lagi.
“Males ya males, aku bukan tipe yang membaperi anak orang. Kasihan nanti kalau udah baper..hmmm nggak..” kukuh Ilham dengan pendiriannya.
“Ya sudah, kita pulang aja kalau gitu gimana?”
“Iya terserah, kita juga sudah dapat info kalau dia nggak ke Psikolog kan. aku mau istirahat juga capek” jawab Ilham setuju.
“Oke,” victor langsung melajukan mobilnya pergi dari situ sambil sesekali dia melihat kearah Gladys yang sudah masuk kedalam Cafe.
......................................
Hari ini Sheana diajak James pergi berjalan-jalan mengelilingi mal di Jakarta sekaligus melihat tempat-tempat yang enak untuk ngumpul.James ingin mengeksplore kota kelahirannya tersebut. Sudah lama dia meninggalkan kota sekaligus negara tempat ia di lahirkan.
“Kau hamil berapa bulan sih? Aku lihatnya engap banget” ucap James smabil menyetir mobil. Mereka sudah pergi ke mal dan sekarang akan mencari tempat yang bagus untuk bersantai atau menikmati kota Jakarta.
“Mau lima bulan, masa sih kelihatan engap banget”
“hemm, tapi kok kayak udah lima bulan gitu.”
“Aku hamil anak kembar jadi wajar kalau agak besar. Masa sih sudah kelihatn besar banget ya..” ucap Sheana sambil memperhatikan perutnya.
“Wow, serius. Bakal kayak aku sama Julian dong, wiih bakal dapat ponakan kembar nih” ucap James antusias.
“Aku tanya memang kelihatan gede perutku?”
“Biasa aja,” sangkal James. Nanti kalau dia bilang perut sheana besar perempuan itu pasti akan mengeluarkan ucapan ketusnya.
“Serius?”
“Iya, kita kemana nih. Ketaman yang bagus itu? yang penuh tumbuhan hijaunya kan?”
“Iya kayaknya sejuk banget”
“Oke, tapi nggak usah lama-lama ya. Aku nggak enak sama suami kamu, sama aku aksihan lihat kamu engap gitu”
“terserah, yang ingin jalan-jalan kan kamu. aku cuman nganter”
“Dasar,” ucap james sambil mengacak rambut Sheana.
“kamu kapan kembali ke Amerika?” tanya Sheana.
“kenapa? Mau ikut?”
“Nggak, ngapain ikut”
“Serius nggak mau ikut, dulu aja pengen banget nyusul”
__ADS_1
“Itu dulu karena tidak ada yang perduli padaku, tapi sekarang ada pria tulus yang begitu perduli denganku. Aku tidak ingin pergi jauh darinya” ucap Sheana jujur dari dalam lubuk hatinya. Dulu ia memang ingin sekali pergi jauh dari negaranya dan menyusul James di Amerika tapi sekarang rasanya dia tidak ingin pergi karena ada alasan ia tetap tinggal. Yakni Zidan alasan utamanya untuk tetap tinggal di Indonesia. Di kata bodoh atau apa ia tak perduli, sekarang ia cinta mati dengan suaminya.
“baguslah kalau begitu, enak kan jatuh cinta. Malah membuatmu bersemangat dan semakin kuat kata siapa jatuh cinta itu mebuatmu lemah. Tetap pegang ucapanmu itu, karena aku juga yakin suamimu cinat padamu. Bahkan cntanya mungkin melebihi dirimu Sheana.”
“Semoga saja ucapanmu benar,” jawab Sheana.
“kenapa jadi murung gitu, padahal itu kata penyemangat” ucap James yang sesekali memperhatikan Sheana.
‘Nggak pa-pa” sangkal Sheana. Padahal dia memikirkan soal Zidan yang sempat memiliki pacar yang cukup lama.
Ditengah perbincangan Sheana dan juga James ponsel Sheana berbunyi membuat Sheana langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kecil.
“Halo sayang” ucap Sheana dulu saat mengangkat panggilan dari Zidan. Dia sudah tak sungkan lagi memanggil Zidan dengan panggilan sayang.
“Kamu dimana sekarang?” tanya Zidan di seberang sana.
“Aku lagi di Jalan mau ke taman H, kenapa?”
“Mau apa kesana? Lama nggak?”
“Mau cerita-cerita masa lalu sekaligus berbicara soal masalah pribadiku dengan james”
“Oh ya sudah kalau begitu, mau aku jemput nanti. Kamu mau nggak aku jemput? Sekaligus kita ke apartemen Victor”
“mau,” jawab Sheana.
“Oke, nanti tunggu aku ditaman ya. Aku masih mau nemuin komandan dulu. kamu hati-hati, kalau capek suruh sepupu kamu saja yang beli sesuatu buat kamu”
“Oke..” jawab Sheana.
“Kalau gitu sudah dulu ya sayang, bye. Sampai ketemu nanti” pungkas Zidan sebelum menutup panggilannya.
“Ya sampai ketemu nanti, Love U” ucap Sheana.
“Love U too” balas Zidan dan panggilan langsung terputus. Sheana kembali memasukkan ponselnya kedalam tas miliknya.
“Cieelah, sudah bucin bener nih sepupuku” goda James pada Sheana.
“iri” tukas Sheana.
..........................................
Zidan sedang membereskan meja kerjanya, dia buru-buru untuk menemui atasannya dan setelah itu ia harus menjemput istrinya di taman karena akan ia ajak untuk kerumah Victor rekannya itu sedang mengadakan acara dan dia diundang.
Tiba-tiba saja saat Zidan akan mengambil ponselnya, ponsel itu sudah berdering lebih dulu membuat Zidan langsung melihat siapa yang menelpon dirinya saat ini.
“Gladys,” gumamnya saat membaca nama yang ada di layar tersebut. “ada apa dia menghubungiku” bingung Zidan. Ia tak mau mengangkat panggilan itu, ia memasukkan ponselnya ke dalam skau celana setelah mereject panggilan tersebut.
Namun saat Zidan akan membuka pintu ruang kerjanya, ponselnya kembali berbunyi membuat dia menghentikan niatnya untuk keluar. ia mengambil ponselnya kembali dan melihat siapa yang menelponnya. Lagi ternyata Gladys yang menghubungi dirinya saat ini.
“Ada apa sih dia menghubungiku terus” Zidan sudah mulai geram karena Gladys terus-terusan menghubungi dirinya.
Akhirnya Zidan mau tak mau mengangkat panggilan tersebut.
“halo Gladys ada apa? jika tidak ada yang penting tolong jangan hubung aku. aku sibuk” ketus Zidan saat mengangkatnya.
“Maaf tuan ini bukan perempuan yang punya ponselnya, perempuan itu sekarang sedang tidak sadarkan diri di rumah sakit.”
“Apa?? lalu kau siapa?”kaget Zidan karena yang berbicara bukanlah Gladys tapi suara seorang pria yang bilang Gladys ada di rumah sakit.
“Saya Cakra tuan, orang yang menolong perempuan itu. tadi perempuan yang punya ponsel ini mengalami tabrak lari tuan. Dan saya melihat nomor tuan di panggilan pertama tertulis nama tunanganku jadi aku putuskan untuk menghubungi tuan”
“Saya minta maaf sebelumnya, tapi saya bukan tunangannya. Tolong hubungi keluarganya saja atau tolong beritahu rekan perempuan itu di rumah sakit perempuan itu seorang dokter. Bilang saja dia dokter Gladys. Sebentar, kalian dirumah sakit mana kalau boleh tahu..” ucap Zidan dan ingat dia belum menanyakan rumah sakit mana pria tersbeut membawa Gladys kalau di rumah sakit NB Medica pasti orang-orang disana mengenal Gladys.
“Di Rs Sun Medica tuan”
“Oh, kalau begitu hubungi saja orang tuanya, aku tidak bisa kesana dan aku bukan tunangannya lagi”
“Bagaimana bisa seornag pria bilang begitu tuan, kenapa kau tidak mengakui tunanganmu sendiri. saat ini beliau sedang membutuhkan diirmu”
“Perlu saya tegasan lagi, saya bukan tunangannya. Dulu memang saya pernah bertunangan dengannya tapi sekarang saya dan dia tidak ada hubungan lagi jadi ma...”
“Tuan kalau saya bisa menghubungi keluarganya pasti saya hubungi tapi sayang sekali mereka tidak bisa saya hubungi. Jadi tuan, setidaknya anda ada rasa kemanusian terhadap perempuan yang pernah mengisi hari anda. Dia begitu membutuhkan tuan saat ini bahkan dia sesekali menyebut nama Zidan dalam ketidak sadarannya. Kalau boleh tahu anda Zidan kan?” ucap pria itu memotong ucapan Zidan.
__ADS_1
Zidan terdiam di tempatnya dia benar-benar bingung harus kah dia menemui Gladys,. Tapi kalau di pikir-pikir juga ia kasihan dengan perempuan itu yang tak sadarkan diri.
“Baiklah saya akan kesana, tolong kirimkan alamat rumah sakitnya” ucap Zidan pada akhirnya.
Zidan langsung mematikan sambungan telponnya saat orang diseberang sana menjawabnya dan bilang akan mengirimkan alamat rumah sakit itu padanya. Zidan langsung keluar dari ruangannya saat ini.
..............
Zidan sudah sampai dirumah sakit saat ini, dia melihat-lihat ruangan yang namanya sama dengan yang pria tadi kirimkan padanya. Setelah menemukan nama ruangan tempat Gladys di rawat dia langsung masuk kedalam ruangan itu. benar Gladys sudah di pindahkan ketempat rawat inap dengan alasan ia harus di rawat semalam dulu untuk memastikan tidak ada luka serius yang ia alami.
“Zidan..” panggil Gladys saat melihat Zidan masuk keruangannya saat ini.
Zidan hanya diam saja sambil berjalan mendekati perempuan tersebut.
“Kamu datang temuin aku Zidan, aku..aku senang kamu kesini” pungkas Gladys dan langsung akan duduk tegap tetapi dia langsung merintih sakit membuat Zidan refleks berlari mendekati Gladys dan membantu perempuan itu untuk duduk.
“Gladys lepas,..” ucap Zidan sambil berusaha melepaskan pelukan Gladys.
“nggak Zidan, aku rindu sama kamu. aku bener-bener rindu sama kamu Zidan. Akhirnya kamu temuin aku juga” Gladys bukannya melepaskan pelukan Zidan dia malah semakin memeluk erat Zidan.
“Gladys aku bilang lepas. Sadar Gladys kamu bukan siapa-siapaku lagi hubungan kita sudah lama berakhir”
“Lama? Kamu bilang lama Zidan. Baru beberapa bulan kamu putusin aku” Gladys melepaskan pelukannya pada Zidan menatap kecewa pria itu.
“Gara-gra perempuan kaya itu kan kamu mutusin aku. aku nggak terima Zidan, aku nggak terima. Gara-gra dia mentalku terganggu gara-gara dia kamu pergi dari aku” Gladys begitu menyalahkan Sheana.
“Stop Glady dia istriku, aku mencintai dia. dan soal aku yang memutuskanmu karena memang hubungan kita sudah tidak sehat. Orang tuaku tidak setuju denganmu dan orang tuamu selalu menuntut diriku selama ini” tegas Zidan.
“Kau tenanglah, jangan histeris seperti ini. lukamu akan sakit nantinya. Dan soal kau depresi tolong jangan pura-pura, aku tahu semuanya” ucap Zidan.
“Aku nggak pura-pura, aku me..”
“Berhenti membuat air mata palsu Gladys, aku tidak akan terpengaruh dengan ari matamu itu” ucap Zidan begitu menyakitkan di telinga Gladys.
“Kenapa cara bicaramu seperti itu padaku sekarang Zidan, kenapa seakan kau membenciku. Mana Zidanku yang dulu, mana Zidanku yang mencintai diriku” ucap Gladys sedikit berteriak tak terima.
“Aku bukan Zidan mu lagi Gladys, aku milik Sheana istriku”
“Nggak, nggak Zidan. Aku nggak terima,” Gladys tampak marah dan dia berusaha melepas selang infusnya dan membuang semua bantal dan juga mengacak ranjang tempat ia berbaring.
Zidan buru-buru menahan Gladys yang akan melepaskan infus ditangannya.
“Gladys, Galdys sadar lah. Kenapa kau jadi seperti ini, dimana Gladys yang aku kenal lemah lembut dulu, kenapa kau jadi perempuan penuh amarah seperti ini” Zidan menahan Gladys dan mendekap perempuan itu yang terus berontak.
“Aku seperti ini karena dirimu Zidan, karena dirimu aku begini. kembalilah padaku, aku akan berubah seprti Gladys yang dulu”
“Aku minta maaf Gladys, aku tidak bisa. Aku sudah tidak menaruh rasa padamu, keluarga kita juga tidak ada yang mendukung. Aku juga sudah punya istri dan sebentar lagi punya nak, hatiku sudah milik Sheana”
“Kata siapa keluarga kita tidak mendukung, ayahku mendukung hu..”
“ayahmu mendukung hubungan kita baru-baru ini karena dia tahu aku dan Kevin saudara kandung dan aku anak dari orang mampu”
Zidan lalu melepaskan dekapannya pada Gladys setelah dirasa perempuan itu sudah tenang.
“Zidan..” Gladys seakan memohon.
“Aku minta maaf, “ lirih Zidan dan sedikit mundur.
“Ayolah Zidan, aku masih cinta denganmu. Kau mi..”
“Aku bukan milikmu,” potong Zidan. “Kau tunggulah disini, kedua orang tuamu sebentar lagi sampai. Aku minta maaf, aku harus pergi” ucap Zidan dan akan berjalan pergi. Ia sesekali melihat Gladys yang terlihat menangis meraung sambil melihat kearahnya dengan cukup pilu.
Sebenarnya ia melihat itu, dirinya merasa tak tega tapi mau bagaimana lagi. Dia dan Gladys sudah tak bisa bersama. Banyak kendala dalam hubungan mereka, dan dirinya sudah tidak rasa cinta lagi terhadap Gladys. Cintanya milik Sheana seutuhnya.
Dengan pelan Zidan membuka pintu ruangan Gladys tanpa diduga di depan pintu itu ada seorang yang memakai topi dan masker dan saat melihat orangnya pria itu langsung berlari.
“hei kau siapa?” teriak Zidan dia akan berlari mengejar pria itu tapi ia ingat soal Sheana yang pasti sedang menunggunya.
“Astaga, Sheana..” ucapnya ia langsung mengambil ponselnya dari dalam saku dan akan menghubungi istrinya tapi tanpa ia duga ponselnya mati..ia lupa untuk mengisi dayanya.
Zidan langsung berlari sambil memasukkan ponsel miliknya kedalam saku celana kembali
°°°
__ADS_1
T.B.C