PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 55


__ADS_3

“Kau masih tanya kenapa aku memukulmu, kau harus aku hajar sampai babak belur” geram ayah Gladys dan akan memukul Zidan lagi tetapi sudah ditahan lebih dulu oleh beberapa polisi yang ada di situ.


“Pak, pak tenang pak ini kantor polisi jangan mebuat keributan disini” tahan seorang polisi yang memegangi tangan ayah Gladys sedangkan Zidan sedikit di jauhkan dari ayah Gladys.


“Lepaskan saya, saya harus menghajar pria yang seenaknya sendiri membatalkan pertunangannya” marah ayah Gladys dan berusaha untuk memukul Zidan yang ada di depannya.


“Pak saya mohon tenang, ini kantor polisi kalau bapak tidak mau tenang. Bisa-bisa bapak kita beri sanksi karena telah membuat keributan disini” ancam salah satu polisi yang lebih tua dari Zidan.


“Om Gio kalau ingin berbicara dengan saya jangan disini kita bicara di tempat lain” tegas Zidan yang melepas pelan tangan rekannya yang memegangi dirinya, ia berjalan mendekati ayah Gladys yang masih di pegangi oleh polisi lain.


“Kenapa kalau saya bicara disini, kau malah karena hal buruk yang kau lakukan itu” geram Gio merasa tak terima.


“Maaf Om, bukannya saya malu. Untuk apa saya malu, baiklah kalu Om ingin bicara disini maka silahkan bicara” pungkas Zidan mempersilahkan ayah Gladys untuk mengeluarkan seluruh emosi didepannya..


“Lepas,” ayah Gladys menghempas tangan polisi yang memegangi dirinya, dia sedikit mendekat kearah Zidan tiga polisi yang ada di situ waspada takut kalau keduanya akan adu jotos didepan mereka.


“Kau benar-benar pria brengsek Zidan, kau membuat putriku terluka. Kau harus tanggung jawab, gara-gra kau putri ku depresi” marah Gio menatap murka Zidan. Dia benar-benar marah dengan mantan tunangan anaknya itu, gara-gara Zidan saat ini putri satu-satunya mengalami depresi.


Zidan tertegun mendengar itu, dia menatap pria paruh baya di depannya dengan tatapan menilai benar atau tidaknya ucapan pria itu.


“Gladys Depresi? Mana mungkin om” ucap Zidan tak percaya,


“Kau..” geram Gio saat mendengar Zidan yang seperti meragukannya.


“Kalau kau tidak percaya lihat saja putriku dirumah gara-gra dirimu emosinya tidak stabil sekarang kau harus tanggung jawab Zidan. Nikahi putriku sekarang juga”


“Sebentar Om, ini bukan kesalahan saya kenapa saya harus tanggung jawab. Bukannya OM Gio malah senang saat saya tidak jadi menikahi Gladys. Kenapa sekarang saya harus tanggung jawab” sinis Zidan menatap pria paruh baya didepannya. Benar Gio sebenarnya juga tidak ingin Gladys menikah dengannya, hal itu bisa dilihat dari persyaratan ayah Gladys padanya yang meminta mahar cukup banyak saat itu. itupun amsih pertunanganan, dan kalau pernikahan ini terjadi Gio masih meminta lagi yaitu meminta rumah alsannya itu untuk mereka berdua.


“Kau sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang menimpa putriku, kau memang pria brengse. Aku harus menghajarmu sampai mampus,” marah Gio saat melihat ekspresi tidak bersalah Zidan. Pria itu malah menatapnya sinis dan membahas soal dirinya yang kurang setuju dengan Zidan karena pria itu hanya seorang polisi. Tapi sekarang dia malah menyesal karena tahu Zidan adalah kakak dari Kevin mantan pacar putrinya dulu yang merupakan anak orang kaya.


“Maaf Om, kalau OM Gio masih ingin membahas ini lebih baiks aya masuk kedalam. Karena urusan saya dan Gladys sudah selesai. Jadi saya minta maaf soal pembatalan pernikahan kita berdua, dan sebulan lalu juga OM Gio sudah menyetujuinya kan. mari Om” Zidan menatap sekilas Gio yang tampak kesal serta marah Zidan tak memperdulikannya, ia langsung melenggang pergi meninggalkan Gio dan juga rekan-rekannya yang merasa penasaran dan bingung.


“Awas kau Zidan, kau telah merusak putriku kau akan mendapat balasannya.” Seru Gio saat Zidan melangkah pergi, Zidan sendiri tak menggubris hal itu ia masih terus berjalan meninggalkan mereka semua.


......................................


Zidan pulang ke apartemennya dengan lesu langkahnya bahkan begitu berat saat masuk kedalam apartemen. Pikirannya saat ini berkecamuk, dia memikirkan ucapan dari ayah Gladys yang mengatakan kalau mantan tunangannya itu sekarang depresi hal itu membuatnya merasa bersalah dan sedikit terpengaruh saat ini. ia tadi memang sebisa mungkin untuk tak terpengaruh akan ucapan dari ayah Gladys tapi otaknya terus memikirkan hal itu.

__ADS_1


Dia dan Gladys berpacaran cukup lama jadi wajar ia masih memikirkan soal kondisi perempuan itu mesikipun cintanya sudah berubah kelain hati. Ia kira dulu tidak akan menjadi seperti ini saat dia membatalkan pertunangannya dengan Gladys, tapi kenapa perempuan itu malah deperesi, itu membuatnya benar-benar merasa bersalah.


Zidan mendudukan dirinya dengan lemah di sofa, Sheana yang tadinya berada di dalam kamar mendengar seorang yang masuk langsung keluar dari kamar dan dia mendapati sang suami yang duduk lesu di sofa sambil memegangi baju dinas di tangannya.


“Kamu sudah pulang? Kenapa disini?” tanya Sheana sambil berjalan medekati Zidan.


Zidan melihat sekilas Sheana yang mengambil duduk disebelahnya, ia diam bingung harus menjawab apa.


“Kenapa diam saja? aku tanya sama kamu bukan tanya sama orang lain” ucap Sheana menatap penasaran Zidan yang tampak banyak pikiran.


Zidan bukannya menjawab dia malah merebahkan dirinya dan menjadikan paha Sheana sebagai bantalnya.


“Aku capek sayang, sebentar saja aku pinjam dirimu” lirih Zidan sambil memejamkan matanya. Jujur dia bingung harus menceritakan darimana soal masalah ini.


Sheana akhirnya memilih diam mengamatai wajah Zidan yang memang sepertinya tampak lelah dan banyak pikiran. Mata Sheana tak sengaja melihat sudut bibir Zidan yang tampak lecet bahkan masih ada sisa memar disitu, ia langsung cemas melihatnya.


“Bibirmu kenapa berdarah? Ini kenapa apa?” tanya Sheana sambil memegang pelan sudut bibir Zidan.


Zidan langsung membuka matanya, ia mendapati raut wajah cemas di wajah sang istri.


“Aku nggak pa-pa tadi nggak sengaja ke pukul orang” jawab Zidan berbohong.


“Sayang nggak usah” Zidan menahan tangan Sheana.


“Nggak usah bagaimana itu nanti infeksi” kesal Sheana dan kukuh ingin mengambil obat untuk Zidan.


Sheana sudah kembali membawa kotak obat, dia mengeluarkan kapas yang sudah dibasahi oleh sedikit alkohol.


“Kok bisa kena pukul, siapa yang memukulmu bilang padaku bair aku beri pelajaran. Orang macam apa yang berani memukul polisi tampan sepertimu” gerutu Sheana sambil mengobati Zidan.


“Auggh sakit sayang” rintih Zidan saat Sheana mengobatinya.


“Maaf,”


“Kenapa kamu gemes gini,? Kebalik aturan aku yang melindungimu kenapa malah kamu yang ingin melindungiku” senyum Zidan sambil melihat Sheana yang tampak geram seakan ingin memukul orang yang telah mencelakainya. Tapi ekspresi wajah istrinya malah cukup mengemaskan ketika marah seperti itu.


“Seharusnya kamu penjara saja ornag yang memukulmu,” pungkas Sheana.

__ADS_1


“Aku nggak pa-pa kok, ini hal biasa. Kamu jangan emosi-emsian nanti anak kita kalau lahir sering emosian juga loh” ucap Zidan smabil menaruh tangannya di perut Sheana.


“Nak, besok kalau mama kamu emosi marahin aja ya. Biar dia nggak emosian,” ucap Zidan lagi sambil mengusap perut Sheana yang sudah terlihat itu.


Zidan melihat wajah Sheana yang mengobatinya dengan cukup telaten, ia baru tahu juga kalau Sheana bisa selembut ini mengobati seseorang. Dan tatapan Sheana padanya sungguh menggetarkan hatinya, perempuan itu benar-benar mencintai dirinya.


“Besok jadwal ke dokter kandungan kan?” tanya Zidan pada Sheana.


“nggak tahu, kayaknya iya” jawab Perempuan itu lupa-lupa ingat.


“Iya besok jadwalnya, besok aku antar ya?”


“Kamu nggak kerja?”


“Aku berangkat siang,” jawab Zidan, “Ini mau jalan empat bulan kan sayang?” tanya Zidan memegangi perut istrinya yang sudah terasa tonjolan.


“Iya”


“Aku nggak sabar deh sayang, pengen ketemu anak kita nantinya.” Ucap Zidan setelah di obati dan mulai merebahkan dirinya lagi seperti tadi menjadikan paha Sheana sebagai bantalnya


“Masih lama, beberapa bulan lagi baru lahir. Aku sudah obati kamu, sekarang kamu cerita kamu ada masalah apa?”


“Masalah? Masalah apa? aku nggak ada masalah” Zidan masih belum mau jujur, karena tidak mungkin dia bilang kalau masalah ayah dari Gladys mendatangi dirinya. Dia tidak mau Sheana meragukan dirinya saat ini, hubungan mereka baru saja hangat dan baru saja saling mengutarakan cinta masing-masing. Jadi ia tak ingin hubungan yang hangat itu berubah menjadi dingin.


“Nggak ada masalah kok, sayang..aku boleh minta tolong?” tanya Zidan mengalihan pembicaraan.


“Apa?”


“Tolong buatin aku mie dong, aku lape. Kamu bisa nggak?”


“Bisalah, masa nggak bisa. Kecil itu,.” tukas Sheana. “Ya sudah bentar aku buatin,.” Sheana langsung berdiri setelah Zidan bangkit dari pahanya.


Zidan menatap Sheana yang berjalan pergi dengan perasaan bersalah.


“Maaf sayang, aku belum bisa jujur padamu” ucap Zidan dalam hatinya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2