PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 9


__ADS_3

Sheana tak pergi ke tempat kakaknya minta dia juga tak jadi pergi ke Club, saat ini dia menghentikan mobilnya di sebuah pantai yang luas tetapi masih murni seperti tak tersentuh orang. Tak ada orang disitu, mungkin ada tapi hanya beberapa. Dia keluar dari dalam mobil mengenakan kacamatanya melihat hamparan pasir dan laut yang terbentang luas didepannya.


Dia bersandar didepan mobil menatap itu semua, ia mengingat semua masa lalunya dulu dan mengingat betapa menyedihkannya dirinya dulu. Apalagi dua orang munafik yang semakin membuatnya terlihat bodoh dan menyedihkan.


FLASHSBACK ON


Sheana yang saat itu berumur dua belas tahun, terbangun dari tidur karena mendengar suara orang ribut-ribut dirumahnya. Dia yang memiliki kepekaan pendengar tentu saja terganggu akan hal itu, ia bangun dan berjalan perlahan keluar dari kamarnya saat ini melihat kebawah melalu sela-sela besi pembatas di rumahnya menatap Papa dan mamanya yang tengah bertengkar hebat bahkan bara-barang yang ada di sekitar mereka pecah tak serta berserakan.


Papanya itu berusaha untuk menghentikan mamanya yang akan memotong tangannya sendiri.


“Johan sebegitu teganya kau padaku hah, aku sudah mau menerima anak haram mu itu tapi apa? kau malah akan menceraikan ku demi anak itu. aku tidak bisa menerimanya Johan” begitulah lontaran ucapan sang Mama pada papanya.


“Cecile buang itu, kenapa kau nekat begitu”


“Bagaimana aku tidak senekat ini Johan, hidupku hancur kehidupanku direbut anak haram itu. Dan hak anak-anakku juga direbut olehnya”


“Cecile, aku bilang buang pisau itu. anak haram itu anakku, bukannya kau juga sudah menganggapnya anak tapi kenapa kau begini. Sheana sudah menjadi anakmu, kau sudah menganggapnya anak”


“Tidak aku tidak pernah menganggapnya anak, aku melakukannya karena terpaksa Johan, kau dengar terpaksa.”


Sheana yang mendengar itu semua membekap mulutnya sendiri, dia begitu syok mendengarnya. Air matanya jatuh, membasahi wajahnya saat ini, bahkan mulutnya bergetar menahan tangis.


“A..aku, bukan anak mama” ucapnya tertahan, ia syok mendengar semua itu. jadi dia hanya anak haram papanya dan bukan anak dari mamanya itu. dan kakak serta adiknya juga bukan terlahir dari rahim yang sama dengannya.


Perlahan Sheana berjalan mundur, ia tak sanggup mendengar perdebatan kedua orang dewasa itu ia amsuk kembali kedalam kamarnya. Suatu kenyataan yang selama dua belas tahun tak pernah ia bayangkan selama ini.


Pantas saja perlakuan mama sedari ia kecil selalu berbeda dengan dua saudara lainnya, dirinya hanyalah anak haram yang disembunyikan.


Kenangan-kenangan pahit bermunculan di kepala Sheana, dari dia yang disiksa sak mama saat papanya tidak di rumah. dan saat dia selalu di maki oleh kakaknya Sean serta kebencian keluarga mamanya terhadap dirinya. Wajar saja mereka begitu terhadapnya, karena tak ada darah mereka dalam dirinya.


Sheana yang berumur dua belas tahun hanya bisa menangis didalam kamar, mengingat kenangan pahit itu, sambil mendongak menatap keatas seakan meminta pertolongan dan petunjuk.

__ADS_1


“Mulai sekarang, aku tidak akan menjadi anak yang penurut. Aku tidak akan lemah, aku berani. Aku anak pemberani, aku bukan orang lemah” kata-kata penguat dan janinnya terlontar dari mulut tersebut. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi orang yang lemah dan penakut lagi.


FLASHBACK OFF


Tak terasa setetes air mata lolos dari mata indah itu, Sheana tersenyum sinis sambil menghapusnya. Dia tidak boleh menangis karena masa lalu itu, itu sudah berlalu dan dia sudah menjadi dirinya sendiri.


“Masa lalu bodoh itu, tidak akan membuatku lemah. Justru membuatku kuat, camkan itu,” Sheana berbicara sendiri menatap kearah air pantai yang indah tersebut.


“Dan dua orang munafik itu, tak akan bisa melukaiku” geramnya mengingat dimana dia sudah mempercayai kakek dan neneknya nyatanya dua orang itulah serigala berbulu domba yang sesungguhnya.


“Tunggu, keonaran yang ku buat kakek dan nenek tersayang” ucapnya mengepalkan tangannya begitu keluar.


“ARKHH, KALIAN MUNAFIK, PENIPU BRENGSEK” teriak Sheana meluapkan emosinya karena kesal telah dibohongi selama ini oleh dua orang yang dia percaya.


......................................


Disebuah rooptop, dua orang sedang duduk saling berhadapan dengan dua cappucino dingin di depan mereka.


“Dimana adikmu Sean, bukannya Daddy sudah menyuruhmu menelponnya untuk kemari?” Johan menatap putra sulungnya menanyakan soal keberadaan Sheana saat ini.


“Dimana dia sekarang, Daddy benar-benar cemas” Johan tampak begitu mencemaskan Sheana. Dia takut Sheana akan bertindak sesuai pikiran perempuan itu.


“Daddy tidak usah cemas, dia sudah besar pa” Sean berusaha membuat papanya tak khawatir soal adiknya itu.


“Iya, tapi kau tahu adikmu itu seperti apa”


“Oh iya, kau sudah mencari tahu soal pria yang dikabarkan dekat dengan Sheana?” tanya Johan saat mengingat soal perintahnya pada Sean kemarin.


“Sudah, dia seorang polisi di Mabes. Ia ajudan kepercayaan Jendral, dan orangnya begitu cakap” ujar Sean.


“berarti dia orang yang hebat, apa benar dia menjalin hubungan dengan adikmu”

__ADS_1


“Soal itu aku tidak tahu Dad, yang tahu hanya Sheana dan dia. orang-orang disekitar pria itu tak ada yang tahu kalau pria itu memiliki kekasih sebelumnya” jelas Sean pada sang Papa.


Johan hanya diam setelah mendengarkannya, dia tampak sedang memikirkan sesuatu yang tak bisa ia katakan.


...................................................


Zidan datang ke rumah sakit tempat dimana kekasihnya bekerja, dia harus menemui kekasihnya itu untuk menjelaskan semuanya. Ia tak ingin ada salah paham diantar mereka, apalagi mereka ada rencana ketahap yang lebih serius.


“Loh bang Zidan, ada apa bang?” tanya seorang dokter pria yang kebetulan mengenal Zidan.


“Eh, Dokter Gavrel. Saya kesini ingin bertemu dokter Gladys dia ada di ruangannya atau tidak ya?” Zidan langsung bertanya pada orang tersebut.


“Dokter Gladys sih masih ada operasi bang, tapi sebentar lagi kayaknya selesai abang tunggu saja di ruangannya” ucap Dokter bernama Gavrel itu, dia memang sudah tahu kalau Zidan dan rekannya menjalin hubungan meskipun keduanya jarang menunjukannya dimana pun.


“Oh begitu.. itu dia sudah selesai” ucap Zidan, dan terhenti saat melihat perempuan berseragam dokter yang selesai mencuci tangannya di wastafel dekat situ.


“Eh iya itu bang dia sudah selesai”


“Kalau begitu saya ke sana dulu” segera saja Zidan langsung pamit untuk menemui kekasihnya itu.


“Gladys,” panggil Zidan


Otomatis perempuan itu yang merasa terpanggil langsung melihat kearah Zidan saat ini. ia menyambut pria itu dengan senyum manisnya.


“Kamu kesini, kok nggak bilang” Gladys terlihat senang melihat pria yang dia cintai itu.


“Aku sengaja kesini, nggak bilang sama kamu.” ucap Zidan.


“Ayo keuanganku, kita bicara di sana” ajak Gladys, karena tak mungkin dia mengobrol di tengah koridor seperti ini rasanya tak sopan dan tak enak jika dilihat rekannya dan pasien-pasiennya.


“Ayo,” Zidan langsung mengiyakannya. Dia menggandeng tangan perempuan itu, Gladys tak menolaknya dia malah tersenyum dengan sikap manis Zidan tersebut. Zidan meskipun terlihat tenang tapi dia juga was-was takut jika Gladys tahu soal berita tentang dirinya itu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2