
“Akhirnya kamu kesini juga Sheana, mama kangen sama kamu. mama pengen ngbrol banyak juga ke kamu” mama Zidan begitu senang dengan kedatangan Sheana dan juga Zidan. Bahkan dia yang sudah ganti baju langsung duduk disebelah Sheana dengan meminta Zidan pindah tempat duduk.
Ia begitu senang memiliki menantu perempuan saat ini, karena dia sedari dulu ingin anak peremuan tapi tak diberikan oleh yang diatas. Jadi mendapatkan menantu perempuan seakan membuatnya senang karena bisa berbagi keluh kesahnya dan melakukan apapun bersama.
Sheana yang dipeluk langsung dan di pegangi tangannya terus-terusan oleh Bunga mama dari Zidan tampak sedikit canggung tetapi dia nyaman dengan pelukan itu. ia melihat Zidan yang duduk didepannya memberikan senyum padanya saat ini.
“Sudahlah ma, cucumu nanti kehimpit kasihan” Gautam papa dari Zidan mengingatkan bunga soal kehamilan Sheana.
“Astaga mama lupa kalau kamu hami, habisnya mama seneng banget kamu kesini. Mama jadi ngerasa nggak sendiri” Bunga langsung melepaskan pelukannya pada Sheana.
“Iya nggak pa-pa ma,” jawab Sheana sambil tersenyum kikuk.
“Berapa bulan sih sayang?” tanya Bungan sambil memegang perut mengusap-usap perut menantunya.
“Masuk sembilan minggu ma” sahut Zidan.
“Wah hampir tiga bulan ya, kamu ini kak parah hamilin anak orang sudah dua bulan lebih baru dinikahin” pungkas Bungan sambil mengangkat tangannya seakan ingin memukul anaknya.
“Zidan-Zidan, kamu nggak berubah dari dulu bikin masalah saja. untung orang tua Sheana nggak tahu kalau dia hamil duluan. Kalau tahu pasti papanya marah besar sama kamu” Gautam menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ulah sang anak.
“Kenapa salahkan aku pa, itu menantu kesayangan mama yang nggak mau nikahi” jawab Zidan sambil melihat pada Sheana.
Sheana melebarkan matanya mendengar ucapan Zidan barusan,
“Kenapa jadi aku, itu salahmu. Kenapa kau menyentuhku disaat ada tunangan, jadi wajar aku tidak mau menikah denganmu” kesal Sheana yang tak terima disalahkan.
Semuanya langsung berubah jadi diam termasuk Zidan, Sheana yang merasakan suasana berubah membuat dia merasa bersalah telah mengatakan hal itu.
“Aku minta maaf soal ucapanku ba...”
“Tidak perlu minta maaf Sheana, mama juga kalau jadi kamu wajar kok nggak mau nikah sama Zidan yang masih punya tunangan tapi malah menghamili perempuan lain. Kita yang dihamili pasti mikir nanti di tuduh perembut pria orang lain. Kamu nggak usah minta maaf, kamu nggak salah kok sayang” Bungan mengusap pundak Sheana penuh kehangatan.
“Sudah-sudah nggak usah bahas itu. Zidan ajak istrimu makan, mamamu tadi sudah masak makanan kesukaanmu dan Kevin. Oh iya Kevin kemana? Kenapa tidak kelihatan dari tadi” ucap Gautam.
“Dia tadi di kamarnya” jawab Zidan.
“Oh, yasudah sana kalian berdua makan dulu” pungkas Gautam lagi meminta anaknya untuk mengajak Sheana makan.
“Ayo sayang makan dulu,” ajak Zidan sambil mengulurkan tangannya pada Sheana.
__ADS_1
Sheana melihat Zidan dan menerima uluran tangan tersebut. Dia merasa kikuk sebenarnya dnegan Zidan yang terus-terusan memanggilnya sayang. Ia menjadi salah tingkah dengan panggilan itu, tapi ia berusaha menahannya agar tidak terlihat oleh Zidan.
“Ma, Pa. Aku permisi dulu” ucap Sheana pamit pada kedua orang tersebut.
“Iya” jawab Gautam dan Bunga bersamaan.
...........................................
Di lain tempat Satria duduk bersama Sean di sebuah Cafe pria itu ngomel-ngomel tidak jelas karena sikap Sheana.
“Kak sheana kenapa sih kak, aku nelpon dia berkali-kali nggak di angkat malah dimatikan terus. Aku bilang mau ke Jakarta nggak di jawab, eh dijawab sekali dia malah bilang nagpain ke Jakarta” kesal Satria sambil menyeruput kopinya dan menghentangkan cangkirnya ke meja.
“Memang begitu sifatnya,” jawab Sean hanya menanggapinya singkat.
“Keluarga kalian memang begitu ya,” ucap Satria pelan smabil mendekatkan dirinya pada Sean.
“Ya begitulah,”
“Keluarga kalian sepertinya sama nggak asiknya dengan keluargaku di Semarang.”
“Kenapa bisa begitu? Bukannya di sana ala keraton orangnya lembut-lembut ramah-ramah dan tentu tidak membosankan seperti keluargaku”
Sean yang mendengarnya hanya menganggukan kepala saja smabil mencermati setiap ucapan Satria padanya.
“kak Sheana jadi menikah dengan orang yang diajak ke Semarang itu? orangnya baik atau tidak. Sayang sekali aku belum pernah bertemu dengan orang itu, kalau sudah aku temu akan aku ancam untuk tidak menyakiti kakakku” Satria benar-bener penasaran seperti apa kepribadian kakak iparnya. Waktu itu dia ingin menemuinya tapi karena ibunya menyuruh orang suruhan membawanya paksa ke Semarang membuat dia gagal bertemu suami kakaknya saat ini.
“Kenapa kau terlihat perduli sekali dengan Sheana?”
“Kak Sean ini gila ya, jelas aku perduli dia kakakku. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri saat itu saat aku mendengar dia tidak di akui ibu sebagai anaknya aku bertekad untuk melindungi dan selalu ada untuk kak Sheana”
“Nah itu yang ku maksud, ibumu saja tidak perduli dengan adikku lalu kenapa kau perduli?”
“Karena aku dan dia terlahir dari rahim yang sama jelas aku perduli. Memang kau tidak perduli dengan kak Sheana? Kalau kau tidak perduli dengannya siap-siap jadi musuhku” wajah Satria berubah menjadi serius.
“Slow bro, aku juga sayang dengan adikku. Aku hanya mengetesmu saja, apa kau serius atau tidak soal ucapanmu” jawab Sean sambil tersenyum tipis lalu menyeruput kopi miliknya.
“Soal suami Sheana, dia pria baik. Dia seorang polisi, dan mantan ajudan dari sahabat papaku. Jadi aku bisa menilai kalau dia ornag yang baik, kau tidak usah khawatir” lanjut Sean meminta Satria tidak usah mengkhawatirkan Sheana soal suami perempuan itu.
“Ngomong-ngomong kau mau tinggal dimana selama di Jakarta, di hotel atau dimana?” pungkas Sheana lagi.
__ADS_1
“Aku beli Apartemen di dekat sini, jadi aku akan tinggal di apartemenku” jawab Satria.
“Wiih uangmu banyak juga ternyata, bukannya kraton ada pembatasan dana?”
“Pebatasan dana sih pembatasan dana tapi ini dong di pakai, kalau ini dipakai cuannya pasti” jawab Satria sambil menunjuk-nunjuk kepalanya dengan jarinya seakan-akan dia menggunakan otaknya untuk menghasilkan uang.
“danaku memang dibatasi, tapi aku bukan orang yang suka menghamburkan uang. Jadi apa yang diberikan orang tuaku aku tabungkan dan membuat uangku yang bekerja. Pintarkan,.” Pungkas Satria terlihat bangga dengan dirinya sendiri.
“Pintar kamu, tidak salah kau terlahir dari keluarga ningrat. Otakmu jalan juga ternyata,”
“Siapa dulu, Satria gitu” jawab Satria smabil tersenyum membanggakan dirinya sendiri.
..........................................
Zidan dan Sheana sudah berada di dalam mobil menuju pulang. Sore hari mereka pulang kerumah karena Zidan mengajak Sheana tinggal di apartemennya jadi mereka harus berberes dan membawa barang mereka ke apartemen.
“Sayang, aku tadi pagi tidak sengaja melihat ponselmu. Ada nama Satria yang mengirimu pesan, siapa dia? bukan itu saja tapi dia menelponmu?” tanya Zidan penasaran, dia melihat sekilas Sheana.
“Kenapa kau memanggilku sayang, jangan panggil aku beitu terus” protes Sheana sebelum menjawabnya.
“Ya memang kenapa, kita suami istri sekarnag tidak mungkinkan suami istri manggilnya nama” mulai sekarang kamu juga manggil aku itu, tidak ada penolakan” tegas Zidan.
“Ternyata kamu tukang pemaksa juga”
“Jawab Satria siapa?” bukannya membalas ucapan Sheana Zidan terus bertanya soal Satria.
“Dia anak perempuan yang membuangku” jawab Sheana malas.
“Adikmu maksudnya, benar dia adikmu”
“hemm, kenapa cemburu. Kau pikir itu orang lain?”
“Oh,” Zidan hanya menjawab oh saja, dia malu sendiri. karena dia pikir itu pria lain, kalau pria lain dia tidak suka saja istrinya masih berhubungan dengan banyak pria. Dua saingain Toni dan Kevin saja mebuatnya bingung dan kelimpungan serta takut kehilangan Sheana palagi kalau bertambah lagi pria lain, semakin membuatnya gelisah karena harus bersaing dengan banyak orang.
Sheana melihat Zidan dengan senyum kecil, mungkin Zidan tak menyadari senyum istrinya. Sheana merasa gemas melihat Zidan yang tampak cemburu tapi gengsi untuk bilang.
°°°
T.B.C
__ADS_1