
“Kau..” ucap Kevin tertahan, karena dia terkejut mendapati kakak iparnya berada didepan dirinya saat ini.
Kevin benar-benar tak menyangka saat dia membuka pintu kakak iparnya itu muncul didepanna saat ini.
Sheana hanya diam sesekali menunduk, dia malu bertemu dengan Kevin.
“Kakakmu ada?’ tanya Sean yang memulai omongan.
“Ada didalam, ayo masuk” jawab Kevin dan mempersilahkan ketiga orang itu masuk kedalam.
Sheana terlihat berat untuk masuk kedalam, dia memegang baju James yang hendak masuk lebih dulu.
“Kenapa?” tanya James memperhatikan sepupunya tersebut.
“Kau malu bertemu keluargaku,” tebak Kevin melihat kakak iparnya itu.
“Nggak siapa yang malu” snagkal Sheana dan langsung berjalan masuk.
“baguslah kalau tidak malu, kakakku ada dikamar masuk saja ke kamarnya. Tidak perlu malu orang tuaku sedang tidak dirumah sekarang” pungkas Kevin pada Sheana.
“Siapa juga yang malu, sudah aku bilang aku tidak malu” kesal Sheana, dia langsung masuk mengabaikan tiga orang yang menatap padanya. Dia melangkah perlahan menaiki tangga dirumah mertuanya tersebut, sembari melihat sekilas pada James. James hanya mengangguk saja tanpa bicara.
“Kalian berdua silahkan duduk, mau minum apa nanti biar asisten rumah tanggaku membuatkan kalian minum” ucap Kevin pada Sean dan juga James.
“Tidak perlu, aku kesini hanya ingin mengantar Sheana. Kalau begitu kita berdua pamit pergi”
“hah,”
“Kalian serius ingin langsung pergi?’
“Iya, aku sengaja saja meninggalkan Sheana disini. kalau kita berdua masih disini dia bisa mencari alasan untuk pulang. Kita pamit” ucap Sean.
“Ayo James,” ucap Sean mengajak James pergi.
“Koper Sheana?”
“Ambil bawa kesini” ucap Sean memerintah James.
James langsung pergi lebih dulu untuk mengambil koper milik Sheana yang masih berada didalam mobil.
“Kau menemukan adikmu dimana?” tanya Kevin pada Sean.
“Dia ternyata bersama sepupuku di Amerika, aku minta maaf karena aku tidak tahu soal itu” ucap Sean.
“Kenapa kau minta maaf padaku, memang kau salah” pungkas Kevin.
__ADS_1
“Ini koper Sheana” james datang membawa koper Sheana kedepan dua pria tersebut.
“Kita pamit dulu” ucap Sean langsung berpamitan untuk pergi.
“ya” jawab Kevin.
Sean dan James langsung pergi dari hadapan Kevin saat ini, mereka berdua berjalan menuju mobil mereka yang terparkir tepat didepan rumah tersebut.
.....................................
Sheana berdiri didepan pintu kamar Zidan saat ini, dia ragu untuk masuk kedalam. Apa tanggapan Zidan setelah melihat dirinya nanti.
“Masuk nggak ya..” gumamnya.
Perlahan Sheana memegang knop pintu dikamar Zidan tersebut, dia membukanya perlahan sambil melihat adakah Zidan didalam kamar saat ini.
Zidan yang duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan ponselnya mendengar suara pintu yang terbuka. Dia langsung menoleh melihat siapa yang masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Betapa terkejutnya Zidan melihat siapa yang berada di ambang pintu tersebut.
Begitu juga Sheana, dia juga cukup terkejut karena tak menyangka Zidan mendengar dirinya membuka pintu padahal dia sudah hati-hati membukanya.
“Sheana..” Zidan langsung berdiri menatap kekasih hatinya tersebut dengan penuh kerinduan.
Sheana hanya diam saja sambil menatap Zidan, jujur dia merindukan sang suami yang sudah seminggu tidak ia temui.
Zidan perlahan berjalan sambil memegangi perutnya mendekati Sheana yang masih terdiam diambang pintu.
Mata Sheana juga berkaca-kaca melihat Zidan, entah mengapa ia melihat suaminya tampak pucat bahkan sedikit kurus. Rasa rindu dalam hatinya juga cukup besar untuk Zidan, tanpa menunggu lebih lama lagi Sheana berjalan cepat menghampiri Zidan dan memeluknya.
Sheana langsung memeluk Zidan saat ini, kerinduannya mengalahkan egonya sekarang.
Zidan yang dipeluk oleh Sheana merasa tak percaya kalau ini semua bukan mimpi saat ia merasakan tubuhnya bersentuhan dengan sang istri.
“Aku merindukanmu, “ ucap Sheana sambil memeluk Zidan.
“Aku juga sayang, saku juga merindukanmu. Kamu kemana saja kenapa kamu bergi tanpa memberitahuku hah..aku aku tidak bisa hidup tanpa kamu” balas Zidan membalas pelukan Sheana meskipun dia merasakan sakit di bagian lukanya yanga da diperut tetapi rasa sakit itu tak seberapa saat dia sudah melihat sang istri saat ini.
“Aku minta maaf, aku..aku tidak memberitahumu” Sheana merasa air matanya ingin keluar saat ini atas rasa bersalah yang sudah ia lakukan.
“Nggak, kamu nggak perlu minta maaf sayang. Aku yang salah, aku yang nggak cerita semuanya sama kamu aku minta maaf sayang” ucap Zidan sambil merenggangkan pelukannya dan tangannya mengusap lembut wajah Sheana yang menitihkan air mata.
“Kamu jangan nangis, kamu nggak salah. Aku yang salah” pungkas Zidan sambil menghampus air mata sang istri.
Sheana langsung memeluk Zidan cukup erat membuat rintihan kesakitan yang tadi tak dirasa Zidan akhirnya keluar dari mulut pria itu membuat Sheana terkejut dan merenggangkan pelukannya.
__ADS_1
“Kamu kenapa?” tanya Sheana memperhatikan Zidan sambil menahan sakit dan tangan pria itu memegangi perut bagian pinggang.
“Aku nggak pa-pa” bohong Zidan dan berusaha menahan sakitnya.
Sheana diam sambil terus memperhatikan wajah Zidan yang tampak kesakitan,
“bohong, kamu kenapa? Perut kamu kenapa?” tanya Sheana dan memaksa memegang perut yang tengah dipegangi oleh Zidan.
“Nggak pa-pa sayang,” Zidan berusaha menahan tangan Sheana agar tak menyentuh perutnya.
“Ayo duduk, kamu cerita sama aku selama ini kamu kemana bawa anak kita, aku benar-benar hampir gila karena kalian tidak ada bersama ku. Anak-anak kita tidak nakal kan?” ucap Zidan merengkuh Sheana dan tangannya mengusap perut sang istri. Sebenarnya dia ingin mencium perut istrinya itu tapi ia susah untuk menunduk.
“Aku dari Amerika bersama James” jawab Sheana lirih.
“APA?”
“Aku minta maaf kabur sampai kesana”
“Sudah kita bahas nanti, ayo duduk dulu. kamu pasti capekkan,..” ucap Zidan mengalihakan perhatian Sheana yang terus melihat kearah perutnya dengan mengajak perempuan itu duduk di pinggir tempat tidur. Jujur dia amat sangat bahagia karena istrinya sudah kembali,
“kamu menyembunyikan sesuatu dariku kan?’ tanya Sheana saat mereka berdua sudah duduk.
“Nggak sayang”
“Bohong, tanganmu minggir. Aku pengin lihat perut kamu, kamu kenapa?” pungkas Sheana memaksa Zidan mengalihkan tangannya dari perut.
Sheana menarik paksa tangan Zidan dan dia cukup terkejut saat melihat baju putih suaminya ada darah basah disitu.
“Kenapa bajumu ada darah,” Sheana langsung membuka paksa baju Zidan dari bawah. Betapa terkejutnya dia saat mengangkat baju itu. darah merembes dari perban yang ada di perut Zidan saat ini.
“Kamu kenapa? Kenapa perutmu bekas tusukan begini. itu kenapa?” ucap Shena panik dan langsung mencercar sang suami.
Zidan menutup kembali bajunya dan melihat kepanikan Sheana.
“Aku nggak pa-pa sayang, ini sudah biasa” ucap Zidan berusaha menengakan istrinya.
“nggak mungkin itu nggak pa-pa, aku lihat lu..”
“Suttt, aku nggak pa-pa. Sekarang bukan saatnya mengkhawatirkanku. Aku ingin melepas rindu dengan istriku” Zidan menaruh jarinya didepan bibir Sheana membuat perempuan itu langsung terdiam dan dia langsung berbaring di pangkuan Sheana mengusap perut sang sitri dan mencium perut itu.
Sheana diam sambil melihat Zidan, ia tak percaya dengan ucapan suaminya kalau itu hal biasa. Tapi Sheana tak mungkin bertanya pada Zidan, pria itu tak mau menceritakan padanya soal kenapa perutnya terluka
°°°
T.B.C
__ADS_1