
Zidan sedang berada di kantor polisi, ia tampak duduk di mejanya memperhatikan rekan-rekanya yang lain yang tampak sibuk dengan pekerjaan mereka. Karena bosan Zidan akhirnya memutuskan keluar dari ruangannya tersebut. Ia berjalan ke salah satu rekanya yang tengah tidak sibuk.
Dimeja Ilham yang hanya duduk bermain kan ponsel Zidan mendekat ke sana.
"Sibuk amat ham," ucap Zidan memperhatikan Ilham yang sibuk dengan ponselnya.
"Oh, bang Zidan." Ilham tampak terkejut karena kedatangan tiba-tiba dari Zidan.
"Biasa aja, gak usah kaget begitu. Kenapa sih kaget?" ucap Zidan heran.
"Hehehe, gimana gak kaget bang. Saya lagi baca artikel ada abang disitu, eh terus abang muncul didepan saya. Gimana saya nggak kaget" jelas Zidan.
"artikel?Perasaan hari ini saya gak update apa-apa di medsos" Zidan memang terkenal di medsos, dia merupakan seorang polisi yang instagrameble banyak kaum hawa yang mengenalnya di sosmed. Setiap Zidan mengauplod sebuah foto atau apa pasti menjadi sebuah artikel dibeberapa majalah.
"Bukan itu bang, tapi soal abang yang lagi deket sama putri sekaligus cucu konglomerat keluarga Ravero" Ilham memberitahukan pada Zidan mengenai artikel itu.
Zidan tampak terkejut, mendengar hal tersebut. Hubungan?siapa yang menjalin hubungan. batin, Fahri. Bagaimana bisa dia menjalin hubungan dengan anggota keluarga Ravero, dia sendiri saja sudah memiliki pacar seorang dokter. Ia Zidan memang sudah memiliki seorang kekasih yang sangat ia cintai. Kekasih nya itu berprofesi sebagai seorang dokter. Tidak banyak yang tahu kalau Zidan sudah memiliki seorang kekasih, karena Zidan begitu tertutup soal hubungan pribadinya, ia tidak ingin mengumbar kehidupan pribadinya kepada orang lain.
"Saya nggak ngerti deh ham, sama yang kamu omongin" Zidan tampak mengernyitkan dahi tak paham maksud Ilham.
"Mana saya lihat ham?" Zidan ingin tahu artikel itu.
Ilham memberikan ponselnya pada Zidan agar Zidan bisa melihat tentang apa yang diberitakan di artikel tersebut.
Benar saja di sana tertera fotonya dan judul artikel yang menunjuk padanya. Serta ada foto dimana Sheana sedang memeluk dirinya dibelakang saat di mall waktu itu, itu aslinya bukan memeluk tetapi perempuan itu sedang berlindung dibelakangnya sambil memegang baju dinasnya. Dan difoto yang diambil dari jauh terlihat Sheana sedang memeluk dirinya.
Sungguh sebuah berita yang hoaks begitu meresahkan tanpa tahu kebenaran sudah main publis saja.
"Itu bang Zidan kan?" ucap Ilham saat melihat Zidan yang masih melihat foto itu dengan seksama.
"Berita hoak ini, gak bener ini ham. Ini memang saya tapi kejadiannya nggak seperti ini" jelas Zidan.
"Serius ri, nggak seperti itu. Kalau nggak seperti itu kok kemarin kamu melindungi perempuan yang ada di foto itu" salah satu polisi datang ikut menimbrung pembicaraan Zidan dan Ilham.
"Kemarin karena saya gak tega aja, masa perempuan ditampar bang" Zidan membela diri,.
Polisi yang baru datang itu bernama Jefri, dia bawahan Zidan tetapi umurnya lebih tua dari Zidan jadi dia dipanggil bang oleh Zidan.
__ADS_1
Jefri hanya tersenyum saja mendengar pembelaan Zidan, dia merasa tidak percaya karena kemarin dia juga melihat Perempuan yang digosipkan dengan Zidan itu masuk keruangan Zidan.
"Beneran bang, saya nggak ada hubungan sama cewek itu" Zidan yang melihat Jefri tersenyum merasa perlu meluruskan semua ini.
"Iya deh iya. Saya percaya" ucap Jefri masih tersenyum.
°°°°°
Sheana sedang berada di rumahnya, dia tampak santai bermain menikmati jus jeruk di teras rumah yang berada di samping rumah tersebut.
"Apa ini?" Tanya Johan yang tiba-tiba saja datang membanting koran dimeja.
Johan memang sekarang berada di Indonesia, ia tidak sendiri melainkan bersama Cecil dan Selina. Menyusul Sean yang ke Indonesia karena bersikeras mengajak Sheana untuk kembali ke Sydney.
Sheana melihat sekilas apa yang ada di koran tersebut. Dia hanya diam saja melihat artikel di koran itu. Sejujurnya dia juga terkejut tetapi berusaha sebisa mungkin ia menyembunyikan keterkejutannya itu.
"Daddy nilai aja sendiri," ketus Sheana dan langsung bangkit berdiri.
"Mau kemana kamu?Daddy mau bicara sebentar sama kamu?" ucap Johan sambil menatap putrinya.
"Daddy minta maaf sama kamu, waktu di Sydney beberapa waktu lalu" Johan terlihat menyesali apa yang ia lakukan pada Sheana saat mereka ada di Sydney waktu itu. Dimana dia sudah menampar putrinya dan berkata kasar pada anaknya itu.
Sheana hanya diam mendengarnya lalu melangkah pergi. Tapi belum jauh dia pergi Daddy nya kembali berbicara.
"Jika kamu memang benar menjalin hubungan dengan pria ini, Daddy harap kamu mengenalkannya pada Daddy."
"Dan soal tujuan mu ke Indonesia entah itu karena pria ini atau entah karena ibumu?Daddy tidak tahu, kalau karena ibumu Daddy harap kamu jangan mencarinya atau menemuinya. Kamu akan kecewa sendiri nantinya" Saran Johan begitu haru memandang Sheana yang hanya membelakangi dirinya saat ini.
Sekali lagi Sheana tidak menanggapi perkataan yang diucapkan Daddy-nya. Dia kini malah berjalan pergi meninggalkan Johan yang menatap dirinya penuh haru.
Sean yang memang sedari tadi disitu melihat dari jauh ayah dan adiknya yang tampak serius hanya melihat saja kini Sean mendekati ayahnya yang sudah duduk di kursi tempat dimana Sheana duduk tadi. Daddy-nya begitu terlihat sedih serta tertekan.
"Dad," ucap Sean memegang bahu ayahnya lembut.
Johan berbalik menatap Putra sulungnya.
"Apa yang harus Daddy lakukan untuk membuat Sheana tidak mencari ibunya" ucap Johan lemah,
__ADS_1
"Biarkan dad, biarkan Sheana mencari ibunya biar dia tahu bahwa ibunya itu tidak pernah menganggapnya" lirih Darren sebenarnya dia juga sama seperti ayahnya yang tidak ingin Sheana bertemu dengan ibu kandungnya. Ia tidak ingin Sheana hanya sakit hati sendiri melihat bagaimana tingkah ibunya yang tak pernah menganggapnya.
………………
Sheana berada di mobilnya yang berada ditepi jalan. Dia sedang melihat artikel dirinya yang ada di ponsel. Sebenarnya ia penasaran dengan berita tersebut, karena tadi ia hanya melihat sekilas yang ada di koran.
"Berita murahan, amatiran. Dasar penyebar hoaks semata" caci Sheana saat membaca isi artikel yang menyangkut dirinya.
"Tapi, tidak apa. Aku akan membiarkan berita ini, agar kakek tua bangka itu tidak menjodohkan diriku" sinis Sheana.
"Dia pikir, dia bisa membodohi ku" ucap Sheana sambil tersenyum misterius.
Lalu Sheana melajukan mobilnya pergi, entah kemana saat ini ia akan melajukan mobil tersebut.
....
Di kantor polisi Zidan tampak gelisah setelah melihat artikel tentang dirinya dan salah satu cucu konglomerat di negaranya.
Dia khawatir kalau-kalau kekasihnya Gladys melihat artikel itu, kira-kira apa yang dipikirkan perempuan manis berhijab itu tentang dirinya.
Zidan sekarang juga tidak bisa keluar begitu saja karena didepan begitu banyak reporter yang datang. Para rekan polisinya bahkan ikut mengamankan didepan agar mereka tidak bisa meliput dirinya, dia bingung saat ini apa yang harus dia lakukan.
"NONA NONA SHEANA RAVERO, KENAPA ANDA KESINI? APA ANDA AKAN MENEMUI KEKASIH ANDA" terdengar keributan dari Luar yang mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.
Benar Sheana datang kekantor polisi, sontak saat dia baru saja keluar dari dalam mobil semua reporter langsung berlarian kearahnya. Polisi-polisi yang ada disitu tentu saja ikut berlari mencoba mengamankan Sheana dari reporter yang ingin memburu berita. Sebagian polisi itu memang saat ini sudah tahu bahwa Sheana merupakan cucu dari keluarga Ravero. Pihak berwajib mana yang tidak tahu keluarga Ravero yang pro dengan pemerintah.
"NONA SHEANA TOLONG JAWAB, APAKAH ANDA KESINI UNTUK MENEMUI KEKASIH ANDA. APA ARTIKEL ITU BENAR KALAU ANDA MENJALIN HUBUNGAN DENGAN SEORANG POLISI" Tanya salah satu wartawan yang berusaha mengarahkan recordnya dihadapan Sheana.
Sementara Sheana hanya terus berjalan dengan dilindungi beberapa polisi, yang mengawal di kiri kanan Sheana.
Sheana sudah sampai didalam kantor polisi, di sana ada Zidan dan Jefri yang duduk. Zidan yang tadinya tidak mengetahui kedatangan Sheana saat langsung bangkit berdiri melihat Sheana yang menatapnya.
"Kau, kenapa kau kesini?" ucap Zidan penasaran. Disini sedang banyak reporter, eh perempuan itu malah datang. Bisa-bisa menjadi semakin lebar saja berita tentangnya.
°°°
T.B.C
__ADS_1