
Zidan berada di dalam kamarnya, dia merebahkan dirinya. Memikirkan segala keputusan dan resiko yang akan dia ambil kedepannya.
“Zidan kau sudah banyak membuat orang tuamu kecewa, mungkin dengan ini kau juga bisa membuat mereka bisa memaafkanmu” gumam Zidan sambil melihat foto keluarganya jauh sebelum dia menjadi seorang polisi dan mengenal Gladys.
Dia jadi polisi karena ingin menebus kesalahanya kepada kedua orang tuanya dan juga ingin melanjutkan cita-cita dari temannya dulu yang ia ajak tawuran dan sahabatnya itu malah menjadi korban dari tawuran tersebut. Sedangkan dirinya yang bisa lolos dari tawuran dan dari polisi hanya bisa melihat temannya yang di bacok dari tempat persembunyian. Ia memang dulu pengecut yang sok berani. Masa lalunya memang begitu kelam, ia dulu bukanlah orang yang baik.
Foto yang ada di ponsel Zidan itu, mereka berempat tampak tersenyum kearah kamera, kedua orang tuanya terlihat bahagia meskipun dulu dia banyak mengecewakan kedua orang ornag tuanya.
Tapi semua kebahagian itu hilang saat dia tak tahu malunya malah berpacaran dengan mantan pacar dari adiknya sendiri. bahkan sampai bertunangan. Pada saat itu papanya marah besar saat ia bertengkar hebat dnegan Kevin hanya karena seorang perempuan. Ia yang saat itu diminta untuk menghentikan niat untuk melamr perempuan itu, malah menolak keras karena bilang mencintai Gladys dan mengatakan kalau Gladys sudah menjadi manta kekasih Kevin jadi apa salahnya kalu dia memacari mantan kekasih adiknya.
Dari saat itulah kedua orang tua Zidan dan juga Kevin langsung tidak menganggap Zidan karena lebih memilih melanjutkan pertunangan. Zidan yang pada saat itu sudah tidak dianggap anak memilih keluar dari rumah dan tidak mau membantu bisnis orang tuanya.
Keluarganya bukan keluarga yang super kaya, tapi ya keluarganya bisa dibilang lumayan. Ayahnya memiliki beberapa bisnis garmen dan juga obat-obatan farmasi.
“Aku besok harus menemui Glady terlebih dahulu, aku harus bilang padanya kalau aku tidak bisa melanjutkan ini semua” putus Zidan smabil berpikir.
“Baru setelah itu aku harus menemui orang tuanya” lanjut Zidan.
“Maafkan aku Gladys, aku rasa memang hubungan kita tidak bisa lanjut lagi” gumam Zidan sambil menscrol foto Gladys menghapus satu persatu foto perempuan itu dari galery ponselnya.
.....................................
Sheana tengah duduk di sofa ruang tengah menonton tv, televisi di depannya menyala tapi pikiran Shean tak fokus menontonta. Pikirannya masih melayang pada ucapan Zidan tadi pagi padanya.
“Apa pria itu sudah gila? Apa ucapannya serius? Atau jangan-jangan dia hanya memanfaatkanku” Sheana masih tak percaya, banyak pikiran negatif dia tujukan untuk Zidan.
“Kak Sheana..”
“Kak Sheana, hello. Lo denger gue nggak sih” Selina langsung merebut remot tv yang dipegang Sheana. Sontak lamunan Sheana langsung buyar dan dia menatp adiknya yang sudah berdiri didepannya saat ini.
“Apaan sih lo rese banget, nggak punya sopan santu ya lo” ketus Sheana.
“Lo aja yang tuli, gue panggil-panggil nggak jawab.” Cibir Selina.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Nih, kak Julian nelpon. Hp lo kenapa lo matiin sih nyusain gue aja” Selina menyodorkan ponselnya pada Sheana sambil mengerutu.
Sheana langsung mengambil begitu saja ponsel Selina, dan dia mendekatkan ponsel itu ketelinganya.
“ada apa?” jawab Sheana.
“Lo ngapain masih berdiri disini, sana pergi. Mau nguping aja lo” ucap Sheana melihat Selina yang terus melihatnya dengan tatapan penasaran.
“Lo nggak sadar diri ya, yang lo pakai itu ponsel gu”
“Lo mau gue cekik atau bagaimana? Mumpung bokap sama nyokap nggak dirumah” ancam Sheana, Selina yang mendengar itu langsung diam seribu kata. Karena Sheana tak main-main dengan ucapannya.
“Lo memang nyebelin, balikin ke kamar gue nanti” Selina langsung pergi dengan marah. Karena dia tak bisa apa-apa, mama papanya tak dirumah. kakaknya Sean juga sedang pergi, jadi dia tak bisa melawan Sheana. Ia apsti kalah dan tak ada yang membelanya nanti.
“Ada apa? maaf tadi ada masalah sedikit” ucap Sheana pada Julian.
“Berantem lagi sama Selina?”
“Biasalah, perempuan kepo itu ingin tahu saja”
“Aku menelponmu hanya ingin bilang saja, kakek kemarin menemui Marco membahas masalah jalur ke Maroco. Dan dia membahasmu, beliau bilang kalau kau sudah setuju menikah dengan anak Marco. Kau yakin akan menikah dengan anak bandar narkoba itu,?”
“Apa? lalu kenapa kau waktu itu bilang pada kakek soal kau akan menikah dengan anak Marco asal setengah saham milik kakek atas namamu”
“Aku menipu pria tua bangka itu lah. Aku melakukan ini juga demi Om jason dan dirimu. Bukan demi pria tua bangka itu juga”
“maksudmu bagaimana?”
“Kakek sudah melakukan banyak penggelapan atas namanya, dan kalau saham perusahaan masih atas nama dirinya. Dia bisa-bisa akan menjadi miskin, kalau sampai semua itu terdengar publik. Tapi karena berhubung perusahan sudah menjadi milik orang lain. Tentu saja pihak yang akan mengusut tidak akan mendapat apa-apa, lagi pula papamu juga berhak atas Grup Ravero. Selama ini Om jason yang selalu mengurus perusahaan itu, dan sahamku bairkan saja tapi aku mengandalkanmu sebagai yang menangani itu semua” jelas Sheana.
“Kau ternyata masih perduli juga dengan keluargamu,”
“Kapan aku tidak pernah perduli dengan kelaurgaku, aku akan bersikap keji pada orang yang jahat padaku. Tapi aku akan membalas kebaikan pada orang yang sudah baik padaku. Intinya kebaikan akan dibalas kebaikan, kejahatan akan aku balas kejahatan”
“Tapi bukannya kalau kau curhat dengan James, kau bilang kakek penipu dan kejam padamu. Lalu kenapa kau membantunya,?”
__ADS_1
“Siapa bilang aku membantunya, dia akan masuk penjara”
“Apa? gila kau Sheana. Kau serius akan menjebloskan kakek ke penjara?”
“Bukan aku, tapi dia sendiri menjebloskan dirinya ke penjara. Salahnya sendiri menggelapkan dana yang tak seharusnya menjadi miliknya, di tambah dia malah melakukan kerjasama dengan bandar narkoba. “
“Busyet deh, “
“Kau tidak simpati dengan kakekmu itu?” tanya Sheana pada Julian.
“Aku tidak menaruh simpati dengannya, tahu sendiri dia seperti apa. kakek yang selalu membanggakan cucu dari anakknya yang sukse bukan anak dari papaku. Keculai James, dia selalu membanggakan James selama ini karena bisa membuatnya bekerja sama dengan perusahan hiburan Amerika”
“Kata siapa dia membanggakan cucunya dari daddyku, buktinya aku hanya di tipu oleh muka duanya itu”
“Nggak sebenarnya apa masalahmu dengan kakek sampai kau begitu benci dengannya saat ini, padahal dulu kau selalu membelanya saat Om Johan memaki kakek”
“Dulu aku masih bodoh, dan adalah masalah yang membuatku benci pada pria itu”
Julian dan James, anak-anak dari Jason memang tidak tahu kalau Sheana hanya anak haram di keluarga mereka. Sheana seumuran dnegan si kembar Julian dan James, wkatu lahir mereka tidak terlalu jahu sehingga kedua orang kembar itu tak tahu kalau sepup mereka anak dari selingkuhan Om mereka.
Keluarga Ravero memang menutup rapat semuanya, bahkan keluarga sendiri tidak ada yang tahu soal ini, mungkin hanya orang terdekat saja yang tahu itupun sudah di bayar oleh Hadi agar mereka tutup mulut. Jason tentu saja mengetahuinya, dan yang selalu baik dengan Sheana Jason serta istrinya tapi sayang istri Jason sudah tiada dari beberapa tahun lalu.
“Yang ingin kau sampaikan itu saja atau masih ada lagi?”
“Sudah tidak ada sih, oh iya. Aku dengar kau akan ke Amerika menyusul James? Kapan? Bareng denganku saja”
“Entahlah belum pasti, kepalaku pening gara-gara orang tidak jelas”
“Siapa?
“Ada seseorang, ya sudah kalau begitu matikan saja. yang punya ponsel bakal ngamuk nanti”
“Oke, daa, sampai jumpa” ucap Julian dari seberang sana.
Panggilan langsung terputus, Sheana langsung melempar ponsel itu ke meja. dia kembali menonton televisi bodo amat dengan ponsel Selina. Biar bocah itu sendiri saja yang mengambilnya.
__ADS_1
°°°
T.B.C