
Sheana berjalan-jalan melihat sekitar apartemen Zidan, sedangkan Zidan tengah membawa koper mereka kedalam kamar.
“Sedang apa?” tanya Zidan yang baru saja keluar dari kamar, ia melihat Sheana yang masih meliht-lihat sudut-sudut apartemennya.
“Kenapa apartemenmu tidak ada fotomu atau foto keluarga dan kekasihmu dulu” tanya Sheana penasaran, karena apartemen dimana Zidan tinggal tak terpajang foto-foto atau hal lainnya. Hanya beberpa penghargaan serta sertifikat dari polri saja yang di pajang.
“Aku memang tidak suka memajang foto-foto orang, ayo masuk kekamar atau mau lihat pemandangan dari balkon” ucap Zidan mengajak Sheana.
“Berarti kamu tidak akan memajang foto pernikahan kita,” tukas Sheana menatap Zidan
“Tentu saja foto kita akan aku pajang, kamu takut fotomu tidak akan aku pajang disini” Zidan mendekatkan dirinya pada sang istri.
“Nggak, aku cuman tanya saja, memang salah” sagkal Sheana. “Ayo keluar, aku lapar” lanjut Sheana tiba-tiba saja perutnya kroncongan.
“Kamu lapar? Kenapa nggak bilang sih sayang. Aku masakin mau? kamu mau makan apa?”ucap Zidan.
“Aku mau steak sama minumnya es doger yang kamu belikan untuk waktu di Semarang” pinta Sheana yang sangat menginginkan dua hal yang bertolak belakang itu satu makan luar dan satu minuman khas indonesia.
“Hah,” Zidan melongo mendnegar permintaan snag istri. “Kamu lagi ngidam?” tebak Zidan.
“Entah, aku hanya ingin saja. kalau kamu membuatnya silahkan, aku tunggu” balas Sheana.
“Aku nggak bisa buat itu, dirumah nggak ada daging bahan untuk es dogerpun juga nggak ada. Kita beli aja gimana? “
“Katanya mau bikin kenapa jadi beli” sungut Sheana.
“Aku kira mau makan apa? jadi aku bakal bikinin. Eh kamu maunya steak, jelas nggak bisa bikin sekarang di apartemenku nggak ada daging sayang. Dan es doger aku nggak tahu caranya bikin itu. ayo kalau kamu pengen kita cari,” jelas Zidan sambil memegang lengan sang istri yang tampak cemberut.
“Ya sudah ayok,” ucap Sheana dan langsung berjalan lebih dulu.
Zidan tersenyum senang, karena akhirnya sang istri ngidam juga dan sedikit manja tidak kaku seperti biasanya. Hal yang sangat dia tunggu-tunggu yaitu ngidamnya seorang istri, dia ingin selalu menuruti apa yang istrinya mau. Zidan langsung menyusul Sheana yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
“Sayang, sayang tunggu” Zidan buru-buru meraih tangan Sheana saat dia ingat saat ini malam hari, dan mana ada es doger malam-malam begini kalau steak masih ada lah kalau es doger.
__ADS_1
“Apa sih,?”
“Sekarang jam berapa coba? Kita tunda saja besok ya belinya. Aku masakin lain, es doger jam segini nggak ada”
“Kamu gimana sih katanya ayo, masa nggak ada kalau udah tutup suruh buka aja apa salahnya. Kita bayar mereka yang banyak,..”
“Ya aku lupa kalau es doger nggak ada malem-malem begini, jangan marah dong . besok aja ya,. Oke” Zidan meraih tangan Sheana lagi menarik mendekat padanya. “Diganti hal lain aja ya, mau apa aku masakin” ucap Zidan lembut.
Sheana diam, dia menatap intens suaminya yang menunggu jawaban darinya saat ini.
“Mau kamu” jawab sheana dan membuat mata Zidan sedikit berkedut mendengar ucapan sang istri.
“Serius, kau mau aku?” tanya zidan meyakinkan pendengarannya.
“Nggak, aku mau tidur” omongan sheana berganti, dia langsung berjalan pergi menuju kamar tetepi Zidan kembali menahan tangan istrinya.
“Suruh bilang kedua kalinya nggak mau, gengis an banget sih kamu sayang” Zidan tanpa aba-aba langsung menggendong sheana dari belakang membuat Sheana begitu terkejut dengan apa yang di lakukan Zidan padanya.
“Kamu mau apa? turunkan aku, aku mau tidur”
.............................
Pagi sudah menyapa, Zidan yang sudah biasa bangun pagi tentu saja sudah bangun tetapi dia masih setia di samping istrinya memeluk tubuh polos Sheana yang berada di bawah selimut yang sama dengannya. Ia mengecup berkali-kali pundak mulus snag istri yang masih terlelap di pelukannya saat ini.
Pandangannya melihat sekilas kamarnya yang berantakan baju, baju miliknya dan sheana berserakan di lantai gara-gra ulah mereka semalam. Malam panas mereka lalui malam tadi, karena istrinya tengah dalam hormon kehamilan perempuan itu begitu mendominasi dirinya alasannya sebagi ganti es doger yang tidak jadi mereka beli.
Cup, cup, cup
Zidan terus mengecuk dan sedikit meninggalkan jejaknya lagi di leher istrinya, pundak mulus itu sedikit kemerahan hingga ke lehernya.
“Arkhh,.” Sheana mulai menggeliat saat dia merasa terganggu akan ulah Zidan.
Zidan langsung berhenti menciumi tubuh sang istri dan dia kembali mendekap Sheana sambil mengusap lembut pundak perempuan itu agar terlelap lagi.
__ADS_1
“Kamu begitu membuatku selalu ingin memilikimu saat ini, kamu memang miliku sekarang, bodoh” ucap Zidan berbicara sendiri smabil melihat wajah tentram Sheana yang masih tidur.
Tangan terangkat untuk membenarkan rambut Sheana yang menutupi wajah canti dari perempuan itu.
“Sampai kapanpun kau milikku, aku tidak akan melepaskanmu Sheana Ravero, hatiku sudah jatuh sepenuhnya padamu” sesudah membenarkan rambut Sheana Zidan mengambil tangan Sheana yang berada didekat dadanya. Ia mengecup tangan itu dan menggenggamnya begitu erat. Zidan perlahan mulai memejamkan matanya lagi sambil menggenggam tangan sheana. Hatinya kini sepenuhnya sudah milik Sheana, ia tak akan melepaskan perempuan yang sudah menjadi istrinya saat ini.
Satu jam lebih berlalu, sepasang suami istri itu saat ini sudah bangun Sheana pun sudah duduk di kursi makan melihat sang suami yang membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
Tubuh Zidan yang tinggi tegap itu, begitu terlihat keren saat memakai celemek yang sering di pakai ibu rumah tangga. Tapi kali inipria itu memakainya agar tak terkena cipratan noda dari masakannya yang ia buat untuk sang istri.
“Aku boleh rekomendasi lain?” tanya Sheana pada Zidan yang membelakangi dirinya.
“bilang saja sayang mau apa?” Zidan membalikkan tubuhnya menatap sheana.
“Telur dadarnya nanti yang besar di taruh di atas nasi” jawab Sheana.
“Oke, apa yang tidak buat kamu sama calon anak kita”
Sheana yang mendengar itu terlihat senang, hatinya berbunga saat mendengar Zidan menyebut calon anak kita yang merujuk pada bayi yang sedang ia kandung.
Shean berdiri dari duduknya, dia berjalan menghampiri Zidan yang sibuk memasak nasi goreng membelakangi dirinya. Dia melangkah perlahan mendekati suaminya yang berdiri dengan begitu tegapnya.
Grap..
Sheana langsung memeluk Zidan dari belakang membuat Zidan langsung berhenti mengaduk bumbu nasi gorengnya.
“Ada apa?” tanya Zidan.
“Nggak pa-pa, pengen peluk aja, nggak boleh” jawab Sheana yang menyandarkan kepalanya tubuh Zidan.
“Boleh kok, lakukan saja apa yang kamu mau. tunggu sebentar ya, sebentar lagi masakank jadi kok” Zidan kembali melanjutkan pekerjaannya membiarkan Sheana yang memeluk dirinya dari belakang. Sheana begitu nyaman memeluk Zidan, rasanya semua hal yang ia alami dulu kini telah sirna karena adanya Zidan dalam hidupnya.
°°°
__ADS_1
T.B. C