
Pagi hari Sheana sudah rapi berjalan menuruni tangga sambil dengan tas slempang kecil yang bertengger di bahunya. Dia menuruni tangga sambil melihat kebawah dimana bi fatonah sudah membawakan dia segelas susu yang ia minta tadi. Hari ini ia tidak ingin sarapan, dia sedang malas untuk makan dirumah.
“makasih bi” ucapnya sambil mengambil segelas susu itu saat sudah ada di depan bi fatonah. Asisten rumah tangga di rumah Johan sepertinya yang perduli dengan Sheana hanya satu orang itu yang lainnya terlihat takut untuk mendekati Sheana sehingga Sheana juga tidak terlalu perduli dengan yang lainnya.
“Mau kemana kau pagi-pagi begini, ayo sarapan baru pergi” terdengar suara Johan yang baru saja keluar kamar dan melihat putrinya ada di depan tangga sedang meminum segelas susu yang diberikan Bi Fatonah.
“Sejak kapan dia pulang kerumah” tanya Sheana berbisik di telinga Bi Fatonah menanyakan sejak kapan ayahnya pulang.
“Tuan Johan pulang sedari semalam non” jawab BI Fatonah.
“Sheana, kamu tidak dengar apa yang papa bilang. Sarapan dulu baru keluar” pungkas Johan mengulang lagi ucapannya.
“Hemm” jawab Sheana, dia yang tadinya tak berminat untuk sarapan dirumah terpaksa harus sarapan bersama saat ini. karena papanya sudah ada dirumah, dan ia memikirkan ucapan Sean tempo lalu yang bilang dirinya untuk bersikap baik pada papanya sendiri. memang sih kalau dipikir-pikir selama ini papanya begitu baik dan selalu menurutinya. Tak seharusnya dia bersikap kasar dan tak tahu aturan didepan papanya.
Sheana langsung menyerahkan segelas susu yang sudah tandas tadi pada Bi Fatonah dan dia langsung mengikuti Johan yang berjalan lebih dulu.
.....................................
Sheana datang ke kantor polisi, dia ingin menemui Zidan menagih janji pria itu yang akan memenuhi syarat yang dia berikan. Ia juga tak lupa membawa baju dinas pria itu yang sudah ia cuci sebelumnya. Tentu saja bukan dia yang mencucinya, tapi ia meminta Bi fatonah yang melakukannya.
“Nona Sheana, ada apa kesini?” tanya seorang polisi yang berpapasan dengan Sheana di depan pintu masuk.
“Bukan urusanmu,” jawab Sheana sambil berjalan melenggang masuk mengabaikan polisi itu yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Dimana polisi sombong itu?” tanya Sheana saat dia duduk di depan meja tempat Ilham biasanya mencatat laporan masyarakat.
Ilham yang melihat itu hanya bisa menatap malas,
“Siapa yang kau maksud nona?” ucapnya seakan tak tahu.
“Rekanmu siapa lagi, dimana dia. si Zidan, zidan itu” jawab Sheana.
“Bang Zidan ada di ruangannya, biar saya panggilkan dulu” ucap Ilham yang akan berdiri untuk memanggil Zidan.
“Tidak perlu,” tolak Sheana dan dia langsung berdiri dari duduknya berjalan langsung menuju ruangan Zidan.
“Perempuan itu seenaknya sendiri, mentang-mentang anak konglomerat” gumam Ilham yang tak habis pikir dengan sikap Sheana.
Sheana yang sudah sampai didepan ruangan Zidan langsung membuka pintu ruangan itu, dan dia mendapati Zidan yang tengah sibuk memainkan ponsel.
Zidan yang tadinya fokus membalasi pesan dari tunangannya langsung mendongak melihat kearah pintunya yang terbuka tetapi tak diketuk lebih dulu. matanya langsung menatap malas orang yang ada di depannya.
“Ternyata kau sibuk dengan ponselmu tapi kau tidak membalas pesan dariku” cibir Sheana menata sinis Zidan. Dia masuk dan langsung melempar baju milik Zidan ke meja pria itu. “Itu baju mu, ayo tepati janji padaku sekarang” lanjut Sheana dan menarik kursi didepan Zidan.
“Orang tuamu tidak pernah mengajari dirimu sopan santu atau bagaimana, sampai kau bertingkah tak tahu aturan seperti ini”
“Tidak usah bahas orang tua, ayo ikut denganku”
“Kemana? Aku tidak bisa hari ini”
“Kau mengingkari ucapan mu, bukannya sudah aku bersihkan bajumu itu. maka ayo ikut denganku sebentar”
“Nona Sheana yang terhormat. Aku tidak bisa hari ini, lakukan besok saja mengerti”
“Oke jika memang kau tidak bisa, tapi lihat aku tidak akan memenuhi keinginanmu. Bukannya kau akan menikah, bagaimana kau bisa menikah orang tua calon mu saja marah denganmu” sinis Sheana menatap meremehkan Zidan.
Zidan melebarkan matanya, dia terkejut bagaimana Sheana tahu itu,
“Kau tahu darimana soal itu?”
“Oke, kau tidak ingin hari ini kan. tapi selanjutnya akan aku tagih janjimu itu” Sheana langsung berdiri dari duduknya. Dia akan pergi dari ruangan itu, ia tak bisa berlama-lama karena ia harus memikirkan ide dulu sebelum bertemu dengan dua orang munafik.
“Mau kemana kau?” tanya Zidan.
__ADS_1
“Bukan urusanmu aku mau kemana, kau bukan siapa-siapaku” jawab Sheana sambil melihat kebelakang.
Zidan hanya diam saja, sambil melihat Sheana yang sudah pergi dari ruangannya. Sebenarnya dia ingin memenuhi syaratnya itu agar masalahnya cepat selesai tetapi ia sedang malas ditambah nanti dia ada pertemuan dengan rekan-rekannya di membahas soal rencana patroli mereka.
............................................
Sore harinya Sheana menemui kakeknya di sebuah restoran langganan keluarga Ravero, Hadi tak sendiri dia dengan istrinya dan juga dua orang berbadan tegap yang berdiri di kiri kanannya saat ini.
“Kamu kesini tidak bersama dengan pacarmu, itu berarti pria itu bukanlah pria yang akan kau seriusi Sheana. Jadi kamu harus ikuti perintah kakek, kau menikahlah dengan anak Om Marco yang sempat kakek beritahu kan padamu” Hadi membuka suaranya sambil memperhatikan Sheana yang tampak tak menikmati makanannya. Perempuan itu hanya meminum jus tanpa bersuara.
“Sheana kamu dengar yang kakek kamu katakan barusan?” tanya istri Hadi.
“dengar kok nek” jawab Sheana malas-malasan.
“kalau kamu dengar apa jawabanmu” pungkas Hadi, dia menatap penuh harap pada Sheana dan sesekali menatap istrinya yang duduk disebelahnya saat ini.
“Aku tidak mau, kalian menjodohkan ku dengan pria yang tidak jelas. Dan kalian menjual ku kan?”
“Sheana siapa yang menjual mu, kakek hanya ingin memilihkan orang terbaik untukmu” ucap Hadi.
“Orang terbaik, orang terbaik tapi raja Judi. Dan kakek melakukannya agar mereka membukakan jalur bisnis ke Maroco kan. itu sama sja kalian menjualku mengerti” tukas Sheana dan menatap serius sang kakek.
“Apa maksudmu Sheana, dia anak yang baik. Dan kakek tidak menjualmu,” elak Hadi.
“Jangan bohong deh kek, aku bukan anak kecil yang bisa kalian bodohi lagi. Sudah cukup wajah munafik kalian yang ditunjukkan padaku. Kalian dua orang tua bangka yang jahat tapi seakan berperan sebagai malaikat yang baik buatku. Munafik” habis sudah kesabaran Sheana dia menatap tajam kedua orang didepannya.
“Sheana jaga mulutmu, selama ini kita sudah berperan sebagai kakek dan nenek yang baik buatmu tapi kenapa tanggap...”
“Sudahlah nek, tidak usah sok lemah begitu. Memang benar yang ku bilang barusan kan. tidak usalah munafik, cukup tunjukkan asli kalian saja” Sheana memotong ucapan neneknya menatap menantang dua orang didepannya itu.
“Kau memang anak haram yang tidak tahu diri ternyata, percuma juga kita selama ini baik terhadapmu tapi balasanmu malah seperti ini. apa salahnya menuruti apa yang aku perintah padamu sebagai balas budimu untuk kami”
“keluarkan aslimu kek,” sinis Sheana.
“Kau bilang kita kejam, lebih kejam mana dari ibu mu yang pelacur itu yang sudah membuangmu saat itu” ucap nenek Sheana.
Sheana yang akan berjalan pergi langsung berbalik,
“Dia memang pelacur, tapi dia tak semunafik kalian berdua. Sudah tau bangka tapi tak tahu diri,. Kalau aku tidak memikirkan kalian sebagi orang tua sudah ku bunuh kalian” ucap Sheana tajam.
Hadi langsung murka, dia berdiri dan menampar Sheana begitu keras sehingga mengundang perhatian orang-orang yang ada disana. Dua orang pria tinggi tegap itu langsung mendatangi orang-orang yang memegang ponsel untuk mengabadikan moment ini.
Sheana hanya tersenyum sinis menatap kedua orang yang sudah terlihat jelas kebusukannya didepannya.
“Keluar juga sisi burukmu kek, kau selama ini baik denganku hanya sandiwaramu saja. andai aku dulu tidak bodoh, sudah kurusak keluargamu dari dulu” Sheana memegang wajahnya yang baru saja di tampar.
“Pa sudah, kita dilihat banyak orang. Biarkan anak ini pergi dari sini, dia anya mempermalukan kita itu tujuannya” ucap istri Hadi berusaha meminta Hadi untuk berhenti emosi.
“Dua orang munafik, aku benci kalian. Kakek dan nenek yang seharusnya baik terhadap cucunya ternyata hanya kemunafikan belaka. Kau akan hancur oleh cucumu yang lain mengerti,.” Pungkas Sheana sambil mengepalkan tangannya, dia langsung pergi dari hadapan dua orang itu yang hanya terdiam saja.
“Seharusnya aku membunuhmu dari dulu Sheana, kau hanya membuat keluargaku malu saja. kau anak pelacur tidak jelas” seru Hadi mengiringi langkah Sheana yang seakan tak perduli dengan makian kakeknya itu
Ternyata tak jauh dari situ, Zidan dan rekan-rekannya menyaksikan hal tersebut, mereka kebetulan berada tak jauh dari meja Sheana. Zidan menatap kepergian Sheana dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
“Gila apa kita nggak salah dengar tadi, itu bukannya tuan Hadi. Dan tadi bukannya Sheana yang dekat dengan Bripka Zidan, dia anak selingkuhan gitu?” bingung salah satu rekan Zidan.
“Bripka Zidan kamu tahu soal ini, itu pacarmu kan? kamu hanya dam saja nggak nyusul tuh cewek” tanya Rekan Zidan yang lain.
“Dia bukan siapa-siapaku, ayo fokus lagi dengan kerjaan kita” ucap Zidan pada rekan-rekannya yang masih penasaran. Jujur dalam benak Zidan juga penuh pertanyaan soal Sheana. Dia baru tahu soal kenyataan ini,.
...............................
Sheana duduk tak jauh dari restoran itu, dia duduk di sebuah bangku dekat parkiran. Tangannya bergetar menahan marah serta kecewa, dia begitu sakit mendengar sendiri ucapan kakeknya yang sebenarnya. Kenapa dia bodoh selama ini mempercayai orang yang sangat-sangat membencinya.
__ADS_1
“Permisi nona boleh duduk disini?” tanya seorang pria yang menatap Sheana.
“kau ingin cari mati denganku, pergi dari sini” tukas Sheana tak bersahabat.
“ketus banget nona, serem tahu. boleh ya duduk disini sebentar saja” ucap Pria itu lagi dan sedikit menggoda Sheana.
“kau tuli atau bagaimana hah, pergi dari sini” Sheana mulai emosi dia menatap tak suka pria yang malah sudah duduk disebelahnya.
“Nona cantik tapi galak banget, jangan galak-galak dong cewek cantik” pria itu bukannya pergi malah semakin keterlaluan bahkan tangannya menggenggam tangan Sheana yang ada di paha perempuan itu.
“Kau memang cari mati,” Sheana langsung berdiri dari duduknya dan memukul pria itu dengan tasnya.
“Augh, kau perempuan bringas ternyata” kesal Pria itu dan mendekat pada Sheana. Dia langsung merangkul Sheana begitu saja.
“Kau mulai kurang ajar, lepaskan aku. aku hitung sampai tiga kalau kau tidak melepaskanku. Habis riwayatmu ditanganku” ancam Sheana yang berusaha melepaskan diri dari pria itu,
“Aku tidak takut, hei nona cantik. Ayo pulang denganku saja daripada disini,” ucap pria tersebut.
Sheana langsung memelintir tangan pria itu, membuat sang pria kesakitan. Bahkan Sheana juga menggigit tangan pria tersebut.
Membuat sang pria semakin murka dan ia bisa lepas dari plintiran Sheana.
“Kau memang perempuan kurang ajar, beraninya kau menggigit tanganku”
“Siapa dulu yang kurang ajar, bukannya dirimu ha pria murahan”
“Apa kau bilang?”
Pria itu seakan tak terima dan dia akan menampar Sheana tapi tangannya sudah ditahan lebih dulu oleh seseorang yang berdiri di samping pria tersebut.
“Maaf tuan kalau berani jangan dengan perempuan?” ucap Zidan yang menahan tangan pria itu yang akan memukul Sheana. Dia tadi tak sengaja saat melihat pria itu yang seperti melecehkan Sheana.
Sheana yang melihat Zidan tampak terkejut karena pria itu berada di tempat ini bahkan didepannya.
“Siapa kau, jangan ikut campur urusanku?” tukas pria tersebut.
“Aku polisi, kau ingin aku tahan”
“Polisi, mana buktinya kalau kau polisi. Kau pikir bisa mengancamku tuan, lepaskan tanganku” ucap Pria tersebut yang tak percaya kalau Zidan adalah polisi.
Zidan segera mengeluarkan kartu tanda polisinya membuat pria itu tampak ketar-ketir,
“masih belum percaya dengan ini?” ucap Zidan pada pria itu.
Pria itu hanya bisa diam dan langsung pergi saat Zidan sudah melepaskannya.
Lalu Zidan melihat kearah Sheana yang hanya berdiri diam sambil melihatnya saat ini,
“Ada apa?” tanya Zidan heran saat Sheana melihatnya.
“Sok jadi pahlawan kesiangan,” sinis Sheana dan langsung pergi.
“hei nona, bukankah seharusnya kau bilang terimakasih bukannya malah pergi seperti ini” Zidan berjalan menyamai langkah Sheana yang akan pergi.
“Pergi, jangan ganggu aku” ucap Sheana yang malas untuk meladeni Zidan.
Zidan langsung mengambil kunci mobil milik Sheana,
“Apa-apaan kau hah kembalikan kunci mobilku” ucap pada perempuan itu, dan sepertinya perempuan itu butuh teman saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1