
“kenyang?” tanya Zidan saat sang istri sudah menyelesaikan suapan terakhirnya.
“iya aku kenyang, ayo pulang” jawab Sheana dan langsung berdiri dari duduknya.
“Kita mampir sebentar kerumah orang tuaku mau?” tanya Zidan terlebih dahulu sebelum dia asal mengajak Sheana kerumah orang tuanya.
“Mau apa kesana?”
“Ya nggak pa-pa, kita bilang ke orang tuaku kalau anak kita kembar. Mereka pasti senang cucu pertamanya anak kembar” jawab Zidan.
“Kapan-kapan aja, kalau nggak telpon aja. Ayo pulang” ucap Sheana yang terus mengajak pulang. Dia malas saja berlama-lama di luar rumah, ia ingin pulang dan berendam agar otaknya terasa fres bebas dari pikiran masa lalu suaminya.
Jujur dia masih kesal dengan Zidan yang membawanya periksa kandungan di tempat manta tunagan pria itu bekerja. Ya jelas semua orang disana mengenal Zidan sebagi pasangan si perempuan munafik Gladys.
“Ya sudah kalau kamu mau pulang,” akhirnya Zidan setuju saja kalau mereka langsung pulang kerumah.
“Kamu kesel ya sama aku soal Bayu tadi,?” tanya Zidan seolah dia bisa menebak alasan Sheana terlihat jutek dan tidak mood saat ini.
“Itu tahu, kenapa pura-pura tidak tahu. aku kesel sama kamu, bisa-bisanya ngajak aku periksa kandungan di rumah sakit tempat tunangan kamu kerja. Udah tadi pagi ketemu dengan tunanganmu itu terus tadi ketemu rekan kerjanya yang membahas perempuan itu lagi. Membuat moodku hilang” Sheana terus terang dengan perasaannya. Ia mengutarakan kekesalannya itu tepat di depan wajah Zidan.
“Kamu ketemu Gladys? Dimana?” Zidan terkejut mendengar istrinya bertemu Gladys yang ia ketehui saat ini tengah depresi.
“Kenapa kau ingin tahu sekali, merindukannya?”
“Bukan begitu,ayahnya bilang dia depresi gara-gara aku memutuskan pertunangan begitu saja. kau bertemu dengannya dimana?”
“Di mall lah dimana lagi, omong kosong deperesi darimana?” sinis Sheana dan langsung berjalan pergi meninggalkan Zidan yang bertanya-tanya soal kondisi Gladys sebenarnya.
“Apa Om Gio membohongiku” gumam Zidan.
“Kau tidak mau pulang, masih memikirkan tunanganmu itu” Shena yang merasa Zidan tidak berjalan disebelahnya langsung menoleh kebelakang dimana pria itu masih terdiam di tempatnya membuatnya menggeleng tak percaya dengan sikap suaminya. Ia semakin kesal dengan hal itu, bahkan segala pikiran negatif terus bersarang dikepalanya.
“Nggak sayang, jangan salah paham” zIdan langsung tersadar dan menyusul Sheana yang berjalan tanpa menghiraukan Zidan yang menyusulnya.
......................................
Makan malam sudah tersaji di meja makan Sheana yang menyiapkan itu semua. Meskipun dia sedang tidak mood tapi ia menyipakan makanan untuk suaminya. Setelah siap semua di meja makan Sheana langsung pergi ke kamar bertepatan denga Zidan yang akan keluar dari kamar saat ini.
“Loh sayang, mau kemana? Ayo makan” ajak Zidan saat dia berpapasan dnegan istrinya.
“Kamu makan sendiri aja, aku masih kenyang” jawab Sheana dan akan masuk lagi ke kamar.
“Temani aku kalau gitu” Zidan menahan tangan sang istri.
“Aku capek, kamu makan sendiri saja” Sheana perlahan melepaskan tangan Zidan yang memegang lengannya saat ini.
“Kamu kenapa sih, dari tadi siang sikapnya dingin begini padaku” Zidan sudah tidak sabar untuk menahan kesalnya sedari tadi karena merasa di cueki oleh Sheana.
“Kamu bentak aku barusan?” suara Sheana berubah dingin, karena dia merasa dibentak oleh suaminya.
“Ya, kamu kalau nggak aku bentak kamu bakal natap aku” Zidan menatap serius wajah Sheana. “Apa alasan kamu cueki aku, aku salah apa? apa gara-gra Gladys kamu begini?” lanjut Zidan menuntut penjelasan.
“ya karena perempuan itu, aku tidak suka kalau kau masih memikirkan perempuan itu disaat kamu menjadi suamiku sekarang” tegas Sheana dengan lantang.
__ADS_1
“Aku nggak mikirin dia,” jawab Zidan.
“Bohong, aku bisa melihatnya kalau kau masih memikirkan perempuan itu” sinis Sheana smabil tersenyum miring.
Zidan diam seribu bahasa,
“kenapa diam? Aku benarkan kamu masih memikirkannya?” ucap Sheana.
“Nggak, kau salah paham. Aku tidak memikirkan perempuan itu, tapi aku memikirkan ucapan ayah dari perempuan itu”
“Sama saja, kau masih perduli dengannya dan juga keluarganya” ucap Sheana dan malas berdebat lagi, dia langsung masuk kedalam kamar meninggalkan Zidan yang akan membuka suaranya lagi.
“Sayang tunggu dulu, aku bisa jelasin. Aku bukannya mikirin keluarganya tapi aku mikir soal dia yang kata..” belum juga Zidan menjelaskan pintu kamar sudah dibanting dari dalam membuat Zidan berhenti berjalan karena kamarnya sudah di tutup oleh Sheana.
“Sudahlah nggak usah dibahas, aku capek mau tidur” seru Sheana dari dalam kamar.
Zidan memukul pelan pintu yang tertutup itu, ia mengepalkan tangannya kesal. Kenapa istrinya begitu sensitif sekali sekarang.
“Terserahlah,” kesalnya dan langsung berjalan ke ruang makan.
Zidan akhirnya duduk sendiri di meja makan, malam ini ia makan malam sendiri tanpa Sheana. Mau bagaimana lagi sang istri tengah marah dengannya membuat ia ikut emosi juga.
Saat Zidan tengah menikmati makan malamnya, ponsel yang ada di saku celananya berbunyi membuat ia langsung segera mengambil ponsel tersebut.
“Kau tidak percaya soal anakku yang depresi kan, lihat.. gara-gara kau dia begini” sebuah pesan masuk dari ayah Gladys dan mengirimkan sebuah foto pada Zidan dimana Gladys tengah berdarah-darah karena perempua itu mengiris lengannya sendiri.
Melihat itu Zidan tampak terkejut, ia tak menyangka Gladys sampai melukai dirinya sendiri. buru-buru Zidan langsung menelpon ayah Gladys menanyakan soal kebenaran foto tersebut. Tapi beberapa menit ia menunggu panggilan darinya tak kunjung diangkat.
“kenapa nggak diangkat, ini benar atau tidak. Mana mungkin Gladys yang seornag dokter menyelakai dirinya sendiri” gumam Zidan mulai cemas. Ia tidak mau menjadi alasan seseorang mengakhiri hidupnya.
“Nggak mungkin kalau Gladys begitu, ini pasti mereka sengaja menipuku” batin Zidan sambil diam memikirkan hal tersebut.
.....................................
Dirumah keluarga Ravero, Johan dan istrinya dan juga Selina serta Sean tengah duduk menikmati sarapan pagi mereka penuh ketenangan tak ada yang berbicara hanya dentingan sendok yang terdengar.
Ting...
Terdengar suara bel rumah yang berbunyi nyaring di seluruh ruangan rumah besar itu, otomatis keempatnya langsung diam dan saling melihat satu sama lain.
“Siapa dad yang pagi-pagi begini bertamu kerumah kita?” tanya Cecile seperti tidak senang dengan kehadiran tamu dirumahnya.
“Nggak tahu ma,”
“Bi Fatonah, tolong bukakan pintunya” seru Johan pada salah satu pelayannya.
Belum juga bi fatonah berjalan untuk membukakan pintu, Jason sudah menyelonong masuk bahkan sedang berdiri ngos-ngosan didepan keluarga Johan.
“Om jason” kaget Selina dan juga Sean.
“Jason? Ada apa?” tanya Johan pada saudara kembarnya itu.
“Papa kak, papa” jawab Johan setelah mengatur nafasnya.
__ADS_1
“Papa, papa kenapa?” tanya Johan dan Cecile bersamaan.
“kakek kenapa Om?” tanya Sean langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri sang OM.
“Papa di tangkap polisi kak”
“Apa? bagaimana bisa. Kenapa Papa bisa ditangkap polisi?”
“Aku juga tidak tahu kak, polisi tiba-tiba saja datang dengan pakaian preman dan langsung menyeret papa ke mobil mereka” jelas Jason yang terlihat cemas karena menyaksikan sendiri papanya di bawa oleh polisi.
“Memangnya kakek terlibat masalah apa Om sampai dia ditangkap polisi” heran Sean saat berdiri di sebelah omnya.
“OM juga nggak tahu Sean, kak ayo kita temui papa di kantor polisi” ucap Jason dan mengajak Johan untuk menemui papa mereka.
“Nggak, aku masih heran soal papa yang ditangkap polisi bukannay dia keba dengan polisi. Sampai menyuap mereka dulu kan, kenapa sekarang dia tiba-tiba ditangkap” heran Johan, itulah juga yang menjadikan alasannya tidak sejalan dengan papanya yang curang dengan hukum selama ini.
“mana aku tahu kak, pasti yang melaporkan papa orang yang lebih diatas kita” tebak Jason.
“Dad, tolong lepasin kakek dari penjara” mohon Selina
“Memang dadymu polisi yang bisa melepaskan kakekmu, biarkan sja kalau dia ada di penara mungkin kesalahan papa sudah di luar batas” jawab Johan seakan tak perduli dengan nasib ayahnya.
“kak kenapa kau bilang begitu, itu papa kita” seru Jason yang merasa tak habis pikir dengan ucapan kakaknya.
“bener kata Om jason daddy, kakek itu papa daddy” timpal Selina yang sependapat dengan Omnya.
“Ya dia memang papa daddy dulu, tapi sekarang bukan. Daddy sudah memutuskan hubungan sedari dua puluh empat tahun lalu. Jason kau urus saja papa, tapi sebelum kau berusaha untuk membebaskannya tolong cari tahu dulu papa itu benar atau tidak. Hanya itu yang kakak pesan darimu, dan jangan pernah menjadi seperti papa” ucap Johan.
“Tapi kak,.” Jason masih berusaha untuk bciara dnegan Johan agar mau membebaskan papa mereka. Prinsipnya memang lebih lunak dari kakaknya itu, dia memang mengakui papanya salah tapi bagaimanapun Hadi tetaplah papanya.
“Sudah Om, ayo aku temani saja ke penjara temuin kakek. Kau tahu sendiri papa seperti apa” ucap Sean memegang bahu Omnya. Sean melihat sekilas papanya yang terkesan biasa saja bahkan tak mengubris dan masih santai memakan sarapannya.
“ya sudah ayo. Aku pergi dulu kak” ucap jason dan langsung pergi bersama keponakannya itu.
“kamu yakin mau begini Johan? Papa itu papamu, kau tidak mau membebaskannya” ucap Cecile setelah sedari tadi diam.
“Ya, bukannya kau sudah tahu aku memutuskan hubungan dengan papa sedari dua puluh empat tahun lalu. Kenapa kau perduli dengan yang terjadi sekarang” jawab Johan menatap istrinya.
“Kau begini karena anak harammu kan, kau lebih memihak anak harammu ketimbang papamu sendiri yang sudah membesarkanmu” tukas Cecile.
“aku tidak memihak siapa-siapa, coba kau renungkan kalau jadi aku. bmeskipun Sheana anak diluar nikah dia tetap darah dagingku. Bagaimana perasaanmu saat dia akan di habisi sewaktu bayi dulu, sekarang ibaratkan Selina akan dihabisi oleh papamu sendiri bagaimana perasaanmu” ucap Johan menatap tegas pada Cecile.
“aku sudah kenyang” ucap Johan dan langsung berdiri dari duduknya, dia berjalan pergi meninggalkan anak dan istrinya di meja makan.
Cecile hanya diam saja sambil melihat kepergian Johan, dia juga bingung untuk menjawabnya.
“Kakek dulu ingin membunuh kak Sheana?” tanya Selina, hal ini baru ia tahu setelah dua puluh dua tahun dia hidup.
“Kau selesaikan makanmu saja, mama juga sudah kenyang” bukannya menjawab Cecile malah memilih untuk pergi.
Selina diam saja memperhatikan mamanya yang pergi,
“Apa sampai sebegitunya kakek membenci Sheana? Sampai ingin dibunuh segala. Mengerikan sekali kakekku” gumam Selina, yang masih tak habis pikir dengan semua ini. keluarganya sungguh rumit ternyata.
__ADS_1
°°°
T.B.C