
Zidan akhirnya sadar, saat terbangun ia langsung mencari keberadaan Sheana karena dalam mimpinya tadi Sheana ada di disebelahnya.
“Sheana, Sheana dimana kamu” teriak Zidan memanggil Sheana dia berusaha duduk sambil menahan sakit di perutnya yang terdapat bekas tusukan.
Tiga orang langsung masuk terburu-buru kedalam, mereka adalah orang tua Zidan dan juga Sean yang sudah berada di situ.
“Zidan tenang nak, tenang ada apa” Bunga langsung menghampiri anaknya dan membantu putranya itu duduk ia menaruh bantal dibelakang Zidan untuk sandaran.
“Sheana mana ma, Sheana disini kan ma.. ma istriku disini kan ma dia sudah kembali kan. dimana Sheana ma” pungkas Zidan memegang tangan mamanya.
Bunga hanya diam saja sambil melihat kearah suaminya dan juga Sean.
“Sheana tidak ada disini Zidan,” ucap Gautam membuat pandangan Zidan beralih menatap sang papa. Dia sedikit terkejut karena mendapati kakak iparnya juga ada disitu.
“Sean,..kau pasti tahu dimana Sheana kan. tolong beritahu aku dimana dia sekarang. Atau jangan-jangan Sheana ada disini karena kau juga ada disini sekarang. Sheana..Sheana kemari sayang” ucap Zidan dan langsung memanggil-manggil Sheana. Dia bahkan akan turun dari tempat tidurnya saat ini.
“Zidan kau mau kemana nak, jangan banyak bergerak dulu lukamu belum sembuh” pungkas sang mama menahan Zidan agar tidak turun.
“Nggak ma, aku harus cari Sheana ma. Aku harus bicara dengan istriku ma” Zidan bersikeras untuk turun dan melepas infus ditangannya.
“Zidan cukup” seru Sean sedikit membentak pria itu.
“Sheana tidak ada disini, kau tenang saja dia pasti kembali padamu” tukas Sean pada adik iparnya itu.
“Nggak Sean, Sheana ada disini dia ada disini” kukuh Zidan, dia menarik selang infusnya hingga terlepas dan akan berdiri mencari Sheana. Bunga cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Zidan barusan.
“Zidan..” Seru Gautam dan juga Sean bersamaan. Dua orang pria itu langsung mendekati Zidan yang akan berjalan pergi.
Keduanya langsung menahan tangan Zidan dan memaksa pria itu untuk duduk, Bunga hanya bisa meneteskan air matanya saja melihat kondisi putra sulungnya itu. dia tidak pernah melihat anaknya seperti ini sebelumnya. Anaknya itu benar-benar mencintai Sheana setulus hati bahkan karena Sheana tidak ada membuat Zidan seperti ornag tidak waras seperti ini.
__ADS_1
“Zidan kau tenanglah sayang, Sheana pasti bakal kembali” ucap sang Papa.
“Benar katamu Sheana pasti kembali, aku sudah menyuruh orang mencarinya sebentar lagi dia juga pasti ketemu kau tenang saja adikku itu pasti bakal kembali padamu” pungkas Sean memegang bahu Zidan menenangkan pria tersebut.
“Kau istirahatlah lagi,” lanjut Sean menyuruh Zidan untuk berbaring kembali.
“Aku nggak bisa diam saja begini Sean, istriku menghilang empat hari ini dan aku tidak tahu dimana dia sekarang” lirih Zidan.
“Aku tahu, tapi saat ini kau diam saja tidak usah melakukan apapun lebih baik kau memperhatikan kondisimu. Soal Sheana biar aku yang akan mencarinya” lagi Sean mengutrakan ucapan penuh ketenangan untuk adik iparnya tersebut.
“Sudah kau dengarkan saja apa kata Sean, kau sekarang tidur saja lagi. Kau tidak lihat mama sedih seperti itu” pungkas Gautam sambil menunjuk kearah istrinya. Zidan langsung melihat kearah mamanya yang menangis melihat kondisinya seperti ini. mau tak mau Zidan mulai menaikkan kakinya dan membaringkan tubuhnya di ranjang rumah sakit.
................................................
“Nih,.” James memberikan ponselnya pada Sheana yang duduk melamun di kursi tunggu bandara tempat mereka tengah transit saat ini. Ya mereka sudah dalam perjalanan menuju Indonesia.
“Apa?” tanya Sheana
“Kak Sean? Kenapa dia bisa menelponmu jangan bilan dia tahu aku di Amerika”
“bukan tahu lagi, buruan jawab sebelum dia makin menjadi” desak James agar Sheana cepat bicara dengan Sean.
Sheana langsung mengambil ponsel James dan mendekatkan ketelinganya, belum juga dia bicara suara penuh kemarahan sudah menyapanya dari seberang sana.
“Sheana kau dimana, kau tolol atau bodoh hah. Kenapa kau tidak berubah juga, rasa egoismu sampai kapan bakal seperti ini terus. Kau gila sekarang ada di Amerika, kau memang perempuan Egois Sheana” cercaan penh kemarahan keluar dari mulut Sean.
“Kakak nggak usah cerewet dan nggak usah marah-marah sama aku. kakak kalau ada di posisuku bakal apa dirimu” tukas Sheana tak mau disalahkan.
“Kakak berpikir bijak bukan kekanakan seperti dirimu saat ini, apa bedanya kau dengan ibu kandungmu hah. Kau mengatakannya egois dan tak berperasaan lalu bedanya denganmu apa sekarang kau tidak memikirkan anak yang kau kandung bukannya itu artinya kau sama dengannya. kau cepat pulang ke Indonesia atau kakak seret kau pulang kesini” Sean begitu kesal dengan sikap adiknya yang masih saja egois padahal sudah akan menjadi ibu.
__ADS_1
Sheana tak menjawab dia malah langsung mematikan panggilan Sean begitu saja,
“Nih” Sheana langsung menyerahkan ponsel Jame pada yang punya.
“Apa yang Sean katakan padamu barusan” tanya James penasaran.
“Nggak ada” bohong Sheana, dia malas membahasnya.
James hanya menghela nafasnya dan duduk disebelah Sheana,
“Lain kali kalau kau ada masalah atau kabur aku tidak ingin menampungmu lagi, kakakmu itu benar-benar sadis cara bicaranya” pungkas James yang kapok sendiri karena menyembunyikan Sheana.
Sheana tak menggubrisnya, dia hanya bisa diam sambil menatap perutnya. Ia seakan merasa bersalah atas apa yang dia lakukan.
....................................................
Zidan sendirian di dalam ruang rawatnya saat ini, dia meminta kedua orang tuanya untuk pulang saja dan tidur dirumah karena sudah ada Sean yang menjaganya. Entah kakak iparnya itu menawarkan diri untuk menjaganya saat ini tadi dia sempat menolak tapi Sean terus memaksa. Tapi entah sudah cukup malam Sean belum masuk ke dalam ruangannya sedari ijin keluar sebentar tadi.
Zidan membuka laci meja yang ada disebelahnya, ia mengambil ponsel miliknya melihat foto dirinya dan Sheana serta foto usg anak mereka yang sudah ia jadikan satu kolase.
“Kenapa kamu tega pergi ninggalin aku begini sayang, aku rindu sama kamu. kapan kamu kembali, aku juga rindu dengan anak-anak kita sayang..aku mohon kamu pulang ya” ucap Zidan sambil menatap foto yang ada di layar ponselnya tersebut.
“Kenapa kamu pergi gitu aja, aturan kamu omongin sama aku. kenapa kamu takut kalau aku nggak cinta sama kamu..padahal aku takut kehilang kamu sayang. Aku cinta sama kamu, aku mohon kembali, aku rindu kalian” lirih Zidan sambil mengecupi foto di ponselnya itu.
Tanpa di duga Sean memperhatikan itu dari luar ruangan, dia menatap sedih adik iparnya yang merasa begitu kehilangan Sheana.
“Sheana kau memang bodoh, kau sudah mendapatkan cinta yang tulus. Tapi kau malau pergi, kau memang bodoh Sheana” tukas Sean sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pemikiran adiknya tersebut.
°°°
__ADS_1
T.B.C