PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 43


__ADS_3

Zidan menuruni anak tangga di rumah Sheana, dia baru saja selesai mandi dan tidak mendapati sang istri ada di dalam kamar membuatnya memutuskan untuk turun kebawah siapa tahu Sheana ada di bawah saat ini.


Sebenarnya ia sedikit merasa tak enak berada di rumah besar ini, maka dari itu dia ada keinginan untuk mengajak Sheana pindah ke apartemennya.


“Aku tidak menyangka kau jadi kakak iparku, padahal aku mengincarmu waktu itu” ucap Selina yang berpapasan dengan Zidan.


“Aku bercanda, tidak usah memasang wajah serius begitu,” pungkas Selina saat Zidan menatapnya serius.


Perempuan itu langsung pergi naik keatas meninggalkan Zidan yang tak terlalu memikirkan perkataan dari Selina tersebut. Dia kembali berjalan ke bawah untuk mencari Sheana.


Kondisi rumah terlihat begitu sepi saat Zidan sudah ada di lantai dasar, dia melihat sekeliling yang tak ada orang sama sekali membuatnya bingung kenapa rumah sebesar ini tidak ada orang. Apa keluarga istrinya begitu tak harmonis seperti ini tak ada berkumpul bersama keluarga mengobrolkan sesuatu.


“Sedang apa kau disini?” tanya Sheana yang tiba-tiba saja berdiri dibelakang Zidan..


Zidan langsung berbalik mentap sang istri,


“Aku mencarimu, kau darimana saja?” tanya Zidan sambil melihat mengamati perempuan tersebut.


“Aku dari kolam renang,”


“Kau dari kolam renang malam-malam begini dan dengan menggunakan baju seperti ini di luar. Bagaimana kalau dirimu atau anak yang kau kandung sakit” pungkas Zidan mencemaskan Sheana dan bayinya.


Sheana memang saat ini hanya mengenakan celana yang cukup pendek dan kaos polos berwana putih yang pas body.


“Apa sih lebay banget, sudah ayo ke kamar” ucap Sheana dan berjalan lebih dulu.


“Bisa lebih lembut lagi denganku, kenapa kau selalu ketus padaku saat ini. aku suamimu sekarang” Zidan berjalan menyamai langkah Sheana yang akan menaiki tangga.


Sheana langsung menghentikan langkahnya, sambil menatap Zidan.


“Hemm, aku akan berusaha jadi beri aku waktu bisa. Kau dan aku belum lama saling kenal mengerti”


“Aku mengerti, tapi aku harap secepatnya. Bukannya kau dulu bilang mencintaiku, aku rasa itu tidak akan butuh waktu lama kau akan bersikap lembut padaku”


“Kenapa pede sekali?” cibir Sheana.


“Apa yang tidak membuatku tidak percaya diri,”

__ADS_1


Sheana diam saja, dia langsung berjalan menaiki anak tangga dirumahnya. Begitu juga Zidan yang mengikuti perempuan itu naik keatas menuju kamar mereka.


Ternyata tak jauh dari mereka Johan dari tadi bersembunyi di balik pilar besar dirumah itu, ia melihat putrinya dan juga menatunya berbicara. Hatinya kni merasa sedikit lega karena Sheana sudah menemukan separuh jiwanya.


“Daddy harap kau bahagian kedepannya Sheana, Zidan akan selalu membuatmu bahagia sayang” kalimat sendu keluar dari mulut Johan. Matanya berkaca-kaca melihat Sheana dan Zidan yang berjalan ke lantai atas.


Ia merasa kini bisa sedikit lebih lega, karena ada orang yang bisa membantu menjaga Sheana dan membuat putrinya itu bahagia.


......................................


Pagi sudah menyapa matahari juga sudah mulai menyingsing ditambah suara kicauan burung menyambut pagi Zidan yang sudah bangun lebih dulu. badannya terasa berat membuatnya perlahan membuka mata dan dia bisa melihat dengan jelas sebuah tangan yang berada di dadanya saat ini memeluk dirinya cukup erat. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Sheana yang tertidur cukup nyenyak di sebelahnya.


“huh, ternyata kamu gengsi-gengsi tapi mau” gumam Zidan smabil tersenyum melihat wajah damai Sheana yang terlelap. Semalam saja, saat dia mencoba menggoda Sheana dengan memeluk perempuan itu dari belakang agar mereka tidur berpelukan Sheana menolaknya keras tapi sekarang malah perempuan tersebut yang memeluknya.


Tangan Zidan memegang tangan Sheana yang berada di perutnya, menggenggam erat tangan tersebut perlahan tangan itu beralih membenarkan rambut yang menutup wajah Sheana.


“Aku harap kita akan terus bersama sampai kapanpun” lirih Zidan sambil mengusap lembut rambut sang istri.


Karena pergerakan Zidan membuat Sheana sedikit terusik, perlahan perempuan itu membuka matanya saat tangan Zidan masih mengusap rambutnya. Mata Sheana melebar melihat tangan Zidan dan dia langsung melihat kearah pria itu.


“Apa yang kau lakukan? Kau cari kesempatan dalam kesempitan kan?” tuduh Sheana.


“Untuk apa aku melakukannya, lihat saja sendiri siapa yang mulai” jawab Zidan santai, sambil mengarahkan matanya keperutnya saat ini dimana tangan Sheana masih beada disitu.


Sheana mengikuti arah mata Zidan, dirinya sendiri terkejut melihat tangannya yang memeluk Zidan saat ini.


“Sorry nggak sengaja, ini salah” ucap Sheana dan langsung mengangkat tangannya.


“Mulutmu bilang salah tapi hatimu bilang kau menginginkannya. Kau ternyata gengsian, menarik” pungkas Zidan.


“Kamu kalau menginginkanku tinggal bilang saja,” goda Zidan.


“Minggir aku mau bangun” wajah Sheana memerah mendengar ucapan Zidan, dia yang takut ketahuan langsung ingin bangun dari tempat tidur.namun sayang tangan Zidan menahannya membuat Sheana terbaring lagi di tempat tidur dan Zidan tiba-tiba saja langsung memegangi kedua tangan Sheana dengan posisinya yang sudah berada di atas perempuan itu.


“Apa yang kau lakukan? Cepat minggir”


Bukannya minggir Zidan malah semakin mendekatkan wajahnya ke Sheana, Sheana meneguk ludahnya jantungnya berdebar cukup kencang saat wajah Zidan yang semakin dekat kearahnya.

__ADS_1


“Kau mau apa? minggir?” lagi Sheana berbicara lirih, dia semakin gugup karena Zidan.


Cupp,.


Zidan mencium Sheana saat perempuan itu hanya diam melihatnya, ia gemas dengan wajah Sheana yang memerah menahan gugup.


Hanya kecupan siingkat yang diberikan Zidan di bibir Sheana, dia langsung melepaskan itu saat Sheana mulai menikmati ciuman mereka.


Sheana menatap bingun pada Zidan, karena pria itu yang melepaskan ciumannya. Padahal ia sudah terlena dengan ciuman barusan.


Zidan sendiri tersenyum tipis, karena dia memang sengaja memancing Sheana agar ketagihan dengan ciumannya barusan.


Sheana yang melihat Zidan malah tersenyum tipis, membuatnya memberontak dan mengalukan tangannya keleher sang suami.


Dia meraup bibir Zidan, menciumnya cukup dalam. Zidan yang puas karena Sheana terpancing ciumannya langsung membalas ciuman tersebut. Mereka berciuman di atas kasur, ciuman yang begitu menuntut satu sama lain.


Sheana yang begitu agresif membuat Zidan tak mau kalah, ciuman pnas itu turun ke leher Sheana. Zidan memberikan bekasnya di situ membuat Sheana sedikit mendesah karena ciuman dan gigitan kecil dari Zidan. Tangan Zidan juga bergerak aktif mulai memasukkan jemarinya kedalam kaos yang di gunakan Sheana berusaha melepas pengikat karena susah terlepas membuat tangan Zidan bergerak keatas salah satu gunung Sheana.


“Cium aku lagi,” ucap Shena dengan suara serak meminta Zidana agar menciumnya lagi. Karena Zidan terus bermain di lehernya. Keduanya sudah sama-sama panas, ingin melampiaskan gleyeran nafsu mereka.


Tok,tok


“Non Sheana, non ada tamu di bawah” suara bI Fatonah memaksa kedua orang yang tengah di mabuk asmara langsung berhenti. Zidan yang tadinya sudah akan melepaskan baju Sheana langsung beralih melihat ke pintu dan sekilas melihat istrinya yanga da dibawahnya saat ini.


“Ganggu saja sih,” kesal Sheana yang sudah merasa nikmat dengan sentuhan Zidan.


Zidan yang mendengar itu hanya tertawa, dan dia lansung turun dari atas istrinya.


“Buka kan saja dulu, nanti kita lanjut. Kau mulai ketagihan denganku kan?” ucap Zidan.


“Jangan kira aku tidak menolak, aku ketagihan denganmu begitu” elak Sheana yang masih saja gengsi mengakuinya. Dia langsung berdiri sambil merapikan bajunya dan berjalan kearah pintu untuk membukakannya.


Mungkin kalau tidak ada gangguan dari bi Fatonah pagi ini akan menjadi olahraga pagi Zidan bersama Sheana. Zidan hanya bisa tersenyum membayangkannya.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2