PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 42


__ADS_3

Pernikahan Zidan dan Sheana akhirnya terlaksana, pada hari ini mereka akan resmi menjadi sepasang suami istri.


Kedua orang tua Zidan sudah bertemu dengan Johan ayah Sheana, mereka sepakat untuk melakukan acara pernikahan secara tertutup karena permintaan dari Sheana sendiri.


Acara sakral itu berlangsung dirumah Sheana, hanya beberapa orang saja yang hadir dan beberapa rekan dari Zidan. Bahkan kakek dan nenek Sheana tak datang keacara tersebut padahal mereka sudah diberitahu sebelumnya.


Acarapun saat ini sudah selesai, Zidan masuk kedalam kamar Sheana setelah rekan-rekannya berpamitan pulang. Ini kali keduanya masuk ke kamar Sheana, dia tak melihat Sheana di dalam kamar membuatnya sedikit bertanya kemana perempuan itu saat ini padahal tadi jelas-jelas Sheana pamit lebih dahulu darinya.


“Aku tidak perduli kakek mau masuk penjara atau apa? itu kesalahan mu sendiri. soal Marco dia tak terlalu masalah aku menolak anaknya” terdengar suara Sheana dari arah balkon mengundang rasa penasaran Zidan, dia langsung mendekat kearah sumber suara tersebut.


“Terserah diriku dong aku menikah dengan siapa, lagi pula aku hanya membohongimu. Kenapa kakek menyalahkanku, itu salahmu sendiri yang tidak adil pada anak dan cucumu. Lihatlah Om Jason yang selalu mendukungmu, sedangkan daddy tidak mendukungmu sama sekali, lagi pula daddyku tidak perlu bantuanmu. Sudah aku matikan,” kesal Sheana dan langsung mematikan panggilan begitu saja, dia yang masih memakai kebaya pernikahn langsung masuk kedalam tapi dia di kejutkan oleh Zidan yang tiba-tiba berdiri didepannya saat ini.


“Astaga, kau mengagetkanku saja” ucap Sheana sambil memegang dadanya yang berdebar karena terkejut.


“Kau berbicara dengan siapa?” tanya Zidan menatap Sheana.


“Dengan kakekku” jawab Sheana sambi melewati Zidan yang langsung berbalik menyusul Sheana yang menuju lemari pakaian.


“Kau dan kakekmu membuat kesepakatan apa? apa yang kau bicarakan barusan?”


“Kenapa sih ikut campur, diam saja bisa kan. sudah kau keluar sana aku mau ganti baju” ucap Sheana mengusir Zidan, dan dia kembali akan berjalan tetapi tangan Zidan mencekal tangannya.


“Wajar aku ikut campur, aku suamimu sekarang. Dan kenapa aku harus keluar agar kau bisa ganti baju, aku sudah melihat dirimu sepenuhnya. Jadi untuk apa kau malu kalau aku ada disini” tegas Zidan dan menarik pinggang Sheana membuat tubuh perempuan itu begitu dekat dengannya.


Mata Sheana melebar dengan apa yang di lakukan Zidan sekarang, tangan kekar pria itu mendarat rapi di pinggangnya dan jarak mereka yang sangat dekat sekarang.


“Ka...kau gila ya, le..lepaskan aku” gugup Sheana ketika Zidan malah memeluk pinggangnya.


“Aku ingin minta hak sekarang boleh?”


“APA? kau mabuk? Kau gila ya ini siang hari kau mau..”


“Apa salahnya kalau siang hari, malah lebih panjang kita melakukannya”


“Lepas, lepas kan aku. gila jangan ajak-ajak” Sheana berusaha melepaskan diri dari Zidan, dia merasa gugup sendiri karena permintaan konyol Zidan barusan.

__ADS_1


Zidan yang melihat Sheana yang semakin gugup malah tersenyum dengan ekspresi perempuan itu.


“Kau gugup sayang, hahaha aku hanya bercanda. Itu hukuman kecil dariku karena kau masih menganggapku orang asing. lain kali ceritakan semuanya padaku, kau ada tempat berbagi sekarang yaitu suamimu diriku” goda Zidan dan dia langsung melepaskan pelukannya di pinggang Sheana dan kalimat akhirnya tadi membuat Sheana terpaku haru, dia sedikit tersentuh dengan ucapan Zidan.


“Kau mau kemana” tanya Sheana kemudian.


“Bukannya kau menyuruhku keluar agar kau bisa ganti baju” Zidan berbalik menatap Sheana lagi saat dia akan berjalan keluar.


“Tidak usah keluar, aku ganti di kamar mandi saja” lirih Sheana dan mengambil baju gantinya dari dalam lemari bergegas membawanya ke kamar mandi.


Zidan melihatnya tersenyum saja, dengan kelakuan Sheana yang tampak salah tingkah karena dirinya. Ia baru kali pertama melihat sikap perempuan keras kepala yang sudah menjadi istrinya seperti itu.


................................


Dilain tempat Gladys berada di kamarnya, dia marah-marah melampiaskan emosinya saat mendengar pernikahan Zidan dari Kevin. Benar Kevin mantan kekasihnya dulu yang tak lain adik dari Zidan mantan tunangannya, Kevin menghubungi dirinya bilang kalau Zidan sudah menikah.


“Zidan kau jahat, kau jahat Zidan. Kau membatalakan pertuannagn kita dan lebih memilih perempuan itu, kau jahat Zidan” gladys membuang semua barang-barangnya yanga da di atas meja termasuk figura-figura kecil fotoya dan juga Zidan selama mereka bersama bahkan ada foto pertunangan mereka disitu.


“Aku benci pada Zidan, aku benci..kau membuatku terluka seperti ini aku membencimu Zidan” teriak Gladys sambil melempar gelas di meja ke lantai.


“Astagfirullah Gladys,” mama Gladys masuk kedalam kamar putrinya saat mendengar suara yang cukup keras tersebut. Betapa terkejutnya dia saat melihat kamar putrinya yang telah berantakan.


“Bu Zidan khianatin aku bu, dia selingkuh bu..dia nikah sama perempuan lain bu aku harus gimana sekarang” keluh Gladsy memeluk ibunya smabil menangis.


“Sabar Gladys, sabar, mungkin Zidan bukan jodoh kamu nak.” Snag ibu berusaha menguatkan putrinya.


“Nggak bu, Zidan jodoh aku bu. Aku nggak bisa biarin dia nikah sama orang lain”


“Gladys, sudahlah kenapa kau menangisi pria seperti itu. pria yang tak bisa menuruti keinginan ayah. Banyak pria yang lebih baik dari Zidan” tegas ayah Gladys yang masuk kedalam kamar sang putri.


“Aku hanya mau Zidan ya bukan pri...”


Plakkk


Tamparan keras mendarat di wajah mulus Gladys, dia memegang wajahnya yang terasa panas akibat tamparan sang ayah.

__ADS_1


“Ayah kenapa nampar Gladys?” tanya sang istri.


“Biar anak ini sadar, kalau Zidan itu tidak layak untuknya. Dia bisa dapat pria yang lebih baik dari Zidan” pungkas sang ayah. Sedangkan Gladys hanya bisa menangis, dia merasa hancur saat sang ayah malah seakan setuju dengan hubungannya yang kandas.


“Zidan saja tidak ada niat untuk mengajak orang tuanya menemuimu, kau malah menangisi pria sepeti itu. lupakan dia dan banyak pria yang mengejar-ngejarmu. Ayo bu keluar tinggalkan anak ini agar berpikir” ucap sang ayah mengajak ibu Gladys untuk keluar meninggalkan Gladys sedirian.


Setelah kedua orang tuanya pergi, Gladys terduduk di lantai menangis meraung dengan nasib hubungannya yang kandas setelah bertahun-tahun bahkan mereka saja sudah bertunangan.


.......................................


Zidan melihat seisi kamar Sheana, dia menunggu perempuan itu yang tak kunjung keluar dari kamar mandi padahal dia saja sudah selesai berganti pakaian dan Sheana belum juga kembali.


Zidan membuka laci yang ada di sebelah tempat tidur, dia ingin saja mengeksplor seisi kamar Sheana. Saat dia membuka laci itu, ia mendapati tiga alat tes kehamilan merasa penasaran membuatnya langsung mengambilnya begitu saja.


Keduanya tertulis positif dan satunya terdapat dua garis di alat tersebut. Zidan terpaku melihatnya baru kali ini dia melihat hal tersebut. Karena dia selama Sheana bilang beberapa hari lalu kalau dia hamil ia belum diberitahu hasilnya dan juga mereka belum juga ke dokter kandungan karena Zidan percaya dengan ucapan Sheana kalau tengah hamil.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Sheana saat Zidan membelakangi dirinya.


“Kau masih menyimpannya? Ini hasil tes kehamilanmu?” tanya Zidan tampak berbinar.


“Hemm” jawab Sheana dan dia langsung menaruh baju kotornya di tempatnya.


“Kenapa masih kau simpan?”


“karena itu belum aku tunjukkan padamu, dan itu juga sebagai bukti nanti kau pikir aku hanya ingin menipumu saja” tukas Sheana.


“Nggaklah, aku tidak pernah berpikir seprti itu terhadapmu” Zidan langsung menaruh hasil tes kehamilan itu di kasur. Dia berjalan kearah Sheana yang berjalan menuju meja rias


Dan grepp,.


Zidan melingkarkan tangannya di pinggang Sheana memeluk perempuan itu dari belakang. Sheana yang di peluk tiba-tiba tentu saja terkejut.


“Ke...kenapa kau memelukku, le lepas”


“Aku rasa aku sudah terlalu dalam mencintaimu” bukannya melepas Zidan malam memeluk Sheana lebih erat lagi serta bebisik di telinga Sheana.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2