
Sheana mengambil kembali kunci mobilnya dari tangan Zidan, dia menatap pria berbaju abu-abu dengan jaket hitam serta tanda pengenal posi yang mengalung di leher Zidan.
“Tidak usah ikut campur urusanku bisa” tukas Sheana dan langsung pergi dari hadapan Zidan saat ini yang melihat Kevin yang sudah masuk kedalam mobil. Zidan yang sadar Sheana mengambil kunci mobil dari tangannya membuat Zidan langsung beralih mengejar Sheana yang berjalan sedikit sempoyongan sudah di pastikan perempuan itu dalam pengaruh alkohol saat ini.
“Tunggu sebentar,” Zidan menahan lengan Sheana agar perempuan itu tidak pergi.
“kenapa sih, jangan ganggu diriku. Pergi dari sini,” Sheana berusaha melepaskan tangannya dari Zidan.
“Kau mabuk, aku antar kau pulang” Zidan kembali akan mengambil kunci mobil dari tangan Sheana tetapi perempuan itu menjauhkannya.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau selalu ikut campur masalahku. Bukannya aku sudah melakukan apa yang kau inginkan” Sheana menatap nyalang wajah Zidan. Dia tak suka pria itu yang menyampuri urusannya.
“Aku polisi, jadi wajar kalau aku ikut campur urusanmu apalagi kondisi mu mabuk seperti ini. ini tidak baik untuk mengemudikan mobil, jadi kemarikan kunci mobilmu” balas Zidan dan memaksa mengambil kunci mobil Sheana.
“Ciih, polisi. Apa plisi bisa smapai begini, atau jangan-jangan kau ingin mobilku kan. ambil saja kalau kau mau” sinis Sheana dan langsung melenggang pergi menjauh dari Zidan.
Zidan yang melihat Sheana yang malah pergi meninggalkan dirinya beserta mobil perempuan itu tentu saja tak tinggal diam, dia langsung mengejar Sheana. Tanpa babibu, ia langsung menggendong Sheana di pundaknya.
Sheana yang terkejut karena dia tiba-tiba saja di gendong, langsung meronta minta di turunkan.
“Hei, kau apa-apaan, turun kan. aku bilang turunkan” kesalnya memberontak. Zidan diam saja sambil memanggul Sheana menuju mobil perempuan itu, dia langsung membuka pintu mobil tempat penumpak di sebelah kemudi mendudukkan paksa sheana disitu.
Setelah itu dia langsung memutari mobil untu ikut masuk kedalam mobil sport merat menyala tersebut. Sheana yang ada di dalam mobil melihat Zidan dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Zidan sudah masuk kedalam mobil, dan dia langsung mengenakan Seatbeltnya, dia melirik kearah Sheana yang diam menatapnya.
“Kau hanya ingin melihat diriku atau memakai seatbelt?” tukas Zidan sebelum dia menyalakan mesin mobil.
“kenapa kau selalu ikut campur dan kenapa selalu dirimu yang melihatku berantakan” ucap Sheana sambil menatap Zidan yang diam tapi tangan pria itu bergerak dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke Sheana memakaikan seatbelt pada perempuan setengah mabuk tersebut.
.....................................
Mobil yang dikemudikan Zidan sudah berhenti didepan rumah dengan gerbang kokoh tinggi menjulang. Zidan melihat sekilas kesebelahnya dimana Sheana yang tidur pantas sedari tadi perempuan itu tak bersuara sama sekali.
__ADS_1
“Aku juga heran dengan diriku, kenapa aku selalu ada disaat kau butuh seseorang” gumam Zidan smabil melihat Sheana yang tidur. Tangan Zidan terangkat perlahan, dia ingin membenarkan rambut Sheana tapi niatnya terhenti saat dia sadar apa yang dia akan lakukan.
“Stop Zidan, apa yang kau lakukan” ucapnya menolak tindakannya tersebut.
Tinnnn
Terdengar klakson mobil dibelakang mobil Sheana membuat Zidan menoleh kebelakang, dimana mobil dengan jenis sama tetapi warna yang berbeda berada dibelakang mobil yang ia kendarai saat ini.
Terlihat seorang pria keluar dari mobil tersebut, siapa lagi kalau bukan Sean yang berlari kecil menghampiri mobil sang adik yang terparkir di depan rumah mereka.
“Sheana, Sheana” panggil Sean dari luar mobil smabil mengetuk kaca mobil pengemudi. Kaca itu turun dan kini terlihat siapa yang ada di bagian pengemudi.
“Kau,.” Kaget Sean saat melihat Zidan ada di mobil adiknya.
Zidan langsung keluar dari dalam mobil, dia harus menjelaskan kenapa ia saat ini berada di dalam mobil milik Sheana.
“Apa yang kau lakukan di mobil adikku?” tanya Sean menatap curiga Zidan.
“Aku tadi tidak sengaja bertemu adikmu di Club malam, dia mabuk dan aku membawanya pulang” jelas Zidan pada Sean yang menatapnya curiga.
“Aku tidak melakukan apapun pada adikmu,” ucap Zidan saat menyadari tatapan curiga Sean.
“Sheana mabuk?” tanya Sean mengalihkan pembicaraan.
“Seperti yang anda lihat, kalau begitu saya permisi” ucap Zidan dan akan pamit pergi.
“Tunggu sebentar, karna kau yang mengantarnya kesini. Sekalian antar adikku kedalam, aku tak mungkin mengantarnya masuk kedalam seorang diri” pungkas Sean pada Zidan.
“Kenapa harus aku, sepertinya anda sendiri bisa membawa adik anda ke dalam” ucap Zidan heran.
“Kalau aku yang membawanya masuk kedalam, daddy akan memarahinya habis-habisan. Jadi aku minta tolong padamu antar adikku kekamarnya, daddyku pasti tidak akan memarahi Sheana kalau kau yang mengantarnya” jelas Sean yang pada akhirnya jujur mengenai alasannya menyuruh Zidan yang mengantar Sheana ke dalam. Karena kalau Sean yang membawa Sheana ayah mereka pasti akan memarahi Sheana bahkan bisa-bisa Johan menyiramkan atau menjeburkan Sheana ke kolam renang karena pulang dalam kondisi mabuk.
Mau tak mau Zidan mengiyakan permintaan Sean, dia kembali masuk ekdalam mobil Sheana menyalakan mobil itu kembali untuk masuk kedalam rumah besar itu.
__ADS_1
Setelah menggendong Sheana masuk kedalam ruah hingga kamar perempuan itu, Zidan langsung membaaringkan Sheana di kasurnya. Zidan memang langsung diijinkan Johan untuk masuk kedalam kamar putrinya saat melihat Sheana yang tak sadarkan diri dalam gendongan polisi yang tak lain mantan ajudan sahabatnya.
Saat Zidan akan menyelimuti Sheana yang tidur, tiba-tiba saja tangan Zidan di tahan oleh Sheana yang membuka matanya.
“Sebenarnya apa mau mu? Kau perlu uang?” Sheana yang bangun tiba-tiba bertanya begitu pada Zidan membuat kerutan di dahi Zidan saat ini.
“Aku tidak mengerti maksdumu apa?” pungkas Zidan menatap aneh Sheana.
“Jangan pura-pura sok tidak mengerti, kau baik denganku ada maunya kan. kau butuh berapa? Aku bayar. Atau kau kurang dengan bayaran atas semua yang kau tahu selama ini” Sheana menatap Zidan datar. Dia menuduh pria itu baik dengannya karena ingin sesuatu.
“Aku bukan orang picik seperti yang kau tuduhkan nona, aku membantumu serta baik padamu selama ini karena kemanusiaan yang tertanam padaku” tukas Zidan dan akan berdiri dari duduknya. Tapi Sheana menahan tangannya lagi,
“Kemanusian? Cihh, aku tidak butuh kemanusian darimu. Aku tidak butuh empati darimu Polisi sombong. Atau jangan-jangan kau baik karena jatuh cinta padaku “
Zidan diam melihat Sheana,
“Maaf nona, anda salah sangka soal saya. Saya tidak jatuh cinta dengan anda, saya ada tunangan mengerti. Kalau begitu saya permisi” ucap Zidan yakin dan dia melepaskan tangan Sheana dari pergelangan tangannya.
Sheana berdiri dari duduknya dan menarik tangan Zidan, membuat Zidan langsung melihat kearah Sheana tak mengerti saat perempuan tersebut sudah berdiri didepannya.
Sheana tiba-tiba saja berjinjit didepan Zidan dan memegang wajah pria itu, dan
Cup
Sheana mencium Zidan yang langsung melebarkan matanya saat perempuan didepannya mencium dirinya saat ini. seperkian detik ia terkejut tapi kemudia dia memejamkan matanya seakan menikmati ciuaman dari perempuan itu. bahkan tangan Zidan saat ini melinggkar di pinggang Sheana mendekap perempuan tersebut dan dia membalas ciuman dari sheana barusan.
Ciuman yang sula biasa sekarang terkesan menuntut dari keduanya, Zidan meraup habis bibir Sheana mencium penuh bibir manis tersebut. Mereka berdua berciuman cukup panas dan Sheana perlahan mundur dan terus mundur begitu juga Zidan yang tak henti mencium Sheana.
Zidan langsung membuka matanya saat dia tersadar apa yang ia lakukan telah salah, bagaimana bisa dia mencium perempuan lain disaat dia ada tunangan. Segera saja Zidan langsung mendorong Sheana yang tengah terus menciumnya.
Ciuman keduanya langsung terlepas membuat Sheana menatap aneh Zidan,
“A..aku minta maaf. Maaf aku,aku salah” ucap Zidan dan langsung pergi dari kamar Sheana tanpa menoleh sedikitpun. Sheana tampak kecewa dengan hal itu, dia menatap nanar Zidan yang sudah keluar dari kamarnya.
__ADS_1
°°°
T.B.C