
Sean membuka pintu kamar Sheana, dia melihat adiknya yang tengah memeriksa sesuatu di dalam tas mengundang rasa penasaran Sean. Sheana sendiri tak menyadir kedatangan Sean yang membuka pintu dan berjalan mendekat kearahnya.
“Sheana kau sedang apa?” tanya Sean sambil melihat adiknya yang tampak terkejut dan langsung menutup tasnya kembali.
“Kenapa kau masuk kedalam kamarku tanpa permisi?” tukas Sheana menatap sang kakak yang melihatnya penasaran.
“Aku sudah mengetukkan tapi kau tidak menjawab sama sekali, kau sedang cari apa di dala tas mu sampai tidak mendengar diriku masuk”
“Nggak cari apa-apa, kenapa kakak masuk ke kamarku? Ada perlu apa?” Sheana menaruh tasnya di nakas meja.
“Dibawah ada Zidan, dia ingin bertemu denganmu” ucap Sean memberitahu Sheana kalau Zidan ada di bawah mencarinya.
“Kenapa pria itu harus kesini sih, semakin membuatku pusing saja” gumam Sheana.
“Kenapa?” Sean yang tak terlalu mendengarnya bertanya langsung pada perempuan itu.
“Nggak,” jawab Sheana sambil berdiri dari duduknya.
“Kau ada hubungan dengan polisi itu? kalian pacaran?” tanya Sean pada Sheana yang akan berjalan.
“Nggak” jawab Sheana singkat,
“Aku kebawah dulu, kalau kakak masih ingin disini silahkan?” lanut Sheana sebelum melewati sang kakak.
“Kakak mau ke kantor, Daddy butuh bantuan kakak. Kau dirumah jangan kemana-mana, Selina dan mama ke Singapura hari ini”
“hemm” Sheana langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Sean yang juga ikut berjalan keluar dari kamar Sheana.
Sheana melihat kebawa saat sudah berada di luar kamarnya, dia bisa melihat Zidan yang duduk di sofa ruang tamunya. Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya, Sheana lalu berjalan menuju tangga di menuruni setiap anak tangga tersebut sambil pandnagannya tak lepas dari Zidan.
Zidan langsung melihat kedepan saat mendengar suara derap langkah yang mendekat kearahnya. Dia melihat Sheana yang berjalan keluar dari ruang tengah sambil menatap dirinya datar.
“Ada apa ingin bertemu denganku?” tanya Sheana tepat di depan Zidan.
“Kau tidak salah menanyakan itu padaku?” sinis Zidan menatap tajam Sheana.
Zidan langsung berdiri dan mencekal tangan Sheana,
“Jangan pura-pura bodoh Sheana, apa maksudmu dua hari ini tidak bisa dihubungi” marah Zidan pada perempuan didepannya.
“Aku hanya ingin ketenangan saja” jawab Sheana enteng.
“Ketenangan? Ketenangan apa maksudmu?”
__ADS_1
“Bagaimana urusanmu dengan tunanganmu itu? kapan kalian menikah?’ Sheana bukannya menjawab dia malah balik bertanya pada Zidan.
“Aku tidak punya tunangan, dan aku tidak akan menikah kalau bukan denganmu”
“Apa maksudmu?” Sheana tak mengerti
“Aku sudah memutuskan pertunaganku dan aku juga sudah membatalkan pernikahanku dengan Gladys. Kau puas,? Jadi apa ke dokter kita periksakan dirimu setelah itu ayo kita me..”
“Kalau kau memang ingin menikah mari menikah” jawab Sheana mendahului ucapan Zidan.
Zidan terlihat tak mempercayai ucapan Sheana yang langsung mengiyakan rencanaya itu, ada apa dengan perempuan keras kepala didepannya tidak seperti biasanya perempuan itu langsung mengiyakannya saja.
“Kau tidak salah bicarakan? Tumben kau tidak keras kepala seperti biasanya, apa dua hari ini kau merenungi semuanya.
“Bukannya kau bilang kalau aku hamil kau akan tanggung jawabkan, kalau begitu aku bilang sekarang aku tengah hamil. Maka tanggung jawab atas semua ini, atau kita gugurkan saja anak ini”
“Kau hamil?” Zidan sekaan tak percaya, dia menatap serius Sheana.
“Apa aku terlihat bercanda?” tukas Sheana, ya sedari tadi wajah perempuan itu tampak serius bahakan terlihat begitu banyak pikiran.
“Kalau begitu ayo menikah, papa dimana? Aku ak..”
“Kau menghamili adikku pria brengsek,” Sean tiba-tiba saja muncul dan memukul wajah Zidan. Dia cukup marah mendengar percakapan antara Sheana dan Zidan barusan, Sean tak menyangka kalau adiknya saat ini tengah hamil di luar nikah bahkan yang menghamili Sheana adalah pria yang ia kira baik dan yang ia percaya.
“kau apa-apaan memukulnya lepaskan dia” ucap Sheana berusaha menarik Sean agar tidak memukuli Zidan yang terjatuh ke sofa.
“Aku minta maaf, aku memang salah. Tapi aku bisa jelaskan semuanya,” Zidan mencoba meanhan pukulan Sean selanjutnya. Dan Sheana langsung menarik Sean agar menjauh dari Zidan.
Zidan langsung bangkit saat Sean sudah tidak berada di atasnya,
“Aku minta maaf karena sudah menghamili adikmu, tapi aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku” ucap Zidan menatap Sean yang masih mengepalkan tangannya menatap marah Zidan.
“Lebih baik kau pergis aja dari sini, jangan urusi urusanku. Sana pergi,” ucap Sheana mengusir Sean.
“Sheana, aku kakakmu aku berhak ikut campur masalahmu. Aku harus memberi pelajaran pria ini terlebih dahulu”
“Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan, dia akan bertanggung jawab padaku. Jadi silahkan pergi, dan jangan bilang pada Daddy soal aku hamil. Kalau sampai Daddy dan mamamu serta adikmu tahu, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu kak” ucap Sheana mengancam Sean. Alasan Sheana melakukan itu pertama, dia tak ingin daddynya murka dan memukuli Zidan entah mengapa rasanya ia tak tega melihat Zidan di pukuli, kedua karena dia tak ingin nama keluarganya jelek karena masalahnya ini.
Sean diam saja melihat Zidan yang juga menatapnya, tatapan pria itu ampak bersalah.
“Baik, kakak tidak akan bilang siapapu, tapi kau Zidan segera temui daddyku dan nikahi adikku” ucap Sean pada akhinya.
“Pasti aku akan menemui daddymu” jawab Zidan.
__ADS_1
“Kakak pergi dulu,” ucap Sean dan langsung pergi meninggalkan dua orang itu. Sheana melihat diam kakaknya yang berjalan keluar dan dia langsung beralih melihat Zidan yang tampak terluka di sudut bibirnya.
“Duduklah, aku ambilkan obat merah dulu” ucap Sheana pada Zidan, dan dia akan pergi tetapi Zidan menahan tangannya.
“Tidak usah, aku tidak apa-apa” ucap Zidan sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit ada noda darah disitu.
Zidan langsung menarik Sheana untuk duduk disebelahnya, dia menatap perempuan itu.
“Kau sudah yakin kalau dirimu hamil? Kau pergi ke dokter sendiri?” tanya Zidan lirih.
“Aku hanya mengetes dengan tes kehamilan saja” jawab Sheana tak kalah lirih.
“Apa karena ini kau menghilang dua hari, apa kau bingung soal ini?”
“Bagaimana aku tidak bingung soal masalah ini, kau tunangan orang dan aku mengandung anakmu. Kalau kau jadi aku kau pasti juga akan bingung sepertiku” tukas Sheana.
“Mulai sekarang jangan pernah bingung soal hal ini, dan aku berterimakasih padamu karena kau tidak menggugurkan calon anak kita” Zidan menggenggam tangan Sheana.
Sheana hatinya berdesir dengan ucapan lembut Zidan barusan, ucapan yang terdengar begitu tulus padanya.
“Sekarang ganti bajumu dan ikut aku” perintah Zidan pada Sheana.
“Ada apa dengan bajuku, tidak ada yang salah dengan baju yang ku gunakan ini” Sheana memperhatikan tampilannya sendiri. dia merasa tak ada yang salah dengan pakaiannya. Sheana saat ini mengenakan celana jeans pendek cukup ketat serta baju yang pas body.
“Aku tidak suka” jawab Zidan.
“Bukan urusanmu kau suka atau tidak, kau bukan siapa-siapaku” pungkas Sheana.
“Aku calon suami, dan ayah dari bayi kau kandung. Jadi itu hakku menyuruhmu untuk ganti baju” tegas Zidan.
“Calon suami? kapan ak...”
“Tidak usah membantah dan cepat ganti baju, atau aku yang akan menyeretmu keatas untuk ganti baju” Zidan menaruh jarinya di depan Sheana dan berbicara tepat didepan wajah perempuan itu dengan jarah yang cukup dekat.
Sheana langsung mengguk salivanya, dia mentap lamat-lamat wajah Zidan dengan jarak super dekat saat ini. hatinya berdebar dengan kedekatan mereka sekarang.
“Cepat ganti bajumu, aku tunggu disini. dan jangan menggunakan rok pendek atau celena pendek dan ingat satu hal jangan memakai baju yang terlalu ketat” ucap Zidan langsung menjauhkan wajahnya dan memperingatkan Sheana.
“Kau belum jadi siapa-siapaku sudah berani memerintah diriku seperti ini?” Sheana sekan tak terima dengan semua yang diperintahkan Zidan.
“Kau memang sepertinya perlu aku gendng keatas” Zidan langsung berdiri dan bersiap untuk menggendong Sheana yang melebarkan matanya.
“Aku bisa sendiri” Sheana langsung berdiri menatap kesal kearah Zidan. Dia langsung menghentakkan kakinya berjalan pergi meninggalkan Zidan yang diam-diam tersenyum melihat kekesalan Sheana.
__ADS_1
°°°
T.B.C