
Malam yang semakin larut waktu untuk tidur mengistirahatkan diri, Zidan yang tadinya tidur saat ini terbangun melihat kesamping dimana Sheana tidur sambil memeluk dirinya. Ia melihat serius wajah sang istri memastikan bahwa perempuan itu sudah benar-benar tidur. Setelah dirasa Sheana tertidur pulas Zidan perlahan melepaskan tangan Sheana, ia dengan hati-hati turun dari tempat tidur supaya Sheana tak terganggu dengan pergerakannya.
Zidan menyambar ponsel miliknya yang ada di nakas meja, ia ingin menghubungi seseorang. Zidan langsung membawa ponsel miliknya kearah balkon, ia akan menghubungi Kevin di situ. Benar dia akan menghubungi adiknya untuk memberitahu soal Gladys yang katanya depresi. Ia ingin Kevin melihat perempuan itu untuk memastikannya. Kenapa dia memutuskan untuk meminta bantuan Kevin, karena ia pikir Kevin masih perduli dengan Gladys, meskipun konsekuensinya Kevin akan marah padanya karena membuat Gladys seperti itu.
“Halo Kevin” ucap Zidan saat Kevin mengangkat panggilannya.
“Ada apa kau menghubungiku?”
“Aku minta maaf mengganggumu malam-malam, tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu”
“Apa, cepat aku sibuk” tukas Kevin dari seberang sana.
“Ini soal Gladys, aku dengar dia sekarang sedang depresi bisakah kau melihatnya”
“APA? jangan bercanda, bagaimana bisa dia depresi..”
“Jangan bilang ini karenamu” lanjut Kevin.
Zidan diam saja tidak menjawab hal itu,
“Kau memang brengsek Zidan, kau menghancurkan hidup perempuan” geram Kevin terdengar memaki Zidan.
“Aku tahu, aku salah. Tapi aku dan Gladys memang tidak berjodoh, jadi aku minta maaf telah mengambilnya dulu darimu. Jadi aku tolong, kau kembalilah dengan Gladys hiburlah dia, aku minta maaf soal dulu”
“Kau gila, setelah kau mengambilnya dariku dulu. sekarang kau mengembalikannya padaku, kau pikir kau bisa terus memberiku bekasmu. Dasar pria brengsek kau, aku tidak perduli lagi dengan Gladys jadi kau lihat sendiri saja” pungkas Kevin begitu marah pada Zidan.
“Oh iya, jika kau masih perduli dengan Gladys, berikan saja nona Sheana padaku. Aku lebih menginginkan nona Sheana ketimbang Gladys, jadi putuskan pilihanmu sebelum terlambat” ucap Kevin lagi mengingatkan Zidan.
“Jangan harap aku akan memberikan istriku padamu, dia milikku selamanya akan menjadi milikku. Jika kau tidak mau kembali lagi dengan Gladys terserah,” Zidan tersulut emosi dan dia langsung mematikan panggilan begitu saja. dia langsung masuk lagi kedalam kamar. ia kesal dengan adiknya, padahal ia berniat baik tapi pria itu malah membuatnya emosi.
Zidan melihat Sheana yang masih lelap tertidur, ia membaringkan dirinya lagi ke kasur, dia langsung memeluk Sheana.
..........................................
Pagi-pagi Zidan dan Sheana sudah berada di meja makan, dengan roti panggang isi dagang hasil masakan Zidan serta segelas susu didepan mereka berdua.
“Sayang pagi ini kita tidak jadi ke dokter kandungan, nanti siang atau nggak malam kita kesana. Aku ada panggilan dari komandan, nggak pa-pa kan?” ucap Zidan sambil melihat kearah Sheana yang sedang makan di depannya.
“Nggak pa-pa kok, tapi pagi ini aku boleh keluar?”
“Keluar kemana?”
__ADS_1
“Aku mau ke mall dengan Satria”
“Ya boleh, tapi jangan lama-lama. Habis itu pulang, dan jangan pakai-pakain yang terlalu minim bahan. Pakai-pakaian yang sesuai dengan ibu hamil” Zidan menasehati sang istri soal cara berpakaiannya.
“Hemm,” dehem Sheana sambil melahap roti panggang smabil cemberut.
Zidan tersenyum kecil melihatnya, satu bulan lebih mereka menikah Sheana perlahan mulai tak mendebatnya. Perempuan itu selalu menuruti setiap ucapannya meskipun terkadang sering ingkar tapi tidak seperti dulu.
Setelah selesai sarapan Zidan langsung pamit pada Sheana, dia harus dinas saat ini. bertepatan dengan dia membuka pintu apartemen Satira juga membuka pintu apartemen miliknya sendiri.
“Sudah mau berangkat bekerja kak?” tanya Satria yang ada didepan pintu apartemnnya yang memang berhadapan dengan apartemen kakak iparnya.
“Iya,”
“Nanti kalau keluar dengan istriku naik mobilnya hati-hati jangan biarkan Sheana menyetir, dan nasehati dia kalau memakai heels. Aku titip istriku,” Zidan begitu protektif bahkan dia berpesan pada Satria.
“Kau perhatian sekali dengan kakakku, aku senang dia punya suami sepertimu. Kau tidak usah khawatir kak. Aku akan mematuhi ucapanmu,” jawab Satria sambil tersenyum ramah.
“Ya sudah, aku pergi dulu. kakakmu ada di dalam” pungkas Zidan dan langsung berlalu pergi.
“Oke,” Satria langsung berjalan kearah apartemen kakaknya setelah dia menutup pintu apartemennya.
Itu Hendra ayah dari Satria, dia memang belum pulang ke Semarang, ia ingin mencari alasan kenapa anaknya tidak mau pulang ke Semarang dan dia juga ingin tahu alasan kenapa hubungan Satria dan ibunya semakin renggang.
“Siapa perempuan itu? apa dia pacar Satria?” gumam Hendra.
“Tapi tunggu, perempuan itu tengah hamil..”mata Hendra melebar saat melihat perut perempuan yang ada disebelah anaknya . “Apa jangan-jangan perempuan itu hamil anak Staria makanya Satria tidak ingin kembali ke Semarang?” lanjut Hendra yang masih menduga-duga tentang apa yang dia lihat.
“Tapi tidak mungkin Satria menghamili anak orang, kalau dia sampai begitu..” ucap Hendra lagi dan suaranya tercekat, ia tak bisa membayangkan jika benar Satria sudah menghamili anak orang bagaimana pendapat orang-orang kraton nanti dan anggapan masyarakat tentang keluarganya.
“Tidak, tidak bisa, aku tidak bisa biar kan ini” ucapnya lagi sambil melihat sang anak yang menuju mobil yang sudah di siapkan oleh pihak apartemen di depan gedung tersebut.
Tanpa banyak berpikir lagi Hendra langsung berlari menghampiri Satria dan perempuan itu sebelum mereka masuk kedalam mobil.
“Satria,” panggil Hendra saat anaknya membukakan pintu mobil untuk perempuan asing.
Keduanya otomatis melihat kearah Hendra yang berjalan cepat kearah mereka.
“Ayah..” Satria tampak kaget melihat ayahnya ada disitu.
Sheana melihat kearah Satria, dan melihat sekilas pada pria [paruh baya yang tinggi dan sedikit berisi itu serta kumis tipis.
__ADS_1
“Ayahmu?” tanya Sheana pada Satria.
Satria yang masih terkejut melihat ayahnya langsung melihat kearah Sheana.
“Kak Sheana masuk dulu saja ke mobil, aku bicara sebentar dengan ayahku” pinta Satria pada kakaknya.
“Siapa dia? dia pacarmu? kau menghamili anak orang Satria?” tanya Hendra dengan tegas.
“Ayah ngomong apa sih,” geram Satria karena di tuduh seperti itu oleh ayahnya.
“Menuduh seseorang tanpa tahu kebenarannya” sinis Sheana menatap Hendra.
“Kau siapa nona? Kau pacar anakku?” tanya Hendra beralih melihat Sheana.
“Ayah ayo kita bicara di tempat lain, kenapa ayah tiba-tiba disini bukannya sudah kembali ke Semarang” ucap Satria dan akan menarik ayahnya.
“Lepaskan ayah Satria, ayah mau bicara dulu dengan perempuan ini” tolak Hendra dan melepaskan tangan anaknya dan kembai melihat Sheana.
“Kau ingin tahu siapa aku, yakin? Kau malah syok nanti saat tahu diriku siapa” pungkas Sheana.
“Kak aku mohon kau masuk dulu ke mobil, ayah ayo” ucap Satria.
“Kak? Kau memanggilnya kakak. Dia siapa Satria,” Hendra semakin bingung dan penasaran.
“Aku kakak angkatnya disini, dia teman suamiku” jawab Sheana berbohong. Satria langsung melihat kearah Sheana yang sudah berbohong.
“Apa? benarkah kau hanya kakak angkat putra ku” Hendra masih tak percaya.
“Ayah sudahlah, mending ayah pulang. Aku harus pergi mengantar kak Sheana, suaminya meminta tolong padaku”
“Oke ayah pulang, dan ayah juga minta kau segera pulang ke Semarang. Ibumu gelisah memikirkanmu disini,”
“Jelas gelisah, karena takut kebohongannya terbongkar” celetuk Sheana dan langsung membuka pintu mobil masuk kedalam.
“Apa? kau bilang apa nona, Satria dia bilang apa barusan. Dia membicarakan ibumu kan tadi?” ucap Hendra.
“Sudahlah yah, kak Sheana memang begitu. Ayah mending pulang, dan bilang sama ibu kalau dia benar-benar gelisah denganku datang kesini dan minta maaf padaku dan seseornag yang sudah ibu lukai perasaannya. Aku pergi,” tegas Satria dan langsung berlari mengitari mobil dan masuk kedalam mobil meninggalkan sang ayah yang tampak bingung dengan apa yang dia ucapkan.
Hendra hanya diam sambil memikirkan ucapan sang anak, sebenarnya ada apa dengan anak dan istrinya sampai putra sulungnya menyuruh sang ibu untuk meminta maaf pada seseorang. Sebenarnya apa kesalah istrinya pada orang tersebut, dan saat ia mengingat wajah istrinya apalagi pada matanya kenapa tampak mirip dengan perempuan yang bersama dengan anaknya itu.
°°°
__ADS_1