
Zidan saat ini bertemu dengan kekasihnya Gladys di sebuah restauran yang sudah di pesan Zidan sebelumnya. Gladys tidak sendiri melainkan bersama dengan orang tuanya, kedua orang tua Gladys juga ikut datang karena permintaan Zidan sendiri. pria itu ingin meminta maaf secara langsung meskipun berita dirinya belum di klarifikasi sama sekali oleh Sheana.
“OM, tante maaf saya mengganggu waktu kalian berdua” ucap Zidan membuka omongannya sambil menatap dua orang paruh baya di depannya.
“Tidak usah basa-basa Zidan, kita kesini karena permintaan Gladys dan kita belum akan menerimamu kembali sebelum berita tentangmu di klarifikasi” pungkas Ayah Gladys.
“Ayah jangan begitu, bang Zidan ada niat baik buat ketemu ayah” tegur Gladys dengan ucapana ayahnya tersebut.
“Ayah kenapa? Apa yang ayah bilang benar. ayah tidak mau nantinya nama baikmu yang rusak karena dikira merebut pacar orang” tukas ayah Gladys.
“Ayah kenapa sih bahas masalah itu. jelas-jelas itu ngak be..”
Zidan menggenggam tangan Gladys, agar perempuan itu tak berdebat dengan ayahnya sendiri.
“Maaf OM, kalau berita itu mengganggu kalian. Saya akan mengusahakan secepat mungkin soal kabar burung tersebut usai. Mari kita makan malam malam terlebih dahulu baru kita bicara lagi” ucap Zidan pada kedua orang tua Gladys. Gladys menatap Zidan, dia melihat pria itu yang terima begitu saja saat ayahnya meluapkan emosi.
Zidan hanya mengangguk singkat pada Gladys, seolah ia tak masalah dengan ucapan dari ayah perempuan itu.
“Nak Zidan terimakasih ya, sudah mengajak kita makan malam” ucap ibu dari Gladys.
“Iya sama-sama tante” jawab Zidan sambil tersenyum ramah.
Sedangkan ayah dari Gladys hanya diam saja sambil menyantap makanan yang ada didepannya saat ini.
Kebetulan di waktu yang sama Sheana juga masuk kedalam restoran tersebut, dia tak sendiri melainkan bersama dengan keluarganya. Bukan mereka saja tetapi ada kakek dan nenek sheana juga yang baru saja datang dengan pengawalan ketat sehingga kedatangan mereka sekeluarga mengundang perhatian orang-orang disitu.
“Dari dua perempuan itu yang mana yang di gosipkan denganmu?” tiba-tiba saja ayah Gladys bertanya seperti itu pada Zidan yang sedari tadi melihat keramain orang-orang keluarga Sheana.
“Ayah,.” Tegur Gladys pada ayahnya. Zidan sendiri langsung menatap calon mertuanya gugup, dia bingung harus menjawab apa.
“Ayah sudahlah, ayo makan” ucap ibu Gladys meminta suaminya untuk makan saja.
“Bang,” panggil Gladys pada Zidan yang sedari tadi melihat kearah kumpulan orang-orang kaya itu.
“Ah iya,” kaget Zidan dan langsung menatap Gladys yang memegang tangannya, bagaimana bisa dia malah melihat Sheana ketimbang tunangannya sendiri.
“Bang, perempuan yang wajahnya dingin itu kan yang namanya Sheana yang digosipkan sama bang Zidan” bisik Gladys di telinga Zidan. Dia melihat kearah Sheana yang tak berekspresi ditengah-tengah keluarga yang saling bicara.
“Iya, dia orangnya” jawab Zidan lirih.
“Dia cantik ya bang, tapi kayaknya dia juga banyak beban” ucap Gladys pada Zidan.
“Ya, dia banyak masalah dalam hidupnya” jawab Zidan tanpa ia sadar dan pandangannya masih melihat kearah Sheana yang saat ini juga melihat kearahnya.
“Bang Zidan tadi bicara apa?” Gladys seperti sedikit menaruh curiga pada kekasihnya itu.
“Nggak, ayo makan” jawab Zidan mengalihkan ucapannya dan mengajak Gladys untuk makan saja.
Di meja lain, Sheana melihat Zidan yang di rangkul lengannya oleh seorang perempuan. Sheana tahu siapa itu, yang pasti itu bukan sekedar perempuan biasa bagi polisi tampan tersebut.
__ADS_1
“Dasar pria bermuka dua” cibir Sheana sambil terus melihat kearah Zidan.
“Siapa?” tanya Sean yang duduk disebelah adiknya itu, ia melihat arah pandang Sheana.
“Kepo” sungut Sheana tak suka dan dia langsung mengalihkan pandangannya ke lain arah.
“Itu ajudan om Hanifkan? Yang sering bersamamu” ucap Sean. Tapi tak di tanggapi oleh Sheana, Sheana hanya diam membuang muka.
“Papa mengumpulkan kalian disini pasti kalian tahu apa tujuannya” ucap Hadi membuka omongan pada kedua anaknya dan cucu-cucunya yang berada di situ.
“Sebenarnya papa tidak perlu mengumpulkan kita begini, kita sudah besar pa” tukas Johan menatap papanya malas.
“Ya kau memang sudah besar dan tak membutuhkan papa. Papa hanya kau anggap sampah demi orang yang seperti sampah” sinis Hadi sambil melihat Sheana sekilas.
Cecile tersenyum senang mendengar mertuanya terlihat menyindir anak haram suaminya. Siapa lagi yang disinidir kalau bukan Sheana.
“Pa cukup, kita disini untuk berkumpul membahas perusahaan papa dan kak Johan yang ingin bicara pada papa itu saja” lerai Jason kembaran Johan.
“Benar kata Om Jason, dan hal ini tidak penting maka cepat kakek bicara dan akhiri pertemuan ini” timpal Sean.
“Karena kakek sudah cukup tua, perusahaan yang sekarang aku pimpin akan aku serahkan pada Johan sepenuhnya” terang Hadi yang akhirnya membuka omongan.
“Aku tidak mau, aku tidak butuh perusahaan papa. Aku sudah punya perusahaan sendiri yang ku rintis selama ini tanpa bantuan papa” tolak Johan mentah-mentah.
“Kau jangan sok Johan,” ucap Hadi.
“Dad, terima saja, itu rejekimu” ucap Cecile pada sang suami.
“Pertemuan keluarga hanya ingin membahas harta, tidak ada pembicaraan lain apa membosankan. Pantas james dan Julian tidak mau pulang” kesal Sheana dan dia langsung berdiri.
“mau kemana kamu Sheana?” ucap Johan dan Jason bersamaan.
“Keluar, diriku bosan disini.” jawab Sheana.
“Ya sudah sana kau pergi, kau memang bukan bagian dari keluarga ini” ucap Cecile.
Sheana hanya tersenyum sinis saja menanggapi ucapan mama tirinya itu, dia melihat Cecile dan juga Selina. Dan pandangannya sekilas melihat kearah Hadi dan juga neneknya.
“Papa dengar pembicaraan ini membosankan, Jason aku serahkan semua padamu. Lakukan apa maumu tentang perusahaan papa. Aku disin sekaligus ingin memberitahu kalian besok perusahaanku mengadakan acara, kalau kalian bisa hadir silahkan dan kalau tidak juga tidak apa-apa. Ayo Sean mama Selina kita pergi,” ucap Johan pada kedua orang tuanya dan juga adiknya itu.
“tapi kak, sebentar” ucap Jason yang menahan kakaknya agar tidak pergi.
“Sudah, kau tidak usah dengarkan papa. Perusahaan itu kau yang urus, itu milikmu” ucap Johan meyakinkan Jason yang melihat kearah papa mereka yang tampak kecewa dengan keputusan Johan barusan.
“Pa, makanan kita saja belum datang masa kita sudah pergi” protes Selina dan mamanya.
“Ya sudah kalau kalian menunggu makanan, silahkan tunggu. Papa dan Sean pergi dulu” ucap Johan pada anak dan istrinya. Ia harus buru-buru mengikuti Sheana, kalau tidak perempuan itu bakal menghilang entah kemana.
..........................................
__ADS_1
Perusahaan dengan nama ** Group milik Johan Ravero, saat ini mengadakan acara ulang tahun berdirinya ** Group yang ke 23 tahun. Perusahaan yang di dirikan oleh Johan tanpa bantuan ayahnya setelah dia memutuskan keluar dari Ravero Group dua puluh empat tahun lalu.
Para kolega dan tamu undangan Johan berdatangan dari pagi hingga menjelang siang acara memang sudah di mulai dari pagi.
Sheana baru datang siang hari, dia malas sebenarnya untuk datang ketempat ini tapi ayahnya memohon dengan sangat membuatnya iba pada sang ayah. Alhasil mau tak mau ia datang ketempat ini dan hanya duduk diam di salah satu meja yang masih belum diduduki oleh orang.
“Sheana boleh Om duduk disini?” ucap hanif yang baru saja datang, dia tak sendiri melainkan bersama dengan Zidan dan juga Ilham yang dia ajak bersamanya.
Sheana yang tadinya tak terllu melihat langsung mendongak saat sebuah suara menyapanya.
“Silahkan saja,” ucapnya sambil melihat sekilas Zidan dan memalingkan wajahnya.
“Cie bang Zidan ketemu ceweknya lagi nih” goda Ilham pada Zidan.
Zidan langsung menatap Ilham tajam, dan tatapan semakin tajam saat Ilham sengaja merebut kursinya yang ada di sebelah sang komandan membuat Zidan mau tak mau duduk di sebelah Sheana.
Saat Zidan sudah duduk tiba-tiba saja lampu di ruangan tersebut mati membuat yang ada di ruangan itu riuh.
“Hadirin semuanya kami mohon tetap di tempat, lampu sebentar lagi akan menyala. Tolong jangan panik, ini bukan hal yang serius” ucap pembawa acara tersebut.
Sheana terlihat gelisah, bahkan dia berdiri dari duduknya sambil meraba-raba tangan diatas meja.
“Om, OM Hanif” panggil Sheana yang kebingungan.
“Iya Om disini Sheana” shaut Hanif yang duduk di depan Sheana sambil menyalakan ponselnya. Dia tahu Sheana takut gelap, perempuan itu trauma ketika kecil perempuan itu entah sengaja di kurung Sean atau apa yang jelas Sheana pernah terjebak di ruang bawah tanah.
“Om,” lirih Sheana tanpa sadar memegang tangan sesorang yang ada di meja.
“Kamu tidak usah cemas Sheana, ada Om disini. kamu pegang saja tangan Zidan,” ucap hanif.
Tak lama kemudian lampu kembali menyala, dan membuat Sheana terlihat lega meskipun wajahnya sudah pucat pasi menahan gelisah.
Zidan melihat perempuan disebelahnya itu, dan melihat tangannya di genggam cukup erat oleh Sheana.
“Sheana kamu tidak apa-apa?” tanya Hanif cemas menatap Sheana.
“Nggak pa-pa om” jawab Sheana.
“Hahaha nona, ternyata kau takut gelap. Aku pikir kau tidak takut apapun” ledek Ilham saat melihat Sheana yang tampak ketakutan tadi.
“Lihat ndan, sangking takutnya dia megang bang Zidan” ucap Ilham pada Hanif.
Sheana langsung melihat tangannya yang menggenggam tangan milik Zidan, dia melihat Zidan yang hanya diam saja melihatnya. Buru-buru Sheana melepaskan tangan itu dan dia langsung berdiri.
“Maaf Om, aku permisi dulu” ucapnya langsung pamit pergi, rasanya hatinya berdebar dengan tatapan Zidan padanya apalagi tangannya yang menggenggam tangan pria itu. dia tak boleh memiliki rasa ini pada pria orang lain, batin Sheana sambil berjalan meninggalkan tiga orang itu yang kebingungan.
°°°
T.B.C
__ADS_1