PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 44


__ADS_3

Sheana menuruni tangga rumahnya, dia sesekali melihat kebawah rasa penasaran tentang siapa yang mencarinya. Dibawah dia bisa mendengar suara Johan yang tampak tertawa dengan seseorang.


“Toni,” ucap Sheana saat dia sudah berada di depan pria itu yang tak lain sahabat masa kecilnya.


“Ya aku” jawab Toni singkat.


“Itu Sheana, kalau begitu Om pergi dulu ya. Om masih ada kerjaan” ucap Johan yang langsung pamit pergi karena Sheana sudah datang. Johan memang mengenal Toni, karena mereka pernah bertetangga saat masih ada di Australia, dan pria itu sahabat masa kecil anaknya sebelum keluarga Toni memutuskan untuk pindah ke Indonesia.


“Iya Om, terimakasih nasihat pagi harinya” senyum Toni pada Johan.


“Kenapa kau pagi-pagi kesini? Ada perlu apa?” tanya Sheana sambil berjalan mendekat kearah Toni yang langsung berdiri.


“Aku hanya ingin melihatmu, ingin tahu kebenaran sesungguhnya” jawab Toni lugas.


“Maksudnya?” Sheana tampak tak mengerti dengan ucapan Toni barusan.


“Apa benar kau su...” perkataan Toni terhenti karena ada sebuah suara yang memotong ucapannya.


“Bripda Toni, kenapa kau ada disini?” Zidan tiba-tiba saja muncul di belakang Sheana.


“Ternyata benar, kalian sudah menikah” lirih Toni tampak kecewa melihat kenyataan yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.


“Ya, kita berdua baru menikah kemarin. Kenapa kau tidak datang kemarin?” jawab Zidan dan dia berdiri tepat di sebelah Sheana saat ini.


Sheana melihat kearah Zidan yang tiba-tiba berpindah tempat menjadi di sebelahnya, dan dia langsung beralih pada Toni yang terlihat jelas kekecewaannya.


“Bukannya bang Zidan bilang kalau tidak ada hubungan dengan Sheana, dan kau bilang sudah ada tunangan lalu kenapa kalian menikah” Toni mempertanyakan ucapan Zidan tempo lalu yang bilang tidak ada hubungan dengan Sheana sehingga ucapan itu memacu dirinya untuk bisa lebih dekat lagi dengan Sheana tapi apa ini sniornya malah menikah dengan sahabatnya.


“Aku minta maaf soal itu, tapi mau bagaimana lagi hatiku sudah berpaling ke Sheana” balas Zidan sambil merengkuh pinggang Sheana menariknya agar lebih dekat padanya.


Lagi-lagi Sheana melebarkan matanya karena ulah Zidan yang seenak sendiri. bisa-bisanya tangan pria it memeluknya, dan apakah ucapan pria tersebut tulus atau sengaja karena ada Toni.


Toni melihat tangan Zidan yang melingkar di pinggang Sheana, matanya terasa kebas seakan tak terima. Ya, dia tak terima dengan itu, ia memenam rasa pada sahabatnya sendiri tapi kini perempuan itu jadi milik seniornya.


“Sheana kalau begitu aku pamit dulu, masih ada urusan. Mari bang,” Toni tiba-tiba saja pamit pergi, karena dia tidak mau melihat kemesraan Sheana dengan seniornya.


“kenapa buru-buru, bukannya kau ingin bertemu denganku.” Heran Sheana.

__ADS_1


“Lain kali saja kita bicara” jawab Toni sambil melihat sekilas Zidan, dan dia langsung berlalu melewati seniornya itu.


“Ada apa dengan anak itu, pagi-pagi bertamu kesini. Ditemui malah pamit pergi” gerutu Sheana sambil melihat Toni yang bejalan keluar.


“jelas dia pergi, dia tidak mau membuat hatinya sakit karena kita” pungkas Zidan.


“kenapa harus sakit, memang kita melakukan apa?” tanya Sheana polos.


“Melakukan ini,” Zidan langsung mengecup bibir Sheana.


“Kau,.” Kesal Sheana dan memukul kecil Zidan. Zidan malah tersenyum sambil menghinda saat Sheana akan memukulnya kembali.


Hati Zidan serasa menghangat pagi ini, dia puas menjahili Sheana, rasanya ia juga kecanduan bibir manis perempuan di depannya.


“Makanya jangan ketus-ketus padaku mulai sekarang, dan soal Toni tadi dia menyukaimu makanya dia tidak mau melihat kita berdua” ucap Zidan sambil berjalan pergi kearah tangga.


“Apa? tidak mungkin. Dia sahabat, mana mungkin dia menyukaiku. Dan kenapa kau mulai bernai padaku sekarang bahkan menciumku hah” ucap Sheana sambil berjalan menyusul Zidan yang sudah naik ketangga.


Zidan tidak menanggapi ucapan Sheana, dia terus berjalan naik keatas menuju kamar Sheana yang ada di lantai dua.


Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di Semarang Satria sednag mengemas bajunya, dia menatap rapi baju-bajunya di koper.


“Satria, ibu dengar kamu mau ke Jakata. Mau apa disana?” tanya snag Laras pada Satria.


“Aku mau ketemu kakakku, aku dengar dia sudah menikah sekarang. Ayo bu, kita ke Jakarta temui kak Sheana dia pasti se..”


“Satria stop jangan sebut Sheana kakakmu disini, kalau ayahmu tahu dan eyang putri eyang kakungmu tahu. ibu bisa dalam masalah” Laras tampak cemas sehingga memotong ucapan Satria. Dia melihat-lihat sekitar memastikan kalau tidak ada orang yang mendengar mereka.


“Kenapa ibu mesti takut sih, ayahkan tahu kalau ibu dulu pernah melahirkan anak. Kak Sehana itu anak ibu juga,” Satria menatap ibunya menahan kesal.


“Iya ayahmu tahu, tapi dia tahunya anak ibu sudah tidak ada. Jadi ibu mohon Satria, kamu nggak usah ada hubungan dengan dia. dia juga tidak akan menganggapmu adik, dia anak konglomerat”


“Aku tidak perduli, Kak Sheana anak konglomerat aku ningrat sama kan. sudahlah bu, aku tetepa akan ke Jakara. Kalau ibu terus menghalangiku jangan sampai aku bilang sama eyang putri” jawab Satri mengancam sang ibu.


“Satria kenapa kamu begini sih nak, ibu hanya ingin kita dan Sheana hidup masing-masing” Laras tampak memelas pada putra sulung dari penikahannya itu.


Satria dia saja, dia tak mengindahkan ucapan ibunya. Ia menutup kopernya saat sudah selesai menatap baju yang akan dia bawa ke Jakarta.

__ADS_1


“Maaf, aku tidak bisa begitu. Aku punya kakak, dan kakakku perempuan jadi aku yang akan menjaganya,. Ibu tidak mau mengakui kak Sheana tidak apa-apa, tapi aku mengakui dia sebagai kakakku” Satria langsung menarik kopernya pergi.


“Satria, Satria berhenti” Laras berusaha mengejar anaknya tapi seorang pelayan menghampiri dirinya bilang kalau suaminya tengah mencari dirinya saat ini. mau tak mau Laras memilih untuk menemui sang suami ketimbang anaknya yang sudah berjalan pergi.


...............................


Sheana berjalan bersama Zidan akan keluar dari rumah, tak sengaja mereka berpapasan dengan Cecile dan Selina yang baru saja pulang. Zidan tersenyum menyapa mereka berdua, sedangkan Sheana hanya diam saja, ia bahkan terang-terangan menyenggol Cecile karena menghalangi jalannya.


“Sheana,” geram Cecile menahan kesal.


“Apa?” Sheana berbalik dan melihat kearah mamanya itu.


“Kau tidak lihat mama jalan didepanmu. Bisa-bisanya kau menabrakku” ucap Cecile.


“Salah mama sendiri, jalan depeten begitu” jawab Sheana tak merasa bersalah sama sekali


“Kau memang aak kurang ajar ya, tidak tahu sopan santun”


“Aku tidak tahu sopan satun? Helo kau sen..”


“Sudah ayo, jangan begitu dengan mamamu” sela Zidan yang langsung merangkul bahu Sheana mengajak perempuan itu pergi.


“Maafkan istriku ma, kita permisi dulu” pamit Zidan.


“Dia bukan mama ku, untuk apa..”


Sayang sudah ayo,” ucap Zidan menyela lagi ucapan Sheana mengajak perempuan itu langsung pergi dari hadapan Cecile dan juga Selina. Selina sendiri sedari tadi memang lebih memilih untuk diam karena kalau dia ikut bicara Sheana akan semakin menjadi.


“Untung dia ada suami yang membelanya kalau tidak, “ geram Cecile.


“Sudahlah ma ayo, biarkan saja dia” ajak Selina pada sang mama.


Mereka berdua langsung berjalan masuk kedalam rumah sedangkan Zidan dan Sheana berjalan ke mobil Zidan mereka berdua akan ke dokter kandungan memeriksakan kandungan Sheana saat ini melihat sudah berapa minggu kandungannya.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2