
Zidan masuk kedalam kantor polisi buru-buru, dia mengabaikan rekan-rekan yang menyapa dirinya saat masuk kedalam. Tujuannya saat ini adalah Toni, dia harus bertanya apda pria itu dimana istrinya dan memperingatkan Toni untuk tidak merusak rumah tangganya dengan Sheana.
“Toni kemari kau?” tukas Zidan memanggil Toni yang duduk di sebelah Ilham. Disitu tak hanya mereka berdua melainkan ada dua orang polisi lainnya.
“Loh bang, katanya cuti” ucap Ilham yang terkejut melihat seniornya ada di depannya saat ini.
“saya ada urusan sama Toni, kemari kau Toni” tukas Zidan menahan marah.
Toni melihat sekilas pada sang senior, dia berdiri dan berjalan mendekati seniornya tanpa rasa takut.
Bugh..
Zidan langsung memukul wajah Toni saat pria itu sudah didepannya, dia benar-benar marah pada junior yang sudah ia anggap baik tersebut.
Toni tersungkur ke lantai membuat rekan-rekan polisi yang tadinya sibuk langsung melihat kearah mereka. Apalagi Ilham yang langsung memegang tangan Zidan agar tidak mendekati Toni.
Zidan menepis tangan Ilham yang menahannya, dia langsung menghampiri Toni sebelum pria itu bangkit.
“Bang, Bang udah bang” Ilham berusaha menahan Zidan agar tidak memukuli Toni.
“Bang Zidan mukul aku, oke kalau ngajak berantem” Toni mendorong Zidan dan balik memukul pria itu.
Zidan tentu saja membalas pukulan Toni,
“Kau pria brengsek yang harus aku hajar. Beraninya kau membuat rumah tanggaku dan Sheana bermasalah. Dimana istriku sekarang,” Zidan akan memukul Toni.
“mana aku tahu, dia istrimu kan kenapa kau tanya apdaku. Suami macam apa kau?”
“Kenapa kau ingin sekali memisahkan ku dengan Sheana Toni, sampai kau bersekutu dengan mantan tunanganku hah. Rasanya aku ingin menghajarmu” geram Zidan karena dia melihat sekitar dimana beberapa polisi berusaha menahan dirinya dan juga Toni agar tidak bertengkar.
“Ini ada apa ramai-ramai, kenapa kalian malah berkumpul di satu tempat bukannya melayani masyarakat yang menunggu di depan” suara tegas menengahi ketegangan diantara mereka. Hanafi melewati beberapa anak buahnya yang sudah memberi jalan, dia melihat Zidan dan juga Toni yang terlihat memar di wajah mereka bahkan Toni yang tampak lebih parah dari Zidan.
“bang sudah, dibicarakan ditempat lain saja” bisik Ilham ditelinga Zidan.
“Lapor Ndan, Bripka Zidan dan Bripda Toni barusan bertengkar” ucap salah satu polisi yang melaporkan.
__ADS_1
“Kalian berdua kenapa bertengkar disini, kalian tak tahu ini kantor polisi. Dimana polisi yang mengayomi kalau sesama polisi saja bertengkar. Kalian berdua, aku tunggu diruanganku” ucap Hanafi menyuruh kedua anak buahnya untuk menemui dirinya di ruang kerjanya.
................................................
Zidan kerumah orang tuanya degan wajah yang babak belur, karena perkelahiannya tadi dengan Toni. Waktu sudah menjelang sore langit yang tadinya terang kini sudah berubah keorenan. Ia masuk kedalam rumah itu saat dibukakan oleh asisten rumah tangga yang ada dirumah kedua orang tuanya.
“Yaampun den, itu wajahnya kenapa?” ucap bibi yang bekerja di rumah tersebut.
Zidan diam saja tak menjawab pertanyaan tersebut, dia tetap lurus berjalan mengabaikan semuanya bahkan saat dia bepapasan dengan Kevin yang akan keluar Zidan diam saja tak menyapa sang adik yang hanya melihatnya saja.
Wajah Kevin sendiri saat melihat kakaknya yang datang dengan wajah babak belur sedikit terkejut. Ia terlihat mencemaskan kakaknya itu, tapi karena gengsinya besar ia tak menunjukkannya.
“Mau apa kesini? Papa sama mama nggak dirumah” Kevin melihat itu rasanya tak tega membuat dirinya berbasa-basa dengan sang kakak yang berjalan melewati dirinya.
“kemana?”
“Ketemu teman papa”
“Kalau begitu numpak istirahat disini” Zidan langsung berjalan pergi ke sofa runag tengah, ia akan membaringkan tubuhnya disitu. hari ini sungguh berat baginya, ia kehilangan istrinya dan dia juga bertengkar dengan rekan kerjanya. Bukan itu saja dia di non aktifkan selama dua minggu.
Kevin melihat kakaknya yang berjalan pelan masuk kedalam, Zidan tampak bak patung yang berjalan saja.
Baru saja dia melangkah keluar, pikiran Kevin terpikir soal kakaknya lagi.
“Issh, menyabalkan. Kenapa juga aku harus perduli padanya” geramnya pada diri sendiri. Kevin membuka pintu rumahnya lagi. Ia tak jadi pergi, ia akan dirumah saja mengawasi Zidan.
“Istrimu dimana?” tanya Kevin pada Zidan yang sudha berbaring smabil memejamkan matanya dengan tangan yang menutupi dahinya.
“Kau tidak jadi pergi,” Zidan membuka matanya dan melihat sekilas pada adiknya yang berdiri didepannya.
“Nggak, temanku membatalkannya” jawab Kevin, dia langsung duduk di sofa single yang ada di depan sofa panjang yang di tiduri Zidan.
Zidan memalingkan wajahnya, dia kembali memejamkan matanya saat ini Kevin sendiri hanya memperhatikan saja tanpa banyak bertanya. dalam kepalanya ia penasaran dengan apa yang terjadi pada sang kakak. Tapi mulutnya serasa susah untuk membuka suara untuk menanyakan masalah tersebut.
...........................................
__ADS_1
Sean pergi ke apartemen Zidan, dia tadi di beritahu oleh Bi Fatonah kalau Zidan datang kerumah seperti orang kebingungan. Hal tersebut membuatnya penasaran dan ingin bertanya langsung pada Zidan kenapa mencarinya.
Sean mengetuk pintu apartemen Zidan dan juga adiknya itu, ia menuggu beberapa menit sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu itu lagi.
“Sheana, Zidan, kalian didalam?” panggil Sean karena dia sudah mengetuk beberapa kali masih tak ada tanggapan.
“Zidan,” panggilnya lagi memanggil sang adik ipar.
Masih sama tak ada tanggapan, pintu belum di buka juga. membuat Sean memutuskan untuk merogoh saku celananya mengambil ponsel. Ia akan menghubungi mereka berdua saja kemungkinan mereka tak ada dirumah saat ini.
“kenapa nomor Sheana tidak aktif,” gumam Sean saat menghubungi adiknya. Di kembali menghubungi Sheana tapi masih sama nomor itu tidak aktif.
Dia langsung menghubungi Zidan saat ini, Sean menunggu dering ponsel diseberang sana di angkat.
“Halo Zidan kau dan Sheana dimana, aku didepan apartemenmu saat ini?” ucap Sean saat panggilan di seberang sana sudah diangkat.
“Kau siapa? Kakak ku sedang tidur”
Mendengar itu Sean sedikit terkejut karena yang mengangkat panggilannya bukan Zidan.
“Kau adiknya Zidan?” tanya Sean saat menyadari kalimat yang diucapkan pria diseberang sana.
“Hemm, kau siapa? Apa kau yang memukuli kakakku hingga wajahnya lebam-lebam”
“Apa maksudmu, aku kakak Sheana. Sheana juga ada disitu kan?”
“Oh, kau kakak ipar kakakku. Nona Sheana tidak ada disini”
“Sheana tidak ada disitu, lalu dia kemana?”
“Aku tidak tahu,”
“Tolong berikan ponselnya pada Zidan, aku ingin bicara dengannya”
“Dia sedang tidur, kalau kau ingin bicara dengannya silahkan datang saja kerumah orang tuaku. Kau tahu alamatnya dimana? Kalau tidak tahu aku kirimkan alamatnya padamu. Sudah aku matikan, kalau sampai Zidan melihatku memegang ponselnya dia bisa memarahiku” pungkas Kevin dari seberang sana.
__ADS_1
“Zidan ada dirumah orang tuanya, lalu kemana Sheana?” gumam Sean melihat sekilas ponselnya yang sudah ia matikan menyala karena ada pesan masuk. Itu nomor Zidan yang mengirimi alamat rumah orang tuanya pria itu.
°°°