
Zidan sudah berangkat ke kantor kepolisian, dia baru saja masuk kedalam kantor itu sudah disambut suara riuh dan godaan para rekannya.
“Cielah pengantin baru akhirnya masuk kerja juga ini” seru Nanda salah satu rekan Zidan.
“Gimana bang perasaannya jadi pengantin baru, abang nih bilangnya nggak ada hubungan sama nona Sheana eh tahunya menikah” sahut Ilham yang berdiri tepat di depan Zidan.
“Ton, sini ngapain diem aja disitu. ucapin geh sama bang Zidan, pengantin baru nih, kamu waktu itu nggak dateng kan” panggil Ilham pada Toni yang mengabaikan rekan-rekannya yang tengah menyambut Zidan.
“Sudah aku beri selamat” jawab Toni singkat dna dia sibuk dengan beberapa berkas di mejanya.
Zidan melihat sekilas Toni, yang sibuk sendiri. ia tahu Toni masih kesal dengannya soal ia yang menikahi Sheana. Tapi ia bodo amat dnegan perasaan juniornya, salah sendiri dari dulu kenapa tidak bilang suka saja ada Sheana tentu saja saat ini tidak bisa. Sheana sudah menjadi miliknya untuk selamanya.
“Sudah dulu ya, saya keruangan dulu. Bang Farhan sudah nunggu saya kayaknya,” pamit Zidan karena rekan barunya yang bernama Farhan sudah menunggunya diruangan.
“Ok jangan lupa nanti makan-makan buat kita” seru Ilham dan juga Nanda.
“hemm,” balas Zidan samabil berlalu dari hadapan mereka.
“Ton, lo kenapa sih sinis banget sama bang Zidan?” tanya Ilham penasaran, dia duduk di kursi kosong sebelah Toni.
“Perasaan lo aja” pria itu kembali menjawab singkat tanpa menoleh sedikit pun.
“Nggak ah, yang lainnya uga bilang begitu lo kayak sensi banget sama bang Zidan beberapa bulan ini. Lo di tegur dia ya..” tebak Ilham yang masih saja mengoceh.
Toni tak menanggapi ucapan Ilham dia, sibuk dengan pekerjaannya setelah itu dia bangkit sambil membawa beberapa lembar surat pernyataan yang akan dis erahkan ke komandan mereka.
“Nih anak, dia ajak bicara malah pergi” sungut Ilham. “Dilihat-lihat dia makin mirip aja kayak bang zidan dulu, nyebelin..”gerutu Ilham lagi.
..............................
Tingggg
Di Apartemen Sheana berlari kecil untuk membukakan pintu apartemennya yang berbunyi. Ia langsung membuka pintu tersebut saat dia sudah tepat didepan pintu, ia membuka perlahan pintu itu melihat siapa yang ada di luar.
“keterlaluan, ternyata kakak tinggal disini.” kesal Satria yang langsung menyelonong masuk kedalam apartemen Sheana.
“Kau,.kenapa kau keisni? Main masuk apartemen orang saja”dengus Sheana yang langsung mengikuti Satri yang sudah masuk lebih dulu.
“Aku bertamulah, mau ngapain lagi. Kakak ini kenapa sih susah banget nerima aku sebagai adikmu.”
Sheana menatap jengah Satria yang terus membahas hubungan mereka, rasanya lelah meladeni bocah di depannya.
“Mau minum atau makan apa?” tanya Sheana pada Satria.
__ADS_1
“Tersarah kakak aja,” jawab Satria.
“Nih, pesan sendiri. Aku mau mandi, kau mengganggu waktuku saja” Sheana melempar ponselnya pada Satria meminta pria itu untuk memesan makanan saja karena ia malas untuk membuatkan makanan.
“Nggak sopan banget sih kak, nggak pernah diajari papa kakak” kesal Satria saat dirinya hampir terkena ponsel dari sheana untung saja dia sigap menangkapnya kalau tidak bisa benjol kepalanya.
“Nggak puas, sudah sana pesan. Dan misalnya kalau suamiku nelpon angkat saja bilang aku masih mandi” jawab Sheana dan dia langsung berjalan pergi meninggalkan Satria sendirian di sofa apartemennya.
“Dia nggak ada perhatian-perhatiannya sama adik sendiri, tanya kek kenapa aku disini, ibu nyariin atau nggak. Eh punya kakak satu-satunya cuek bebek begitu cewek lagi, haduhh. Tapi kenapa aku malah pengen terus jagain,” Satria cemberut sendiri dengan sikap Sheana padanya. Ia langsung membuka ponsel kakaknya yang tidak di kunci tersebut memesan makanan untuknya dan juga untuk sheana.
“Sudah pesan belum” Sheana tiba-tiba saja muncul lagi disaat Satria baru membuka ponsel miliknya.
Satria langsung mendongak melihat kakaknya yang masih mengenakan baju yang sama, dan tubuhnya juga tidak basah.
“kak Sheana sudah mandi?” tanya bingung sambil melihat kakaknya dari atas ke bawah.
“Nggak jadi males,” jawab Sheana dan langsung mendudukkan dirinya disebelah Satria.
“Aneh, tadi bilangnya mau mandi sekarang males” cibir Satria.
“bawa sini, aku saja yang pesan” Sheana langsung menyahut ponsel dari tangan Satria.
“Kau tahu darimana aku tinggal disini?” tanya Sheana sambil jemarinya sibuk mengetik di keybord ponsel. “Kak sean yang memberi tahumu?” tanya Sheana.
“Kok tahu aku disini?”
“Aku tinggal di depan apartemenmu, tadi aku tidak sengaja melihat kak Zidan keluar dari sini. Makanya aku pastikan saja kau disini juga atau tidak”
“Oh,”
Mereka berdua langsung hening tidak ada yang berbicara diantara keduanya tetapi Satria melihat terus kearah kakaknya. apalagi fokusnya tertuju pada perut Sheana yang tampak berbeda.
“Kakak hamil ya?” tanya Satria soal kecurigaannya itu.
“Ya,.” Jawab Sheana sambil fokus memilih makanan yang akan dia pesan.
“Pantes, labil” ucap Satria.
“Aku ingin tanya sesuatu padamu?” tanya Sheana sambil menaruh ponselnya di atas meja setelah memesan makanan.
“Apa?”
“Kau pernah pacaran?” tanya Sheana tiba-tiba ingin menanyakan hal itu.
__ADS_1
“Pernahlah, namanya anak muda kak. Kenapa tanya begitu? Jangan-jangan kakak belum pernah pacaran ya?” tanya Satria balik.
“Belum,”
“Hah, seriuas...kakakku yang cantik begini belum pernah pacaran”
“Nggak usah ngeledek, cukup diem saja bisa kan dan jawab pertanyaanku” ketus Sheana.
“hemm, mau tanya apa? tapi aku nggak yakin kakak belum pernah pacaran”
“Hatiku mati, tidak ada namanaya cinta selama ini ngerti” kesal Sheana.
“Kenapa begitu? Jangan bilang karena masa lalu kakak. Soal ibu dan papa kakak, itukan masa lalu kak, kenapa kakak membawanya ke masa depanmu”
“Bagaimana rasanya orang pacaran dan jatuh cinta dan juga bagaimana cara mereka bersikap saat keduanya jatuh cinta?” tanya Sheana, karena dia benar-benar tidak tahu dan tidak pengalaman akan hal itu. ia hanya ingin belajar bagaimana mencintai seseorang dna memberikan kasih sayang pada orang yang ia cintai yaitu suaminya sendiri yakni Zidan.
“Pacaran sih cuman gitu aja, orang yang nggak saling cinta pun bisa pacaran. Tapi beda kalau sedang jatuh cinta,. Sikap seorang yang jatuh cinta itu begitu tulus menyayangi pasangannya melakukan apapun yang pasangannya inginkan dan bersikap lembut pada pasangan. Kalau kakak ingin begitu lakukan saja kak tidak usah di tahan, aku dengar dari kak Sean bagi kakak cinta itu hanya kelemahan kan. tapi tidak untukku kak cinta itu malah membuat kita penuh kekuatan untuk menghadapi apapun”
“Kak Sheana dengarkan aku, tidak semua orang mengkhianati cinta mereka kak. Dan tidak semua orang seperti papa kakak yang mengkhianati mama kak Sean hingga terlahir kakak dari rahim ibu. Itu hanya manusianya saja kak, bukan karena cintanya. Jadi jagalah cinta itu segenap jiwa, kalau ada masalah dibicarakan mencari solusi sama lain bukannya melarikan diri dari kenyataan yang tengah di hadapi” Satria benar-benar memberikan nasehat serta saran yang tulus untuk kakaknya. ia ingin kakak perempuanya bisa merasakan cinta dalam hidupnya.
Sheana yang mendengar itu tampak diam, dia memikirkan setiap ucapan Satria barusan.
“menurutmu Zidan seperti papaku atau tidak? Beritahu aku dia pria seperti apa?” tanya Sheana pada Satria.
“kak Zidan?”
“Emm, kak Zidan menurutku pria yang baik dia tanggung jawab, sabar, dari pandanganku dia juga pria yang tulus. Aku rasa dia bukan pria yang seperti OM Johan yang bisa selingkuh dengan perempuan lain” jawab Satria.
Ucapan selingkuh dengan perempuan lain seakan menyentil Sheana, karena sebelum Zidan menikah dengannya pria itu sudah ada tunangan apakah dia termasuk selinglingkuhan.
“Kak, kenapa diem?” tanya Satria.
“Dulu Zidan sebelum menikah denganku, dia sudah memiliki tunangan apa dia bisa diartikan sebagai pria yang selingkuh dengan perempuan lain?”
“Apa? kakak serius dia punya tunangan sebelumnya?”
“Ya.”
“Tapi aku lihat kak Zidan bukan orang yang seperti itu, dia tulus denganmu. Sorot matanya juga menunjukkan kalau dia begitu dalam mencintaimu kak. Waktu di Semarang pun, dia malah tampak cemas saat kakak sakit, dia yang merawat kak Sheana kan di hotel.”
“Kak Sheana nggak usah mikir aneh-aneh, kak Zidan benar-benar cinta kok sama kakak. Aku jamin itu, kalau dia bukan orang yang baik tidak mungkin kak Sean setuju sekali dengannya. Aku juga tidak mungkin langsung menerima dirinya, aku menerimanya karena melihat dia benar-benar cinta sama kakak” pungkas Satria meyakinkan kakaknya soal perasaan Zidan.
°°°
__ADS_1