PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 22


__ADS_3

“Sampai kapan kita harus menunggu disini?’ akhirnya Zidan meluapkan kekesalannya karena sudah duduk cukup lama di bawah pohon depan sebuah rumah yang terlihat tampak tradisional tapi di jaga oleh beberapa pengawal didepannya.


“Kau bisa diem tidak, nanti kita juga pergi habis ini” ucap Sheana yang sedari tadi berusaha untuk sabar juga. rasanya ia ingin memaki-maki orang suruhanya yang tidak bisa mendapatkan akses untuknya masuk kedalam.


“Sebenarnya kenapa kita harus menunggu disini, setahuku ini rumah orang-orang ningrat disini” heran Zidan menatap penasaran pada Sheana. Dua hari dia bersama perempuan itu, tapi dua hari juga perempuan tersebut seakan menutup diri dan terlihat gelisah dari sifatnya yang diam itu. apa mungkin Sheana menyimpan rasa takut dibalik dia yang lebih banyak diam dua hari ini.


“Aku mohon padamu kali ini saja, jangan banyak tanya. Aku sedang tidak ingin berbicara atau apapun, cukup diam disini saja denganku kita tunggu sebenar lagi” ucap sheana lebih halus dari biasanya. Zidan yang duduk disebelahnya sedikit tak menyangka bahwa Sheana bisa berbicara baik begitu.


“Kau mau minum?” karena ucapan Sheana tersebut membuat Zidan terenyuh entah mengapa dia langsung menawari perempuan itu minum.


“memang kau ada minuman?” tanya Sheana.


“Tidak ada, aku belikan kalau kau haus”


“Terserah dirimu” jawab sheana singkat.


“Tunggu disini,” Zidan langsung berdiri dari duduknya saat ini, dia melihat tak jauh darinya ada seorang penjual es doger. Sheana yang melihat itu merasa tak percaya bahwa pria yang sering debat dengannya tersebut perduli padanya.


Tak butuh waktu lama Zidan sudah kembali dengan membawa dua gelas es ditangannya, dia membawakan milik Sheana.


“Ini buat mu” ucap Zidan sambil menyerahkan segelas es pada Sheana.


“Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa?” ucap Zidan lagi karena Sheana hanya melihatnya saja tanpa mengambil segelas es itu.


“Aku mau” Sheana langsung buru-buru mengambilnya. Dia memang tak pernah memilih-milih makanan meskipun perangainya seperti itu.


“Dari yang aku dengar tadi, rumah ini milik salah satu keluarga sultan disini dan keluarga mereka keluarga terpandang. Kau mengenal mereka?” tanya Zidan penasaran.


“Salah satu perempuan dirumah ini ibu ku” jawab Sheana jujur, Sheana mulai merasa nyaman dnegan Zidan makanya dia menjawab jujur seperti itu.


Zidan yang tadinya akan menyendok es ke mulutnya langsung menoleh melihat Sheana yang memakan es tanpa melihat kearahnya.


“Apa? jadi yang pernah ku dengar di Cafe itu benar. kau anak seling..” ucap Zidan dan terhenti dia merasa telah salah karena berkata begitu.


“Aku memang anak selingkuhan, alias anak haram. Kau puas, itu inormasi gratis dariku, jadi silahkan jual berita itu agar uangmu banyak” jawab Sheana sambil melihat kearah Zidan.


Zidan terpaku mendengarnya, ia terkejut dengan hal itu jadi benar perempuan kasar didepannya hanyalah anak hasil perselingkuhan.


“Tidak usah menatap kasihan padaku, aku tidak butuh rasa kasihanmu. Cepat habiskan es mu itu, setelah ini kita pergi” sinis Sheana meminta Zidan untuk menghabiskan es nya. Dia berkata begitu juga karena ia tak suka ada orang menatap iba padanya.


.....................................


Seorang perempuan paruh baya tetapi wajahnya masih cukup muda dengan pakaian anggun dan juga diikuti oleh seorang pelayan yang membawa belanjaannya. Perempuan itu sehabis belanja di sebuah pasar untuk membeli kebutuhannya.


“Si mbok, nanti tolong ambil kacang-kacangan ya. Mbok tahu sendiri Satria suka kacang-kacangan”


“Iya nyonya nanti saya ambilkan itu untuk den Satria”


“Ya sudah kalau gitu, saya tunggu di mobil mbok. Dan tolong kalau ketemu Satria bilang saya di mobil” ucap perempuan itu berpesan pada pelayannya itu.

__ADS_1


“Iya nyonya” sang majikan melengganggang pergi menuju mobil sedangkan pelayan tersebut pergi membeli apa yang majikannya peritahkan.


Saat perempuan itu berjalan tiba-tiba saja ada seorang perempuan muda dan juga seornag pria muda yang menghadang langkahnya.


“Kalian siapa?” tanya perempuan itu pada dua orang didepannya.


“Anda nyonya Larasati Margono?” tanya Sheana pada perempuan paruh baya didepannya. Ya itu Sheana dan Zidan, Zidan yang tak tahu apa hanya mengikuti Sheana berlari saat mereka akan naik bus yang ada di terminal dekat pasar tersebut. Mereka niatnya akan kembali lagi ke Jakarta tapi Sheana malah berlari keluar dari bus mau tak mau Zidan mengikutinya.


“Iya saya Larasati, kalian berdua siapa ya kalau boleh saya tahu”


Sheana diam sejenak, dia mengamati perempuan didepannya dengan mata berkaca-kaca. Ternyata orang didepannya saat ini itu ibunya, seperti inilah wajah aslinya ibunya itu.


Zidan yang bingung langsung menyenggol pelan Sheana, ia tak tahu kalau perempuan itu berkaca-kaca.


“maaf kalian siapa ya?” lagi Larasati mengulangi pertanyaannya lagi.


“Sheana Ravero, anak Johan Ravero” jawab Sheana mengulurkan tangannya.


Perempuan paruh baya itu terkejut dia melebarkan matanya tak percaya saat melihat sheana.


“Jo..johan Ravero” gugupnya saat menyebut nama itu. dia sesekali melihat sekitar dengan cemas.


“Aku ingin berbicara denganmu, dan tolong jawab pertanyaanku. Kenapa kau meninggalkanku dulu?”


Larasati tersentak ingatan dua puluh empat tahun lalu seakan berputar kembali dimana dia meninggalkan bayi didepan rumah seorang Johan Ravero.


“jangan disini, ayo k..kita berbicara di tempat lain” Larasati yang gugp langsung menarik Sheana dan sedikit mendoronga Sheana dan Zidan agar berjalan lebih dulu. dia sesekali melihat kebelakang takut orang lain melihat dirinya.


“Kau..kau anak itu, kau..kau anak Johan” gugup Laras.


“Ya” jawab Sheana singkat.


“Ke..kekenapa kau mencariku kesini?”


“Untuk apalagi untuk melihatmu, melihat wajah ibu yang telah membuangku”


“Tolong pelankan suaramu, aku mohon” pinta Laras.


“kenapa, kau takut orang lain mendengarnya kalau kau ada anak lain. Kenapa kau membuangku?”


“Tunggu namamu siapa tadi?”


“Sheana”


“Sheana, aku mohon jangan bahas masa lalu. Itu masa lalu yang ingin aku lupakan”


“Ciih, kau lupakan. Kenapa aku tidak boleh membahasnya sednagkan bayi yang kau buang ada didepanmu sekarang. Apa masih tidak boleh aku mempertanyakan itu?”


“Aku tidak membuangmu sheana, tapi menaruhmu di tempat ayahmu. Dan kau sudah hidup bahagiakan, kenapa kau mencariku sekarang”

__ADS_1


“Kau perempuan macam apa bertanya begitu, anakmu mencarimu tapi kau malah bertanya seperti itu. aku anakmu, wajarkan kalau aku mencari ibu kandungku” tegas sheana.


“Ya.ya aku tahu tapi..tapi aku..aku tidak,,aku tidak pernah menganggapmu anakku. Please sheana aku mohon kau kembalilah ke Jakarta hidup bahagia disana. Aku disini sudah ada keluarga dan kau tahu keluarga mertuaku terpandang dan suamiku bukan keturuan biasa aku tidak ingin dia tercoreng karena diriku”


Sheana terpaku mendengar ucapan tersebut, itu artinya ibu kandungnya tak mengaggap dirinya saat ini.


“Perempuan gila kau, kau selama ini tak pernah menganggpku berarti. Ibu macam apa yang tega seperti itu dengan anaknya”


“Bu..bukan aku tidak pernah menganggapmu. Aku sayang padamu Sheana makanya kau kuberikan pada ayahmu. Tapi aku juga tidak bisa mengakuimu anakku, aku punya keluarga disini dan aku tidak ingin keluargaku tahu soal dirimu Sheana”


“Cukup kalau begitu, niatku kesini hanya itu. sekarang aku tahu perempuan pelacur seperti apa dirimu. Pantas kakek tua bangka itu menyebutmu seperti itu, nyatanya memang kau begitu” wajah Sheana berubah dingin sangat digin dari tadi dia lalu melenggang pergi bertepatan dengan seorang pria yang berjalan melewati dirinya.


Larasati yang melihat Sheana pergi merasa bersalah tapi dia juga tak bisa apa-apa. kalau dia menganggap Sheana anaknya maka keluarganya akan hancur.


“Ibu,.bu kenapa ada disini perempuan itu siapa yang bicara denganmu” tanya pria itu yang kemungkinan lebih muda dari Sheana.


Sheana berhenti melangkah, dia ingin mendengar perempuan yang sudah dia ketahui sebagi ibunya itu menjawab apa.


“Di..dia, dia yang nolong ibu barusan” jawab larasati berbohong.


Sheana hanya mencebikkan bibir lalu mantap berjalan pergi dari tempat itu, perlu diketahui pria yang baru saja masuk tadi adalah adik Sheana. Pria yang usianya dua tahun di bawah Sheana saat ini.


Zidan yang sedari tadi menunggu di luar, sesekali melihat kearah gedung kosong itu dia merasa emas sendiri dan penasaran kira-kira apa yang dibicarakan Sheana.


Baru saja dia memikirkan Sheana perempuan itu sudah berjalan keluar dengan lemah melewati dirinya saat ini.


“Sheana,” panggil Zidan dan menyusul Sheana yang lebih dulu berjalan.


“Kau kenapa?” tanya Zidan karena Sheana tiba-tiba berhenti saat dia berlari mengejar perempuan itu.


“Aku benci orang-orang menyebalkan itu benci mereka. Manusia munafik, manusia kejam, aku benci kalian” tiba-tiba Sheana marah-marah tanpa menjawab Zidan. Zidan yang mendengar itu terkejut saat Sheana berteriak memaki secara tiba-tiba.


“Oke, kalian tidak pernah menganggapku. Aku juga tida perduli, aku perduli mengerti” kesal Sheana meraung smabil membanting tas kecilnya.


Mata Zidan melebar melihatnya, dia terkejut dengan hal itu.


“hei, Hei, kau kenapa?” Zidan langsung memegang bahu Sheana saat perempuan itu begitu marah.


“Lepaskan, kau juga pergi dari sini pergi. Kau bebas sekarang, pergi dari sini” Sheana menepis tangan Zidan dan mendorong pria itu agar pergi dari hadapannya.


“Kenapa dneganmu hei, kenapa tiba- tiba kau mengusirku. Tenangkan dirimu” Zidan berusaha membuat Sheana tenang tapi Sheana malah mengusirnya lagi.


“Aku bilang pergi dari sini, pergi. Kau pergi, aku ingin sendiri saat ini” lagi Sheana mengusir Zidan mendorong pria itu agar pergi.


Sheana yang histeris sambil mendorong Zidan pergi langsung ditarik kedekapan Zidan saat ini meskipun perempuan itu terus memberontak.


“tenanglah, tenangkan dirimu.” Lirih Zidan menyuruh Sheana untuk tenang sambil terus mendekap perempuan tersebut dalam pelukannya. Sheana tidak menangis dia hanya melampiaskan emosinya dengan meraung dan marah-marah, dia tak ingin terlihat lemah dengan menangis didepan orang.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2