
Setelah di rasa kondisi Zidan sudah membaik, hari ini dia sudah diijinkan pulang kerumah. Dia tak ingin tinggal di apartemennya ia ingin tinggal bersama dengan orang tuanya toh kenapa dia kembali ke apartemen istrinya saja tak ada dirumah.
“Kevin bantu kakakmu berjalan, ayo kita pulang sekarang” perintah Gautam pada Kevin yang juga ada disitu.
Bunga sedang sibuk memberesi barang-barang milik Zidan dan dibantu oleh Gautam. Kevin dan Zidan hanya diam saling melihat saja tetapi Kevin langsung menghampiri kakaknya itu.
“Ayo aku bantu” ucapnya saat sudah didekat Zidan.
“Tidak usah, kau bantu mama atau papa saja, aku bisa jalan sendiri” tolak Zidan dan mulai berdiri dari duduknya saat ini. tapi baru saja dia berdiri ia sudah mengerang sakit dibekas luka yang ada diperutnya.
“Nggak usah deh, ayo” pungkas Kevin dan langsung memapah Zidan. Zidan mau tak mau menrema bantuan Kevin, dia menolak bukannya apa-apa karena dia merasa Kevin tak nyaman dengannya jadi lebih baik dia yang menghindar.
“Terimakasih” lirih Zidan sambil melihat sekilas adiknya tersebut.
“Hemm” balas Kevin sambil berjalan pelan menuntun Zidan yang ada disebelahnya.
Kedua orang tua pria itu yang masih berada di belakang terlihat gembira melihat kedua anaknya yang bisa akur lagi seperti dulu.
...............................
Sheana dan James baru mendarat di Jakarta, mereka berdua sudah berjalan kelauar dari Bandara.
“Julian mana? katanya dia mau menjemput kita kan?” tanya Sheana pada James yang berjalan dibelakangnya sambil membawakan koper miliknya itu.
“Itu yang jemput” pungkas James sambil melihat kedepan.
Sheana langsung menatap kedepan kembali betapa terkejutnya dia saat melihat Sean lah yang menjemput mereka saat ini. tatapan Sean cukup tajam dan dingin membuat wajah Sheana sedikit takut, baru kali ini ia merasa takut dengan ekspresi marah kakaknya itu.
“Kenapa kak Sean yang menjemput kita, kenapa bukan Julian?” lirih Sheana sambil melihat sekilas James.
“Sebenarnya bukan Julian yang mau jemput kita tapi Sean, aku sengaja membohongimu karena kalau kau tahu yang menjempt kita Sean kau pasti menolaknya” tukas James.
Sheana menggeram kesal dengan sepupunya tersebut, dia sedang malas diceramahi malah James membohongi dirinya soal siapa yang menjemput mereka.
“Ayolah nggak usah marah, kamu tidak lihat kakakmu menatap kita kayak apa. nanti bukan kau saja yang bakal diomeli tapi aku juga. dan kau berdoa saja seemoga papamu tidak tahu” ucap James dan langsung melenggang lebih dulu.
__ADS_1
“Hai kak Sean,” sapa James saat mendekati Sean yang berdiri menatap mereka berdua tanpa berniat membantu memasukkan barang.
“hemm, buruan masukan semua barangmu, dan kau Sheana cepat masuk” ucap Sean cukup tegas.
“Ya..” jawab James dan Sheana. Sheana langsung berjalan melewati Sean menuju ke mobil milik kakaknya itu yang terparkir didepan mereka.
James sendiri memasukkan tas ransenya dan juga koper milik Sheana kedalam bagasi mobil. Setelah itu dia baru masuk kedalam mobil.
Setelah melihat adik-adiknya sudah masuk kedalam, Sean langsung masuk kedalam mobilnya.
Dia sebelum menyalakan mesin mobil, ia menatap sekilas Sheana yang duduk di kursi belakang.
“Bagaimana pelarian mu menyenangkan?” cibir Sean melihat adiknya.
“Nggak”
“Masa nggak menyenangkan, aturan menyenangkan karena berhasil membuat orang kebingungan dan mencarimu bahkan sampai hampir meregang nyawanya. Harusnya kau senang dong tujuanmu berhasil membuat orang lain mencarimu” lagi Sean masih mencibir Sheana.
“maksud kakak apa sih, siapa juga yang senang. memang siapa yang mau meregang nyawanya demi aku. mana mungkin ada orang yang melakukannya demi ku” jawab Sheana.
“Kak Sean, ayolah jalan aku lapar kak” potong James yang muak dengan perdebatan kedua orang itu.
Sean langsung menghadapa kedepan lagi, dia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobil tersebut meninggalkan area bandara.
Dalam kepala Sheana kini tengah bertanya-tanya soal ucapan kakaknya barusan, memang siapa yang hampir meregang nyawa gara-gara dirinya.
....................................
Setelah satu jam berlalu diselangi dengan makan sebentar di rumah makan, mobil Sean sudah sampai di depan rumah orang tua Zidan. Hal itu membuat Sheana bingung kenapa Sheana malah mengajaknya kesini bukan kerumahnya.
“kakak ngapain ngajak aku kesini, bukannya aku bilang mau pulang kerumah daddy” tanya Sheana heran, dia melihat kakaknya yang duduk di kursi depan.
“Kau turun saja nanti juga kau tahu kenapa aku mengajakmu kesini” jawab Sean, dia tak banyak berbicara ia langsung turun lebih dulu meninggalkan James dan juga Sheana.
“Kau tahu kenapa kakakku mengajak aku kesini?” tanya Sheana menatap curiga James.
__ADS_1
“Mana aku tahu, ya sudah ayo kita turun saja. nanti kau juga tahu alasannya. Ini rumah mertuamu kan?” ucap James dan langsung turun duluan.
Sheana masih diam saja sambil melihat kearah rumah mertuanya, kenapa juga kakaknya mengajak kesini. Dia sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa dulu sekarang. Padahal alasannya pulang ingin segera bertemu Zidan tapi saat sudah sampai di Indonesia malah dia jadi serba salah bingung harus apa menghadapi mereka semua.
“Sheana ayo,.” James membuka pintu Sheana, dia mengajak sepupunya tersebut untuk keluar.
Sean hanya diam saja, karena dia sengaja mengabaikan adiknya itu agar Sheana sadar kalau apa yang dia lakukan sudah salah.
Sheana langsung turun dari dalam mobil dengan ragu-ragu, rasanya ia tak siap kalau bertemu dengan keluarga Zidan.
“Ayo Sheana jangan seperti perempuan lemot, itu bukan ciri khasmu” tukas Sean.
“Kakak nggak lihat aku hamil begini, aku capek kak. Lemes badanku” pungkas Sheana sambil menutup pintu mobil dengan kesal.
“Salah sendiri siapa yang pakai kabur-kaburan” balas Sean dan dia langsung melenggang pergi lebih dulu mendekati pintu rumah keluarga Zidan.
“Ayo” ucap James yang membantu Sheana berjalan, James menuntu Sheana perlahan.
“Kau jangan dendam dengan kakakmu, sikapnya sekarang karena kesalahanmu juga.” lanjut James menasehati Sheana.
Sheana hanya diam saja, sambil berjalan sesekali dia mengusap perutnya dan memegangi pinggangnya yang serasa pegal semua.
“Nanti apa yang harus aku katakan pada Zidan atau keluarganya? Mereka pasti kecewakan padaku karena aku pergi begitu saja” Sheana membuka suaranya mengutarakan keresahannya tersebut.
“Ya, kamu selesaikan dulu apa yang mengganjal dihatimu katakan pada Zidan apa yang membuatmu pergi. Tegaskan padanya soal apa yang kamu rasakan jangan ditutup-tutupi” nasehat James.
“tapi aku takut dengan kenyataan nantinya”
“Kenyataan apa, kau masih berpikrian Zidan tdak mencintaimu. Astaga, itu konyol..tidak usah dipikir” pungkas James
“Kalian berbicara apa, kenapa lama sekali” pungkas Sean.
“Sabar..” sahut Sheana menatap kesal kakaknya.
°°°
__ADS_1
T.B.C