
...17...
Sementara itu di rumah sakit.
“Addison? Kau kah itu” ucap papa Adam memastikan saat melihat seorang pria paruh baya yang seumuran dengannya masuk ke dalam kamar inapnya.
“Yaa ini aku Addison, teman lama mu” jawab Addison.
“Kemarilah Addison, aku sangat merindukan mu. Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu”
“bagaimana keadaan mu Adam? bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Addison setelah memeluk sekilas sahabat lamanya itu yang tengah berbaring.
“keadaan ku sudah jauh lebih baik Addi, entah lah semua ini terjadi begitu saja.Oh ya bagaimana kamu bisa tau kalau aku sedang dirawat disini padahal kita tidak pernah saling bertukar kabar setelah beberapa tahun lamanya” ucap papa Adam.
“kebetulan putra ku juga sedang dirawat disini dan ketika aku datang untuk menjenguknya tanpa sengaja aku mendengar seorang dokter sedang menyebut nama mu. Lalu aku langsung memastikannya dengan bertanya ke resepsionis apakah Adam yang disebutkan dokter itu adalah sahabat ku atau bukan. Dan akhirnya takdir mempertemukan kita kembali disini” jelas Addison.
“putra mu? Apakah kau sudah menikah? Haha aku tidak menyangka seorang Addison Benedict yang dulu tidak percaya dengan pernikahan. Akhirnya termakan oleh omongannya sendiri”
“entah la Adam semenjak aku pindah ke luar negeri, tiba-tiba saja aku bertemu dengan seorang wanita yang mampu membuat hati ku bergetar”
“aku penasaran sekali dengan wanita yang mampu membuat hati seorang Addison bisa bergetar. Apakah dia datang bersama mu? Aku ingin sekali bertemu dengan wanita hebat itu”
Addison tidak menjawab dan hanya tertunduk.
“heii, kenapa raut wajah mu tiba-tiba sedih seperti itu?” tanya Adam
“di—a saat ini sedang sakit Adam, kanker paru-paru” ucap Addison dan tak terasa setetes air matanya terjatuh.
“aku turut prihatin atas apa yang terjadi kepada istrimu, kamu harus tetap kuat Addi” ucap papa Adam sambil menepuk-nepuk lengan sahabatnya itu.
“makasih Dam” ucap Addison sambil menghapus air matanya.
“bagaimana dengan keadaan putra mu?”
“Keadaannya sudah membaik”
__ADS_1
“syukurlah kalau begitu. Di rumah sakit mana istri mu dirawat? Aku akan datang berkunjung setelah aku keluar dari rumah sakit”
“istri ku dirawat di Belanda, kami selama ini tinggal disana Adam. Hanya saja putra bungsu kembali ke Indonesia untuk mengurus perusahaannya yang sedang mengalami masalah disini. Namun baru beberapa hari dia tiba disini aku sudah mendapat kabar kalau dia sedang dirawat maka dari itu aku pulang kesini”
“kalau kau disini siapa yang menemani istri mu disana?”
“putri ku, dia yang menemani istri ku selama aku disini”
Tok...tok...tok
“pah ini tadi aku ada beli buah kesukaan papa” ucap tante Lydia yang tidak menyadari kahadiran Addison diruangan itu.
“ma kenalin ini sahabat aku Addison” ucap papa Adam
“eh maaf pa, mama tadi ga tau kalau papa lagi ada tamu” ucap tante Lydia
“Addison” ucap Addison sambil mengulurkan tangannya.
“Lydia”
Addison kemudian menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang penuh pertanyaan mengenai siapa perempuan yang bernama Lydia, dan Adam menyadari akan arti dari tatapan sahabatnya itu karena yang Addison tau dulu Adam menikah itu dengan Indira.
“oh ini Lydia adik dari Indira sekaligus istri aku” ucap Adam
“istrii? Bukannya dulu kamu itu nikahnya sama Indira?” tanya Addison kaget
“Ya aku memang menikah dengan Indira, tapi sebelum Indira meninggal dia memberikan aku wasiat untuk menikah dengan adiknya supaya ada yang mengurus anak-anak”
“aku turut berduka cita atas meninggalnya Indira ya. Maaf aku ga tau sebelumnya kabar dukacita ini”
“It’s oke Di, waktu itu aku ga tau harus ngabarin kamu melalui apa Di. Aku juga sempat datang kerumah kamu yang lama tapi katanya kamu sudah pindah”
“Damm...” panggil Addison
“Ya, ada apa Di?”
__ADS_1
Namun Addison hanya diam dan sekilas memandang kearah Lydia.
“pah mama keluar sebentar ya, ada sesuatu yang mau mama beli tadi kelupaan” ucap Lydia yang menyadari arti dari tatapan Addison.
“ iya ma hati-hati”
Lalu tante Lydia pergi meninggalkan ruang rawat itu.
“Ada apa Di? Kamu kenapa terlihat ragu-ragu?”
“Damm, aku dengar kamu memiliki seorang putri?”
“Ya aku memang memiliki seorang putri namanya Keysa Maheswari dan dia juga berkuliah di Belanda, dinegara tempat tinggal kamu Di. Nanti aku akan kasih tau Keysa kalau dia punya Om diBelanda”
Tiba-tiba Addison yang sedang duduk dikursi samping kasur tempat papa Adam berbaring, langsung menggenggam lengan papa Adam dengan kedua tangannya.
“Dam, tolong nikahkan putri mu dengan putra bungsuku. Aku sudah tidak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi selain kamu. Aku mohon Dam tolong aku kali ini” ucap Addison memohon.
“Aaapaaaa kamu bilang? Kamu minta putri ku dinikahkan dengan putra bungsu mu? Jangan gila Addi. Tidak mungkin aku menikahkan putri ku dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Maaf aku tidak bisa menolong mu” ucap papa Adam dengan suara yang meninggi sambil melepaskan paksa genggaman Addison.
“saya mohon Adi bantu saya kali ini, saya benar-benar sudah frustasi harus meminta tolong kepada siapa lagi. Saya mohon Dam. Saya janji akan melakukan apapun asalkan kamu mau menolong saya. Saya mohon”
kali ini Addison sudah bersimpuh di lantai dengan kedua tangan yang menempel, untuk memohon kepada Adam.
“saya mohon Di, bantu saya. Saya hanya ingin mengabulkan permintaan terakhir istri saya sebelum dia dijemput yang maha kuasa. Saya mohon Di hiks...hikss...hikss...hikss” ucap Addison sambil menangis.
“kamu tidak boleh berkata seperti itu, kamu itu harus yakin kalau istri kamu masih bisa sembuh, bukannya menyerah seperti ini”
“hikss...hiks tidak Dam saya bukannya menyerah, saya masih berharap kalau istri saya bisa sembuh. Ta-ppi .. hiks..hiks...hiks dokter bilang dia mengidap kanker paru-paru stadium akhir dan waktunya tidak akan lama lagi hikss..hikss jadi saya mohon Dam bantu saya mengabulkan permintaan istri saya untuk melihat putra bungsu kami menikah”
Papa Adam terdiam saat mendengar perkataan sahabatnya itu sembari menimbang permintaan Addison, tiba-tiba saja ingatannya kembali berputar saat dimana dia kehilangan istrinya dulu, betapa sakit dan hancurnya hati papa Adam dulu. Dan saat melihat Addison dia sepeti melihat dirinya dimana dulu saat mama Indira meminta untuk menikahi adiknya dan keluarga besar papa Adam menentang nya namun saat itu yang dipikirkan papa Adam hanya bagaimana dia bisa untuk memenuhi permintaan terakhir itu walaupun dia harus memohon kepada keluarga besar nya. Seperti itu juga yang dilakukan Addison saat ini dia rela melakukan apa saja demi memenuhi permintaan istrinya. Itulah yang membuat papa Adam merasa iba dan tersentuh.
“Baiklah saya akan coba bicarakan dulu dengan Keysa, tapi saya tidak bisa menjanjikan apapun, apa yang nantinya akan menjadi keputusan Keysa. Sudah lah kamu jangan memohon sambil bersimpuh seperti itu lagi”
“terimakasih Dam, sungguh aku sangat berterimakasih kepada mu dan akan membalas semuanya nanti” ucap Addison sambil memegang tangan papa Adam.
__ADS_1
......................