Perhaps To Love

Perhaps To Love
Bab 37


__ADS_3

...37...


Bukan hal yang mudah bagi Keysa untuk mengatakan hal itu, namun lagi-lagi Keysa lebih mementingkan rasa kemanusiaannya dibandingkan dengan perasaannya sendiri.


Setelah mengatakan itu Keysa langsung beranjak dari tempat duduknya, melangkah menjauhi Axel.


“Key...pleasee Key. Sayang...” ucap Axel sambil berusaha kembali mengejar Keysa.


Keysa yang menyadari Axel kembali mengejarnya kemudian langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Axel.


“Stopp...” ucap Keysa dengan penuh penekanan.


“Sayang, ku mohon maafkan aku. Aku benar-benar sangat mencintai mu Key” kali ini Axel bersimpuh diatas rerumputan taman.


“Cukupp Xel, semuanya udah berakhir” teriak Keysa.


“Dan satu lagi berhenti ikutin aku atau aku gak akan pernah lagi mau ketemu sama kamu selamanya” ancam Keysa penuh dengan penekanan kemudian berbalik melanjutkan langkahnya.


Mendengar ancaman dari perempuan yang dia cintai itu membuat Axel tidak berani mengikuti Keysa lagi, Axel hanya bisa diam ditempat memandang punggung Keysa yang semakin menjauh sambil terus berulang kali berteriak mengucapkan kata maaf. Axel memutuskan untuk memberikan waktu kepada Keysa menenangkan diri dan dirinya bertekad tidak akan menyerah mendapatkan maaf dari Keysa.


Setelah merasa cukup jauh melangkah, Keysa pun berjongkok di belakang sebuah mobil yang ada diparkiran rumah sakit, sambil menenggelamkan wajahnya diantara kedua kakinya Keysa menangis sejadi-jadinya.


Nathan yang mulai merasa bosan terus memainkan ponsel dan juga tenggorakannya yang mulai terasa kering, memutuskan keluar dari mobil untuk mencari warung atau minimarket terdekat yang menjual minuman dingin. Nathan yang tidak tau dimana letak warung ataupun minimarket hanya melangkah mengikuti kata hatinya saja dia percaya kalau dengan kekuatan hatinya dia bisa menemukan apa yang dia inginkan.


“Itu bukannya Keysa ya?” ucap Nathan saat melihat seorang perempuan yang memakai pakaian yang sama dengan Keysa sedang berjongkok dibelakang sebuah mobil.


“Tapi ga mungkin lah itu Keysa, ngapain juga dia jongkok disitu”


Nathan kemudian berjalan mendekati perempuan itu dan ketika semakin dekat Nathan dapat mendengar jelas suara isakan yang asalnya dari perempuan yang sedang berjongkok sambil menenggelamkan wajahnya diantara kedua kakinya.

__ADS_1


“Mbak...mbak gapapa?” tanya Nathan sedikit menunduk sambil menggoyangkan bahu perempuan itu.


“Mbak kenapa nangis disini? Mbak ga kenapa-napakan?” tanya Nathan lagi,


Karena tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Nathan mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang bisa dia mintai tolong atau berharap ada seseorang yang mengenal perempuan ini dan sedang menuju kesini. Namun hasilnya nihil dikarenakan mereka saat ini tengah berada diparkiran yang letaknya berada disudut sehingga area itu cukup sepi tidak ada orang yang berlalu lalang.


Nathan mulai merasa bingung harus berbuat apa, dia juga tidak tega meninggalkan perempuan itu sendiri disini, tapi saat Nathan tengah memikirkan harus berbuat apa tiba-tiba saja pandangan Nathan tertuju pada gantungan kunci yang melekat pada tas selempang perempuan yang dia ingat betul gantungan itu juga ada dia lihat ditas yang dikenakan Keysa. Nathan tersadar kalau apa yang dikenakan perempuan ini sama persis dengan apa yang dikenakan Keysa hari ini.


Dengan cepat Nathan langsung berjongkok dan mengangkat wajah yang sedang tertunduk itu untuk memastikan kembali bahwa itu adalah benar-benar Keysa.


“Ke-ysa? Kamu kenapa menangis seperti ini? Apa yang terjadi?” tanya Nathan panik


Namun Keysa tidak menjawab satupun pertanyaan Nathan, dia hanya terus menangis meluapkan segala kekecewaan dan sakit hati yang dia rasakan.


Nathan mengusap air mata yang ada dipipi Keysa menggunakan jari-jari tangannya dan kemudian langsung membawa tubuh Keysa kedalam pelukannya dengan harapan bisa membuat Keysa merasa lebih tenang. Nathan sengaja tidak lagi menanyakan apa yang telah terjadi kepada Keysa dan hanya membiarkan Keysa meluapkan semua tangisan di dalam pelukannya sambil sesekali mengusap rambut Keysa serta menepuk-nepuk lembut punggung Keysa.


Saat ini mobil Nathan dan Keysa tengah berhenti di depan salah satu minimarket, setelah membiarkan Keysa meluapkan tangisanya selama beberapa jam di area parkiran rumah sakit dan sudah merasa lebih tenang, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi. Namun sampai detik ini Nathan juga belum mengetahui apa yang telah terjadi karena Keysa masih memilih untuk diam dan tidak ingin bercerita. Nathan yang mengerti akan hal itu memutuskan untuk tidak bertanya apapun lagi kepada Keysa dan memilih untuk diam sambil terus menemani Keysa.


Keysa menerima botol air mineral yang diberikan Nathan dan hanya meminumnya sedikit saja. Kini wajah Keysa terlihat sedikit agak sembab ditambah lagi dengan matanya yang bengkak akibat kebanyakan menangis.


Melihat Keysa yang hanya meminum air mineralnya sedikit, Nathan kemudian merogoh plastik belanjaannya dari minimarket tadi dan mengeluarkan sebuah cokelat lalu perlahan mulai membuka kemasannya.


“Mau cokelat?” tanya Nathan dengan lembut.


“Tadi aku cari di google, katanya cokelat bisa menetralisir rasa sedih” sambung Nathan


Namun bukannya senang menerima pemberian Nathan, malahan Keysa kembali menangis karena mengingat kembali kenangannya dulu saat masih sekolah Axel sering memberinya cokelat ketika sedang bersedih.


“Eh...eh kenapa nangis? Kamu ga suka cokelat ya? Maaf...maaf aku ga tau”

__ADS_1


Nathan sedikit panik sambil buru-buru kembali memasukkan cokelat itu kedalam plastik belanjaanya.


“Udah ya jangan nangis lagi, cokelatnya udah aku singkirin”


Matahari perlahan mulai terbenam, langit yang tadinya masih terlihat terang kini sudah berganti menjadi gelap. Tapi Nathan dan Keysa masih saja mengitari jalanan raya tanpa adanya tujuan dikarenakan sejak tadi Keysa tidak mau diajak pulang.


Nathan tampak sedang memasang headset bluetooth ke telinganya sambil terus berfokus ke jalanan mengemudikan mobil.


“Hallo Ben, tolong siapkan makanan sebentar lagi saya sampai dirumah”


“Baik tuan muda”


Kemudian sambungan panggilan pun terputus.


Setelah beberapa menit melaju dijalanan akhirnya mobil Nathan tiba di halaman sebuah rumah bertingkat dua, rumah yang tampak minimalis namun tetap elegan.


“Ayo turun, kita makan dulu kan dari pagi kamu belum ada makan nasi”


“Dimana ini?” tanya Keysa yang baru sadar dari lamunannya dan melihat tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.


“Kita dirumah aku, aku yakin kamu ga bakalan mau diajak makan ke tempat yang ramai dalam keadaan wajah kayak gini, makanya aku bawa kamu kesini” Nathan kemudian turun dari mobil dan berlari kecil mengitari mobil lalu membuka kan pintu untuk Keysa.


“Ga usah takut, aku gak bakalan jahatin kamu. Lagian aku juga ga tinggal sendiri kok ada Ben asisten pribadi aku dan kalau jam segini bi Irma asisten rumah tangga aku juga masih ada disini” ucap Nathan setelah membukakan pintu mobil dan melihat Keysa sedikit ragu-ragu untuk turun.


“Ayoo...” ajak Nathan dengan lembut sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Keysa.


Keysa pun menerima uluran tangan Nathan dan turun dari mobil dengan menggenggam tangan Nathan.


......................

__ADS_1


__ADS_2