
...53...
“Sebentar aja Key, izinin aku sebentar saja kayak gini. Please” ucap Nathan dengan suaranya terdengar parau dan tak lama kemudian tubuh Nathan terasa mulai bergetar.
“Eh Nat? Lu kenapa? Lu nangis?”
Keysa yang tidak pernah melihat Nathan serapuh itu merasa sedikit khawatir sehingga membiarkan Nathan untuk meluapkan kesedihannya didalam pelukannya sambil sesekali juga Keysa menepuk-nepuk punggung Nathan agar merasa lebih tenang.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Nathan melepas pelukannya dan langsung mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Melihat itu Keysa dengan cepat mengambilkan beberapa lembar tisu untuk diberikan kepada Nathan.
“Nih, seka wajah lu pakai tisu” ujar Keysa sambil menyodorkan tisu kepada Nathan.
“Lu kenapa? Ada masalah?” tanya Keysa sambari kembali duduk dipinggiran kasur.
“Semalam aku dapat kabar kalau kondisi mama kembali ngedrop dan tadi aku mimpi kalau mama…kalau mama meni-ng…meninggal” ucap Nathan terbata-bata.
“Lu jangan takut, mimpi itu hanya bunga-bunga tidur aja.Intinya kita sama-sama berdoa supaya kondisi tante cepat pulih. Lu yang kuat ya dan harus tetap semangat” Keysa menepuk
pundak Nathan.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel Nathan yang berbunyi. Dengan cepat Nathan langsung mengambil ponselnya yang terletak diatas kasur.
“Papa Key…” ucap Nathan setelah melihat nama papanya dilayar ponsel sambil melihat ke arah Keysa.
Entah kenapa saat itu tiba-tiba jantung Keysa juga ikut berdetak begitu cepat dan merasa takut. Takut karena ada kabar buruk yang akan mereka dengar. Namun Keysa berusaha untuk segera
mengendalikan dirinya agar sahabat yang ada didepannya itu tidak ikutan panik.
“Angkat aja Nat” ucap Keysa memberikan dorongan kepada Nathan yang terlihat ragu-ragu mengangkat telponnya.
“Aku takut Key..”
“Lu jangan negative thingking dulu. Siapa tahu om Addison mau nyampein kabar baik kan. Ayo angkat aja, gue ada disini bareng lu” ucap Keysa lagi dan kali ini tangan Keysa beralih menggenggam tangan Nathan.
“Iya…hallo pa?”
Namun bukannya suara Addison yang terdengar dari ponsel itu melainkan suara tangisan dari kakak perempuan Nathan, sehingga hal itu membuat jantung Nathan berdetak begitu sangat cepat bukan hanya Nathan, Keysa yang saat itu juga mendengar suara tangisan itu langsung
merasa jantungnya seperti akan copot karena berdetak kencang sekali.
“Kak, ada pa? mama kenapa kak?” tanya Nathan berulang-ulang dengan air matanya yang sudah mengalir bebas dipipinya.
Namun lagi-lagi yang terdengar hanyalah suara tangisan dari kakak perempuan Nathan.
__ADS_1
“Kak, jawab aku. Mama kenapa kak?” kali ini suara Nathan sedikit meninggi namun terdengar bergetar.
“Mama…ma─ma…mama dek”
“Iya mama kenapa kak? Jelasin sama aku kak”
“Kak…” ucap Nathan lagi karena tidak mendapat jawaban dari kakaknya
“Mama hiks…hiks…hiks mama kritis dek. Dan sekarang mama lagi ditangani sama dokter. Dek
kamu kesini sekarang ya. Kakak takut dek, kakak takut mama kenapa-napa”
Nathan diam sejenak setelah mendengar kabar buruk tentang mamanya, darahnya tiba-tiba saja terasa berdesir begitu cepat dan tanpa terasa air matanya sudah mengalir dipipinya. Namun Nathan tetap berusaha untuk tegar dan langsung mengusap air matanya.
“Pokoknya kamu kesini sekarang ya dek, kakak takut”
“Kakak jangan panik ya, tetap tenang dan tetap perhatikan papa. Aku berangkat sekarang ya kak”
“Pappppaaaaaaa….”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kakak perempuan Nathan dan hal itu membuat Nathan dan juga Keysa semakin panik.
“Kakak ada pa ka? Kak, papa kenapa? Kak…kakkkkk….”
Sambungan panggilan tiba-tiba saja terputus dan saat Nathan mencoba untuk menghubungi kembali kakaknya sudah tidak ada lagi yang menjawab panggilannya.
Buru-buru Nathan turun dari kasurnya dan berjalan menuju walk in closet untuk menyiapkan
pakaian-pakaiannya, namun baru saja berjalan beberapa langkah dari kasur tiba-tiba saja tubuh Nathan terhuyung hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Melihat kejadian itu Keysa langsung berlari menghampiri Nathan.
“Natt…lu gapapa kan” ucap Keysa sambil memegangi tubuh Nathan.
Keysa mendengar suara nafas Nathan yang begitu berat sehingga membuat rasa khawatir Keysa semakin bertambah apalagi Nathan tidak lagi menjawab ucapannya. Keysa kemudian
membalikkan tubuh Nathan dan memangku kepalanya sambil berharap bisa membuat
Nathan lebih lega bernapas.
“Nat, Nathann…” Keysa menepuk-nepuk pipi Nathan karena mata Nathan semakin lama semakin menutup.
Nafas Nathan terdengar semakin berat dan tiba-tiba saja terlihat darah segar mengalir keluar dari hidungnya.
“Nat…lu mimisan” ucap Keysa panik
__ADS_1
“Aduhh gue harus berbuat apa ini” benak Keysa.
Karena tidak tahu harus melakukan apalagi dan takut bila dibiarkan akan semakin membuat Nathan dalam bahaya akhirnya Keysa memutuskan untuk pergi meminta pertolongan orang lain untuk membawa Nathan kerumah sakit.
“Nat, bentar ya gue panggil bantuan dulu”
Saat Keysa sudah meletakkan kepala Nathan dilantai dan hendak pergi tiba-tiba saja tangannya
digenggam oleh Nathan. Hal itu membuat Keysa sontak kembali berbalik ke arah Nathan. Dan terlihat Nathan menggeleng-geleng kecil ke arah Keysa. Namun baru beberapa kali Nathan menggeleng kecil tiba-tiba saja Nathan pingsan dan tidak sadarkan diri.
“Nat…Nathann. Tolonggg…tolonggg” Keysa yang sudah sangat panik langsung berteriak untuk
meminta pertolongan.
Beberapa menit kemudian petugas kebun dan satpam rumah Nathan tiba dikamar.
“Pak tolongin Nathan pak…” ucap Keysa panik
Pekerja rumah yang dipanggil Keysa pun terlihat panik dan langsung berlari ke arah kamar. Setelah Nathan sudah dipindahkan ke atas kasur, Keysa langsung membersihkan darah bekas mimisan sedangkan pekerja itu membuka nakas yang ada disisi kasur sebelah kiri lalu mengambil beberapa obat-obatan dan memberikannya kepada Keysa.
“Non, nanti setelah tuan Nathan sadar tolong dikasih obat ini ya”
“Ini obat apa pak? Emang Nathan sakit apa pak?”
“Yang saya tau tuan Nathan memiliki sakit trauma non sejak kecil, dan saat sakit trauma tuan Nathan kambuh dia selalu seperti ini” jawab pekerja itu dengan logatnya yang medok.
“Trauma?” tanya Keysa yang kaget karena tidak menyangka bahwa orang yang terlihat baik-baik saja seperti Nathan ternyata memilik sebuah trauma.
“Iya non”
“Kalau boleh saya tau, Nathan trauma kenapa ya pak?”
“Maaf non, kalau itu saya kurang tau non. Soalnya tuan Nathan tidak pernah cerita, tuan besar Addison juga tidak pernah memberitahu kami non. Yasudah kalau begitu kami pamit dulu ya non, masih banyak pekerjaan soalnya non hehe”
“Loh ini pak beneran Nathannya gapapa kalau ga dibawa kerumah sakit?” tanya Keysa yang masih
khawatir dengan keadaan Nathan.
“Gapapa non, tuan muda sudah sering seperti itu” ucap bapak satpam.
“Kami permisi dulu ya non”
Kemudian kedua pekerja itu pun pergi meninggalkan Keysa dan Nathan didalam kamar.
__ADS_1
......................