Perhaps To Love

Perhaps To Love
Bab 80


__ADS_3

...80...


Hari ini Keysa akan


mengantarkan Daffin dan juga Bobby ke sekolahnya masing-masing. Keysa sengaja


menyibukkan dirinya agar tidak terlalu kepikiran dengan masalahnya.


“Semua siapp?” tanya


Keysa bersemangat kepada Daffin dan Bobby yang sudah duduk di bangku belakang


dan sudah memakai seat belt.


“Siaaaappppppp” jawab


Daffin dan Bobby dengan bersemangat juga


“Let’s go. Kita


berangkat….”


Keysa pun kemudian


mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah dan menuju jalanan. Pertama


Keysa mengantarkan Bobby kesekolahnya dan setelah dari sekolah Bobby barulah


Keysa pergi mengantarkan Daffin ke sekolah paud. Selesai mengantarkan adik tiri


dan keponakannya, Keysa memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah


melainkan singgah lebih dulu kesebuah coffee shop yang cukup terkenal di kota


itu.


“Mas, pesan ice


americanonya satu ya”


“Baik, itu saja kak?”


“Iya mas”


“Totalnya Rp 40.000 kak”


Kemudain Keysa


mengeluarkan uang cash dari dalam dompetnya.


“Baik, ditunggu sebentar


ya kak”


Keysa pun menganggukkan


kepalanya dan memilih untuk menunggu pesanannya di salah satu bangku kosong di


dekat jendela. Keysa meletakkan tas tangannya di atas meja dan merogohnya untuk


mencari ponselnya, namun pandangan Keysa tiba-tiba saja tertuju pada sosok Ben


yang merupakan asisten pribadi Nathan baru saja memasuki sebuah toko buah segar


yang berada di seberang coffee shop.


“Itu bukannya Ben,


asisten pribadinya Nathan?” ucap Keysa sambil mempertajam penglihatannya.


Awalnya Keysa merasa dia


hanya salah melihat namun entah mendapatkan dorongan dari mana tiba-tiba saja


Keysa merasa penasaran dan merasa harus pergi kesana. Sebenarnya Keysa ingin


tahu kemana Nathan pergi dan apa alasannya.


Keysa pun beranjak dari


tempat duduknya dan melangkah keluar dari coffee shop. Sesampainya di dalam


toko buah itu, Keysa pun mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Ben


yang dilihatnya tadi.


Pandangan Keysa tertuju


pada sosok laki-laki yang memakai pakaian persis yang di kenakan oleh orang


yang dia lihatnya tadi.


“Permisi, maaf…” ucapan


Keysa terhenti karena lai-laki itu sudah lebih dulu membalikkan tubuhnya.


“N-nona Keysa…” ucap Ben


dengan raut wajah yang sedikit kaget.


“Kamu Ben kan? Asisten


pribadinya Nathan?” tanya Keysa untuk memastikan jika ingatannya tidak salah


“I-iya nona, sedang apa

__ADS_1


nona Keysa disini?”


“Ah…itu saya tidak


sengaja melihat kamu ada disini tadi. Ada hal yang ingin saya tanyakan sama


kamu? Apa kamu ada waktu?” ucap Keysa yang langsung to the point


“A-aa maaf nona, saya


harus segera pergi” ucap Ben dan langsung meninggalkan Keysa


“Saya hanya ingin tahu


tentang kabar Nathan. Itu saja” ucap Keysa lirih dan hal itu berhasil membuat


Ben menghentikan langkahnya.


“Saya ga akan minta kamu


memberitahu saya dimana keberadaan Nathan sekarang. Saya hargai keputusan


Nathan buat pergi. Saya hanya ingin tahu keadaannya, supaya saya bisa tenang


dan tidak kepikiran lagi”


Ben membalikkan tubuhnya


kembali menghadap Keysa.


“Tuan muda sama sekali


tidak pernah berpikir untuk pergi dari nona” Ben menjeda kalimatnya beberapa


detik


“Tuan muda sedang


berjuang dari maut nona”


“A-apa maksud kamu?”


“Tuan muda mengidap


leukimia”


“A-Paa?”


Tiba-tiba saja Keysa


merasa kakinya melemah dan seperti kehilangan semua tenaganya, untung saja ada


Ben yang cepat menopang tubuh Keysa sehingga tidak terjatuh ke lantai. Entah


apa yang sedang di rencanakan penguasa semesta untuknya Keysa sendiri pun tidak


memiliki jadwalnya masing-masing.


Di rumah sakit…


Ben yang sudah


diperintahkan oleh Nathan agar tidak memberitahukan keadaannya kepada siapapun


awalnya tidak mau membawa Keysa bertemu dengan Nathan, namun setelah Keysa


memohon akhirnya Ben pun luluh dan memutuskan untuk membawa Keysa ke rumah sakit


dimana Nathan sedang di rawat.


CEKLEKK…


Ben membuka pintu ruangan


tempat Nathan di rawat.


“Akhirnya kamu datang


juga Ben” ucap Caca dan hendak menghampiri Ben yang masih berdiri di depan


pintu sambil membawa bungkusan plastik buah-buahan yang dipesan oleh Caca.


Tiba-tiba saja langkah


Caca terhenti saat melihat kehadiran sosok Keysa dari balik dinding. Keysa


menatap lekat ke arah Nathan yang terlihat terbaring dengan peralatan medis


yang terpasang ditubuhnya. Mata Keysa terasa panas dan perih saat melihat


keadaan Nathan yang sangat memprihatinkan.


“Maaf, nona saya sudah


melanggar perintah tuan Nathan” ucap Ben sambil menundudukkan kepalanya.


Keysa melangkah dengan


terbata-bata memasuki ruangan dan akhirnya air mata yang sudah di tahannya


sejak tadi pun jatuh begitu saja.


“Hikss…hiks….hiks Nat”


tangis Keysa pecah begitu saja.

__ADS_1


Keysa langsung memeluk


Nathan dan meluapkan tangisannya,


“Maafin aku Nat…maafin


aku hiks…hikss…hiks”


Nathan membiarkan Keysa


menangis sambil memeluknya, sebenarnya Nathan merasa tidak tega melihat Keysa


yang sedang menangis dan ingin sekali membalas pelukan Keysa, namun niatan itu


dia urungkan. Setelah mendengar diagnosis dari dokter tentang hidupnya yang


kemungkinan besar tidak akan bertahan lama lagi, membuat Nathan ingin untuk menjaga


jaraknya dengan Keysa. Memang itu masih diagnosis dan belum tentu kebenarannya


karena urusan hidup dan matinya seseorang hanya Tuhanlah yang tahu, namun


Nathan hanya mempersiapkan dirinya untuk segala kemungkinan terburuk yang


terjadi. Dia hanya tidak ingin ketika dia meninggal nanti, hanya akanbmembuat luka dan


meninggalkan kesedihan untuk orang-orang yang dia sayangi. Untuk itu Nathan


sudah mulai mengatur apa yang harus dia lakukan sebelum tiba nanti waktunya


untuk pulang ke rumah abadi.


Nathan mengusap air


matanya yang baru saja menetes, mau bagaimana pun sebenarnya Nathan merasa


sedih saat melihat Keysa menangis seperti itu.


“Ben, tolong bawa dia


keluar dari sini” ucap Nathan tiba-tiba sambil berpura-pura tegas.


“T-tapi tuan muda” ucap


Ben yang merasa tidak tega


“Jangan membangkang Ben”


“Baik tuan”


Ben bergegas menghampiri


Keysa yang masih menangis di dada Nathan sambil memeluknya.


“Maaf nona…anda harus


meninggalkan ruangan ini” ucap Ben sambil menarik lengan Keysa.


“Engga…enggak. Aku ga mau


Nat. Aku mau disini sama kamu Nat hiks…hikss” ucap Keysa sambil


menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sebaiknya kamu jangan


pernah datang kesini lagi. Saya tidak ingin lagi bertemu dengan mu” ucap Nathan


sambil memalingkan wajahnya dan tidak melihat Keysa. Nathan tidak ingin benteng


pertahanannya akan hancur saat melihat Keysa.


“Nat…? hikss…hiks please


jangan usir aku dari sini Nat”


“Ayo nona” ucap Ben lagi


“Nat…pleasee hiks…hikss”


Namun Nathan tetap tidak


melihat Keysa sedikit pun.


“Dan satu lagi untuk


pertunangan sebelumnya sudah saya batalkan” ucap Nathan lagi


Mendengar itu, membuat


tangis Keysa semakin pecah. Entah mengapa hatinya terasa tidak ingin dan rela


berpisah dengan Nathan.


“Nat…aku sayang sama kamu


hiks…hiks” ucap Keysa


Hal itu sempat membuat


Nathan tergoyah dan berhasil membuat air matanya kembali menetes, namun dengan


cepat dia menghapus air matanya.


“Ben bawa dia pergi, saya

__ADS_1


mau istirahat”


......................


__ADS_2