Perhaps To Love

Perhaps To Love
Bab 39


__ADS_3

...39...


“Iya, aku gapapa kok Nat” jawab Keysa dari dalam kamar mandi.


Nathan pun kemudian membuang nafasnya lega setelah mendengar jawaban Keysa dari dalam kamar mandi.


“Aku kira kamu kenapa-napa tadi, makanya aku cek kesini. Yaudah aku tunggu di depan ya Key”


“Aduhh gimana ini, kalau aku ga minta bantuan Nathan bisa-bisa entar makin tembus lagi dan aku bakalan semakin malu keluar dari sini” gerutu Keysa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Keysa sekilas memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan membuangnya.


“Oh ya tadikan Nathan bilang disini ada asisten rumah tangganya kan, aku minta tolong bibik itu aja kali ya” benak Keysa.


“Eh Nat...Nat. Kamu masih diluarkan?”


Nathan yang kebetulan belum jauh dari kamar mandi, mendengar suara Keysa yang memanggil dirinya.


“Iya, aku masih disini. Ada apa Key?”


“Kamu bilang disini ada asisten rumah tangga kamu kan. Bisa panggilin sebentar gak?”


“Emm..ada sih Key. Tapi kalau jam segini kayaknya bi Irma udah pulang deh ke rumahnya”


“Aduhh mampus, fix ini mah mau ga mau harus minta tolong ke Nathan” benak Keysa


“Key, kamu beneran gapapa kan?” tanya Nathan lagi.


“iyaiya aku gapapa kok, Nat aku boleh minta tolong gak?” tanya Keysa ragu-ragu dari dalam kamar mandi.


“Boleh, kamu mau minta tolong apa emangnya?”


“Bisa beliin aku roti bantal gak?” ucap Keysa malu-malu


“Kamu masih lapar?”


“Eh bukan-bukan, maksud aku bukan roti bantal yang buat dimakan”


“Terus?” tanya Nathan yang mulai bingung.


“Itu maksud aku beliin aku pembalut” Keysa mengucapkannya buru-buru karena sudah merasa sangat malu.


“Ooohh pembalut? Aku kirain tadi apaan” Nathan asik ber oh ria dan belum menyadari maksud perkataan Keysa.

__ADS_1


 “Haaa apaa pembalut?pembalut yang buat wanita itu?” seketika Nathan kaget setelah menyadari perkataannya karena selama dia hidup ini belum pernah sekali pun dia membeli pembalut untuk seorang wanita. Walaupun dulu kakak perempuannya sering sekali menyuruhnya untuk membeli pembalut, namun Nathan selalu menolak karena merasa malu.


“Mana aku tau belinya yang gimana Key, seumur-umur aku belum pernah beli yang namanya pembalut”


CEKLEKK...


Pintu kamar mandi terbuka sedikit dan Keysa mengulurkan tangannya keluar.


“Kesiniin hp kamu”


Nathan pun kemudian memberikan ponsel miliknya ke tangan Keysa. Setelah mendapatkan ponsel Nathan, Keysa kembali menarik tangannya dan menutup pintu kamar mandinya.


Beberapa detik kemudian Keysa kembali membuka pintu kamar mandi dan mengulurkan kembali tangannya untuk mengembalikan ponsel milik Nathan.


“Tolong beliin yang kayak gitu ya Nat, kalau kamu ga tau tanya aja sama mbak-mbak yang jaga minimarketnya”


“Tapi Key...”


“Please tolongin ya Nat” ucap Keysa memotong perkataan Nathan


Nathan sebenarnya ingin menolak namun lagi-lagi hatinya tidak bisa menolak permintaan Keysa, lagi pula hanya tinggal dirinya dan Ben yang bisa diminta tolong oleh Keysa dirumah ini. Dan Nathan juga tidak akan membiarkan Keysa sampai meminta tolong kepada Ben untuk melakukan barang pribadi seperti ini.


“Okeoke deh,kamu tunggu sebentar disini ya”


“Iyaiya, paling cuma sepuluh menitan doang. Minimarketnya dekat kok bisa jalan kaki”


Setelah itu Nathan pun berlari kecil menuju minimarket yang berjarak beberapa rumah dari tempat tinggalnya.


Sesampainya di minimarket, Nathan bingung harus pergi ke lorong bagian mana untuk mencari pembalut yang di katakan Keysa, Nathan hendak bertanya kepada mbak karywan minimarket itu namun rasa malu masih menguasai dirinya. Nathan kemudian memutuskan untuk mencari sendiri dimana letak bagian pembalut, namun setelah beberapa menit memutari setiap lorong di minimarket itu Nathan juga masih belum menemukannya.


Mengingat Keysa yang sedang menunggu dirumah, akhirnya Nathan memberanikan untuk bertanya kepada mbak minimarket yang sedang bertugas.


“Permisi mbak, mau tanya kalau barang yang seperti ini ada tidak dijual disini?” tanya Nathan sambil memperlihatkan gambar pembalut di layar ponselnya.


Mbak minimarket itu tersenyum sekilas melihat Nathan dan itu membuat pipi Nathan bersemu merah karena merasa malu.


“Oh ada ada mas, mari saya tunjukkan”


Nathan pun mengikuti kemana mbak minimarket itu pergi.


“Tapi mas ukurannya hanya ada sisa yang 25cm dan 35cm. Kebetulan ukuran 29cm yang mas tunjukin seperti gambar tadi lagi kosong”


“Duh, ribet benar nih belinya pake ada ukurannya segala lagi.  Malah aku ga ada nanya Keysa kalau yang digambar ini ga ada harus gimana” ucap Nathan dalam hati.

__ADS_1


“Emm...maaf nih mbak sebelumnya. Yang biasa dipakai kalau ukuran 29cm nya lagi ga ada yang mana ya mbak?”


Pertanyaan Nathan tersebut berhasil membuat mbak minimarketnya sampai menahan tawa.


“Tergantung si mas, karena terkadang ada orang yang lebih suka pakai yang 25cm dan terkadang ada juga yang pakai 35cm mas. Emang istri bapak seringnya pakai yang ukuran berapa yang selain yang 29cm?”


Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sungguh Nathan merasa membeli pembalut itu jauh lebih sulit dibandingkan ketika dia sedang memperhitungkan biaya-biaya dan keuntungan dalam perusahaannya.


“Ah ini bukan buat istri saya mbak”


Mbak minimarket tersebut hanya membalas dengan sebuah senyuman.


“Ini ada mas ukurannya 29cm, tapi tidak pakai sayap” ucap mbak minimarket itu.


“Ya ampunn, istilah apalagi ini bersayap dan tidak bersayap. Ingin rasanya aku mengilang dari dunia ini” Nathan menggerutu dalam hati.


“Yaudah mbak, saya beli yang tiga-tiganya saja” ucap Nathan memutuskan untuk membeli ketiga jenis pembalut yang ditawarkan oleh mbak minimarket tersebut.


 


Setelah selesai melakukan pembayaran Nathan pun segera berlari menuju rumah karena dia khawatir Keysa sudah menunggu terlalu lama.


“Tuan muda dari mana? Kenapa terlihat buru-buru?” tanya Ben yang kebetulan baru keluar dari kamarnya dan melihat Nathan baru saja menutup pintu depan.


“Ah..itu s-aya...sa-ya habis cari angin. Ya cari angin” Nathan gelagapan menjawab pertanyaan Ben, dia tidak mungkin mengatakan hal sebenarnya kalau baru saja kembali dari minimarket untuk membeli pembalut, bisa-bisa wibawa yang selama ini dia bangun dan dia jaga hancur seketika hanya karena sebuah pembalut.


“Apa yang tuan muda bawa?” selidik Ben yang melihat tuan mudanya membawa sekantong plastik misterius ditangannya.


Dengan gerak cepat Nathan pun langsung menyembunyikan bungkusan plastik yang berisi pembalut ke balik tubuhnya.


“Ah ini bukan apa-apa. Yasudah saya mau kebelakang dulu”


Nathan langsung mempercepat langkahnya menuju kamar mandi dimana Keysa sedang menunggu.


Tok...tok...tok


“Nih barang yang kamu pesan”


Keysa membuka pintu kamar mandi sedikit kemudian mengambil kantong plastik yang dirberikan Nathan.


“Makasih ya Nat” ucap Keysa kemudian menutup kembali pintu kamar mandi.


Keysa membuka kantong plastik tersebut dan tampaklah tiga buah bungkusan besar pembalut dalam tiga ukuran yang berbeda. Keysa yang awalnya hanya memesan sebungkus pembalut ukuran kecil tidak menyangka kalau Nathan akan membelikan sebanyak ini, sungguh kejadian itu membuat hati Keysa sedikit tergelitik dan tak terasa seulas senyuman indah tertarik dibibir Keysa

__ADS_1


......................


__ADS_2