
...58...
“Sebenarnya Nathan bukan
anak kandung om dan tante” ujar Addison tiba-tiba ketika sudah duduk disamping
Keysa.
Mendengar hal itu sontak
membuat Keysa terlonjak kaget dan menoleh ke arah om Addison, namun Keysa masih
tetap diam.
“Tapi om dan tante sangat
menyayanginya dan sudah menganggapnya seperti anak kandung om sendiri”
“Sewaktu kecil, orang tua
Nathan mengalami kecelakaan dan tidak tertolong. Semenjak kejadian itu Nathan
mengalami trauma berat dan tidak mau berbicara selama bertahun-tahun”
Sungguh Keysa sangat
tidak menyangka bahwa Nathan memiliki masa kecil yang sangat berat dan
menyedihkan seperti itu.
“Om…” panggil Keysa
Addison pun menoleh ke
arah Keysa.
“Apa dengan aku menikah
dengan Nathan akan membuat kondisi tante Christin semakin membaik?”
Addison diam sejenak
setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Keysa.
“Om menghampiri kamu,
bukan karena om ingin memaksa kamu nak. Om akan menghargai sepenuhnya keputusan
kamu nak, apapun itu. Tapi jika memang kamu ingin menolaknya, om meminta tolong
agar kamu berpura-pura menerimanya di depan istri om. Om hanya tidak ingin
mengecewakannya dengan tidak mewujudkan permintaannya yang mungkin akan jadi
permintaan terakhirnya” ucap om Addison dengan suaranya yang sudah mulai
terdengar bergetar.
“Kamu boleh menganggap om
sebagai orang yang egois dan tidak tahu malu, tapi om sangat berharap kamu bisa
menolong om untuk berpura-pura menerimanya” lanjut om Addison yang kini sudah
meneteskan air matanya.
“Om balik diluan ya nak,
takutnya tante udah nyariin om” Addison mengusap air matanya dan beranjak dari
duduknya dan hendak kembali ke ruang rawat inap.
“Om…” panggil Keysa
“Keysa mau menikah dengan
Nathan…” lanjut Keysa dengan cepat
Hal itu sontak membuat
Addison kaget dan memberhentikan langkah kakinya lalu berbalik melihat Keysa
yang masih duduk dikursi.
“Apa kamu serius dengan
yang kamu ucapkan barusan nak?”
“Iya om, lagi pula Nathan
adalah lelaki yang baik. Jadi tidak ada alasan besar aku untuk menolaknya,
walaupun sekarang ini aku tidak mencintainya tapi mungkin nanti aku bisa
belajar mencintainya om”
__ADS_1
Bila diingatkan kembali
selama ini Nathan sudah banyak membantunya dan selalu ada disetiap Keysa
membutuhkannya, hal itu membuat Keysa berpikir tidak akan masalah bila menerima
Nathan sebagai suamianya. Selain itu Nathan juga adalah orang yang baik, tidak
hanya itu dia juga tampan dan memilik postur tegap serta tinggi. Mungkin saja
Nathan adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya dengan cara yang tidak biasa.
Untuk permasalahan cinta, Keysa yakin bisa mulai belajar mencintai Nathan
seperti di cerita-cerita novel kebanyakan saat ini. Lagipula Keysa juga
menyayangi Nathan saat ini walaupun hanya sebagai sahabat. Keysa juga pernah mendengar jika pernikahan
yang diawali dari hubungan sahabat akan harmonis dan langgeng sampai maut
memisahkan.
Mendengar perkataan
Keysa, membuat om Addison langsung menetesakan air mata bahagia dan bergegas
berjalan kearah Keysa lalu memeluknya.
“Makasih ya nak, om
sangat berterima kasih sama kamu. Om janji pasti akan membalas semua kebaikan
kamu nak” ucap Addison sambil menangis.
“Iya om, sama-sama”
Sore ini, Keysa, Nathan,
Caca, Addison sudah berkumpul diruangan tempat tante Christin dirawat. Keysa
dan Nathan akan melangsungkan pertunangan langsung didepan tante Christin yang
terbaring dan disaksikan oleh keluarga Keysa secara daring. Walaupun
pertunangan ini dilakuakan secara mendadak acaranya tetap berlangsung khimat
dan dipenuhi tangis haru dari kedua keluarga. Begitu juga dengan Nathan
walaupun sebenarnya dia merasa sedikit bersalah dengan Keysa karena terkesan
dicintainya dari 3 tahun yang lalu sebentar lagi akan menjadi istrinya. Apalagi
tadi Keysa juga berjanji untuk mulai belajar mencintainya, hal itu semakin
membuat kebahagian yang dia rasakan bertambah.
Pertunangan dilakukan
atas permintaan Keysa, karena Keysa ingin mencoba untuk mendekatkan diri dengan
Nathan lebih dulu sebelum akhirnya dia menikah dengan Nathan.
Walaupun wajah tante
Christin terlihat sangat pucat, namun dapat terlihat jelas bahwa dia sangat
bahagia dengan pertunangan putranya itu. Hingga setetes air mata kebahagian
mengalir begitu saja dipipinya.
“Mama, pasti senang kan
liat Nathan bisa bersama dengan wanita yang dia cintai” bisik Caca yang duduk
disamping kasur pasien, sambil mengusap lembut pipi sang mama untuk mengahapus
air matanya.
Hal itu di sambut dengan
sebuah anggukan dan senyuman yang diberikan oleh tante Christin. Pandangannya
tidak lepas mengarah kepada Nathan dan Keysa yang tengah berbicara dengan
keluarga Keysa melalui laptop.
Om Addison datang
menghampiri istrinya yang tengah terbaring, dia mengecup kening istrinya
sekilas dan mengusap pucuk kepalanya.
“Mama harus sembuh ya
supaya bisa melihat Nathan anak kita bersanding dengan Keysa dipelaminan”
__ADS_1
ucap om Addison.
Saat ini Keysa dan Nathan
tengah berada ditaman rumah sakit, setelah acara pertunangan singkat tadi dan
setelah berbicara dengan keluarga mereka, Nathan dan Keysa meminta ijin pergi
keluar untuk berbicara empat mata. Kini mereka tengah duduk disebuah kursi yang
ada dibawah pohon.
“Maaf ya Key, gara-gara
harus menuruti permintaan mama ku. Kamu harus mengorbankan diri seperti ini”
ujar Nathan memberanikan diri.
“Lu eh sorry…kamu ga suka
sama keputusan ini?”
“Eh bukan…bukan gitu. Aku
senang kok”
“Mendingan mulai sekarang
lu eh maksudnya kamu mikirin deh gimana caranya supaya bikin gue eh maksudnya
aku bisa jatuh cinta sama kamu. Dan aku akan mikirin gimana caranya supaya bisa
belajar mencintai kamu” ujar Keysa blak-blakan
“Lagi pula aku bingung
deh mama kamu kok bisa ya, milih aku buat jadi istri kamu. Padahal kamu itu kan
orangnya baik, tampan dan kaya lagi. Pasti diluar sana banyak perempuan yang
baik dan yang mau jadi istri kamu”
Perkataan Keysa itu
berhasil membuat Nathan tersipu malu, hingga kedua pipinya memerah seperti
tomat.
“Kamu kenapa? Demam?”
ujar Keysa sambil menempelkan telapak tangannya dikening Nathan.
Dan hal itu membuat
jantungnya tiba-tiba saja berdetak sangat cepat.
“Ak…ak…aku baik-baik aja
kok” ujar Nathan gelagapan.
“Ooh kirain, kamu sakit
lagi kayak waktu itu”
“Huaaaahhh…” Keysa
membuang nafasnya dengan kasar sambil menyenderkan tubuhnya di headbord kursi
taman.
“Hidup itu memang ga bisa
ditebak ya Nat jalan ceritanya. Kadang apa yang kita pikirkan ga sesuai dengan
kenyataan yang terjadi. Emm…entahlah tapi aku percaya kok Tuhan itu sutradara
film terbaik, dia pasti sudah menentukan jalan cerita kita dengan sangat baik”
Kemudian Keysa diam
sejenak sambil memejamkan matanya, sedangkan Nathan masih setia menatap wajah
cantik Keysa dan mendengarkan kata-kata yang dilontarkan oleh Keysa.
Keysa menarik nafasnya
dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan.
“Ahhh sudah lama sekali
aku tidak menghirup udara Belanda” ucap Keysa sambil menikmati tiupan angin
ditaman rumah sakit.
......................
__ADS_1