
...60...
“Belum nak” jawab asisten rumah tangga itu sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku titip kak Caca ya bik. Kak aku pergi ke rumah sakit dulu ya” ujar Keysa kemudian melepaskan pelukannya dan meminta wanita paruh baya itu untuk menggantikan dirinya memeluk Caca.
“Kamu pergi bareng om Rama saja” ujar parempuan paruh baya berwajah bule itu yang ternyata bisa berbahasa Indonesia.
Keysa pun kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju dan bergegas kembali ke kamar untuk mengambil tas tanganya. Tak lupa juga dia mengambil pouch obat yang terletak
diatas koper Nathan untuk berjaga-jaga jika hal sewaktu kemarin itu terjadi lagi.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan akhirnya Keysa bersama dengan dua orang pria paruh baya yang merupakan om Nathan tiba dirumah sakit. Mereka bertiga berlari kecil memasuki rumah sakit dan menuju ruang jenazah berada. Di ujung lorong Keysa melihat om Adison dan Nathan tengah terduduk dilantai dengan lemah dan tatapannya kosong.
Kedua om Nathan yang datang bersama dengan Keysa langsung berlari menghampiri
om Adison. Sedangkan Keysa berlari menghampiri Nathan.
Keysa langsung memeluk Nathan dengan erat dan berharap hal itu bisa menguatkan Nathan.
“Mama Key…” ucap Nathan dengan suaranya yang gemetar.
“Iya Nat, aku tahu. Kamu harus kuat ya, tante udah sembuh sekarang” ujar Keysa yang sudah meneteskan air matanya karena sedih melihat keadaan Nathan yang begitu terpukul. Ketika Keysa datang Nathan tidak terlihat menangis hanya saja matanya terlihat kosong
seperti orang yang kehilangan arah dan berputus asa serta raut wajahnya yang
terlihat sangat terpukul.
“Aku pikir kebahagian semalam akan bertahan lama Key, tapi…ternyata kabahagian itu hanya singgah dan membawa mama pergi tanpa kasih aku kesempatan buat ngebahagian mama” Nathan melontarkan pertanyaan yang membuat hati Keysa semakin merasa sedih
“Kamu udah ngebahagian tante kok Nat. Kamu ikhlasin kepergian tante ya” ucap Keysa dan semakin memeluk Nathan dengan erat.
Beberapa menit Nathan hanya diam dalam pelukan Keysa, dan kemudian tiba-tiba saja tubuh Nathan terasa bergetar serta terdengar suara isakan tangis. Mendengar itu Keysa pun langsung mengusap-usap punggung Nathan dan berkata …
“Tante pasti bangga punya anak seperti kamu Nat”
Tangis Nathan langsung pecah didalam dekapan Keysa, Nathan menangis sambil meneriaki mamanya.
Hati Keysa begitu terasa
sangat pilu, kejadian beberapa tahun yang lalu seperti terulang kembali saat
ini. Hal itu membuat tangis Keysa juga pecah saat memeluk Nathan. Keysa sangat paham betul perasaan yang dirasakan oleh
Nathan saat ini.
Selama dirumah sakit
Keysa tidak pernah sedikit pun meninggalkan Nathan dia terus berada disamping
Nathan sambil menggenggam tangannya. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya
semua prosedur rumah sakit pun selesai dan jenazah tante Christin sudah
diperbolehkan dibawa pulang untuk diterbangkan ke Indonesia sesuai dengan
permintaan tante Christin sebelum meninggal dunia.
Nathan memilih untuk
menaiki ambulance dan Keysa memutuskan untuk menemani Nathan di ambulance
sedangkan Adison beserta dengan kedua suadaranya menaiki mobil pribadi karena
kondisi Adison yang terlihat sangat terguncang dan lemah. Selama perjalanan
Nathan tak pernah melepaskan pelukan dari peti sang mama. Nathan begitu sangat
terpukul dengan kepergian sang mama. Sedangkan Keysa hanya bisa membiarkan
Nathan sambil sesekali mengusap punggung Nathan.
Sesampainya dibandara
sudah terlihat beberapa keluaraga Nathan termasuk Caca sudah berkumpul disana.
Caca yang melihat kedatangan adik laki-laki beserta papanya langsung berlari
memeluk mereka sambil menangis. Lagi-lagi tangisan pecah saat berada di
__ADS_1
bandara. Sedangkan para pertugas bandara langsung mengambil alih peti jenazah
untuk segera dimasukkan kedalam pesawat.
Setelah berjam-jam
mengudara akhirnya pesawat yang membawa Keysa, Nathan beserta keluarganya
akhirnya tiba di tanah air. Mereka tiba ditanah air ketika malam hari.
Dibandara sudah ada keluarga Keysa yang menunggu mereka. Ketika melihat
kedatangan mereka, Adam langsung memeluk sahabatnya sambil mengucap turut
belasungkawa dan tangis haru kembali pecah.
Peti jenazah dibawa
menggunakan ambulance yang sudah disiapkan menuju kediaman Nathan. Dalam
perjalanan mobil ambulance diiringi oleh sebuah mobil polisi dan beberapa mobil
pribadi.
Sesampainya di tempat
kediaman Nathan, sudah terlihat beberapa orang yang berkumpul disana. Rumah
Nathan juga sudah tampak disiapkan untuk menyambut kedatangan jenazah. Rencananya
jenazah akan disemayamkan untuk satu malam lagi dan kemudian akan dimakamkan
esok pada pagi hari.
Sejak kedatangan ke tanah
air hingga proses pemakaman selesai, keluarga Keysa tidak pernah terlihat meninggalkan
kediaman Nathan mereka selalu turut serta dalam membantu semua proses acara
yang berlangsung.
sudah mulai sepi setelah selesai acara pemakaman dilangsungkan, para pelayat
dan beberapa keluarga jauh mereka sudah berpulangan ke rumah mereka
masing-masing. Kini dirumah Nathan hanya tersisa papa, Caca dan dua orang om
mereka beserta istrinya yang tinggal disitu. Keluarga Keysa tadinya juga sudah
berpamitan pulang sebentar untuk mandi lebih dulu ke rumah.
“Papa mau ke rumah Nathan
lagi?” tanya Keysa ketika sedang menuruni anak tangga dan melihat papanya baru
saja keluarga dari kamar dan sudah memakai pakaian rapi.
“Iya nak, kamu mau pergi
bareng sama papa?”
“Keysa belakangan aja pa,
soalnya Keysa masih bantuin jagain Daffin selama kakak bantuin bibi masak
makanan buat dibawa ke rumah Nathan nanti”
“Yasudah kalau gitu papa
diluan ya”
“Iya pa, hati-hati ya pa”
Keluarga Keysa memang
berinisiatif untuk menyiapkan makanan bagi keluarga Nathan selama beberapa hari
kedepan sebagai bentuk dukungan moril untuk keluarga Nathan yang sedang berduka.
__ADS_1
Ketika makanan sudah
selesai dimasak dan memasukkannya kedalam wadah yang sudah disediakan Keysa,
Kenzo beserta tante Lydia dan asisten rumah tangga mereka pergi membawa makanan
tersebut menuju rumah Nathan yang berada disamping rumah mereka. Sedangkan
Olivia tetap tinggal dirumah karena menjaga Daffin yang sedang tidak enak badan.
“Nathan mana kak?” tanya
Keysa ketika sedang menyiapkan makanan dimeja makan namun tidak melihat
keberadaan Nathan sejak dia datang tadi.
“Nathan ada dikamar dek
lagi istirahat, tadi setelah pulang dari pemakaman dia bilang sedikit ga enak
badan dan mau istirahat” ujar Caca dengan suaranya yang masih terdengar serak
dan wajahnya yang masih terlihat sembab.
“Terus keadaan Nathan
gimana sekarang kak?Udah minum obat?”
“Udah gapapa kok Key,
tadi dia juga udah minum obat dan diperiksa sama dokter”
“Aku boleh liat dia
dikamar kak?” tanya Keysa meminta ijin.
“Kamu kan calon istrinya
dek, jadi silahkan saja”
Setelah mendapatkan ijin
Keysa pun meninggalkan ruang makan dan pergi ke lantai dua dimana kamar Nathan
berada.
Tok…Tok…Tok
“Nat…aku masuk ya” ujar
Keysa dan kemudian memutar handle pintu kamar.
Di dalam kamar terlihat
Nathan yang tengah terbaring lemas diatas tempat tidur dengan sebuah infus yang
terpasang dilengannya. Wajah Nathan terlihat begitu pucat. Keysa perlahan
berjalan mendekati kasur dan kemudian duduk dipinggirannya. Entah mengapa hati
Keysa begitu merasa pilu dan kasihan melihat keadaan Nathan seperti ini. Keysa
kemudian mengelus tangan Nathan dengan lembut.
“Lu pasti kuat Nath, gue
yakin lu pasti bisa bangkit dari keadaan ini” ujar Keysa pelan.
Setelah beberapa menit
didalam kamar, Keysa pun memutuskan untuk pergi agar tidak mengganggu Nathan
yang sedang beristirahat. Namun baru saja Keysa memutar handle pintu kamar
tiba-tiba terdengar suara Nathan yang memanggil namanya.
“Key…” ucap Nathan dengan suara parau.
......................
__ADS_1