
...83...
Beberapa jam dalam
perjalanan, akhirnya Keysa pun sampai di depan rumah Nathan.
“Non…Non kita sudah
sampai” ucap bapak supir itu membangunkan Keysa.
“Euehh….hoammmmm. Udah
sampai ya pak?”
“Iya non”
Keysa pun bersiap untuk
turun dan mengambil tas tangannya serta totebag yang berisi hadiah untuk
Nathan.
“Makasih ya pak. Oh ya
barang-barang saya minta tolong diturunin dirumah aja ya pak. Dan bapak
istirahat saja dulu dirumah sebelum kembali ke rumah kakek”
“Baik non”
Keysa pun kemudian turun
dari mobil, namun baru saja Keysa turun dari mobil salah satu asisten rumah
tangga yang tinggal dirumah Nathan datang menghampiri Keysa.
“Hallo bik, Nathannya ada
dirumah kan?” tanya Keysa dengan semangat
“Tuan Nathan non…” ucap
asisten rumah tangga itu dengan rawat wajah khawatir
“Kenapa Nathan bik?”
tanya Keysa yang juga sudah mulai panik
“Keadaan tuan Nathan tadi
tiba-tiba saja ngedrop dan dibawa kerumah sakit”
Mendengar itu, tanpa
berpamitan Keysa langsung berlari secepat mungkin untuk mengejar mobil sambil
memanggil bapak supir yang belum terlalu jauh. Seketika tubuh Keysa terasa
lemas, segala kekhawatiran dan pikiran buruk datang menyerang Keysa. Selama
perjalanan ke rumah sakit Keysa tidak bisa tenang apalagi dia tidak bisa
menghubungi Caca untuk menanyakan kondisi Nathan.
“Tuhan, semoga Nathan
baik-baik saja” ucap Keysa dalam hati
Sampai dirumah sakit,
Keysa langsung berlari menuju front office untuk menanyakan kamar atau ruangan
dimana Nathan berada.
“Sus, pasien atas nama
Nathan Benedict ada dimana?”
“Sebentar ya bu, saya cek
dulu”
Kemudian pegawai rumah
sakit itu mulai mengetik nama Nathan dikeyboard komputer.
“Bapak Nathan ada di
ruang VIP anggrek bu”
“Makasih sus”
Keysa berlari menuju
lift, namun ketika dia sampai ternyata lift tersebut penuh dan dia harus
menunggu lagi. Karena merasa khawatir dan sudah tidak sabar melihat keadaan
Nathan, akhirnya Keysa memutuskan untuk pergi menuju tangga darurat.
Keysa tiba dilantai 5
dengan nafas yang masih terengah-engah karena kelelahan menaiki tangga,
beberapa menit Keysa berhenti sebentar untuk menetralkan nafasnya dan kemudian
pergi menuju ruangan Nathan.
CEKLEKK…
Tanpa mengetuk lebih
dulu, Keysa langsung membuka pintunya dan melihat Nathan terbaring dengan infus
dan ventilator terpasang ditubuhnya.
“Nathann…” ucap Keysa
yang langsung menghampiri Nathan
Keysa menggenggam tangan
Nathan sambil mengusap kepala Nathan dengan lembut, sebenarnya Keysa ingin
menangis karena sedih melihat keadaan Nathan namun sengaja dia tahan karena
__ADS_1
tidak ingin membuat Nathan kepikiran dan ikut sedih yang nantinya akan membuat
kesehatannya semakin menurun.
“Kak, kenapa Nathan bisa
ngedrop kayak gini?” tanya Keysa dengan suara yang tidak terlalu keras agar
tidak membangunkan Nathan.
Caca menggelengkan
kepalanya, diwajah Caca masih terlihat jelas sisa bekas air mata.
“Aku juga ga tau Key,
padahal tadi pagi keadaan Nathan baik-baik saja” ucap Caca sambil mengusap
pipinya
“Eeeuhh…” Nathan melenguh
dan kemudian membuka matanya perlahan
“Kamu gapapa kan? Ada
yang sakit?Aku panggilin dokter yah” tanya Keysa bertubi-tubi saat melihat
Nathan terbangun.
Melihat Keysa yang panik,
malah membuat Nathan tersenyum sambil tertawa kecil. Dia merasa sangat bahagia
bisa melihat perempuan yang dicintainya sangat memperdulikannya dan yang tak
pernah dia duga bahwa Keysa membalas perasaannya. Nathan sangat bersyukur akan
hal itu, setidaknya dia bisa merasakan dicintai oleh perempuan yang sangat dicintainya
walau hanya sebentar.
“Hehe…aku gapapa sayang”
ucap Nathan sambil tertawa kecil.
Walaupun keadaan Nathan begitu lemah, namun dia tetap berusaha untuk tetap tersenyum.
Keysa menghembuskan
nafasnya lega, lalu memeluk Nathan.
“Kamu tau gak, jantung aku
tadi hampir mau copot waktu dengar kamu dibawa ke rumah sakit” ujar Keysa
“Masih hampir kan, belum
copot hehe” canda Nathan untuk mencairkan suasana
“Ihh kok gitu sih…kamu
emang mau kalau jantung aku beneran copot” ujar Keysa sambil melepas
pelukannya.
“Sewaktu disana kakek
nanyain progress acara pernikahan kita uda gimana Nat. Terus kakek juga…”
ucapan Keysa terhenti karena Nathan yang tiba-tiba saja berbicara.
"Oh ya kamu kok udah pulang? Bukannya harus
beberapa hari lagi di rumah kakek?” tanya Nathan mengalihkan pembicaraan.
“Emm…Iya aku balik
diluan, papa dan kak Kenzo masih ada disana kok”
“Oh gitu, kayak kita
punya ikatan batin deh Key. Soalnya kebetulan aku tuh udah kangen banget sama
kamu eh tau-tau pas aku bangun kamu udah ada didepan aku. Aku boleh peluk kamu lagi ga? Hehe”
Keysa menganggukkan
kepalanya sebagai tanda dia setuju dengan permintaan Nathan.
“Dengan senang hati” ucap
Keysa kemudian kembali memeluk Nathan
“Makasih ya Key. Aku
sangat bersyukur bisa menjadi salah satu bagian kisah hidup kamu. Aku harap
kamu bahagia selalu ya Key”
Sebenarnya Keysa merasa
bingung dengan maksud ucapan Nathan, namun dia urungkan untuk bertanya karena takut
akan membuat Nathan tersinggung.
Nathan melepas kan
pelukannya dan memalingkan wajahnya, sambil buru-buru mengusap pipinya. Dia tidak
ingin ketahuan jika sudah menangis.
“Kak, bisa tolong beliin
aku strawbery dan muffin cokelat? Aku sangat ingin memakannya”
Caca yang mendengar
permintaan adiknya merasa aneh, karena setau Caca adiknya tidak pernah memakan
strawbery dan muffin karena tidak suka. Sebenarnya strawbery dan muffin adalah
makanan kesukaan Keysa.
“Iya dek, sebentar kakak
__ADS_1
beliin yah” ucap Caca menurut karena tidak tega bertanya atau bahkan menolak
permintaan adiknya.
“Key, tolong temenin
kakak Caca ya. Kak Caca kan belum lama disini takutnya nanti dia kesasar hehe”
“Kamu siapa yang jagain?”
“Hehe jangan khawatir Key,
papa entar lagi datang kok”
Keysa masih diam ditempat
duduknya disamping kasur Nathan, Keysa masih terlihat ragu untuk pergi
meninggalkan Nathan sendiri. Dan entah mengapa hati Keysa merasa berat untuk meninggalkan Nathan.
“Udah gapapa, kamu temenin
kakak Caca aja yah. Lagi pula kamu kan yang paling tahu tempat jual muffin
terenak dikota ini. Entar kalau kak Caca sendiri, bisa-bisa dia beli muffin yang
ga enak hehe” canda Nathan
“Tapi beneran kan om
Addison bakalan datang?”
Nathan menganggukkan
kepalanya.
“Kamu boleh tanya kak
Caca tuh”
Keysa menoleh kearah Caca
dan mendapatkan anggukan, sehingga membuat Keysa yakin.
“Yasudah kalau gitu, aku
sama kak Caca pergi dulu ya”
Setelah mendapatkan apa
yang dicari, Keysa dan Caca pun kembali kerumah sakit. Namun ketika sampai di
depan ruangan rawat Nathan, mereka dikagetkan dengan om Addison yang sedang terduduk
menangis sambil menundukkan wajahnya dan sosok Axel yang berdiri disampingnya
sambil mengusap bahu om Addison.
"Papa..." panggil Caca dengan suara yang terdengar bergetar.
Keysa mencoba menepis
semua pikiran buruknya, namun dia tidak bisa melakukan itu karena yang terjadi
didepan matanya tidak mendukung pikirannya.
Om Addison bangkit dari
duduknya dan langsung memeluk putrinya dengan sangat erat sambil terus
menangis.
“Kita harus kuat nak.
Nathan sudah bahagia bersama mama hiks…hiks”
Mendengar ucapan om Addison
membuat Keysa merasa seperti tersambar petir, bungkusan muffin dan strawbery
yang dipegangnya seketika jatuh ke lantai. Dan tubuhnya seketika kehilangan tenaga
hingga membuatnya ikut tersungkur ke lantai.
Axel yang melihat itu
langsung berlari ke arah Keysa berada dan langsung membawa Keysa kedalam
pelukannya. Seketika tangis Keysa pecah, untuk kesekian kalinya dia harus
kehilangan orang yang dia sayangi.
“Kenapa Tuhan bawa Nathan
pergi Xel? Hiks…hiks kenapa Tuhan jahat sama aku? hiks…hiks...Kenapa?”
Axel semakin memeluk
Keysa dengan erat, sebenarnya hatinya terasa sakit saat melihat wanita yang dia
cintai menangis untuk laki-laki lain. Tapi hal itu tidak membuat Axel mengikuti
egonya mau bagaimana pun dia harus tetap menguatkan Keysa.
Om Addison datang
menghampiri Axel dan Keysa, lalu memberikan sebuah surat dan handycam kepada
Keysa, yang di dalamnya berisi pesan Nathan. Dengan masih tersedu-sedu Keysa
mengambil barang yang diberikan om Addison.
"Nathan titip ini
buat kamu nak. Kamu harus kuat ya. Dan kamu harus tetap bahagia” om Addison
memeluk Keysa dengan sangat erat sambil menangis.
“Makasih ya nak. Kamu selalu
ada dan menemani Nathan disaat-saat terakhirnya” ucap om Addison sambil menepuk-nepuk punggung Keysa.
Surat dan handycam yang diberikan Nathan berisi pesan bahwa Keysa harus tetap mengejar kebahagiannya dan ungkapan perasaan Nathan. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Nathan juga sempat menitipkan pesan kepada Axel untuk menjaga Keysa dengan baik dan Nathan juga sudah memintaa maaf kepada Axel , Axel memang sengaja disuruh Nathan datang kerumah sakit. Nathan seperti sudah mengetahui semuanya akan terjadi hari ini sehingga dia sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.
.........SEKIAN DULU YA.............
__ADS_1