
...79...
“Ayo kek masuk…” ucap
Keysa sambil melihat ke arah pintu
Papa Adam dan tante Lydia
terlihat sangat begitu terkejut. Mereka tidak menyangka jika kakek Ali mau
menginjakkan kakinya dirumah ini.
“P-pp-pa?” ucap papa Adam
gugup saat melihat sosok papanya masuk ke dalam kamar.
Sedangkan tante Lydia
terlihat tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa diam sambil menundukkan
kepalanya.
Axel dan teman dokternya
yang merasa aura di dalam kamar itu tiba-tiba berubah menjadi dingin, memilih
untuk pamit keluar dari kamar.
“Sayang, biarkan kakek
bicara dulu sama papa kamu ya” ucap kakek Ali lembut kepada Keysa.
Keysa pun menyetui
permintaan sang kakek, sebenarnya Keysa sudah tahu beberapa bulan yang lalu,
jika kakek dan papanya memiliki hubungan yang kurang baik. Waktu itu Keysa
tidak sengaja mendengar pembicaraan Kenzo dan Olivia. Hari ini Keysa juga
memaksa kakeknya untuk masuk, karena Keysa ingin mempertemukan papa dan
kakeknya dengan harapan mereka berdua bisa menyelesaikan masalahnya.
“Iya kek” ucap Keysa patuh
kemudian melangkah keluar dan tidak lupa juga Keysa menutup pintu kamar.
Ketika Keysa keluar dari
kamar, Axel tiba-tiba saja datang menghampiri Keysa.
“Key…aku kanget banget
sama kamu” ucap Axel sambil meraih tangan Keysa.
“Kamu baik-baik aja kan
Key? Aku khawatir sama kamu”
Namun Keysa memilih untuk
tidak menanggapi perkataan Axel
“Key, kamu masih marah
sama aku? Aku ga salah Key, aku juga korban disini”
“Aku tahu, kamu juga
korban disini Xel. Tapi aku benar-benar belum bisa menerima semuanya. Please kasih
aku waktu Xel” jawab Keysa kemudain pergi melewati Axel.
“Apa laki-laki itu pernah
datang menemui kamu dan memohon maaf setelah kejadian itu?Selain berengsek dia
juga pengecut Key” tanya Axel tiba-tiba
Hal itu membuat langkah
kaki Keysa terhenti, dia teringat jika akhir-akhir ini Nathan memang sudah
tidak pernah lagi menghubunginya. Namun Keysa menepis segala pikirannya dan
melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Di dapur, setelah meneguk
minuman dingin. Kata-kata Axel kembali terngiang-ngiang dipikirannya.
“Bik…bik…” panggil Keysa
saat melihat bi Onah lewat dari hadapannya.
“Iya non…”
“Emm…selama aku pergi,
__ADS_1
apa Nathan masih sering kesini bik?” tanya Keysa
“Setahu bibik, dua hari
setelah non pergi tuan Nathan tidak pernah datang lagi ke rumah bik. Terus yang
bibi dengar dari asisten rumah tangganya, tapi ini belum pasti sih non”
“Kenapa bik?”
“Tuan Nathan dan
keluarganya mendadak pergi keluarga kota”
“Keluar kota? Kemana
bik?”
“Kalau itu saya juga ndak
tahu non, assiten rumah tangga tuan Nathan juga tidak diberitahu apapun”
“Ohh, makasih ya bik
informasinya” jawab Keysa dengan raut wajahnya yang kecewa
“Iya non, saya permisi
dulu ya non”
Keysa mengangkat tangan
kirinya, dimana dijari manisnya masih terlingkar cincin pertunangan mereka.
Keysa mengelus cincin tunangannya sekilas.
“Kamu pembohong Nat!
Bahkan kamu tidak berniat untuk memperbaiki hubungan kita dan kamu malah
memilih untuk pergi. Kenapa kamu tega Nat?” benak Keysa dan tak sadar setetes
air matanya mengalir di pipinya dengan bebas.
Bahkan Keysa merasa
hatinya terasa lebih menyakitkan ketika mengetahui Nathan pergi dan tidak
memperdulikan hubungan mereka dibandingkan dengan kejadian waktu itu.
“Aku kira kamu akan
lelah” ucap Keysa kemudian mengusap air matanya dan kembali meneguk minuman
dinginnya hingga habis.
Sebenarnya jauh dari
dalam lubuk hatinya, sebenarnya Keysa masih berharap jika hubungannya dengan
Nathan akan terus berlanjut. Entah itu karena dia sudah mencintai Nathan atau
hanya karena dia nyaman dan terbiasa dengan kehadiran Nathan, Keysa sendiri pun
tidak tahu.
Keysa berjalan keluar
dari dapur hendak menuju kamarnya, diruang tamu Keysa melihat Kenzo sedang
berbicara dengan dokter yang memeriksa papanya bersama dengan Axel juga ada
disana, namun ketika baru menaiki anak tangga yang pertama Keysa melihat
kakeknya baru saja keluar dari kamar sang papa dan hal itu membuat Keysa
mengurungkan niatnya.
“Kakekk….” Panggil Keysa
kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri kakeknya.
“Kakek mau kemana?Kok
buru-buru”
Kakek Ali hanya tersenyum
ke arah cucunya dan berkata
“Kakek harus pulang
sayang, ada urusan yang harus kakek selesain”
“Makan bareng disini dulu
ya kek, udah lama banget loh kita ga makan bareng kek”
“Maaf ya sayang kakek
__ADS_1
tidak bisa. Lain kali kita makan bersama ya” ucap kakek Ali sambil mengusap
pucuk kepala Keysa dengan lembut. Kemudian kakek Ali langsung pergi
meninggalkan Keysa.
Saat Keysa hendak
melangkahkan kakinya tiba-tiba saja lengannya tertahan oleh Axel.
“Key bisa bicara
sebentar?”
Keysa berbalik dan
menatap Axel, sebenarnya dia masih tidak ingin berbicara dengan Axel namun
Keysa juga merasa dia tidak boleh
menjadi egois karena disini Axel juga adalah korban. Keysa menganggukkan kepala
sebagai tanda dia menyetujui untuk berbicara dengan Axel.
Keysa dan Axel berbicara
di taman belakang tepatnya di gazebo, disitu Axel banyak bercerita tentang
kehidupannya setelah berpisah dengan Keysa beberapa tahun lalu. Dari cerita
yang di dengarnya Keysa sedikit merasa simpati dengan Axel dan merasa jika
kehidupan Axel setelah waktu itu cukup berat dan sulit.
“Jadi dimana ank itu
sekarang?” tanya Keysa yang penasaran dengan anak dari wanita yang di sewa
Nathan untuk menjebak Axel. Mau bagaimana pun pada dasarnya Keysa tetaplah
menyukai sosok anak-anak.
“Dia sedang di rawat
dirumah sakit Key, rumah sakit tempat kita bertemu. Sejak kecil kehidupan anak
itu tidak pernah jauh dari rumah sakit dan obat-obatan”
Timbul rasa iba di hati
Keysa, dia merasa kasihan dengan anak itu yang sejak lahir sudah di tinggal
pergi oleh ibunya. Dan setelah mendengar cerita Axel, Keysa merasa salut dengan
ketulusan Axel, walaupun kehidupan Axel yang saat itu juga hancur mulai dari
kehilangan orang tua dan pekerjaan hingga dituduh dengan perbuatan yang tidak
pernah dilakukannya, Axel tetap menjaga dan merawat anak itu dengan sangat
baik.
Malam hari Keysa tengah
merebahkan diri diatas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya, dia melamun
dengan pikiran Keysa yang sudah bercabang kemana-mana. Tangan kiri Keysa
terangkat ke atas, dia menatap cincin tunangan yang masih terpasang di jari
manisnya.
“Apa semuanya akan
berakhir sampai disini Nat?”
“Apa kamu memang
benar-benar akan pergi gitu saja?”
Keysa kemudian mengusap
cincin tunangan yang melingkar dijarinya itu dan setetes air matanya pun
terjatuh.
“Aku kangen kamu Nat
hiks…hikss” Keysa menangis sambil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak
tangannya.
“Tapi aku juga kecewa sama
kamu Nat hiks…hiks” Kemudian Keysa mengambil sebuah bantal yang ada
disampingnya dan menutupi wajahnya lalu mulai terisak di balik bantal itu.
......................
__ADS_1