
2 tahun kemudian.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Ayu Ningrum binti Rusman dengan mas kawin tersebut TUNAI!!" ujar seorang pria itu dengan suara lantang.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu itu.
Sah
Sah
Suara sah terdengar memenuhi rumah kecil milik Ayu itu.
Ya, Ayu dan Romi memutuskan untuk menikah secara sirih. Tanpa sepengetahuan dari Alma, dan keluarga Romi.
Ayu mencium punggung tangan Romi, dan Romi bergantian mencium kening Ayu. Romi pun menyematkan cincin bermata berlian di jari manis Ayu.
"Aku sangat bahagia," ujar Ayu tersenyum manis.
"Aku juga," sahut Romi menatap wajah cantik istri sirihnya itu.
Di rumah Ayu saat ini hanya ada penghulu, Rt, dan juga para saksi beberapa orang saja.
Ijab kabul telah selesai, para saksi sudah. bubar, sekarang tinggallah Ayu dan Romi yang berada di rumah kecil itu.
"Sayang... Besok kita pindah ke rumah yang aku belikan untuk mu itu ya?"
"Iya Mas.."
Tanpa berkata apapun lagi, Romi langsung menggendong tubuh Ayu ala bride style dan membawanya ke dalam kamar.
Saat ini jam menunjukkan pukul 19.30 wib.
"Kita kan baru menikah, kamu tentu tahu apa yang dilakukan pasangan pengantin yang baru menikah,"Romi meletakkan pelan tubuh Ayu di atas ranjang.
"Mas.. Kamu gak sabar ya," Ayu berbicara dengan nada manja.
"Ayo kita olahraga malam,"
Mereka berdua melakukan malam pertama.
2tahun yang lalu, hubungan Romi dan juga Ayu sangat dekat. Hingga Ayu meminta Romi untuk menikahinya. Romi pun setuju, tapi dia hanya akan menikahi Ayu secara sirih, Ayu pun menerima itu semua.. Sekarang mereka sudah resmi menjadi suami-istri sirih.
•
•
•
Di tempat lain.
Alma mondar-mandir di kamarnya.
"Mas Romi kok belum pulang juga ya? Ini kan udah malam. Di telepon juga gak diangkat." Alma menggenggam ponselnya sendiri.
__ADS_1
"Besok aku akan pergi ke kantornya,"
Alma beranjak naik ke atas ranjang dan tidur dengan pikiran yang bercampur aduk.
****
Keesokan paginya.
Romi sudah bangun pagi-pagi buta.
"Sayang.." Romi menggoyangkan tubuh Ayu yang sedang tertidur.
"Eugh..." lenguh Ayu yang masih memejamkan matanya.
"Sayang, hari ini aku akan pulang ke rumah. Aku yakin Alma pasti khawatir memikirkan aku yang tidak pulang. Aku lupa memberikan kabar padanya.." ujar Romi sudah menggunakan pakaiannya.
"Ck! Jadi kamu kapan bersama ku lagi, Mas??" Ayu bertanya kesal.
"Aku akan membagi waktu, Selasa dan kamis aku akan bersamamu, sisanya aku akan berada di rumah Alma. Bagaimana?" Romi membelai lembut kepala Ayu.
"Kok di aku cuma dua hari? Kamu jangan gitu dong Mas. Katanya kamu pengen buat aku hamil, biar kamu cepat dapat keturunan. Kalau seminggu hanya dua kali jatah untukku, bagaimana aku mau cepat hamil?" ujar Ayu.
Romi terdiam.
"Baiklah. Selasa, Kamis dan Sabtu aku akan bersamamu. Hm?"
Ayu berpikir dan kemudian dia mengangguk.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Mas." Ayu memeluk tubuh Romi.
"A... Semuanya.." Ayu mencium bibir Romi.
"Kamu jangan memancingku sayang, ini sudah hampir subuh. Sebelum Alma bertekad untuk mencari ku, aku harus pulang duluan ke rumah. Jangan membuatnya curiga,"
"Maafkan aku," Ayu tersenyum tipis.
Romi mencium kening Ayu, dan dia bangkit dari duduknya.
"Kamu jangan lupa sarapan. Nanti kan di kantor kita bisa ketemu lagi,'' ujar Romi.
Ayu pun mengangguk.
Romi melangkahkan kaki menuju pintu kamar, dan dia keluar dari kamar Ayu.
Setelah Romi pergi.
"Semoga aku bisa cepat hamil, supaya Mas Romi mendepak Alma, dan aku akan menjadi Nyonya besar Romi Alatas.." ujar Ayu sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Romi melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Beberapa menit kemudian, dia sudah sampai di halaman rumah.
Romi segera turun dari mobil, dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sayang!!!" teriak Romi saat sudah sampai di dalam.
Romi terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Sayang!!!" teriak Romi lagi, dia membuka pintu kamar dan ternyata Alma sedang sholat.
"Pantes aja dari tadi di panggilan gak jawab.." Romi meletakkan tas kantornya di sofa yang berada di kamar, lalu dia berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Alma sudah selesai sholat. Dia menyimpan mukenah nya terlebih dahulu.
"Mas Romi udah pulang,"
Tak lama kemudian.
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka, dan terlihat Romi sudah segar dengan handuk yang bertengger di lehernya.
"Mas.." Alma berjalan mendekat ke arah Romi.
"Kamu udah pulang? Maaf ya, aku tadi lagi sholat, jadi gak denger."
Romi tersenyum ke arah Alma.
"Gak papa, kamu masakin sarapan aja buat aku. Aku lapar,"
"Mas.. Kamu baru pulang, dari mana aja tadi malam?" Alma menatap wajah tampan suaminya.
"Aku lembur sayang.. Aku ketiduran di kantor, dan bangun bangun ternyata udah subuh. Jadi aku pulang," ujar Romi, dia menatap Alma yang berada di depannya.
"Kamu kenapa nanya kayak gitu? Kamu curiga sama aku?"
Dengan cepat Alma menggelengkan kepalanya.
"Enggak kok Mas.. Aku gak bermaksud seperti itu. Aku hanya khawatir aja sama kamu,"
"Ingat ya Alma. Aku paling tidak suka di curigai seperti itu!" Romi memakai kemejanya. "Sudah.. Cepat kamu buatkan aku sarapan," perintah Romi.
Alma hanya mengangguk patuh, dari pada suaminya itu bertambah marah. Alma langsung keluar dari kamar menuju dapur.
Romi yang melihat Alma sudah keluar, hanya menghela nafas pelan.
"Aku harus berhati-hati. Jangan sampai Alma mengetahui pernikahan ku dengan sahabatnya.." Romi segera bergegas memakai pakaiannya kembali.
Husna Almaida..
Romi si buaya buntung 🙈.
Happy Reading guys..
__ADS_1
See you next part bye bye..
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan dukungannya ❤ terimakasih 😘