
Alma berjalan dan kakinya sudah menapaki anak tangga pertama. Lisa dan juga Romi mengikuti langkah Alma.
"Al! Aku mohon pikirkan sekali lagi tindakan kamu ini, Al.."
Alma diam saja sambil terus berjalan menuruni anak tangga.
"Bu, bu Alma maafkan saya bu.. Saya sadar saya salah, hukum saya saja tapi jangan meninggalkan rumah ini bu.. Saya-" ucapan Lisa terpotong..
"Aaaa!!!!!" teriak Lisa dengan tubuh yang terguling di atas tangga.
Alma dan Romi mematung melihat kejadian yang menimpa Lisa.
"LISA!!!!" Romi berteriak dan berlari menuruni anak tangga guna menghampiri Lisa yang sudah tergeletak di lantai bawah.
"Lis! Lisa bangun.." Romi menepuk pelan pipi Lisa, sambil memangku kepala Lisa.
Alma menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, seraya menggeret kopernya.
"Lisa!" seru Alma kasihan karena melihat Lisa.
Darah segar mengalir dari pangkal paha Lisa, Romi dan juga Alma saling tatap.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit!'' perintah Alma pada Romi. Sebenci-benci nya Alma dengan Romi dan Lisa, dia tidak akan pernah tega melihat orang yang dia benci seperti ini, karena Alma masih punya hati nurani.
Alma dan Romi bergegas membawa Lisa ke rumah sakit.
•
•
•
Sesampainya di rumah sakit.
Lisa sudah berada di atas ranjang pasien. Dokter keluar dari ruangan Lisa.
Cklek!
Pintu terbuka.
"Bagaimana dengan keadaan teman saya, Dok?" ujar Romi saat Dokter sudah keluar.
"Apa keluarga pasien tidak ikut?" tanya Dokter sambil menatap Romi dan juga Alma bergantian .
"Tidak, Dok! Keluarga Lisa sedang berada di kampung. Kami adalah teman dekatnya," ucap Romi berbohong.
__ADS_1
"Baiklah, berhubungan hanya ada Bapak dan Ibu di sini, mari ikut ke ruangan saya."
Mereka melangkah ke ruangan Dokter.
Setelah sampai, Alma dan Romi duduk di kursi yang berseberangan dengan Dokter.
"Begini! Saya ingin menyampaikan bahwa pasien mengalami keguguran."
Deg!
Degup jantung Alma seakan berhenti saat mendengar apa yang Dokter katakan. Lidah nya terasa kelu ketika ingin berbicara. Mata Alma sudah memerah menandakan emosi dan kesedihan yang dia rasakan.
'Keguguran? Berarti selama beberapa minggu ini, Lisa bukan masuk angin, tapi sedang hamil..' batin Alma.
"Maksud anda apa Dok?" Romi belum paham apa yang Dokter katakan.
"Usia kandungan Ibu Lisa masih menginjak tiga minggu. Dia seharusnya menjaga kandungannya, karena masih muda dan rentan. Mungkin karena benturan keras di tangga, yang Bapak katakan tadi, maka dari itu kandungan Ibu Lisa tidak dapat terselamatkan." Dokter menjelaskan semuanya.
Romi terdiam mematung sembari mencerna ucapan Dokter.
'Padahal sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah. Kenapa Lisa tidak memberitahu ku jika dirinya sedang hamil. Kenapa semuanya jadi seperti ini..' batin Romi bersedih.
Alma berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Dokter tanpa berpamitan. Hatinya sudah sangat sakit mendengar apa yang Dokter itu ucapkan.
'Sungguh kamu benar gak punya hati, Mas. Kamu bermain gila di belakang ku hingga selingkuhan kamu hamil..' batin Alma, dia semakin membenci Romi.
"Saya permisi dulu, Dok. Nanti saya akan kembali lagi,"
Dokter mengangguk, dan Romi pergi keluar dari ruangan Dokter.
Dia menoleh ke sana ke mari, tetapi tidak melihat batang hidung Alma.
"Kemana Alma?" gumam Romi sambil berjalan di lorong rumah sakit.
Terlintas di pikiran Romi untuk ke rumah Ani, ibu mertuanya.
Romi langsung berlari ke parkiran, setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya, dan mobil melaju menuju rumah Ani
***
Sementara di dalam taksi.
Air mata terus mengalir di pipi Alma. Bagaimana tidak, seseorang yang sangat dia cintai ternyata mampu melukai hatinya hingga dua kali.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Taksi sudah sampai di depan rumah Ani. Alma segera turun dari taksi itu, setelah membayar ongkos Alma langsung membuka gerbang rumah, untung saja Alma punya kunci cadangan gerbang rumah Ani. Alma melangkahkan kaki menuju teras rumah.
Sebelum mengetuk pintu, Alma menghapus air matanya terlebih dahulu. Dia menarik nafas dan membuang nya pelan.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum!!" teriak Alma dari luar.
Ani yang kala itu baru ingin tidur, langsung terbangun lagi dari kasurnya karena mendengar suara ketukan pintu.
Ani melihat jam dinding.
"Jam sebelas. Siapa malam-malam begini mengetuk pintu?"
Ani pun segera bangkit dari ranjang, dia berjalan ke luar kamar dan terus menuju pintu rumah.
Tok! Tok! Tok!
Pintu rumah di ketuk kembali.
"Iya sebentar!!!" teriak Ani saat dirinya sudah sampai di depan pintu rumah
Cklek!
•
•
Tada.. Apa yang akan terjadi selanjutnya?? 🙈.
**Bapak Romi 🌹.
•
•
TBC.
HAPPY READING..
SEE YOU NEXT PART..
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA ❤
__ADS_1
TERIMAKASIH 😘**