
Satu minggu sudah Lisa merasakan kesedihan yang tiada tara. Romi selalu memarahinya karena Leni yang selalu memfitnah dirinya.
"Aku harus segera pergi dari rumah ini. Rumah ini bagaikan neraka bagiku!" Lisa mengambil koper dan segera mengemasi pakaiannya. Dia sengaja tidak memberitahu pada Romi tentang kehamilannya saat ini.
"Kita akan selalu bersama nak, tetapi kita tidak akan bersama dengan Ayah yang tidak bisa menghargai perempuan. Ayah yang super tega, dan Ayah yang egois." gumam Lisa sambil mengelus perut nya yang sudah sedikit membuncit. Air mata sudah tidak lagi turun membasahi pipi Lisa, rasanya air mata Lisa sudah kering karena setiap hari, setiap detik, setiap menit dia selalu menangis.
Lisa dengan cepat bergegas membereskan pakaiannya. Tak lupa dia membawa semua barang-barang berharganya seperti uang, perhiasan dan tas-tas branded nya.
"Aku akan menjual perhiasan dan tas-tas ini untuk memenuhi kebutuhan ku di negara baru nanti." Lisa memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Dia sudah menelepon Paman dan Bibi nya untuk pamit pindah bekerja di luar negeri. Padahal, dia ke luar negeri untuk menyembunyikan kehamilannya.
Setelah semua dirasa selesai, Lisa langsung keluar dari kamar dengan membawa dua koper dan juga beberapa tas. Lisa menuruni anak tangga, jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Romi sedang berada di kantor, sedangkan Leni, dia sedang pergi ke Mall.
Sesampainya dilantai bawah, Lisa menatap ke sekeliling rumah. "Rasanya aku tidak percaya jalan hidup ku akan seperti ini. Huft! Aku pasti bisa menjalani hidup berdua dengan bayiku nanti. Selamat tinggal, Mas. Selamat tinggal kenangan indah dan buruk yang pernah aku alami disini, semoga kamu bahagia bersama dengan istri siri mu itu Mas Romi.." air mata menetes di pipi Lisa.
"Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah seperti ini. Mungkin ini adalah ganjaran atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada Bu Alma." Lisa melangkahkan kaki keluar dari rumah Romi.
Lisa menunggu taksi online pesanannya. Saat ini dia akan ke terminal bus dahulu, karena tiket penerbangan Lisa lepas landas pada sore hari.
Beberapa menit kemudian, taksi pun datang. Lisa segera masuk ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah Romi.
'Semoga kamu benar-benar bisa bahagia tanpa aku, Mas. Aku tau, aku tidak ada apa-apanya dengan Leni. Aku hanyalah orang miskin dan mantan Art. Sedangkan Leni, Leni adalah anak orang kaya dan juga sudah kenal dekat dengan Mama kamu.' batin Lisa bersedih. Mama Romi memang tidak menyetujui pernikahan Romi dan Lisa, tetapi meskipun sang Mama tidak setuju, Romi tetap menikahi Lisa.
Di pertengahan jalan, taksi yang Lisa tumpangi tersendat-sendat.
"Loh, Pak! Kok mobilnya kayak gini?" Lisa berpegangan pada belakang tempat duduk sopir.
"Gak tau, Bu. Padahal kemarin baru di servis," ucap sang sopir ikut bingung.
__ADS_1
Taksi pun berhenti.
Sang sopir segera turun dan memeriksa keadaan mesin mobilnya.
"Wah, Bu! Taksi nya mogok," teriak sang sopir dari luar.
Lisa keluar dari dalam taksi dan menyusul sang sopir. "Kok bisa sih, Pak?"
"Saya juga gak tau, Bu. Orang kemarin baru di servis, berarti bengkel nya yang gak bagus," sahut sopir.
"Huft! Ya udah saya jalan aja deh. Terminal juga kan dekat lagi sampai." Lisa berbalik ke dalam mobil guna mengambil tas nya, dan sopir pun menurunkan koper Lisa.
Lisa memberikan ongkos. "Ini, Pak ongkosnya."
"Terimakasih, Bu. Maaf untuk tidak kenyamanannya," ucap sopir tidak enak hati.
"Gak pa-pa." Lisa langsung pergi meninggalkan taksi dengan menggeret dua koper nya dan menenteng beberapa tas nya.
Belum juga sampai di terminal, sebuah mobil berhenti di depan Lisa.
Cit!!!
Decitan rem mobil tersebut.
Di tempat lain.
Leni baru pulang dari shopping. Begitulah kerjaan dirinya setiap hari, hanya menghamburkan uang Romi saja.
__ADS_1
Leni berjalan masuk ke dalam rumah. "Kok sepi?" gumam nya pelan karena tidak melihat batang hidung Lisa. "Kemana mantan pembantu itu?" Leni terus berjalan menaiki anak tangga.
"Lis! Lisa!!!!" teriak Leni memanggil Lisa. Namun tidak ada jawaban, Leni pun masuk ke dalam kamar Lisa.
Cklek!!
Pintu terbuka.
"Loh, kok kosong. Kemana dia?" Leni memasukkan beberapa paper bag di kamar nya. Dia kembali turun ke lantai bawah guna mencari Lisa.
Nihil!
Itulah hasil dari pencarian Leni.
"Udah muter-muter kok tetap gak ada ya? Apa jangan-jangan...???" Leni segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar Lisa.
Leni segera memeriksa lemari pakaian milik Lisa. "Kosong? Berarti perempuan itu sudah pergi? Baguslah! Aku akan menjadi Nyonya Alatas satu-satunya." senyum kemenangan terbit dibibir Leni.
**TBC.
ASSALAMUALAIKUM..
HAPPY WEEKEND AND HAPPY READING GUYS..
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA..
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA KOMENTARNYA 🤗.
__ADS_1
TERIMAKASIH 😘**