
Romi dan Lisa mengobrol kembali, hingga saat sudah tiba di motor milik Romi, Lisa menghentikan langkahnya.
"Mas, tunggu dulu. Itu bukannyaβ??" Lisa menunjuk ke suatu arah.
Romi pun mengikuti arah jari telunjuk Lisa, betapa terkejutnya dia saat melihat sang mantan istri siri.
"Leni," gumam Romi pelan. "Kamu gendong dulu Rio, aku ingin menghampiri Leni.." Romi menyerahkan Rio pada Lisa.
"Mas, aku ikut!" seru Lisa berjalan cepat menyusul Romi.
"LENI!!!" teriak Romi emosi.
Leni yang kala itu berjalan, seketika langsung menghentikan langkahnya. Terlihat Leni tertawa sendiri, dandanan dirinya pun seperti orang gila.
"Mas, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia seperti orang gila begitu?" Lisa bertanya pada Romi.
"Entahlah, aku juga tidak tau." ujar Romi. "Len, bagaimana kabarmu setelah merampas harta ku?" Romi menatap Leni.
Leni yang tadinya tertawa sembari memainkan ujung rambutnya, kini raut wajahnya pun berubah menjadi sendu.
"Harta, rumahku, uang ku.. Dia mengambilnya, dia merampasnya dari tanganku.. KEMBALIKAN UANG KU!!!!!" teriak Leni histeris.
Romi dan Lisa refleks mundur.
"Mas, apa dia sakit jiwa? Kamu lihat dandanan dan cara bicaranya."
Romi memindai dandanan Leni dari atas sampai bawah. Rambut yang acak-acakan, baju kotor, ada bunga-bunga di telinganya, dan ada kuncir rambut di tangan Leni.
"Harta ku, uang ku.. Lihat, bagus kan perhiasan ku? Aku membeli nya di London.. Hihi," Leni berbicara sendiri sambil memainkan kuncir rambut yang ada di pergelangan tangannya.
"Len, apa yang terjadi padamu??" Romi memegang lengan Leni.
"HEI!! JANGAN SENTUH AKU. KAMU PASTI INGIN MERAMPOK PERHIASANKU KAN? RAMPOK TOLONG RAMPOK!!!!!" teriak Leni histeris.
"Eh, sst.." Romi meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. "Leni, kamu apa-apaan? Perhiasan apa? Ini itu kuncir rambut. Astaga, aku rasa wanita ini benar-benar sakit jiwa.."
"Haha... Aku kaya, aku kaya..." Leni merancau tidak jelas sembari bersenandung.
"Mas, ayo kita pergi.. Aku jadi takut lihat dia," Lisa menarik tangan Romi.
Romi dan Lisa membalikkan badan, tetapi suara seseorang membuat Romi dan Lisa menghentikan langkah kaki.
"LENI!!! LENI!!!" teriak Mama Leni berlari ke arah Leni.
Leni menoleh ke belakang, dia membolakan matanya. "Aku harus pergi, aku tidak mau dimasukkan ke rumah sakit jiwa, aku gak gila..." Leni segera bergegas lari tanpa arah.
"Tante!!" seru Romi memanggil Mama Leni.
Mama Leni berhenti berlari, dan menoleh ke arah Romi. "Nak Romi,"
Romi berlari kecil ke arah Mama Leni.
"Tante, ada apa?" tanya Romi saat sudah berada di dekat Mama Leni.
"Nak Romi, tolong bantu Tante menangkap Leni.. Tolong nak," ujar Mama Leni dengan nafas yang terengah-engah.
"Iya, Tante. Tapi ada apa? Apa yang terjadi dengan Leni?" Romi menatap wajah Mama Leni.
Mama Leni menghela nafas, dan mulai menceritakan kejadian tentang Leni.
...Flashback off....
"Sayang..." Leni menghampiri Ikbal yang kala itu sedang duduk di sofa ruang tamu sembari membaca koran.
"Hai," Ikbal meletakkan koran nya.
Leni duduk di sebelah Ikbal. "Sayang, aku udah bawa sertifikat rumah Mas Romi.." Leni menyerahkan sertifikat rumah itu kepada Ikbal.
Ikbal tersenyum dan menatap Leni. "Aku akan menjual rumah itu untuk modal usaha kita berdua. Setelah menikah, untuk masalah rumah kamu gak perlu risau, kita berdua bisa tinggal di rumah ini. Hm, kamu setuju kan??"
Leni mengangguk dan bersandar di dada bidang Ikbal. "Aku setuju, semua ide kamu pasti bagus.."
Ikbal memeluk tubuh Leni.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉ
Beberapa minggu kemudian.
"Apa! Keluar dari rumah ini? Kalian siapa? INI RUMAH SAYA, KALIAN BERDUA GAK BERHAK MENGUSIR SAYA DARI RUMAH INI!!" bentak Leni emosi.
"Maaf, Bu. Tapi kami sudah membeli rumah ini, dan kami juga punya sertifikat rumahnya." ujar pria berjas itu.
Leni menggeleng saat pengawal orang berjas itu memberikan sertifikat kepada Leni. "Gak mungkin, ini GAK MUNGKIN!!!" teriak Leni marah.
"Kami membelinya dari Bapak Ikbal." ujar Bapak berjas itu.
"Ikbal?". Leni mengambil ponsel dan langsung menghubungi nomor kontak Ikbal.
[Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi]
Begitulah perkataan saat Leni menghubungi Ikbal. Leni terus mencobanya beberapa kali, namun hasilnya tetap sama, nomor Ikbal tidak bisa dihubungi.
"Sial! Di saat aku butuh penjelasan nomornya malah gak bisa dihubungi," gerutu Leni kesal.
"Bagaimana, Bu? Ibu bisa segera angkat kaki dari rumah ini. Cepat kemas 'i barang-barang ibu."
Leni hanya berdecak sembari masuk ke dalam rumah, guna mengemasi pakaiannya.
Setelah selesai berkemas, Leni pun langsung pergi dari rumah tersebut.
"Apa Ikbal sengaja menjual rumah untuk usaha yang dia katakan? Tapi kenapa dia tidak menghubungi ku terlebih dahulu? Aku harus kerumahnya, aku akan meminta penjelasan pada nya." Leni segera mencari taksi.
30menit kemudian, taksi yang Leni tumpangi sudah sampai di depan rumah Ikbal. Leni segera turun dari taksi, setelah membayar ongkos Leni langsung bergegas berjalan ke teras rumah Ikbal.
Tok! tok! tok!
Leni mengetuk pintu.
"Mas! Mas Ikbal!!" Leni terus mengetuk pintu sembari berteriak memanggil nama Ikbal.
"Huft! Kemana sih Mas Ikbal? Kok sunyi?" Leni mengintip dari balik jendela yang kala itu tertutup tirai.
Tanpa sengaja tetangga dekat rumah Ikbal lewat di depan rumah Ikbal.
Leni segera menoleh dan menghampiri Ibu itu.
"Mbak nya cari Mas Ikbal ya?" tanya Ibu itu pada Leni, saat Leni sudah berada di dekatnya.
Leni mengangguk. "Ibu tau Mas Ikbal kemana?"
"Beberapa hari yang lalu, Mas Ikbal keluar dari rumah ini, Mbak."
"Hah? Bukannya ini rumah Mas Ikbal?" tanya Leni terkejut.
"Bukan, Mbak. Ini rumah ngontrak."
Leni hanya melongo, dadanya terasa sesak, kepalanya berdenyut karena memikirkan Ikbal.
"Ya sudah. Saya permisi ya, Mbak." Ibu itu langsung pergi dari hadapan Leni.
"ARGH!!!!" teriak Leni frustasi sembari memukul pintu gerbang.
"Keterlaluan kamu, Mas. Kamu sudah membawa pergi uang hasil penjualan rumahku, kamu pembohong, kamu perampok!! Uangku!!!!" teriak Leni histeris.
Flashback On.
"Begitulah ceritanya, nak. Satu minggu kemudian Leni mendapat kabar bahwa Ikbal sudah menikah dengan wanita lain, dan menetap di Jerman. Dari situlah Leni semakin menjadi tertutup, hingga dia sering melamun dan terdiam sendirian. Dia juga mengurung diri di kamar sepanjang hari. Lalu Tante mendengar suara Leni berteriak histeris dari dalam kamar, Hiks.." Mama Leni menangis.
"Ternyata Leni sudah menjadi seperti orang tidak waras. Dia tertawa sendiri, kadang menangis, kadang berbicara sendiri. Tante membawanya ke psikiater, dan ternyata psikiater menyatakan bahwa Leni mengalami gangguan jiwa akibat tekanan batin dan pikiran yang terlalu dalam." Mama Leni terisak.
Lisa mengelus pundak Mama Leni. "Yang sabar ya, Tante.."
Mama Leni hanya mengangguk.
"AAAAAA!!!!!!!!"
Suara teriakan seseorang mampu membuat atensi mata Mama Leni, Romi dan Lisa menoleh ke asal suara.
__ADS_1
"LENIIIIIII!!!" teriak Mama Leni histeris.
Mama Leni berlari sembari terus memanggil nama Leni. Sedangkan Romi dan Lisa berlari di belakang Mama Leni.
"LENI!!" Mama Leni bersimpuh di sebelah tubuh Leni yang sudah bersimbah darah.
"Leni bangun nak..." Mama Leni menggoyang tubuh Leni.
Romi berjongkok di dekat Leni, diikuti oleh Lisa. "Inalilahi wainnailaihi Raji'un," ujar Romi setelah dia memegang denyut nadi tangan Leni.
Mama Leni menatap tidak percaya ke arah Romi. "APA MAKSUD KAMU NAK ROMI?"
"Tante harus ikhlas. Leni sudah tiada, Tante.." ucap Romi pelan.
"TIDAK, TIDAK MUNGKINNNNN!!!!!!" teriak Mama Leni tidak percaya. "Leni..." Mama memeluk tubuh Leni dengan air mata yang menetes deras di pipinya.
Lisa pun tak kuasa menahan air matanya. "Tante, ikhlaskan Leni agar dirinya tenang di alam sana."
"Hiks.. Romi, Lisa, maafkan kesalahan anak Tante. Maafkan kesalahan Leni yang telah dia perbuat pada kalian. Tante juga minta maaf karena sudah memberikan peluang kepada Leni agar mendekati dan menikah dengan Romi, maafkan Tante Lisa.."
"Sudahlah, Tante. Saya sudah memaafkan kesalahan Tante dan juga Leni. Tolong jangan Tante pikirkan lagi masalah itu, semuanya telah terjadi dan sudah berlalu." ucap Lisa mengelus punggung Mama Leni.
"Terimakasih, Lisa. Terimakasih atas kemurahan hati kalian berdua.."
Ambulance datang guna membawa jasad Leni ke rumah.
Romi dan Lisa hanya diam menatap kepergian Ambulance, mereka berdua tidak ikut mengantarkan Leni hingga ke rumah.
β’
β’
β’
"***Sejarahnya, apa yang telah kita perbuat pasti akan selalu ada balasannya. Maka dari itu, berbuat baiklah selagi Allah memberi-mu kesempatan.."
Bye***..
β’
β’
ASSALAMUALAIKUM..
SELAMAT MALAM ALL..
HAPPY READING..
SAMPAI JUMPA DI NOVEL BERIKUT NYA.. CERITA NOVEL ALMAIDA HANYA SAMPAI DI SINI.
JANGAN LUPA BERIKAN LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH DAN FAVORIT NYA. SEBANYAK-BANYAKNYA YA GUYS.. TERIMAKASIH, PAPAY π
BONUS VISUAL.
***Almaida
RENDRA
BABY R (RAFFASYA)
AKMAL
TIARA..
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉ
KELUARGA ALMAIDA MENGUCAPKAN TERIMAKASIH DAN SAMPAI JUMPA ππππ»***