Perjalanan Cinta Almaida

Perjalanan Cinta Almaida
Bab 66. PCA


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Tok! tok! tok!


"Paket!!" teriak seorang kurir di depan rumah Romi.


Cklek!


Romi membuka pintu, dia menatap heran pada seorang kurir di depannya.


'Perasaan aku gak pesan apapun, kok ada kurir?' batin Romi.


"Paket, Pak." ujar kurir itu menyerahkan sebuah bingkisan kepada Romi.


Romi menerimanya, lalu membubuhkan tanda tangan pada buku Mas kurir.


"Permisi," kurir undur diri karena tugasnya sudah selesai.


Romi mengangguk.


Setelah kurir itu pergi, Romi membolak-balikkan bingkisan yang ada di tangannya.


"Gak ada nama pengirimnya," gumam Romi, lalu dia masuk ke dalam rumah.


Di dalam, Romi membuka bingkisan kecil itu.


Deg!


Setelah Romi berhasil membuka bingkisan tersebut, dadanya mendadak terasa sesak. Dengan cepat Romi membuka amplop yang dia pegang, dan setelah amplop terbuka, Romi dapat melihat apa isi amplop itu.

__ADS_1


"Surat dari pengadilan agama?" Romi membaca isi surat tersebut. Matanya memerah, dia masih belum percaya bahwa dirinya dan Alma kali ini benar-benar akan berpisah.


Romi melemparkan kertas yang sudah selesai dia baca.


"ALMA!!!!!!!!!" teriak Romi histeris.





Tujuh bulan sudah Alma menjalani hidup sendirian tanpa kasih sayang seorang lelaki. Meskipun setelah berpisah banyak yang ingin menikahi Alma, tetapi Alma belum siap menjalin hubungan serius lagi dengan siapapun itu.


Saat ini dirinya tengah berada di dapur, guna membuat kue pesanan customer nya. Ya, setelah mengajukan gugatan cerai, Alma bertekad berhenti dari pekerjaannya sebagai sekertaris Rendra. Dia lebih memilih menyibukkan diri dengan membuka usaha toko roti kecil-kecil 'an


"Al!" seorang pria menghampiri Alma.


"Eh, Mas! Kamu udah datang? Cepat banget," ujar Alma meneruskan kembali aktivitasnya.


"Iya, aku kangen sama kamu.." goda sang pria.


"Garing!" Alma tersenyum tipis sambil menggeleng. "Kenapa masuk ke dalam toko gak ngucapin salam dulu? Main masuk aja." Alma memasukkan bolu yang sudah dihias ke dalam kotak.


"Aku lupa," ujar sang pria dengan nyengir kuda.


"Kebiasaan!" sahut Alma cuek. Alma sudah selesai membungkus bolu pesanan pelanggannya. Dia menyodorkan dua bungkus kotak kue pada Akmal yang berdiri di sampingnya.


"Ini, tolong kamu antar kan ke jalan Merak nomor 103 ya, Mas? Jika aku yang mengantar, nanti gak ada yang jaga toko. Kebetulan Bu Astrid (pelanggan) sedang pergi, yang di rumah hanya anaknya dan tidak bisa naik motor atau menyetir mobil.." jelas Alma pada Akmal.

__ADS_1


"Siap komandan! Apa sih yang enggak buat kamu, kalau nyawa ku kamu minta juga bakalan ku beri," Akmal mulai menggoda Alma, baginya sangat sulit meluluhkan hati Alma. Dulu aja sulit, apalagi sekarang Alma sudah pernah tersakiti, pasti akan tambah sulit.


Alma mencebik. "Udah buruan pergi, ntar pelanggan marah loh karena Mas Akmal nganter nya lama.." Alma tidak ingin godaan Akmal semakin panjang, dan ujung-ujungnya mengajak dirinya menikah.


"Iya- iya.. Bawel!" ejek Akmal. Lalu dia langsung pergi sebelum macan Alma keluar.


Alma hanya melotot ke arah Akmal sambil berkacak pinggang. Setelah Akmal pergi, Alma hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.


Hanya Akmal lah yang menemani dirinya di saat dia sedang sedih, gundah, galau, dan butuh bantuan. Akmal selalu ada untuknya. Menurut Alma, Akmal adalah orang yang sangat baik dan bisa menghargai perempuan. Tetapi Alma belum mau menikah lagi ataupun memikirkan cinta-cinta 'an. Dia hanya fokus kepada usahanya saat ini. Toko roti yang dia miliki di kota, pinggir jalan raya.




TBC.



**PELUK OTHOR DONG MAS AKMAL 😭.




HAPPY READING..


SEE YOU NEXT PART..


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA..

__ADS_1


TERIMAKASIH 😘**


__ADS_2