
Romi terus berjalan menyusuri lorong toko-toko.
"Huft! Capek banget." Romi beristirahat didepan sebuah toko kelontong. Dia mengipas wajahnya menggunakan tangan.
Romi mendongak, dia melihat ke arah dinding toko kelontong itu. Matanya terbelalak, dengan cepat Romi berdiri dari duduknya dan menatap sebuah kertas yang menempel di dinding itu.
"Lowongan kerja," Romi mengeja tulisan itu dengan perlahan. "Ada tulisan lowongan kerja, berarti toko kelontong ini membutuhkan tenaga kerja." lanjut Romi berbicara sendiri.
"Permisi,,," Romi masuk ke dalam toko kelontong itu. Toko yang menjual berbagai macam kebutuhan pokok/sembako.
Pemilik toko kelontong itu berdiri dari duduknya. "Ya, ada yang bisa Oe bantu?" ujar sang pemilik toko dengan logat cina.
"Maaf, ko. Tadi saya lihat di depan ada tulisan lowongan kerja. Apa disini membutuhkan tenaga kerja?" Romi berkata dengan sopan.
"Aa.. Ya ya, oe memang sedang mencari pekerja lo."
"Kebetulan saya sedang mencari pekerjaan, Ko. Apa boleh saya bekerja di toko milik Koko?"
Sang pemilik toko menatap Romi dari atas sampai bawah.
"Okelah. Oe akan menerima lu olang." ujar sang pemilik toko keturunan cina itu.
"Oe akan menjelaskan pekerjaan lu olang. Pertama, lu olang harus angkat barang jika ada pembeli yang datang ke toko ini dan sulit mengangkat barang belanjaannya. Kedua, lu olang harus mengantar barang-barang jika ada konsumen yang memesan barang dengan menggunakan mobil pick up. Ketiga, lu olang harus dengar perintah saya, dan jika saya mengatakan lu harus lembur. Maka lu harus mau," pemilik toko itu menjelaskan pekerjaan Romi.
"Baiklah, saya menyanggupinya Ko. Apa saya boleh tau berapa gaji saya jika bekerja disini?"
"Oe akan memberi lu gaji dua juta perbulan, itu bersih. Untuk makan, lu jangan risau. Oe akan memberikan lu olang uang makan. Dan jika ada yang memberi lu tips, maka tips itu untuk lu olang. Lalu, jika lu olang lembur maka oe akan memberikan lu bonus jika gajian nanti. Bagaimana? Deal!" ucap sang pemilik toko dengan mengulurkan sebelah tangannya.
Tanpa berpikir panjang, Romi langsung menjabat tangan sang pemilik toko. "Deal!" ujar Romi.
"Ya sudah. Mulai hari ini, lu olang bisa bekerja disini. Oe mau kebelakang, lu jaga toko. Ingat! Jangan pernah macam-macam dengan toko oe, apalagi kalau lu olang sampai korupsi. Oe tidak suka dengan pekerja seperti itu."
"Baiklah Ko. Saya paham," Romi menunduk pasrah.
Sang pemilik toko pergi dari hadapan Romi. Setelah sang pemilik toko pergi, Romi menghela nafas berat.
"Dulu saat bekerja di perusahaan gaji ku sampai berpuluh-puluh juta. Sekarang, gaji ku hanya dua juta. Tidak ada separuhnya dengan gaji saat menjadi Manager. Alma, Lisa.. Maafkan aku," Romi berkata lirih. Berbicara soal Lisa, Romi ingat bahwa dirinya belum mengetahui dimana keberadaan Lisa.
"Kamu dimana Lis? Aku tidak tahu bagaimana keadaan kamu saat ini, dan dimana tempat tinggal kamu sekarang.." Romi mengusap wajahnya kasar.
"Mas! Beli berasnya dong." ujar seorang pembeli.
__ADS_1
Romi menoleh ke asal suara. "Iya, Bu. Mau beras yang mana?" ucap Romi ramah saat melayani pelanggannya.
•
•
•
Di sebuah rumah sakit kota J.
Alma sedang terbaring di atas ranjang pasien. Dokter mulai melakukan USG. Sebuah alat kecil berjalan di atas perut Alma. Dokter menatap ke arah layar monitor dengan tersenyum.
Dokter menghentikan pemeriksaan dan menatap Alma. "Apa saya boleh tau Ibu kapan terakhir datang bulan?"
Alma terdiam. "Seingat saya, saya sudah satu bulan tidak datang bulan, Dok."
Dokter tersenyum. "Coba Bapak lihat ini." Dokter menunjuk sebuah titik kecil di layar monitor.
Rendra mendekat dan menatap apa yang Dokter wanita itu tunjuk. "Apa yang harus saya lihat, Dok?" tanya Rendra bingung.
"Ini adalah sebuah titik kecil. Dimana yang artinya, titik kecil ini menandakan bahwa ada janin yang sedang berkembang di rahim istri Bapak." jelas sang Dokter dengan pelan .
Dahi Rendra sukses mengerut. "Maksudnya bagaimana ya, Dok? Saya tidak paham."
Rendra dan Alma saling tatap. Mereka masih mencerna ucapan sang Dokter.
"Mas .." ucap Alma pelan seraya duduk di ranjang.
Rendra berjalan mendekat ke ranjang Alma. "Sayang.. Kamu hamil," ucap Rendra bahagia.
"Kita akan mempunyai anak, Mas. Aku akan menjadi seorang Ibu.." air mata bahagia menetes di pipi Alma. Dia tidak menyangka doa nya selama ini telah di jabah oleh Allah. Allah memanglah maha adil.
Rendra langsung memeluk tubuh Alma.
"Mas aku sangat bahagia.." Alma membalas pelukan Rendra dengan erat.
"Aku juga sayang.. Syukur Alhamdulillah akhirnya doa kita di dengar oleh Allah." Rendra menghapus air mata yang menetes di pipinya. Dia juga bahagia sekali saat mendengar apa yang Dokter katakan.
Pelukan terlepas. Dokter yang melihat reaksi Alma dan Rendra hanya ikut tersenyum senang.
Alma turun dari ranjang, dia berjalan ke arah meja Dokter dengan di tuntun oleh Rendra.
__ADS_1
"Mas, aku ini tidak sakit. Kenapa kamu memperlakukan aku seperti orang sakit begini?" Alma menatap wajah Rendra.
"Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayi kita. Kamu harus hati-hati," ucap Rendra berlebihan.
Alma hanya menggeleng lucu saat mendengar ucapan Rendra.
Mereka duduk di meja yang bersebrangan dengan Dokter.
"Ini resepnya," Dokter menyerahkan selembar kertas kepada Rendra.
"Terimakasih, Dok.." ucap Rendra.
Dokter mengangguk. "Pesan saya, Ibu jangan terlalu kelelahan. Karena bisa menganggu janin yang Ibu kandung, janin yang masih muda seperti itu sangat rentan sekali. Jadi saya sarankan, Ibu harus istirahat yang cukup, jangan mengangkat yang berat-berat, makan makanan bergizi agar tumbuh kembang sang bayi menjadi sehat, dan jangan lupa.. Jika berhubungan harus pelan atau bermain lembut. Jika tidak berhubungan juga itu lebih bagus, karena untuk menjaga kandungan Ibu." Dokter tersenyum melihat wajah tersipu Alma.
"Sampai kapan kami tidak boleh berhubungan badan, Dok?" pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Rendra.
Alma menyenggol lengan Rendra menggunakan siku nya. "Mas.." peringatan dari Alma.
"Tidak terlalu lama. Jika usia kandungan Ibu sudah memasuki bulan ke tiga atau empat. Bapak dan Ibu bisa berhubungan kembali, tetapi harus pelan. Ingat! Pelan.." ujar Dokter menekan katanya.
Rendra mengangguk paham.
"Ya sudah. Kalau begitu, kami permisi ya, Dok." Alma berpamitan.
"Jangan lupa di tebus resepnya, dan ingat apa yang saya katakan tadi ya Pak, Bu?"
Alma dan Rendra mengangguk. Mereka berdua keluar dari ruangan Dokter.
•
•
•
**TBC..
HAPPY READING..
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA..
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA..
__ADS_1
TERIMAKASIH 😘😘**