
Setelah selesai menelepon Akmal, Alma kembali duduk bersama dengan Rendra dan Chika.
"Kenapa?" Rendra bertanya saat melihat wajah bingung Alma.
"Saya gak enak sama Mas Akmal, Pak. Dia tadi kesini, karena ada Bapak yang bantuin saya, terus dia pulang. Karena sibuk melayani pembeli,.saya sampai lupa menghubungi Mas Akmal." ujar Alma sambil duduk di samping Chika.
"Maaf ya, ini semua salah saya.."
"Eh.. Enggak, Pak. Bapak gak salah, saya memang yang lupa.." Alma menatap Chika, lalu terbesit di benak nya untuk mengajak Chika makan salad buah yang dia buat.
"Em.. Chika, kamu mau mau makan salad gak?" Alma menatap wajah Chika.
"Mau mau, Tante.." sorak Chika bahagia.
"Ya udah, kita ke rumah Tante yuk? Tante kebetulan buat salad buah banyak.." Alma mengajak Chika, karena anak-anak biasanya memang suka memakan salad buah.
"Yeay asyik.." Chika mengangkat kedua tangannya. Dia menatap Rendra. "Pa, kita ke rumah Tante Al ya? Chi mau makan salad buah... Udah lama Chi gak makan itu," ujar Chika lesu agar sang Papa memperbolehkan nya.
"Baiklah, kita akan pergi ke rumah Tante Al. Ayo!"
Mereka bertiga langsung bersiap menutup toko Alma, dan Alma berjalan ke arah sepeda motor nya.
"Kamu gak bareng kita berdua aja?" ujar Rendra sambil menunjuk dirinya dan Chika.
Alma menggeleng. "Gak usah, Pak. Saya naik motor aja,"
Rendra mengangguk. Lalu Rendra dan Chika naik ke mobil, sedangkan Alma dia naik ke atas motornya.
__ADS_1
Mobil dan motor mereka melaju, dengan mobil Rendra yang berada di belakang mengikuti motor Alma.
•
•
•
Di tempat lain.
"Pak! Saya minta Bapak nikahin saya. Bapak dan Bu Alma juga udah bercerai kan? Saya udah gak perawan lagi, Pak. Siapa nanti yang mau menikahi perempuan seperti saya ini? Ini semua kesalahan Bapak.." ujar Lisa lirih sambil menangis.
"Argh!!!!" teriak Romi. "BERISIK!" Romi membentak Lisa.
"Hiks.. Seharusnya Bapak bertanggung jawab atas segala yang sudah terjadi, Bapak lah penyebab itu semua!!!!" bentak Lisa karena emosi.
Satu tamparan berhasil melayang di pipi Lisa.
Lisa memegangi pipinya yang terasa sakit. Dia menangis.
Romi mencengkram dagu Lisa. "Jangan-jangan memang kamu pengen saya bercerai dengan Alma?? Iya!" Romi melotot ke arah Lisa dan membentak.
Lisa menggeleng takut. "A- apa, y- yang Bapak katakan?" Lisa terbata-bata dengan merasa sakit akibat cengkraman Romi.
Romi melepas cengkraman di pipi Lisa. "Argh!" teriak nya frustasi.
Romi pergi dari hadapan Lisa yang terus menangis dan memegangi pipinya. Tubuh Lisa luruh ke lantai, dia terduduk.
__ADS_1
"Hiks.. kenapa seperti ini??" Lisa memegangi dadanya yang terasa sesak. "Apa aku harus menemui Bu Alma, untuk memberi saran? Tapi aku malu.. Hiks," lanjut Lisa bimbang. Dia menghapus air matanya.
"Aku harus bertahan, aku tidak mau menjadi lajang seumur hidup. Aku yakin pasti tidak akan ada lelaki manapun yang mau menerima ku sebagai istri, dengan keadaan ku yang seperti ini. Lagi pula Bu Alma dan Pak Romi sudah berpisah, Pak Romi harus bertanggungjawab atas semua perbuatan yang dia lakukan padaku." Lisa sudah tidak menangis lagi, hanya saja dia terisak bersedih.
Lisa berdiri dari duduknya, guna membersihkan diri karena hari hampir menjelang sore. Dia bertekad untuk membicarakan pada Romi lagi tentang tanggungjawab.
•
•.
**Halo Mas Akmal ❤.
•
•
HAPPY READING..
SEE YOU NEXT PART..
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN KOMENTARNYA..
TERIMAKASIH 😘
MOHON MAAF OTHOR TERLAMBAT UP 🙏🏻**
__ADS_1