
Malam hari pun tiba.
Romi baru pulang kerja dan dia bergegas menaiki anak tangga.
"Len! Leni!!!" teriak Romi.
Leni yang kala itu masih bersantai di dalam kamar hanya diam saja.
Cklek!
Pintu kamar terbuka.
"Bagaimana ceritanya Lisa bisa pergi dari rumah?" Romi langsung bertanya seraya berjalan ke arah ranjang.
"Aku gak tau, Mas. Tadi aku baru pulang dari Mall, shopping.. Pas sampai rumah, aku penasaran karena Lisa gak ada di sekeliling rumah. Aku ke kamarnya, dan ternyata lemari Lisa kosong. Berarti dia pergi kan?"
Romi menyugar rambutnya. "Kamu shopping? Kenapa setiap hari aku lihat kamu menghamburkan uang terus? Pengeluaran di rekening aku lihat sangat banyak. Kalau kamu kayak gitu terus, bisa-bisa aku kehabisan uang."
"Kalau uang kamu habis, ya kamu korupsi aja sih Mas. Susah amat! Lagian memang seperti ini cara hidupku." ucap Leni enteng.
Romi hanya menghembuskan nafas kasar. "Kamu masak apa hari ini?"
"Aku gak masak. Kamu beli aja diluar kalau mau makan,". ucap Leni santai.
Romi melemparkan tas kerjanya, lalu membuka Jas dan pergi ke kamar mandi guna membersihkan diri. Dia ingin merilekskan badan dan pikiran.
Beberapa menit kemudian.
Romi keluar dari kamar mandi. Dia melihat Leni yang masih sibuk dengan ponselnya.
'Dulu Alma maupun Lisa tidak pernah seperti Leni ini. Alma dan Lisa selalu menyambut ku, mereka juga memasak makanan untukku. Tapi sekarang?' Romi membatin.
Dia segera mengambil dompet serta kunci mobil, dan bergegas keluar dari kamar.
"Kamu mau kemana, Mas?" ucap Leni saat sadar Romi sudah keluar dari kamar mandi.
"Aku mau keluar. Cari makan!" Romi langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Leni.
Leni hanya berdecak kesal.
•
•
__ADS_1
•
•
Di rumah Rendra.
"Mama, Mama!! Chi mau ayam goreng," ujar Chika manja.
Alma tersenyum seraya mengambilkan sepotong paha ayam untuk Chika. "Chi mau Mama suap' in atau makan sendiri?"
"Makan sendiri aja. Chi kan udah besar," ujar Chika mulai melahap makanan yang berada di piring nya.
Alma tersenyum seraya mengelus lembut rambut Chika. Alma juga mulai melahap makan malamnya.
"Mas, kira-kira Lisa udah sampai mana ya?" ucap Alma kepikiran tentang Lisa.
"Mana aku tau, sayang.. Nanti kalau udah sampai kamu kan bisa menghubungi dia. Bukankah tadi kamu bilang kamu udah punya nomor ponsel nya?" Rendra menyahut sambil melahap makan malamnya.
"Iya sih. Huft! Semoga dia selamat sampai tujuan."
"Memang dia ingin pergi kemana?"
"Malaysia." ucap Alma menjawab pertanyaan Rendra. "Mas, apa di malaysia gak ada teman atau kenalan kamu? Kali aja bisa bantu Lisa di negeri sebrang nanti. Aku gak tega lihat dia, dia kan orang kampung, pasti bingung dengan negara baru nya nanti."
"Kita bahas nanti saja. Sekarang kita makan dulu, jangan membicarakan orang lain," Rendra tersenyum ke arah Alma. Dia tidak ingin jika Alma berpikiran bahwa dirinya tidak punya rasa kasihan terhadap Lisa.
Rendra, Alma dan Chika sedang menonton televisi.
"Hoam.. Ma, Chi ngantuk." Chika mengucek matanya.
"Kamu ngantuk? Ya udah Chi tidur gih. Mau Mama temenin atau tidur sendiri?" Alma saat ini sedang duduk sambil memeluk Chika dari samping.
"Chi bobok sendiri aja.." ujar Chika.
Alma hanya mengangguk. "Ya udah kamu tidur, besok juga kan sekolah,"
Chika berdiri dari duduknya, dia mengecup pipi Alma lalu kemudian Rendra. "Malam Ma, Pa.."
"Malam sayang..." sahut Rendra dan Alma bersamaan.
Setelah mendapatkan jawaban dari kedua orang tuanya, Chika langsung pergi berlalu menuju kamarnya.
Rendra yang melihat Chika sudah masuk ke dalam kamar, langsung merapatkan duduknya ke arah Alma. Rendra merangkul pundak Alma.
__ADS_1
Alma hanya tersenyum sambil sedikit mendongak guna menatap wajah Rendra. "Mas.. Aku mau nanya sesuatu penting sama kamu,"
"Katakan, ada apa?" Rendra mencium wangi rambut Alma yang membuat dirinya kecanduan. Wangi Vanilla yang keluar dari rambut Alma selalu membuatnya tidak ingin menjauh dari Alma.
"Mas, jika nanti aku tidak bisa memberimu keturunan, apa perilaku mu akan berubah padaku?"
Rendra menghentikan aktivitasnya mencium wangi rambut Alma. Rendra menatap wajah Alma.
"Lihat aku, sayang.." Rendra menangkup wajah Alma. "Keturunan tidak menjadi masalah penting dalam hidupku dan keluarga ku. Semua itu sudah menjadi urusan Allah, jika memang Allah sudah percaya pada kita, maka Allah pasti akan memberikan kita keturunan. Tetapi jika tidak sama sekali? Kamu tidak perlu bersedih, kan sudah ada Chika. Aku tidak ingin berharap banyak sayang, tetapi aku yakin jika suatu saat nanti adik Chika pasti akan berada di sini," Rendra mengelus perut Alma.
Alma hanya tersenyum. "Aku hanya masih trauma dengan pernikahan ku yang gagal hanya karena seorang anak, Mas.."
"Aki tidak seperti mantan suamimu itu. Aku hanya memasrahkan semuanya pada Allah. Kita hanya perlu berdoa, dan berusaha keras untuk membuatkan adik Chika."
Alma terkekeh, dia tahu pasti dibalik ucapan Rendra ada maksud terselubung.
"Kamu kok ketawa?"
"Karena aku tau kamu pasti ada maunya.." ucap Alma yakin, karena Rendra mengatakan berusaha keras membuatkan adik untuk Chika.
"Kamu tau aja," Rendra mencium leher belakang Alma.
"Ih, Mas.. Geli,," Alma menjauhkan wajah Rendra dari lehernya.
"Apa kamu sudah siap? Ayo kita bertempur untuk membuat adik Chika."
"Sebelum itu, kamu harus menelepon salah satu teman atau rekan kerja kamu yang berada di Malaysia untuk membantu Lisa. Tapi harus orang yang baik, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Lisa dan bayinya."
Rendra mengangguk. "Iya sayang.. Aku akan menelepon salah satu teman ku nanti untuk membantu Lisa. Ayo kita ke kamar," Rendra langsung menggendong tubuh Alma dan membawanya masuk ke dalam kamar.
•
•
•
•
**TBC.
HAPPY READING..
SEE YOU NEXT PART..
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA ....
TERIMAKASIH 😘**