
Yui merasa begitu jijik dengan kelakuan dua manusia itu. Yui memutuskan untuk pergi ke Hutan Kehidupan. Karena dia belum pernah ke sana. Ia sangat penasaran dengan hutan itu.
Di Hutan Kehidupan
Yui telah sampai. Ia begitu takjub dengan suasana di Hutan itu. Apa lagi pemandangannya itu. Sangat indah dan menenangkan.
Yui begitu terhanyut dengan suasana di sana. Ia pun mengambil seruling. Dari mana? Tentu saja dari ruang dimensi.
Ia memainkan seruling dengan anggun dan lihai. Sungguh merdu suara seruling itu dan menghipnotis siapapun yang mendengarnya mendekat ke Yui.
Kupu kupu mengelilinginya seolah mengiringi suara seruling dengan tarian indah. Ditambah dengan adanya bulan purnama.
Rambut panjangnya terhempas oleh angin, terlihat wajah yang begitu cantik bagai dewi. Mungkin lebih.
Yui menghentikan permainan serulingnya dan kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Yui langsung membanting tubuhnya dan tidur.
.....................
Keesokan harinya Yui kembali ke kediaman Mentri Kanan alias Ayahnya. Sesampai di kediaman ia cuek kepada Ayahnya, selir ketiga dan anaknya.
"Yui'er, bagaimana kabarmu. Ku dengar kau jarang keluar rumah" dia adalah selir ketiga.
Yui tidak menjawab pertanyaan yang tidak penting itu. Ayahnya menjadi geram dengan Yui.
"Yui, ibumu bertanya! Kenapa kau diam saja?!"
"Heh, ibu? Kau bilang wanita j*l**g ini ibu?"
Plak. Sebuah tamparan mengenai pipi Yui. Ayahnya bahkan tega menamparnya.
"Aku tidak pernah menganggapnya menjadi ibu! Ibuku hanya ibu Rin mei, ibu selir pertama dan kedua! Lebih baik kau ingat itu! Dan satu lagi. Kau bukanlah Ayahku!"
Mentri Kanan seperti tersambar petir. Dia terkejut mendengar perkataan anaknya. Ini baru pertama kalinya dia mendengarnya.
Yui langsung melenggang pergi. Ia terlanjur kecewa pada Ayahnya. Tapi ia tidak bisa pergi sebelum balas dendamnya selesai.
Yui bertekad kalau ia akan membalas orang yang menyakitinya. Ia ingin segera terbebas dari tugas yang membebaninya itu.
Yui pun terlelap karena telah melalui perjalanan yang melelahkan. Sore harinya, Yui bangun. Ia pun memanggil Yin.
"Yin"
Yin yang dipanggil bergegas pergi menemui nonanya.
"Iya nona, apa ada yang bisa nubi bantu"
__ADS_1
"Tolong siapkan air aroma lavender"
"Baik akan nubi siapkan"
Beberapa saat kemudian...
"Air sudah siap nona"
"Baiklah terima kasih"
Yui segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia melepas semua bajunya hingga tubuhnya polos. Ia masuk ke bathub.
Yui begitu menikmati mandinya. Beberapa menit kemudian Yui menyudahi mandi dan menggunakan hanfu laki laki.
Yui berencana akan ke hutan elemen. Yui ke sana menggunakan ilmu peringan tubuh. Ya, di ruang dimensi Yui telah mempelajari banyak hal.
Kini ia sampai di lapisan delapan. Di sana Yui melihat sebuah goa. Yui berjalan mendekat ke goa. Yui merasa seperti ada sebuah energi spiritual yang menariknya ke sana.
Tanpa ragu ragu Yui masuk ke goa itu. Yui kini telah sampai di ujung goa. Dia melihat seorang peri kecil yang tengah bersandar pada sebuah batu.
Yui menghampiri peri kecil itu dan menepuk bahunya. Peri kecil itu tersentak dan langsung membuka matanya.
Peri kecil itu melihat seorang gadis yang begitu cantik bak Dewi. Bahkan mungkin lebih cantik. Dia pun bertanya pada Yui.
"Hei ada apa kau ke sini. Kenapa kau bisa kemari"
Peri kecil itu mengangguk. Dia bertanya untuk memastikan apakah dugaannya itu benar.
"Hm, kalau begitu, apa kau adalah penerus dari 'dia'? Aku ingin memastikan"
"Apa maksudmu dengan 'dia'? Aku tak mengerti. Mungkinkah kau salah orang?"
"Entahlah. Aku hanya ingin memastikan saja. Tapi apa kau tidak tau?"
Yui hanya menggerutu. Yui sedikit kesal dengan peri kecil itu "Bagaimana aku bisa tau. Kau saja hanya menyebut dengan 'dia'. Kau bahkan tidak bilang dia siapa"
Si peri kecil itu hanya cengengesan. Peri kecil itu pun memutuskan untuk mengetes Yui.
"Untuk memastikannya, aku akan mengetesmu"
"Kau mengetesku dengan cara apa"
"Aku tidak bisa memberitahumu. Kau akan tau saat kau sudah memulainya"
Belum sempat Yui menjawab, tiba tiba ada cahaya di depan matanya. Yui refleks langsung menutup matanya dengan sikunya.
__ADS_1
Setelah dirasa cahayanya sudah hilang, Yui membuka matanya. Yui begitu terkejut. Dia bingung, ada di mana dia sekarang? Lalu ada suara yang Yui kenal. Suara itu milik peri kecil tadi.
"Hei, ini ada di mana?"
"Kau ada di dunia Ilusi. Semua yang kau lihat itu hanyalah ilusi. Kuharap kau bisa melewati ujian ini. Sampai jumpa"
Yui hanya memutar bola matanya malas. Yui pun mulai melewati dunia ilusi. Toh, di sana itu hanya ilusi, jadi pastinya tidak apa apa. Begitulah pikirnya.
Kini Yui telah sampai di ujian pertama. Yui harus menghadapi seekor Naga berelemen api.
"Baiklah ini waktunya aku melatih kembali ilmu bela diri ku. Ayo mulai"
Naga itu mulai menyerang Yui. Tapi dengan gesit Yui berhasil menghindarinya. Naga itu geram dan menyemburkan air dari mulutnya.
Untunglah Yui langsung menghindar. Kalau tidak dia sekarang mungkin sudah menjadi abu. Yui tak mau buang buang waktu. Ia langsung menusuk jantung Naga itu dengan katana kecil di pahanya.
Yui selalu membawa katana kecil kesayangannya untuk berjaga jaga. Walaupun katana itu kecil, namun sangat tajam. Bahkan menyamai sebuah pedang.
Yui tersentak. Ia bingung, kenapa Naga itu tidak kesakitan? Bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Yui berpikir keras. Yui sedang memikirkan bagaimana cara mengalahkan Naga itu. Yui tidak mau membuang banyak waktu.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Yui mempunyai sebuah ide.
"Hei naga jelek, ayo kejar aku kalau bisa"
Naga itu marah dan langsung mengejar Yui. Yui yang tidak ingin menyia nyiakan kesempatan, langsung berlari ke arah danau.
Yui langsung menceburkan diri ke danau. Dan bodohnya, Naga itu masuk ke air itu. Jadilah Naga itu kesakitan. Kenapa?
Karena Naga itu berelemen api. Api memang kuat, tapi air bisa mengalahkannya. Dan Yui lah yang memenangkan pertarungan.
Kini Yui harus melewati ujian ke dua. Di sini ia harus mengalahkan hewan tanpa harus menyakitinya. Yui memang hebat dalam bertarung, tapi jika harus mengalahkan tanpa harus menyakiti, tentu ia kewalahan.
Lawannya adalah seekor burung phoenix. Tentu saja kekuatannya begitu besar. Burung phoenix itu langsung menyerang Yui. Yui langsung melakukan gerakan meroda untuk menghindari serangan burung phoenix.
Phoenix itu terus menyerang Yui. Yui begitu kewalahan menghadapi burung phoenix itu. Yui hampir saja melukai burung phoenix. Tapi Yui teringat untuk tidak melukainya.
Yui berpikir keras bagaimana mengalahkan burung phoenix tanpa menyakitinya. Terlintas sebuah ide di otaknya itu.Yui menatap ke arah burung phoenix dan tersenyum licik.
...Halo nih aku up lagi...
...Penasaran sama lanjutannya?...
...Terus dukung author ya dengan like, vote, rate, dan jan lupa coment...
__ADS_1
...Sory kalo ngegantung dan ada typonya...
......Bye Bye......