Perjalanan Di Dunia Yang Berbeda

Perjalanan Di Dunia Yang Berbeda
JALAN-JALAN


__ADS_3

Yun Yue hanya terdiam saat mendengar cerita yang menyedihkan itu. Tidak dapat dipungkiri kalau Yun Yue juga merasa iba dengan Qiu An. Perjuangannya yang begitu besar untuk desanya.


Namun, harga yang harus dia bayar adalah nyawanya sendiri. Yun Yue merasa ada kejanggalan dalam cerita itu. "Menurut para penjaga Desa, Qiu An telah menyegel seluruh kekuatan dari Rubah Ekor Sembilan itu, lalu bagaimana mungkin Rubah Ekor Sembilan dengan berani menyerang Desa Fangxi tanpa sedikitpun kekuatan?" gumam Yun Yue yang masih bisa didengar oleh Hua Fei dan Lian Xin.


"Itulah yang kami tidak tahu. Dan yang sangat mengherankan adalah Rubah Ekor Sembilan mempunyai kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Itu sangatlah aneh, bukan?" jawab Lian Xin yang menjawab pertanyaan dari Yun Yue sembari mengusap air matanya yang berada di pipinya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Hua Fei, dia mengusap air matanya. Dirinya tidak sadar kalau air matanya telah mengalir deras dan membuat pipinya basah oleh air matanya itu.


"Ya, itu sangatlah aneh. Oh ya, aku akan pergi sebentar" ucap Yun Yue sembari bangkit dari duduknya. "Kalian tidak perlu ikut" ucap Yun Yue yang melihat Hua Fei dan Lian Xin berniat untuk mengikutinya. Mereka berdua melihat ketegasan terpancar dari mata Yun Yue dan hal itu berarti keputusannya tidak dapat diganggu gugat.


"Baiklah" ucap Lian Xin kembali duduk dengan lemas. "Berhati-hatilah, kau masih baru di sini, jadi jangan jauh-jauh karena kau bisa saja tersesat" tambah Hua Fei dengan memperingati.


"Iya, aku tahu. Lagi pula, Jikalau aku tersesat, aku bisa naik ke atas pohon dan aku bisa melihat jalan" ucap Yun Yue dengan senyuman hangatnya. 'Sungguh persis dengan Qiu An!' batin Hua Fei tersenyum tak berdaya.


Yun Yue langsung pergi begitu saja meninggalkan Hua Fei dan Lian Xin yang terkejut dengan kepergian Yun Yue yang secara tiba-tiba tanpa aba-aba.


'Cepat sekali?!' pekik mereka berdua dalam hati.


***

__ADS_1


Yun Yue yang sedang berjalan-jalan, atau lebih tepatnya sedang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Dia berhenti di sebuah pohon yang sangat besar dan daunnya lebat. Mungkin itu tempat yang cocok untuk berteduh di bawah teriknya panas matahari.


"Mungkin memantau dengan cara seperti ini lebih efisien, jadi aku bisa melihat ke arah yang cukup jauh. Siapa tahu Rubah Ekor Sembilan datang ke desa ini untuk mengacau, dan aku bisa segera mengatasinya dan kembali. Andai saja Rubah Ekor Sembilan berada di sini sekarang ini, maka akan memudahkan pekerjaanku dan aku bisa menyelesaikan misiku secepat mungkin" Yun Yue terus menerus bergumam tidak jelas. Setiap kalimatnya selalu ada kata andai.


"Tidak, jangan! Lepaskan aku! Toloong!" seorang gadis kecil berteriak meminta tolong. Dia terlihat sedang berusaha untuk terlepas dari tangan yang mencengkram nya dengan kuat.


Namun, karena perbedaan kekuatan diantara mereka berdua, gadis kecil itu tidak bisa lepas. Dia tetap berusaha walaupun tahu usahanya hanya sia-sia saja, dia terus menerus meronta ronta dan membuat anak laki-laki yang mencengkram tangan gadis kecil itu marah.


"Diam lah! Kau tahu bukan, kalau usahamu sia-sia saja! Berhenti melawan! Tidak ada siapapun yang bisa menolong mu!" ucap anak-laki-laki itu. Dia menguatkan cengkraman nya dan membuat gadis kecil itu meringis kesakitan.


"Siapapun, kumohon tolong aku!" ucap gadis itu yang sudah mulai putus asa karena semua orang yang menyaksikannya enggan untuk menolongnya. Air matanya mengalir deras membuat semua yang melihatnya merasa iba.


Yun Yue yang sedang bergumam tidak jelas mendengar suara seorang gadis kecil yang sedang meminta tolong dan menangis. Yun Yue yang merasa terganggu langsung menoleh ke asal suara dan melihat seorang gadis kecil yang sedang dibully oleh seorang anak laki-laki.


Di belakangnya ada tiga orang anak laki-laki yang sedang berbisik dengan ekspresi yang khawatir sembari menatap gadis kecil yang sedang dibully itu.


"Hei, bagaimana? Apa kita akan menolong Yu Nan?" tanya salah satu dari mereka dan menatap gadis kecil yang dipanggilnya dengan Yu Nan itu dengan pandangan iba, dia meringis seakan bisa merasakan apa yang Yu Nan rasakan.


"Apa kau ingin menjadi pahlawan? Silahkan saja kalau kau berani melawan cucu dari Kepala Desa" ucap salah seorang dari mereka menjawab pertanyaan temannya.

__ADS_1


"Aku merasa kasihan pada Yu Nan, dia selalu dibully oleh Xu Jing. Karena dia cucu Kepala Desa, tidak ada orang dewasa yang berani kepadanya. Kita juga takut padanya karena dia kuat" ucap salah seorang lainnya.


"Memang, kekuatan dibutuhkan di dunia ini. Kemampuan yang mengatur segalanya. Jika kau lemah, kau hanya akan ditindas. Tapi, jika kau menyalahgunakan kekuatan yang kau miliki untuk mem-bully orang lain, aku tidak bisa membiarkan itu!" terlihat sebuah kilatan berbahaya di mata Yun Yue, menandakan dirinya kini sedang marah.


Yun Yue berdiri di atas dahan pohon yang dia duduki dan melompat turun ke bawah. Dia mendarat tepat di depan anak-anak yang sedang ribut itu.


Mereka melihat Yun Yue yang tiba-tiba berada di sana langsung melangkah ke belakang dan tersandung kaki mereka sendiri dan terjatuh. Jantung mereka berdetak kencang karena masih terkejut.


Masing masing dari mereka mendekatkan telapak tangannya di dada kiri mereka dan mereka dapat merasakan detak jantung yang agak cepat.


Yu Nan yang mendengar suara tapak kaki yang menapak di tanah tepat di belakangnya langsung menoleh ke belakang dan dapat melihat gadis yang menurutnya cukup familier.


"Kak Qiu An..." gumam Yu Nan tanpa sadar. Dirinya masih sibuk dengan pikirannya. Yun Yue yang masih dapat mendengar gumaman Yu Nan langsung membungkuk untuk mensejajarkan tingginya dan gadis kecil yang berada di depannya.


"Maaf adik kecil, tapi namaku bukan Qiu An, jadi...jangan memanggilku dengan nama itu. Panggil saja aku Kak Yue. Aku akan memaafkan mu kali ini, lagi pula sudah sering aku mendengar orang memanggilku dengan nama itu, dan aku merasa tidak nyaman" ucap Yun Yue dengan tatapan tajamnya bak burung elang yang sedang melihat mangsanya.


"Dan, aku juga tidak mengizinkan yang kuat dengan sengaja menindas yang lemah, itu hanya akan mencemari nama baik orang yang kuat. Jadi, bocah, aku akan memberimu sedikit pelajaran supaya kau jera" tatapan Yun Yue beralih ke arah Xu Jing. Dia memberikan tatapan yang mengerikan kepada Xu Jing dan membuat bocah itu ketakutan dan berjalan mundur, menghindari tatapan dari Yun Yue.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2