
Di kediaman Pangeran Qing Fei...
"Permaisuri, ada surat dari kediaman Perdana Menteri"
"Letakkan saja. Kau boleh pergi" ucap Yun mei.
"Apa Ayah rindu padaku jadi memberiku surat ini? Tapi tidak mungkin. Kan aku sudah mengecewakannya.
Apa mungkin Ibu? Tapi, semenjak hari itu, Ibu sudah tidak peduli padaku. Lalu siapa yang mengirimnya?"
Yun mei membuka surat itu. Dia membaca isi surat itu. Matanya terbelalak kaget. Memangnya apa sih isinya?
...Isi surat......
...Hai Yun mei, kau sudah menerima surat ini? Aku hanya ingin memberitahu mu tentang Ibumu. Dia besok akan dihukum pancung di alun alun kota. Aku tidak memaksamu untuk datang karena kau mungkin masih sakit hati dengan perlakuan Ibumu hari itu. Oh ya, adikmu juga dihukum oleh Ayah. Jika ada waktu, datanglah kemari temui aku....
^^^Dari Yui^^^
"Ternyata dari si Yui itu. Apa aku terlalu berharap? Sepertinya aku harus kesana"
Yun mei pergi ke kediaman Perdana Menteri setelah menerima surat dari Yui. Yui sendiri sedang menunggu kedatangan Yun mei.
Yun telah sampai dan pergi menuju kediaman Yui. Di sana ia melihat Yui tengah duduk dan menyeruput teh.
"Sepertinya kau sedang menungguku ya" ucap Yun mei.
"Akhirnya kau datang juga" ucap Yui.
"Apa tujuanmu mengundangku kemari"
"Jangan terburu buru. Bukankah kau tidak sibuk? Kalaupun sibuk, pasti kau tidak bisa datang. Bukan begitu?"
"Aku tidak bisa berlama lama di sini"
"Apa kau begitu tidak ingin bertemu denganku? Kesan mu itu seperti sangat tidak menyukaiku. Itu tidak lah sopan, Yang Mulia Permaisuri"
"Aku ke sini hanya ingin tau kenapa kau memanggilku, bukan untuk mengobrol denganmu. Bisakah kau tidak bertele tele?"
"Apa aku terkesan begitu? Aku hanya ingin ngobrol dengan saudara sendiri, walaupun tidak sedarah. Apa tidak boleh?"
"Apa maksudmu tidak sedarah. Sepertinya Ibumu adalah wanita murahan yang menggoda pria lain selain Ayah"
"Jaga ucapanmu! Walaupun kau seorang Permaisuri Pangeran, tapi kau berada di kediaman Perdana Menteri.
Kau tetap harus mematuhi peraturan di sini. Satu hal yang perlu kau ketahui. Yang murahan itu bukan Ibuku, tapi Ibumu.
__ADS_1
Entah sudah berapa banyak pria yang dia goda. Dan satu hal yang pasti. Ibumu itu...dia...hanya memanfaatkan mu saja.
Aku sangat kasihan padamu. Sebenarnya kau baik kalau tidak dipengaruhi oleh mereka"
Yun mei tersentak kaget. Jadi selama ini dirinya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya?
Ibu yang sangat tega pada anaknya. Bila diingat ingat, Ibunya itu memang pilih kasih.
Cenderung Lin yun lebih disayang. Yun mei terlarut dalam pikirannya. Yui tersenyum, rencananya berhasil juga.
"Aku memintamu ke sini untuk mengajak kerja sama. Dan aku akan meminta Ayah supaya bisa meringankan hukuman mu" ucap Yui.
"Kerja sama? Apa kau bisa dipercaya?"
"Aku tidak menyuruhku mempercayaiku. Yang jelas kau mau atau tidak? Tapi, di dalam kerja sama harus ada kepercayaan, baru bisa berjalan dengan baik"
Yun mei memikirkan tentang untuk melakukan kerja sama dengan Yui. Itu menguntungkan, tapi harus berhati hati. Mungkin saja ini jebakan.
"Baiklah aku setuju. Tapi jangan ingkari kesepakatan kita"
Keduanya telah sepakat. Yun mei pergi ke gudang di mana Lin yun dikurung. Bukan untuk menjenguk adiknya.
Tapi ingin melihat seberapa sengsaranya orang yang telah berani memanfaatkannya.
Lin yun melihat cahaya yang masuk karena Yun mei membuka pintunya. Melihat kakaknya datang, Lin yun mengira masih ada harapan.
Tapi Yun mei tetap diam. Dia tidak berbicara apapun. Tatapannya sangat dingin, begitu menusuk.
"Kakak? Kenapa kau diam saja? Apa kau sakit?"
Yun mei tetap tidak merespon. Lin yun menjadi bingung, ada apa dengan kakaknya ini? Apa dia habis bertengkar dengan Pangeran Mahkota.
"Baguslah, aku sudah melihat keadaanmu ini. Jadi aku harus pergi"
Lin yun terkejut. Apa yang sedang kakaknya bicarakan? Dia mau membantunya atau tidak?
'Ini pasti gara gara si j*l**g Yui itu!! Dasar j*l**g!! Beraninya menghasut kakak ku!! Sekarang aku sudah tidak bisa memanfaatkannya lagi' batin Lin yun sambil mengepalkan tangannya erat erat dan memukul lantai berkali kali.
"Sepertinya aku harus meminta bantuan dari 'dia'!! Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus berkorban demi bisa balas dendam" ucap Lin yun.
Esok harinya...
Orang orang berkumpul untuk melihat hukuman yang dijatuhkan pada selir ketiga. Bisikan bisikan yang mengolok selir ketiga terdengar.
"Lihat dia. Sangat memalukan. Sekarang dia tidak punya apa apa. Bahkan akan dihukum pancung. Sungguh malang ya nasibnya"
__ADS_1
"Dulu dia sering menyombongkan harta yang dimiliknya dan bahkan sering menggoda pria kaya. Sekarang hidupnya sangat miris"
"Katanya anaknya yang bernama Lin yun itu dihukum di dalam gudang. Bahkan diberi makanan basi"
"Tidak hanya itu. Bahkan dia sering disiksa. Teriakannya terdengar begitu keras. Dia disiksa secara fisik maupun mental"
"Mereka pantas mendapatkannya. Dengan kejahatan yang mereka lakukan, bahkan dia tidak pantas untuk langsung mati, harusnya mereka disiksa sampai mati"
Yui tersenyum penuh kemenangan, akhirnya pembalasan dendam sekarang bisa tercapai.
'Sebenarnya harusnya kau disiksa sampai mati. Tapi karena hatiku baik, aku tidak akan melakukan itu.
Tapi ada Lin yun yang bisa ku siksa setiap hari. Kau bisa melihat putrimu yang menyedihkan itu' batin Yui.
Yui melihat ada dua orang di atas pohon yang tengah melihat selir ketiga akan dieksekusi.
Itu adalah Yun yue dan Ming jun. Sejak awal, mereka sudah berada di sana. Yui tersenyum dan juga dibalas Yun yue.
Hukuman dimulai. Algojo sudah siap untuk memenggal kepala selir ketiga. Kepalanya menggelinding di tanah.
Semua orang bergidik ngeri. Mereka sekarang tidak bisa menanggap remeh Yui lagi atau mungkin itu akan jadi giliran mereka.
Semua kembali ke kediaman masing masing. Perdana Menteri akan menjatuhkan hukuman pada Yun mei
"Kebetulan Yun mei ada di sini. Sekarang aku ingin menjatuhkan hukuman yang pantas untuknya" ucap Perdana Menteri.
"Ayah, aku tahu kakak bersalah. Tapi dia hanya dimanfaatkan oleh mereka. Bukankah lebih baik hukumannya diringankan?" ucap Yui.
"Benar juga. Lebih baik kau saja yang menentukan hukumannya" ucap Perdana Menteri.
"Suatu kehormatan bagiku Ayah. Hukuman untuknya adalah menulis tata krama seorang gadis sebanyak 8 kali" ucap Yui.
Semuanya mengangguk setuju. Yun mei sendiri tidak keberatan, yang penting nasibnya tidak sama seperti adiknya.
"Terima kasih telah membantuku" ucap Yun mei.
"Biasa saja. Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis loh" ucap Yui.
"Apa yang ingin kau aku lakukan?" tanya Yun mei.
"Cukup kau berpihak padaku dan jangan berkhianat. Kau akan hidup dengan tentram" ucap Yui.
......Bersambung......
__ADS_1
Happy Chinese New Year bagi yang merayakan😊
Soalnya author gak rayain😂