
Pangeran Qing Chuan merasa diikuti dan langsung menoleh ke belakang. Yui langsung bersembunyi di semak semak.
Pangeran Qing Chuan melanjutkan perjalanannya. Yui terus mengikuti kemana pun Pangeran Qing Chuan pergi.
Pangeran Qing Chuan mencoba mengecoh Yui. Yui dengan bodohnya terus mengikuti Pangeran Qing Chuan.
Yui kehilangan jejak Pangeran Qing Chuan. Tiba tiba ada seseorang yang menariknya lalu mengajaknya sembunyi dan membekap mulut Yui.
Yui tidak tau siapa itu, apakah orang itu ingin menolongnya atau punya maksud lain.
Pangeran Qing Chuan ingin mengagetkan orang yang terus mengikutinya. Tapi tidak ada siapapun.
"Aneh, tidak ada orang di sini. Mungkinkah ini hanya perasaanku saja? Ah sudahlah"
Yui merasa lega Pangeran Qing Chuan tidak menemukannya. Orang itu melepas tangannya yang membekap mulut Yui.
"Aku tidak tau siapa kau tapi terima kasih" ucap Yui tulus.
"Hanya terima kasih?" tanya orang itu sedikit kecewa. Kalau dari suaranya, itu adalah suara pria.
"Lalu apa lagi?" tanya Yui bingung.
"Apa kau tidak mengenalku?" tanya pria itu yang membuat Yui bingung.
"Ha?"
Pria itu merasa kecewa dilihat dari ekspresinya. Lalu pria itu langsung pergi meninggalkan Yui.
Tidak, sebenarnya bukan pergi. Tapi naik ke atas pohon. Yui bergumam "Pria yang aneh"
"Apa kau tidak mengingat aku? Wajar saja karena kau mengalami luka parah di kepalamu dan mungkin kau tidak akan bisa mengingatku"
Pria itu sangat kecewa. Dia senang dapat bertemu Yui tapi dia juga sedih Yui tidak ingat apapun.
Yui kembali mengikuti Pangeran Qing Chuan. Yui menggunakan jurus tembus pandang.
Itu adalah jurus yang baru dipelajari Yui. "Ternyata dia datang ke rumah bordil"
Yui masuk untuk memastikan apa yang dilakukan Qing Chuan. Dia melihat Qing Chuan tengah duduk dikelilingi para gadis cantik.
Baju mereka begitu terbuka. Yui sedikit mendekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
Mereka masuk ke kamar yang ada di atas dan Yui mengikutinya.
"Pangeran, bagaimana kabarmu?"
"Pangeran, sudah lama kau tidak kemari"
"Pangeran, apa kau akan bermalaman di sini?"
"Tentu saja gadis cantik. Aku rindu pada kalian semua. Tunggu sampai aku menikah dengan nona keluarga Zhang. Bisa dipastikan aku akan mendapatkan tahta dan aku akan mengangkat kalian sebagai selirku" ucap Qing Chuan tersenyum licik.
__ADS_1
"Wah Pangeran kau sungguh licik"
Yui tersenyum sinis. Ternyata memang seperti bayangannya.
'Heh, jika ini yang kau inginkan, mari kita bermain'
Yui melesat pergi meninggalkan rumah bordil dan menghilangkan efek jurus barunya.
Yui sudah lama tak mengunjungi Mei lian. Ya, bisa dibilang Yui merindukannya. Yui ke hutan kematian dengan ilmu peringan tubuh.
Sesampainya di sana, Yui dihadang oleh penjaga gerbang markas Lotus Hitam. Yui agak kesal, tapi wajar karena mereka tidak tahu siapa Yui.
"Kenapa kalian menghadangku?"
"Maaf nona. Kami hanya melaksanakan tugas. Nona tidak bisa masuk jika belum mendapat ijin dari Queen kami"
Untunglah Wu xian lewat dan melihat Yui tengah ribut dengan penjaga.
"Biarkan dia masuk" suara yang berat dan dingin terdengar oleh penjaga gerbang. Yui pun dipersilahkan masuk.
"Untunglah kakak ipar datang. Kalau tidak aku tidak bisa bertemu kakak ku" ucap Yui bahagia.
"Kakak ipar?" Wu xian bingung dengan perkataan Yui. Bukankah Yui tidak ingat?
"Ya, kakak ipar. Apa ada yang salah? Bukankah kau menyukai kakak ku? Kalau begitu aku pasti mendukungmu.
Aku tau kakak ku selalu bahagia saat bersamamu, ya walaupun dia jutek denganmu.
Yui bicara panjang dan lebar. Wu xian sebenarnya sangat sangat senang. Tapi ia menutupinya.
"Ekhem ekhem"
Suara itu berasal dari Mei lian. Mei lian melihat Yui dan Wu xian sedang mengobrol dan menghampiri mereka.
"Kakak ipar, sebenarnya aku tidak ingin mengganggu waktumu dengan kakak ku. Tapi aku harus membicarakan sesuatu. Aku pinjam kakak sebentar. Dadaah"
Yui melambaikan tangannya pada Wu xian. Yui menarik Kakaknya ke tempat santai. Yui sedikit hafal denah markas Lotus Hitam.
"Kakak. Aku rindu padamu, jadi aku datang ke sini. Tadi penjaga gerbang menghadangku dan ada Kakak Ipar menolongku"
"Apa kau sudah mengingatnya?"
"Walaupun aku tidak ingat, tapi aku percaya padamu. Awalnya aku mengira kau berbohong. Tapi sekarang aku percaya karena di dunia ini memang banyak hal di luar nalar"
"Aku senang kau memanggilku Kakak. Dan siapa yang kau sebut Kakak Ipar?"
"Bagaimana mungkin Kakak tidak tau?"
Pipi Mei lian merona. Yui terkikik kecil melihat wajah kakaknya memerah.
"Hihihi kakak malu ya"
__ADS_1
"Yue!! Jangan menggodaku"
Yui melamun memikirkan pria aneh yang tadi ditemuinya. Sudut bibirnya melengkung.
Mei lian merasa aneh melihat adiknya tersenyum sendiri. Jangan jangan Yui habis tersambar petir.
"Kenapa kau tersenyum sendiri? Itu menakutkan untukku"
Yui tetap tidak menjawab. Mei lian yang kesal langsung mencubit tangan Yui.
"Apa kau tidak mendengar?"
"Eh, ee..tidak. Aku baik baik saja"
"Jangan berbohong"
"Tidak kok"
Mei lian yang ingin tau, membaca isi pikiran Yui. Mei lian tersenyum. Ia sudah tau apa yang dipikirkan Yui.
'Tidak kusangka kau sudah menemui adikku secepat ini. Padahal baru kemarin aku memberitahumu' batin Mei lian.
'Pria aneh itu. Kenapa aku selalu memikirkannya? Tapi senyum manis. Aaakh kenapa aku mengatakannya?" batin Yui.
Yui menghabiskan waktu sampai sore untuk mengobrol dengan Mei lian. Sedari tadi ada seseorang yang mengawasi mereka berdua.
Itu adalah Pria aneh tadi. Pria itu selalu mengikuti kemanapun Yui pergi. Yui tidak menyadari akan hal itu.
Hari mulai gelap, Yui pulang ke kediamannya. Pria itu juga mengikutinya untuk memastikan kalau Yui aman.
Di tengah perjalanan, Yui bertemu dengan segerombolan pembunuh bayaran. Kultivasi mereka cukup tinggi.
Bahkan hampir menyamai Yui. Pertarungan sengit berlangsung. Yui kewalahan menghadapi 20 pembunuh bayaran itu.
Yui kelelahan dan tubuhnya tidak seimbang lalu terjatuh. Pria tadi langsung menahan tubuh Yui dan membaringkannya di dekat pohon.
Kita panggil saja pria itu Luo Ming jun. Ming jun melawan mereka semua hanya dengan lambaian tangan. Bisa dipastikan kalau dia sangat kuat.
Yui yang setengah sadar melihat seseorang menghampirinya hingga kesadarannya terenggut.
Ming jun menggendong Yui dan melesat dengan peringan tubuhnya. Ming jun begitu menguasai ilmu peringan tubuh.
Gerakannya sangat cepat tapi tak menimbulkan suara. Melesat seperti bayangan.
Ming jun sampai di kediaman Yui. Ming jun membaringkan Yui di kasur dengan hati hati.
Ming jun ingin pergi tapi tangan Yui menariknya mengisyaratkan untuk tidak pergi.
......Bersambung......
Sorry baru up soalnya kuota author habis🤧.
__ADS_1