
Yun mei menunduk dan menggertakkan giginya. Yui yang melihatnya tersenyum sinis.
Acara pernikahan berlangsung lancar. Kini Yun mei resmi menjadi istri sah Putra Mahkota Qing Fei.
Acara dilanjutkan dengan perjamuan. Yui menyingkap cadarnya saat akan melahap makanan.
Yui tidak peduli dengan tatapan para gadis di sana, menurut mereka Yui berlaku tidak sopan.
Bahkan ada yang mengejeknya dalam hati. Jika saja dia tau wajah asli Yui, mungkin dia akan malu sendiri nantinya.
Permaisuri Kaisar alias ibu dari Putra Mahkota Qing Fei melirik ke arah Yui. Lalu Permaisuri melirik ke arah putra keduanya.
Dia adalah Pangeran Qing Chuan. Pangeran Qing Chuan terus menatap Yui. Sepertinya dia tertarik pada Yui.
Permaisuri mengetahui itu. Jujur Permaisuri menginginkan Yui menjadi menantunya.
Perjamuan makan telah usai, sekarang telah menuju puncak acara yaitu pertunjukan bakat.
Banyak dari nona bangsawan yang menari, bernyanyi, bermain musik, dan lain lain. Semuanya telah berpartisipasi.
Yui belum juga menampilkan bakatnya. Banyak yang bertanya tanya kenapa Yui tidak menunjukkan bakatnya.
Sedangkan orang yang tidak tahu tentang keahlian Yui berpedang saat di acara Ulang Tahun Kaisar karena tidak bisa hadir, mengolok olok Yui.
Yui hanya cuek saja. Sejujurnya ia sangat malas untuk hadir. Tapi apa boleh buat, kalau tidak hadir nanti orang orang akan semakin merendahkannya.
Untuk membungkam mulut orang orang yang mengejeknya, Yui maju dan mulai membaca puisi.
...Saat kau melewati ujung jariku...
...Kehangatan menyebar di hatiku yang dingin...
...Aku hanya ingin pergi dan bersandar padanya...
...Jarak denganmu tidak akan menyempit...
...Kau tidak harus bisa menyentuhnya...
...Kau tidak harus bisa memeluk...
...Cinta yang kesepian...
...Ya aku mencintaimu seperti takdirku...
...Aku bisa merasakanmu...
...Kau bisa mencapai hatiku...
...Aku ingin menjangkau dan menahanmu...
...Aku merasa seperti aku akan lebih jauh...
...Kau tidak harus jatuh cinta...
...Aku bahkan tidak bisa menghubungimu...
...Cinta yang kesepian...
__ADS_1
...Ya, aku mencintaimu, bahkan dari kejauhan...
...aku bisa melihatmu...
...Kau tidak harus bisa menyentuhnya...
...Kau tidak harus bisa memeluk...
...Cinta yang kesepian...
...Ya aku mencintaimu seperti takdirku...
...Aku bisa merasakanmu...
...Kau bisa mencapai hatiku...
Suara tepukan tangan yang riuh terdengar setelah Yui selesai membaca puisinya. Pangeran Qing Chuan pun semakin tertarik pada Yui.
Yui langsung turun dari panggung dan duduk di tempatnya semula. Acara telah berakhir namun ada satu tambahan acara lagi.
Itu adalah rencana Permaisuri untuk menjodohkan Yui dengan Pangeran Qing Chuan.
"Perhatian semua! Akan ada acara tambahan. Mohon duduk di tempat semula masing masing" ucap kasim kepercayaan Permaisuri.
Sebelum berucap, Permaisuri menatap Yui dan tersenyum lalu mengalihkan pandangannya. Yui tidak tau arti tatapan itu dan hanya cuek saja.
"Perhatian para hadirin semua, aku selaku Permaisuri ingin menyampaikan sesuatu. Di acara tambahan ini aku ingin menjodohkan anakku Qing Chuan dengan nona Zhang Yui wei"
Semua orang terkejut dengan pengakuan Permaisuri. Bahkan para gadis juga terkejut.
Para gadis yang mengincar Putra Mahkota Qing Chuan menjadi patah hati dan menatap tajam Yui.
Yui sungguh ingin menolak, tapi bagaimanapun juga itu adalah Permaisuri. Tidak mungkin Yui bisa mengelak..
"Bagaimana nona Zhang? Apakah nona Zhang bersedia?" Permaisuri begitu antusias berharap Yui mau menerima.
Yui bingung harus menjawab apa. Di posisinya yang sekarang, tidak memungkinkan Yui melawan.
Tapi Yui ingin menikah dengan Pria yang menjadi cinta sejatinya nanti. Bagaimana caranya menolak? Itulah yang ada di pikirannya.
"Saya tentu bersedia Yang Mulia Permaisuri. Saya tidak akan mungkin bisa menolaknya"
Yui akhirnya pasrah tidak bisa menolaknya. Jika tidak, khawatirnya akan ada perselisihan.
Yui bukan mengkhawatirkan kalau Mentri Kanan akan diturunkan jabatannya karena hal ini.
Tapi karena mengkhawatirkan gegenya, selir pertama dan anaknya, juga selir kedua dan anaknya.
Pangeran Qing Chuan begitu senang mendengar jawaban dari Yui. Yui hanya bisa tersenyum pasrah.
"Baiklah. Sudah aku tentukan kalau mereka akan bertunangan minggu depan" ucap Permaisuri yang membuat Yui tersedak.
"Maaf Permaisuri. Bolehkah aku meminta waktu? Aku belum siap" tanya Yui menawar.
Permaisuri akhirnya mengizinkan. Baginya tidak masalah kalau Yui belum siap, yang penting Yui bersedia.
Acara telah selesai dan semua bubar. Yui juga telah sampai di kediamannya. Yui mencari Yin untuk membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Yin kau di mana?" ucap Yui lesu.
"Ada apa nona?" tanya Yin khawatir.
"Ada yang ingin ku bicarakan"
"Apa itu nona?"
"Menurutmu apa keputusanku tepat? Tadi di acara itu Permaisuri menjodohkanku dengan Pangeran Qing Chuan. Dan aku menerimanya. Aku takut kalau gege, ibu selir pertama dan anaknya, juga ibu selir kedua dan anaknya terluka kalau aku menolak"
Yin tau kalau nonanya sebenarnya tidak mau. Tapi apakah bisa melawan seorang Pangeran?
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu. Yui menyuruh Yin untuk membuka pintu dan melihat siapa di luar.
Yin membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang di depannya lalu membungkuk hormat.
Yin mempersilahkan orang itu untuk masuk. Ternyata dia adalah Pangeran Qing Chuan.
Pangeran Qing Chuan menepuk pundak Yui. Yui langsung menoleh ke belakang dan melihat siapa yang di belakangnya.
Yui terkejut dan langsung menunduk hormat "Maaf Pangeran, aku tidak tau kau akan kemari"
"Tidak perlu sungkan. Kau adalah tunanganku. Eh maksudku calon tunanganku. Panggil saja aku Chuan"
"Eh, Chu...Chuan?"
"Ya seperti itu. Maaf aku tidak memberitahumu dulu. Aku datang untuk mengajakmu ke pasar"
"Em maaf Pangeran tapi..."
"Ayo" Pangeran Qing Chuan langsung menarik tangan Yui.
Yui merasa sangat tidak nyaman saat berada di dekat Pangeran Qing Chuan. Entahlah Yui tidak tahu kenapa.
Yui mencoba melepas tangan Pangeran Qing Chuan tapi malah membuat genggaman tangannya semakin erat.
Mereka pergi ke kedai makan. Yui merasa canggung karena mereka cuma berdua di satu meja makan yang begitu besar.
Yui fokus memakan makanannya. Pangeran Qing Chuan menawari untuk menyuapi Yui.
"Yui, cobalah ini"
"Maaf Pangeran, eh Chuan. Aku sudah kenyang"
Sepanjang perjalanan Yui terus diam sedangkan Pangeran Qing Chuan terus menerus berbicara.
Yui hanya diam tak menanggapi Pangeran Qing Chuan. Yui pun beralasan harus mengurus urusannya.
"Chuan, aku harus pergi. Ada yang harus aku urus. Aku pergi dulu"
"Aku antar ya"
"Tidak perlu. Kau duluan saja"
Yui melenggang pergi meninggalkan Pangeran Qing Chuan sendirian. Pangeran Qing Chuan pergi menuju rumah bordil.
Yui sebenarnya tidak pergi. Ia hanya malas berada di dekat Pangeran Qing Chuan. Yui juga ingin mengawasi pergerakannya.
__ADS_1
Siapa tau Yui bisa menemukan kelemahan Qing Chuan dan bisa membatalkan pertunangan.
......Bersambung......