
Yui sudah merasa lebih baik. Yui berencana untuk datang ke tempat selir pertama.
Di sana, samar samar terdengar seperti ada yang menangis. Yui memutuskan untuk masuk.
"Salam Ibu selir pertama. Maaf aku lancang karena tidak mengetuk pintu. Aku berencana ke sini dan mendengar suara tangisan jadi aku langsung masuk" ucap Yui.
"Tidak apa apa. Duduklah" ucap selir pertama menepuk kursi di sebelah selir pertama dan Meixi.
"Ada apa? Kenapa kau menangis Meixi?" tanya Yui to the point.
"Hiks hiks. Kak Yui, aku hiks hampir saja hiks kehilangan hiks keperawananku hiks" ucap Meixi terisak.
"Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Yui yang bingung dengan situasi ini.
"Aku sedang menaiki kereta kuda lalu keretanya tiba tiba berhenti. Saat kulihat kusirnya pingsan. Dan ada para bandit yang mendekatiku. Tapi untungnya ada yang menolongku" ucap Meixi.
"Siapa?" tanya Yui yang penasaran.
Meixi langsung menjawab "Aku tidak tahu, dia seorang pria yang memakai topeng"
Yui langsung mengangguk "Baiklah jangan sedih lagi. Yang penting kau selamat kan?"
Meixi mengangguk dan mengusap air matanya. Selir pertama sangat senang anaknya berhenti menangis.
"Oh Yui kudengar kau sakit. Apa kau tidak apa apa? Anak selir ketiga itu, dia mencari masalah denganmu ya kemarin? Kau tidak terluka kan?" tanya selir pertama.
"Jadi kakak sakit? Apa kakak sudah sembuh? Si Lin yun s*a*a* itu terus mencari masalah denganmu. Aku akan memberinya pelajaran" ucap Meixi.
"Aku baik baik saja. Dan lagi aku bisa mengatasinya sendiri. Jika kau menghampirinya, dia akan membuat drama lagi dan kau akan terkena masalah" ucap Yui mengelus rambut Meixi.
Meixi mengangguk paham. Dia yakin kakaknya akan bisa mengatasi masalah sendiri.
Yui langsung pamit dan beranjak pergi. Tapi sebelum itu selir pertama memberikan sebuah kotak.
"Yui, Ibumu memberikan ini. Dia menitipkannya padaku untuk kuberikan saat kau sudah berumur 17 tahun. Dan sekarang umurmu baru 15 tahun. Tapi kurasa kau sudah siap untuk menerimanya" ucap selir pertama.
Yui menerima kotak itu. Di kamarnya, Yui melihat dengan seksama kotak itu. Yui bingung, bagaimana cara membukanya?
"Mungkin seperti kotak yang diberikan oleh dia. Aku harus meneteskan darahku"
__ADS_1
Yui menggores jarinya dan meneteskan darahnya ke kotak itu. Tetesan pertama tidak bekerja.
Tetesan kedua tidak bereaksi sama sekali. Tetesan ketiga kotak itu bersinar dan ada sebuah suara.
'Selamat, kau berhasil membukanya'
Isinya terdapat sebuah kertas dan juga ada...baju pengantin! Lengkap dengan aksesoris dan penutup kepala.
Juga ada sebuah kalung yang kuno. Tapi walaupun kuno, kalung itu bersinar dan cantik.
"Sepertinya Ibunya Yui ingin mewariskan ini untuk pernikahan putrinya yang sangat disayang. Tapi mendapat perlakuan buruk dari Ayahnya"
Yui membuka kertas itu satu demi satu. "Bagus. Inilah yang aku butuhkan!" ucap Yui.
Yui mengumpulkan bukti kejahatan selir ketiga dan anaknya lalu menyatukannya dengan kertas tadi dan menyimpannya di kotak pemberian ibunya.
Yui masuk ke ruang dimensi supaya aman dan tidak ada yang bisa menemukannya sampai waktu yang tepat.
Kebetulan Yui telah lama tidak berkultivasi lalu duduk di batu spiritual untuk berkultivasi.
Untuk saat ini author belum menampakkan kultivasi dari keduanya. Karena author mau ralat tingkatan kultivasinya.
Boom!!
Tunggu!! Ada yang kurang, tapi apa? Oh ya. Xiao dan Fenghuang!! Yui hampir saja melupakannya.
Yui memanggil nama mereka dan mereka pun muncul dengan ekspresi yang cemberut tentunya.
"Xiao!! Fenghuang!! Dimana kalian? Apakah tidak rindu padaku?" ucap Yui memanggil nama mereka.
"Kami di sini" ucap mereka berdua serentak.
Yui melihat wajah cemberut mereka dan tertawa canggung. "Kalian berdua kenapa menatapku seperti itu?"
"Pikir saja sendiri" ucap mereka kompak dan memalingkan wajah.
"Hehe maaf aku jarang ke sini. Kalian tau kan keadaanku ini? Ayolah jangan marah. Aku akan melakukan apa yang kalian inginkan" ucap Yui sambil tersenyum dua jari.
"Baiklah kalau begitu bawa kami keluar bersamamu. Kami sangat bosan di sini" ucap Fenghuang.
__ADS_1
"Tapi dengan wujud kalian ini akan membuat semua geger. Bagaimana aku bisa membawa kalian?" tanya Yui.
Sebenarnya itu adalah triknya supaya Fenghuang dan Xiao melupakan niat mereka.
"Kau pikir kami bodoh? Kami bisa berubah sesuai yang kami mau" kini giliran Xiao yang menjawab.
"Hah, baiklah baiklah. Aku tidak bisa menolak" ucap Yui menghela nafas menyerah.
Yui pun keluar bersama Xiao dan Fenghuang. Xiao menjadi tusuk konde dan Fenghuang menjadi gelang.
Yui pergi ke pasar untuk merefresh kan pikirannya. Di zaman modern, Yui juga sering pergi ke pasar ikut dengan asisten rumahnya.
Di pasar, Yui melihat para bandit yang sedang memukul seorang kakek yang pakaiannya compang camping.
"Kami sudah memperingati mu kakek tua, lebih baik kau serahkan harta benda mu sebelum kami menyiksamu dengan lebih kejam!!" ucap ketua bandit itu.
"Aku tidak punya apa apa. Aku hanyalah orang tua yang miskin. apa yang bisa kuberi?" ucap kakak itu dengan suara lemah.
"Masih tidak mau memberi?" ucap ketua bandit hampir memukul kakek itu dengan balok kayu. Orang orang di sana berteriak histeris dan menutup matanya.
Tapi Yui menghentikannya "Hei, jika ingin bertarung. Carilah lawan yang sepadan. Jangan jadi pengecut dengan memukul kakek itu!!" ucap Yui tegas.
Semua orang mulai membuka matanya. Mereka melihat seorang gadis cantik berdiri dengan berani menghadapi para bandit itu.
"Heh, ternyata gadis kecil. Lebih baik kau pergi. Sebelum kami membunuhmu. Pulanglah dan bersembunyi lah di balik Ibumu" ucap para bandit tertawa terbahak bahak.
"Ternyata kalian masih tidak mendengarku juga. Maaf sekali tapi sepertinya waktu kalian telah habis" setelah mengucapkan itu, Yui berlari kencang dan langsung menebas kepala beberapa bandit.
Melihat teman dan anak buahnya tewas, mereka marah dan mengepung Yui. Yui sengaja membuat aray supaya tidak ada yang bisa mendengar dan melihat apa yang terjadi.
Satu persatu dari mereka menyerang, tapi Yui dengan sigap menghindar dan menebas kepala mereka.
Sekarang tinggal ketua mereka yang tersisa. Ketua kelompok itu berlutut dan mengangkat tangannya.
"Aku menyerah. Aku menyerah" ucap ketua bandit itu.
"Apa kau sungguh sungguh ingin berubah? Tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya? ucap Yui menginterogasi.
"Aku...aku akan berubah. Aku tidak akan melakukan hal ini untuk yang kedua kalinya" ucap bandit itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku memberimu kesempatan kedua. Tapi awas saja kalau kau mengingkarinya, kau akan dihukum oleh langit. Maka kau harus bersumpah!!" ucap Yui tegas.
Bandit itu terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang memikirkannya matang matang. Kalau sampai dia ingkar, dia akan dihukum langit.