
"Wah, Kak Qiu An tahu banyak, ya!" ucap anak-anak itu terkagum-kagum. Qiu An hanya membalasnya dengan sebuah senyuman hangat.
Qiu An duduk untuk menikmati sunset. Anak-anak itu juga ikut duduk di samping Qiu An dan mengerubunginya. Mereka juga ikut menikmati sunset itu.
Di tengah keramaian, seorang pria menerobos kerumunan itu dengan berlari cepat. Dia sepertinya sedang tergesa-gesa. Ekspresinya terlihat sangat panik.
Pria itu menuju rumah Kepala Desa. Dia mengetuk pintu dengan panik. "Masuk!" ucap suara seorang pria dari dalam rumah itu. Kentara kalau pria di dalam merasa terganggu oleh pria itu.
Pria itu dengan cepat membuka pintu itu setelah mendengar suara itu dan berlutut di hadapan seorang pria paruh baya. "Tuan Kepala Desa, maaf mengganggu anda. Tapi, ada sesuatu yang harus saya laporkan!" ucap pria itu dengan gugup.
"Ada apa?! Cepat katakan, Chen!" ucap Kepala Desa dengan tegas tidak mau mendengar basa-basi pria bernama Chen itu. "T-tuan, saya mendapatkan laporan dari ketua keamanan kalau Rubah Ekor Sembilan mulai bergerak. Beliau takut kalau Rubah Ekor Sembilan itu akan bergerak dan menghancurkan desa ini" ucap Chen dengan keringat bercucuran.
Wajah Kepala Desa menggelap. Dia menahan amarahnya setelah mendengar berita dari Chen. "Yang terpenting sekarang adalah keselamatan para warga desa. Segera lakukan evakuasi warga desa!" perintah Kepala Desa dengan tegas.
"Baik!" ucap Chen. Dia langsung berdiri dan menghormat pada Kepala Desa dan segera pergi ke sebuah menara dengan cepat. Sesampainya di menara, Cehen langsung menaiki tangga untuk sampai di puncak menara yang cukup tinggi itu.
'Tong! Tong! Tong!'
Chen memukul lonceng raksasa dengan sebuah balok kayu yang terikat dan tergantung di sebelah lonceng raksasa itu. Para warga desa yang mendengar suara lonceng itu langsung bergegas menuju menara dan berkumpul.
Qiu An dan anak-anak itu yang juga mendengarnya langsung berdiri dan ikut berkumpul ke menara. "Kak An, apa yang terjadi?" tanya salah satu anak. "Kakak juga tidak tahu, kita dengarkan saja ya" jawabnya.
"Hei, apa kau tahu mengapa kita semua disuruh untuk berkumpul di sini?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu mengenai hal itu. Kira-kira ada apa ya? Apakah ada sesuatu yang buruk?"
"Kau jangan mengatakan hal itu! Bagaimana jika ini benar-benar adalah hal buruk? Ucapanmu bisa menjadi kenyataan!
"Ya, maaf maaf. Aku hanya asal menebak"
Suara bisik-bisik warga desa menanyakan alasan mengala mereka semua dikumpulkan di sini, namun mereka hanya bisa bertanya tanpa bisa tahu jawabannya.
"Mohon untuk semua warga desa untuk tenang!" ucap Chen berusaha menenangkan kerumunan itu sebelum dirinya berbicara. Para warga desa langsung diam dan tidak mengatakan apapun. Chen kembali melanjytkan, "Kepala Desa menyuruhku untuk mengumpulkan kalian semua, karena beliau ingin mengevakuasi semua warga desa ke tempat yang lebih aman! Jadi, mohon kerjasamanya!"
Para warga desa menjadi ricuh setelah mendengar pengumuman dari Chen. Mereka semua menjadi panik. 'Mengevakuasi seluruh warga? Apa Rubah Ekor Sembilan sudah mulai bergerak? Aku harus bertindak!' batin Qiu An dengan wajah serius.
Nenek Zhou yang melihat Qiu An di tengah kerumunan langsung menghampirinya dan menepuk pundaknya. "Qiu An, apa kau ingin menghentikan Rubah itu dan menyegelnya kembali?" tanya Nenek Zhou dengan ekspresi yang sedikit khawatir.
"Tidak boleh! Kau tidak boleh melawannya! Apa kau lupa kalau itu yang membuat..." ucapan Nenek Zhou terhenti. Dia tidak sadar dengan arah pembicaraannya. "...pokoknya kau tidak boleh pergi!" lanjutnya.
"Tapi..." Qiu An membantah dan tetap ingin pergi. "Apa kau ingin membantahku?!" ucap Nenek Zhou yang membuat Qiu An terdiam. Qiu An menuruti perintah Neneknya. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi.
Nenek Zhou tersenyum sembari mengelus rambut Qiu An. Para warga desa mengikuti petugas yang ditugaskan untuk mengiringi para warga desa untuk menuju tempat evakuasi.
Mereka pergi menuju bukit yang cukup jauh dari Desa Fangxi. Qiu An menoleh ke arah belakang sebentar dan langsung menoleh ke depan dan mengikuti rombongan. Mereka telah tiba di sebuah bukit dan melihat banyak tenda yang ada di sana.
Ternyata semua telah disiapkan. Qiu An masih memikirkan nasib desanya. Dia merasa tidak tenang, tapi Neneknya tidak mengizinkan dirinya.
__ADS_1
Qiu An hanya pasrah. Dia mengumpulkan ranting ranting kering untuk digunakan membuat api unggun. Qiu An menata ranting ranting itu dan membuat api untuk menyalakannya.
Telapak tangannya terarah pada api unggun itu untuk menghangatkan dirinya dari dinginnya malam. Seorang pria dengan mata berwarna hitam pekat dengan paras yang cukup tampan mendekat ke arah Qiu An dan duduk di sampingnya.
Qiu An tidak menoleh untuk melihat siapa yang datang, dia hanya melirik ke arah samping dan langsung tahu siapa orangnya. "Kau tidak terkejut?" tanya pria itu. "Tidak sama sekali" jawab Qiu An.
"Sayang sekali, padahal aku ingin membuatmu terkejut dengan kedatanganku" ucap pria itu kecewa. "Kau sudah sering seperti itu. Apa kau tidak kesal karena selalu diabaikan olehku, Tai'er?" tanya Qiu An kali ini menoleh pada pria yang dipanggilnya Tai'er.
Wajah Tai'er memerah saat berhadapan langsung dengan Qiu An. Wajah mereka cukup dekat. Qiu An kini sedang menatapnya dengan wajah serius.
"Dor!!!" dua orang gadis yang sedari tadi melihat mereka berdua dari balik tenda mengejutkan Qiu An dan Tai'er. Tai'er terkejut dan menoleh pada dua gadis tadi. Sedangkan Qiu An hanya menoleh dan tidak menunjukkan ekspresi terkejut.
"Qiu An, kenapa kau sama sekali tidak terkejut?" gerutu salah satu gadis. "Kalian, Hua Fei dan Lian Xin, untuk apa kemari?" tanya Qiu An cuek.
"Hei, jangan begitu lah, kami hanya ingin mencairkan suasana kalian yang canggung itu. Seharusnya kau berterimakasih pada kami, Tai'er. Karena kami berdua, kau tidak canggung menghadapi Qiu An yang sedingin es ini. Apa kalian berdua pacaran? Canggung sekali" ucap Hua Fei panjang lebar, namun Qiu An sama sekali tidak menanggapinya. Ternyata Hua Fei dulunya cerewet juga.
"Tidak!" bantah Qiu An dan Tai'er secara bersamaan. "Lihat! Kalian saja menjawabnya dengan bersama-sama, mungkin kalian jodoh!" ucap Lian Xin bersemangat. Wajah Tai'er sedikit memerah dan Qiu An menatap tajam pada Lian Xin.
"Ops" Lian Xin dan Hua Fei menutup mulut mereka. Qiu An hamya menatap kosong. Orangnya berada di sana, tapi pikirannya sedang memikirkan nasib desanya.
...🍃🍃🍃...
Author: Ini aq crazy up deh. Anggep aja sebagai permintaan maaf karena udah lama gak update update. Jangan lupa like vote dan rate nya, and jangan lupa komen ya...
__ADS_1