
Yui mempunya sebuah ide di otaknya. Yui tersenyum licik ke burung phoenix. Dia mencoba untuk mensejajarkan tinggi dengan burung phoenix itu.
Yui menggigit jarinya hingga berdarah dan menempelkan jarinya itu di dahi burung phoenix. Ya, dia mencoba untuk melakukan kontrak hidup dan mati.
Tentu burung phoenix tidak bisa menyerang Yui karena sekarang Yui telah menjadi tuannya. Jadi Yui bisa memenangkan ilusi kali ini dan menuju tahap selanjutnya. Dan burung phoenix itu masuk ke ruang dimensi Yui.
Ujian ketiga kali ini adalah menyerang diri sendiri. Jika kita menyerang, maka lawan juga menyerang. Jika kita melukai lawan, maka lawan juga akan melukai kita.
Yui mulai menyerang tiruan dirinya tapi dirinya juga merasakan sakit karena tiruannya itu melukai dirinya juga. Yui berpikir keras, bagaimana dirinya bisa memenangkan ujian kali ini?
Saat di dunia ilusi, bukan hanya kekuatan yang diperlukan, tapi kita juga harus bisa menggunakan otak untuk berpikir.
Yui kelelahan dan memutuskan duduk. Dan tiruan itu ikut duduk. Saat Yui berdiri, tiruan itu ikut berdiri. Tiruan itu juga meniru semua gerakan yang dilakukan Yui.
Yui mendapatkan sebuah cara untuk bisa menyelesaikan ini. Yui mengambil sebuah pisau. Entah kenapa ada pisau di sana. Tiruan itu juga mengambil pisau.
Yui menusuk jantungnya dengan pisau dan ambruk. Tiruan Yui juga melakukan hal yang sama. Ia menusuk jantungnya dengan pisau.
Karena itu, Yui bisa memenangkan ujian kali ini. Yui bangun dan tersenyum. Rencananya telah berhasil. Kenapa Yui belum mati padahal dia telah menusuk jantungnya menggunakan pisau?
Itu karena Yui hanya berpura pura menusuk jantungnya, padahal dia hanya menempelkan ujung pisau di dada kirinya atau lebih tepatnya jantung.
Jadi tiruan Yui mengira kalau Yui menusuk jantungnya padahal tidak. Kini ia telah sampai di ujian keempat. Ujian ini paling sulit dari yang lain.
Di sana, Yui melihat kedua orang tuanya dan kakaknya tengah tersenyum pada Yui. Tak terasa Yui menitihkan air matanya. Yui berlari ingin memeluk keluarganya itu.
Yui berhenti. Ia teringat ini hanya ilusi. Walaupun hanya ilusi, tetap saja itu terasa nyata. Yui ingin sekali memeluk mereka. Tapi ia tidak bisa.
Jika Yui memeluk mereka, maka Yui akan gagal. Yui memikirkan bagaimana caranya supaya ia bisa menyelesaikan semua ini dan tidak membuatnya sakit karena rasa rindu yang tak tertahan.
Lalu suara peri kecil itu menggema di telinga Yui "Jika ingin menyelesaikannya, maka kau harus bisa menyakiti mereka. Ambil senjata apa saja yang kau inginkan"
Yui tak sanggup jika harus menyakiti mereka. Sekarang Yui berada dalam dilema. Yui memantapkan hatinya untuk bisa melakukan ujian terakhir ini. Tiruan keluarganya itu berkata
"Yui ini Ibu, apa kau tega akan membunuh Ibu?"
__ADS_1
"Yui, apa kau benar benar ingin membunuh Ayah?"
"Adik kecil, aku rindu bermain bersamamu. Dan sekarang kau ingin membunuhku?"
"Maaf Ayah, Ibu, Kakak, aku tidak punya pilihan lain"
Bisa dibilang mereka hanya tiruan, tapi walau hanya tiruan tetap saja Yui sangat sulit untuk menghancurkannya.
Yui mengambil sebuah pistol dan menembak mereka tepat di jantung. Tiruan itu akhirnya hancur. Yui memejamkan matanya. Air matanya mengalir deras.
Cahaya mengelilingi tubuh Yui dan kini Yui telah berada di tempat sebelumnya. Di sana, ada peri kecil yang menunggu Yui. Peri kecil itu khawatir sekaligus lega.
"Syukurlah kau bisa menyelesaikan semua ujian itu"
"Tentu saja. Memangnya kalau tidak bisa bagaimana?"
"Em itu eh jika kau tidak bisa menyelesaikannya, kau tidak bisa kembali. Dan lagi jiwamu akan diambil dan kau tidak bisa bereinkarnasi"
"APA!! Lalu kenapa kau menyuruhku?! Bagaimana jika aku gagal?!"
"Maaf. Tapi kemungkinan itu hanya 1%. Aku yakin kau adalah 'reinkarnasinya'. Jadi adanya ujian itu untuk meyakinkan bahwa kau benar benar 'reinkarnasinya' "
"Tentu ada. Kau akan mendapat pedang ini"
Peri kecil itu menyerahkan pedang dengan ukiran yang begitu rumit.
"Hanya ini? Apa hebatnya pedang ini"
"Tentu saja ini hebat. Kau pikir pedang macam apa ini?"
"Kalau begitu, apa kehebatannya?"
"Kehebatan pedang ini adalah, pedang ini bisa berubah menjadi senjata lain. Tapi itu hanya bisa merubah bentuknya, tidak dengan fungsinya.
Pedang ini punya tiga elemen, yaitu air, api, dan angin. Kau harus mempelajari teknik pedang dengan elemennya. Kau juga harus meningkatkan level pedang itu.
__ADS_1
Kau bisa menaikkan pedang itu dengan kemampuanmu. Semakin kau memperdalam teknik pedangmu, maka levelmu juga akan bertambah"
Yui mengangguk tanda kalau dia mengerti. Kini Yui makin semangat dengan dunia fantasi ini. Yui meninggalkan goa dan pergi kembali ke kediaman.
Yui telah sampai. Ia masuk melalui jendela kamar yang lumayan besar. Untunglah tidak ada yang datang karena mereka berpikir kalau mereka harus memberi Yui ruang untuk Yui. Jadi mereka tidak ada yang tau kalau Yui pergi.
Yui pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air untuk berendam. Yui memikirkan tentang ilusi terakhirnya. Yui memikirkan keluarganya. Bagaimana keadaan mereka? Apa kini Yui telah tiada?
Yui segera tersadar dan menyudahi mandinya. Yui memakai hanfu putih agak transparan. Yui memang selalu memakai itu saat akan tidur.
Yui kini telah larut dalam mimpi. Keesokan harinya Yui telah mandi dan memakai hanfu. Yin juga sudah memasak untuk Yui. Kini mereka berdua sedang makan.
Yin sedari tadi diam. Ia tau nonanya itu sedang dalam mood yang buruk. Ia tak mau menambah mood Yui menjadi lebih buruk.
Setelah selesai, Yin segera merapikan semua peralatan makan, ia pergi supaya Yui bisa meredakan amarah yang masih ada dalam dirinya karena kejadian kemarin.
Yui berjalan ke taman dan bertemu dengan Lin yun, anak kedua dari selir ketiga.
"Wah wah wah lihat siapa yang datang kemari. Dan ternyata hanyalah sampah tak berguna, aib bagi keluarga kita"
Yui hanya tersenyum sinis, ia tak sabar bermain main dengan selir ketiga dan anaknya.
"Heh, kau anggap aku sampah. Lalu jika kau hanya mempermalukan keluarga. Memakai hanfu yang terbuka dan tidak tahu malunya kau pergi dengan itu. Apakah ini mencerminkan seorang bangsawan yang bermartabat?"
Lin yun geram pada Yui sekaligus malu. Ia ingin sekali membalas Yui.
"Dasar j*l**g!! Kau sama saja dengan ibumu!! Sama sama j*l**g!!"
Mendengar nama Ibu Yui disebut j*l**g, Yui geram. Entah mengapa ia merasa begitu marah. Plak. Sebuah tamparan mengenai wajah mulus Lin yun. Yui yang marah langsung menampar Lin yun.
"J*l**g kok manggil j*l**g sih? Bukankah itu kau yang j*l**g? Dan satu lagi, jangan pernah menjelek jelekkan Ibuku!! Atau kau akan tau akibatnya"
...Halo nih lanjutannya...
...Makasih buat kalian yang udah mau baca novelku yang masih belum sempurna...
__ADS_1
...Walaupun gitu aku tetep semangat berkat kalian yang dukung aku...
...Gitu aja bye bye......