
Qiu An langsung berlari untuk mengambil pedang itu, namun Rubah Ekor Sembilan menghalangi. Rubah itu memukul tanah dan menghasilkan suara dentuman yang keras.
Para petugas keamanan Desa Fangxi yang mendengar suara dentuman itu langsung mempercepat pergerakan mereka. Qiu An langsung melompat dan berduri di dahan pohon yang cukup kuat untuk menahan berat tubuhnya.
"Heh, kau pikir manusia sepertimu dapat mengalahkan diriku? Lucu sekali!" ejek Rubah Ekor Sembilan. Qiu An tidak mempedulikan ejekan dari Rubah Ekor Sembilan dan hanya memasang muka datar namun dingin. Hal itu membuat Rubah Ekor Sembilan marah karena merasa diabaikan oleh Qiu An.
"Berani sekali kau manusia rendahan mengacuhkan aku?! Aku akan memberimu pelajaran!" ucap Rubah Ekor Sembilan geram. Dia bersiap untuk mencabik-cabik Qiu An.
Matanya yang tadinya normal berubah menjadi merah. Aura hitam yang kuat mengelilingi Rubah Ekor Sembilan. Tubuhnya juga membesar dan 2x lipat lebih besar dari yang sebelumnya.
Qiu An mendongak ke atas untuk dapat melihat Rubah Ekor Sembilan. Dia menatapnya dengan dingin dan tanpa rasa takut. "Jadi kau masih belum menyerah juga setelah melihat rupa ku yang sekarang? Tidak mengapa. Kau pasti akan takut setelah melihat kekuatanku yang sekarang!" ucap Rubah Ekor Sembilan.
Suaranya menggema di seluruh hutan itu. Para hewan dan spirit beast tingkat rendah yang berada di sana langsung lari keluar dari hutan itu setelah mendengar suaranya.
Qiu An memasang wajah yang lebih dingin dan menatap pedangnya yang berada jauh. Jari-jarinya seperti mengeluarkan benang, namun itu jauh lebih besar dari benang dan transparan.
Benang itu perlahan memanjang dan bergerak menuju pedang milik Qiu An. "Aku rasa kekuatanmu biasa-biasa saja. Memangnya apa hebatnya kekuatanmu itu?" ucap Qiu An sengaja ingin memprovokasi Rubah Ekor Sembilan untuk mengulur waktu sampai benang itu dapat melilit pedang Qiu An.
__ADS_1
"Heh, kau pikir aku tidak tahu rencana mu, hah?! Aku tahu kau sengaja mengulur waktu..." ucapan Rubah Ekor Sembilan membuat Qiu An terkejut. 'Jadi, dia tahu rencana ku?!" pekik Qiu An dalam hatinya. "...kau sengaja mengulur waktu supaya aku tidak langsung menghabisi dirimu, bukan?!" lanjut Rubah Ekor Sembilan dengan percaya diri.
'Fiuh, kukira dia tahu rencana ku. Ternyata, dia tidak tahu!' batin Qiu An bernafas lega. "Hahaha, kau pikir aku akan melakukan itu? Kau sedang melawak ya! Mana mungkin!" ucap Qiu An berpura-pura seperti sedang menutupi sesuatu.
Benang dari jari Qiu An telah menyentuh pedangnya dan tinggal sedikit lagi untuk melilit pedang itu. Qiu An menggerakkan jarinya supaya benang itu lebih cepat untuk melilit pedangnya.
Rubah Ekor Sembilan merasa ada yang salah dengan Qiu An. Dia melihat ada energi spiritual keluar dari jari-jari Qiu An. Dia mengikuti pandangan Qiu An yang sedang menatap pedangnya.
"Jadi kau sedang mencari cara untuk mengambil pedang ini? Sebelum itu, aku akan mematahkan pedang itu! Hahaha!" ucap Rubah Ekor Sembilan. Tangannya hendak menyentuh pedang itu, namun dia melihat energi spiritual mengikat pedang itu.
"Apa?! Jadi kau...!" ucapan Rubah Ekor Sembilan terpotong. Belum sempat dirinya bereaksi, Qiu An langsung menarik pedang itu. Pedang itu melesat cepat dan menggores pipi Rubah Ekor Sembilan.
Qiu An berlari ke satu pohon ke pohon lainnya seperti berjalan di batang pohon dengan posisi 90°. Dia mengarahkan pedangnya dan menggores-gores Rubah Ekor Sembilan di bagian yang dapat dia jangkau.
"Beraninya kau menggores-gores tubuhku?! Rasakan akibatnya!" ucap Rubah Ekor Sembilan dengan geram sambil membuka mulutnya lebar-lebar dengan kepala menengadah ke atas. Sebuah energi terkumpul menjadi berbentuk bola dan terus berkumpul hingga membesar.
'Apa itu adalah kartu AS nya? Sepertinya aku begitu hebat sampai-sampai Rubah Ekor Sembilan menggunakan kekuatannya yang sebenarnya' batin Qiu An dengan sudut bibirnya terangkat. Dia merasa cukup puas sampai-sampai membanggakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Pandangan Rubah Ekor Sembilan lurus. Dia mengarahkan bola energi yang terkumpul ke arah Qiu An sambil menatap tajam dengan mata merahnya.
Dia melepaskan bola energi itu dan bola energi melesat ke arah Qiu An dengan cepat. Qiu An dengan posisi sudah siap menanti kedatangan bola energi itu.
Dia dengan cepat melompat ke dahan pohon yang berada di atasnya saat bola energi itu hampir mengenainya. Bola energi itu mengenai pohon di depannya dan membuat pohon itu langsung hangus dengan asap yang keluar dari abu itu.
Bola energi itu masih melesat dengan cepat dan menabrak pohon di belakang pohon yang sekarang sudah menjadi abu. Bola energi itu semakin mengecil setelah menabrak banyak pohon.
Qiu An dapat melihat bahwa pohon yang tadinya berada di belakangnya sekarang sudah hangus menjadi abu. 'Apakah kekuatannya sekuat ini?! Tidak mungkin bukan kalau aku bisa memenangkan pertarungan ini?! Sepertinya hanya ada satu cara! Aku harus memakai cara terakhir!' batin Qiu An diam-diam mengagumi kekuatan Rubah Ekor Sembilan.
Pandangannya kini berubah menjadi serius dan tidak lagi main-main seperti tadi. Mata hitam pekatnya terlihat sedang mengintimidasi makhluk dengan mata berwarna merah pekat di depannya.
"Heh, kau sudah tahu kekuatanku, bukan? Sekarang, kau tidak akan dapat mengalahkan aku!" ucap Rubah Ekor Sembilan dengan geramnya. Qiu An memegang erat pedangnya.
Di tengah-tengah itu, ada seekor Rubah Ekor Sembilan namun berbadan kecil sedang mencoba untuk menghalangi. Qiu An yang ingin turun mengurungkan niatnya dan bersiaga.
Dia bingung dengan apa yang dilakukan Rubah kecil itu. Kenapa sepertinya dia sedang mencoba untuk menghalangi? Benak Qiu An terus berputar, pikirannya sedang mencoba untuk mencari jawabannya, namun dia tidak menemukan jawaban yang tepat.
__ADS_1
'Apa rubah kecil ini tau rencana ku, makanya dia mencoba untuk menghalangi supaya Rubah Ekor Sembilan tidak melawan dan aku tidak perlu memakai cara terakhir?' batin Qiu An. "Jangan lagi! Berhenti sekarang! Apa kau lupa tujuan utamamu?! Kenapa kau mau menghabisi orang yang tidak ada sangkut pautnya?!" ucap rubah itu yang telah berubah wujud menjadi anak kecil.
"Tidak ada sangkut pautnya?! Kau tahu, dia adalah orang yang berada di daerah yang sama dengan 'manusia itu'! Lalu kau bilang tidak ada sangkut pautnya?! Jangan menghalangi aku! Minggir, atau kau juga tidak akan selamat!" bentak Rubah Ekor Sembilan dengan geram. Namun, rubah kecil itu tidak takut dengan tatapan yang diarahkan kepadanya.