
Di pagi harinya, Yin datang ke kamar Yui untuk membangunkannya. Biasanya Yui belum bangun di pagi hari begini.
Ternyata memang benar, saat membuka pintu, Yui terlihat masih tidur dan tengah bergelung dengan selimut.
"Nona, ayo bangun. Ini sudah pagi nona. Nona ayo bangun" ucap Yin sambil membalikkan tubuh Yui yang membelakanginya.
Wajah Yui terlihat pucat. Dia juga menggigil. Yin meraba kening Yui untuk memastikan apakah Yui sakit atau tidak.
Saat meraba keningnya, Yin terkejut. Keningnya sangat panas. Yin buru buru mengambil air panas dan kain untuk menurunkan panasnya.
Yin dengan sabar mengurus Yui yang tengah demam. Yin pergi ke dapur untuk membuatkan bubur.
Sedari tadi Yui terus saja mengigau. Ming jun yang mengetahui Yui sakit, masuk ke kamar melalui jendela.
Ming jun mengusap lembut rambut Yui. Yin telah selesai membuat bubur dan kembali ke kamar untuk diberikan kepada Yui.
Yin terkejut ketika melihat seorang pria tengah duduk di samping ranjang Yui. Ming jun mengetahui keberadaan Yin dan meminta bubur yang ada di tangannya.
"Bubur itu, berikan padaku. Biar aku saja" ucap Ming jun.
"Baiklah, tapi...kau siapa?" tanya Yin. Yin hanya waspada, siapa tau dia ada niat jahat.
"Tidak perlu khawatir. Dia mengenalku. Hanya saja...dia tidak mengingatku" ucap Ming jun sendu.
Yin pun memberikan mangkuk itu dan pergi. Tidak, bukan pergi. Tapi bersembunyi untuk mengintip.
Yin hanya ingin memastikan kalau nonanya akan aman. Ming jun membangunkan Yui.
Yui membuka matanya dan melihat seorang pria di sampingnya. Ming jun membantu Yui untuk duduk di ranjangnya.
"Siapa kau?" tanya Yui dengan suara parau.
"Kau bahkan lupa kita pernah bertemu" ucap Ming jun tersenyum.
Yui memperhatikan dengan seksama wajah Ming jun. 'Ternyata kalau dilihat lihat, wajahnya tampan juga' batin Yui.
"Apa sudah selesai memandangi wajahku" tanya Ming jun menggoda Yui.
"Siapa yang memandangi wajahmu?" ucap Yui memalingkan wajahnya. Kini wajahnya sudah merah merona.
Ming jun meraih wajah Yui supaya mereka bertatapan.
"Apa yang kau lakukan? Memangnya siapa yang mau menatap wajahmu?" ucap Yui mengelak.
"Sudahlah, tidak perlu disembunyikan. Aku sudah melihatnya" ucap Ming jun yang membuat Yui semakin malu.
__ADS_1
Yin yang melihatnya langsung cekikikan 'Nona, sepertinya kau sudah mengambil hati seorang pria' batin Yin.
"Oh iya. Kau sakit jadi harus makan supaya cepat sembuh. Akan akan menyuapi mu bubur. Buka mulutmu"
"Kau pikir aku anak kecil? Aku bisa sendiri. Cepat berikan buburnya" ucap Yui yang berusaha merebut bubur.
Pertarungan kecil pun terjadi. Yui terus mencoba mengambil bubur itu, tapi Ming jun selalu saja bisa menghindar.
'Kenapa hanya mengambil bubur susah sekali sih' gerutu Yui dalam hati.
Yui yang kurang hati hati terjatuh di atas tubuh Ming jun. Mata mereka saling beradu pandang. Untunglah buburnya tidak tumpah.
Beberapa saat mereka beradu pandang dan mulai tersadar.
"Sampai kapan kau akan di atas tubuhku? Apa kau ingin menggodaku?" ucap Ming jun yang membuat Yui langsung beranjak dari tubuhnya.
"Siapa yang menggodamu? Tidak ada tuh" ucap Yui ketus.
Yui akhirnya menyerah dan disuapi Ming jun. Setelah Yui tidur, Ming jun beranjak pergi.
Di malam harinya, panas Yui sudah turun. Walaupun masih agak lemah. Yui tidur menggunakan selimut tebal.
Entahlah, malam ini cuacanya begitu dingin. Di pagi harinya terdengar suara berisik.
Yui yang terusik menjadi bangun dan kesal. Yui memanggil Yin tapi tidak dijawab. Setelah panggilan ke tiga, Yin akhirnya muncul.
"Kenapa ribut sekali sih? Ada apa?"
"Saya juga tidak tau nona"
Tiba tiba pintu didobrak. Terlihat Menteri Kanan yang sedang emosi. Entah apa yang membuatnya marah.
"Yui!! Sekarang kau mulai berani ya!!"
"Apa maksudmu Menteri Kanan yang terhormat?" ucap Yui yang sengaja dilembut lembutkan. Padahal dia sangat muak.
"Masih tidak mengakui kesalahan?!!"
"Sudahlah Ayah, itu hanya perhiasan. Aku bisa membelinya lagi. Mungkin Kakak tidak mempunyai perhiasan yang sama denganku, jadi dia mencurinya" ucap Lin yun dengan air mata buayanya.
'Perhiasan? Jadi aku dituduh mencuri perhiasan? Aku tidak sudi mencuri darinya. Bahkan aku punya yang lebih bagus" batin Yui.
"Jadi anda menuduh saya mencuri perhiasan anak kesayangan anda? Lalu, apa anda punya bukti?" ucap Yui.
"Geledah semuanya. Jangan sisakan satu inci pun" perintah Perdana Menteri.
__ADS_1
"Saya menemukan perhiasan di lemari ini" ucap salah satu kasim.
"Sekarang kau mau mengelak lagi?!"
"Bagaimana mungkin aku mencuri? Bahkan aku saja kemarin sakit. Kalau tidak percaya, panggil saja tabib yang mengobatiku" ucap Yui.
...Flashback...
"Yin, tolong panggilkan tabib yang terkenal di kota ini" ucap Yui.
"Untuk apa nona memanggilnya ke sini?" tanya Yin penasaran.
"Aku merasa kalau besok akan terjadi sesuatu. Jadi hanya untuk berjaga jaga saja" ucap Yui.
Flashback End
Tabib itu telah datang diantar oleh kasim. Kita panggil saja Tabib Cheng. Tabib Cheng bertanya kenapa dia dibawa kesini.
"Mohon maaf sebelumnya. Kenapa Tuan Perdana Menteri memanggil saya kemari? tanya Tabib Cheng.
"Tabib Cheng, aku ingin bertanya. Apakah benar kemarin Tabib Cheng datang kemari? tanya Perdana Menteri.
"Memang benar kemarin saya datang kemari. Kemarin nona Zhang demam tinggi. Pelayan pribadinya yang menyuruhku datang" jelas Tabib Cheng.
'Sepertinya kali ini kau akan selamat. Kau pikir aku akan membiarkanmu?' batin Lin yun.
"Apakah Tabib Cheng dibayar untuk membohongi kami? Memang berapa harga yang dia bayar?" ucap Lin yun yang membuat Tabib Cheng merasa direndahkan.
"Apakah nona Lin yun meragukan kemampuan saya? Baru kali ini ada orang yang meragukan saya" ucap Tabib Cheng.
"Tidak Tabib Cheng. Tidak. Anakku ini masih kecil jadi tolong dimaafkan sikapnya yang kurang ajar" ucap Perdana Menteri Kanan.
Bagaimanapun, reputasi Tabib Cheng itu sangatlah tinggi. Jangan sampai menyinggungnya walau hanya hal kecil.
'Masih kecil? Bahkan masih kecil saja otaknya sudah licik seperti ibunya' batin Yui sinis.
"Baiklah masalah ini tidak perlu dibahas lagi. Yui juga tidak bersalah jadi lupakan saja" ucap Perdana Menteri Kanan.
'Melupakannya? Setelah menuduhku habis habisan lalu sekarang harus melupakannya? Jangan bermimpi! Aku akan mengingat ini' batin Yui yang agak kesal.
Arwah Yui yang melihatnya langsung tertunduk lemas. Memang sedari awal arwah Yui sudah di sini.
Berharap ingin diberi keadilan oleh ayahnya walau hanya sekali. Tapi nyatanya apa yang dia dapat? Sungguh malang.
Menurut Yui, Ayahnya begitu bodoh sampai tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah.
__ADS_1
Namanya saja Perdana Menteri Kanan, tapi kalau masalah ini, yang dia lihat adalah yang benar.
Tanpa tau apa yang sebenarnya dan mengusut masalah yang dihadapinya sampai tuntas.