
Qiu An langsung berdiri yang membuat terkejut ketiga orang di sampingnya. "Kau mau kemana?" tanya Tai'er mengkhawatirkan Qiu An.
"Aku ingin menemui Kepala Desa" jawabnya singkat. "Apa yang ingin kau lakukan, Qiu An?!" tanya Hua Fei terkejut dan berteriak pada Qiu An. "Maaf" ucapnya tertunduk.
Qiu An tidak menganggapinya. Dia berjalan menuju tenda milik Kepala Desa. Lian Xin, Hua Fei, dan Tai'er tidak menghentikannya. Mereka hanya berharap kalau Qiu An akan mengubah keputusannya.
Qiu An telah sampai di tenda Kepala Desa. Tenda itu agak jauh, hal itu supaya tidak ada yang mendengar masalah mengenai Desa mereka.
Chen baru saja keluar dari tenda, dia melihat ada Qiu An yang berdiri di depannya. "Nona An..." panggil Chen dengan bingung. "Aku ingin menemui Kepala Desa, apa aku bisa? Ada hal yang penting ingin kubicarakan" ucap Qiu An menjawab kebingungan dari Chen.
"A-apa yang ingin kau bicarakan, nona An? Biar aku yang sampaikan" ucap Chen gugup. "Tidak perlu. Aku harus bicara langsung pada Kepala Desa" ucap Qiu An dengan ekspresi datar.
Kepala Desa yang mendengar suara Chen yang sedang berbicara dengan seseorang langsung bertanya, "Siapa itu, Chen?" tanyanya. "Em, ini, Nona An" jawab Chen.
"Biarkan dia masuk" ucap Kepala Desa. Chen tampak ragu, dia masih berpikir. "Ada apa? Apa kau tidak memdengarnya?" tanya Kepala Desa. "B-baiklah, Nona An, silahkan" ucap Chen mempersilahkan Qiu An untuk masuk.
Qiu An mengangguk. Dia masuk ke dalam tenda dengan menunduk karena memang pintu masuk—eh, bukan pintu sih—nya hanya sebatas pundaknya.
"Ada apa nona An datang menemuiku?" tanya Kepala Desa tanpa melihat ke arah Qiu An. Dia sedang membaca laporan dari bawahannya.
"Aku ingin pergi ke desa dan melawan Rubah Ekor Sembilan itu" jawab Qiu An yang membuat Kepala Desa terkejut dan langsung menatap Qiu An dengan serius.
"Apa yang kau bicarakan? Apa kau tahu apa yang baru saja kau katakan?" ucap Kepala Desa menatap tajam pada Qiu An. "Tentu saja aku tahu, apakah anda tidak percaya?" jawab Qiu An dengan wajah serius.
__ADS_1
Kepala Desa menatap Qiu An, dia juga menatapnya dengan serius berharap kalau Qiu An menjadi tegang dan gentar sehingga mengurungkan niatnya. Tapi, harapannya pupus. Qiu An sama sekali tidak takut. Kepala Desa bisa melihat keberanian di matanya.
Kepala Desa mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Dia sedang dilema, antara harus mengizinkannya untuk harapan desanya bisa selamat dan menolaknya dengan tegas karena keselamatan lebih penting.
"Kepala Desa, anda harus mengizinkan saya. Saya rela jika harus mengorbankan nyawa demi desa.agi pula, cepat atau lambat Rubah Ekor Sembilan pasti akan kemari dan membahayakan nyawa seluruh warga desa di sini. Tolong izinkan saya!" ucap Qiu An dengan penuh tekad.
"Kau...hauh, tapi jika kau tidak sanggup, mundurlah!" jawab Kepala Desa menyerah. Qiu An tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu, saya izin pamit, Kepala Desa" ucapnya sembari memberi hormat dan keluar dari tenda.
Chen masih berada di sana dengan ekspresi penuh ketegangan. Dia melihat Qiu An keluar dan bernafas dengan lega. Qiu An hanya melewati Chen begitu saja tanpa menyapa atau apapun.
Chen terbingung melihat ekspresi Qiu An yang terlihat serius. Pandangannya menatap ke depan, tapi sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
Qiu An kembali ke tendanya dan tidur karena hari sudah cukup larut. Sebelum itu, dia melirik ke arah tumpukan kayu yang telah terbakar sebagian.
"Tai'er?" gumam Qiu An melihat pria di depannya adalah Tai'er. "Aku akan tidur dulu. Kau sebaiknya juga tidur" ucap Qiu An melewati Tai'er dan menepuk pundaknya pelan.
Qiu An masuk ke tendanya dan melihat Nenek Zhou sudah tidur. Dia tersenyum tipis dan ikut tidur di samping Nenek Zhou. Matanya hanya terpejam, dirinya belum tudur. Dia masih banyak pikiran.
Perlahan-lahan kesadarannya mulai menghilang, dia kini sudah masuk ke alam mimpi. Wajahnya penuh dengan ketenangan, tidak seperti tadi.
Malam pukul 02:00
Qiu An membuka matanya, dia bangkit dari tidurnya dan duduk. Qiu An melihat wajah Neneknya yang sedang tertidur.
__ADS_1
'Maaf' batin Qiu An sembari menatap Neneknya. Qiu An mengambil jubah hitam dan mengenakannya. Dia melompat ke atas pohon dan melihat ke sekeliling. Sebelum dirinya akan pergi, Qiu An menatap tenda-tenda yang berdiri di bawahnya lalu melompat ke pohon lain.
Dia memakai ilmu peeingan tubuh tentunya untuk melakukannya. Qiu An mulai bisa melihat desanya. Dia juga melihat seperti kobaran api yang memanjang ke atas dengan jumlah sembilan.
Bisa dipastikan kalao itu adalah kesembilan ekor dari Rubah Ekor Sembilan. Qiu An menatap tanjam pada Rubah itu. Dia bergegas untuk sampai ke desanya.
Di sana juga sudah ada pasukan keamanan dan Kepala Desa yang sudah berjaga di sana. Rubah Ekor Sembilan pun sudah muncul di depan mereka. Tampaknya Rubah Ekor Sembilan sangat marah.
"Jika bertarung di tempat ini, akan menimbulkan kerusakan. Aku harus membawanya ke tempat yang sepi" gumam Qiu An lalu menciptakan sebuah segel dan langsung menghilang dari sana. Begitu juga dengan Rubah Ekor Sembilan.
"Apa yang sebenarnya dia pikirkan?! Apa dia ingin melawan Rubah itu sendirian?! Tidak bisa! Kita harus membantunya! Semua pasukan, cepat susul Qiu An!" perintah Kepala Desa. "Baik!" jawab para pasukan.
Para pasukan berlari di atas atap-atap rumah dan melompat dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya. Sebuah cahaya tiba-tiba muncul dari radius beberapa km.
Para pasukan langsung bergerak menuju ke sana. Mereka menggunakan kekuatan yang lebih besar agar cepat mencapai ke sana. Di sebuah hutan, Qiu An memegang pedang dengan gagang berwarna biru dan sebuah kristal sebagai hiasan dengan erat.
Dia menatap tajam ke arah Rubah Ekor Sembilan dan berlari ke arahnya. Qiu An menunjuk pedangnya ke arah Rubah Ekor Sembilan dan menebas salah satu ekornya. Hal ini membuat Rubah Ekor Sembilan menjadi sangat marah.
Dia menyerang Qiu An dengan cakarnya yang tajam, dan mengenai jubahnya karena Qiu An tidak sempat menghindar dengan cepat sehingga jubah itu menjadi robek. Qiu An melepas jubah hitam itu dan melemparnya ke sembarang arah.
Qiu An kembali menyerang dengan pedangnya, namun ditangkis oleh Rubah Ekor Sembilan menggunakan kuku tajamnya. Pedang itu terlempar cukup jauh.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1